APA INI?!

1005 Words
Kemarahan kedua orang tua memuncak. Amplop coklat itu dilempar, melayang di udara, dan mendarat di kaki Andi dan Akbar. "APA INI?! APA INI?!" teriak ibu Andi, menunjuk putranya sendiri dengan jari gemetar. "Kamu, kamu pasangan sejenis?! Kalian berdua?!" Ayah Andi ambruk kembali ke kursinya, wajahnya merah padam. Ia tak mampu berkata-kata. Sementara itu, Ayah dan Ibu Akbar, yang baru saja melihat foto-foto di dalam amplop, menatap putra mereka dengan tatapan tak percaya. "Akbar! Kenapa?! Kenapa kamu melakukan ini?!" teriak ibu Akbar. "Apa maksud semua ini?!" Andi dan Akbar hanya bisa terdiam, wajah mereka pucat pasi. Rahasia yang mereka simpan rapat-rapat selama bertahun-tahun kini terbongkar di depan keluarga besar mereka. Narasi di surat Ani bergema di benak Hafidz dan Tiur. Ani menuliskan dengan jelas, ia rela menahan rasa sakitnya sendiri. Ia rela menelan semua kebohongan dan sandiwara demi melindungi cintanya pada Andi. Namun, satu hal yang tidak bisa ia relakan kebenaran bahwa Akbar menikahi Hanna hanya demi selalu dekat dengan Andi. Fakta ini adalah pukulan telak yang Ani dapatkan. Ani, yang sudah menganggap Hanna sebagai belahan jiwa, tak berani menerima kenyataan Hanna terluka. Ia terlalu mencintai adiknya. Adik kecil yang selalu menjadi bayangannya sejak sang adik bungsu belajar berjalan. Itu sebabnya Ani memberi julukan BAYANGAN KECIL bagi Hanna. Kebohongan yang ia simpan adalah untuk melindungi Hanna, dan ketika kebohongan itu sudah tak bisa dipertahankan, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ruangan itu dipenuhi tangisan, amarah, dan tuduhan. Duka yang semula menyatukan mereka kini terpecah belah. Dibalik semua kesedihan, ada pengkhianatan yang tak termaafkan. Ani sudah pergi, namun rahasia di balik kepergiannya, dan fakta bahwa pernikahan Hanna hanyalah alat untuk kebohongan itu, akan selamanya menghantui mereka. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Di tengah kekacauan, ibu Akbar yang menunduk malu, mengangkat wajahnya, menatap Hafidz. Suaranya bergetar, "Lalu ke mana Hanna, Nak Hafidz?" Hafidz, dengan wajah yang tak menunjukkan emosi apa pun, menjawab dengan tegas. "Hanna sudah terbang keluar negeri sejak kemarin pagi," katanya. "Dia membawa lukanya." Kata-kata itu bagai pukulan telak. Mereka semua diam, menahan napas. "Saya sudah mengurus surat cerai Akbar dan Hanna. Urusan pengadilan akan segera diproses," lanjut Hafidz, suaranya kini dingin. "Rumah Ani akan saya urus penjualannya. Dan semua harta milik Hanna, sudah saya serahkan pada pengacara kami. Dia akan mengurusnya." Ruangan itu hening. Tidak ada yang bersuara. Semua orang terpaku, tak percaya pada semua yang mereka dengar. Akbar, yang selama ini diam, kini terkejut. Ia tak menyangka Hafidz sudah bertindak sejauh ini. Orang tua Akbar tak bisa lagi menahan malu. Mereka tidak sanggup menatap Inang, yang masih terpaku, tidak memberi respon apa pun. Mereka tahu, rasa malu ini jauh lebih besar dari duka yang inang rasakan. Duka karena kematian Ani adalah tragedi, tapi aib yang dilakukan putra mereka adalah sebuah pengkhianatan yang tak termaafkan. Dan apa yang dilakukan anak mereka melukai 2 anak perempuan inang sekaligus Tiga keluarga yang tadinya bersatu dalam duka, kini pecah. Di balik setiap tangisan, ada rahasia dan pengkhianatan yang tak akan pernah bisa disembuhkan. Hanna pergi membawa lukanya dan sebuah rahasia besar, sementara Hafidz, dengan kekuasaannya, telah memastikan adiknya terlindungi dari semua kekejaman yang telah terjadi. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Hafidz menatap lurus ke arah Andi dan Akbar. Di dalam matanya, tidak ada lagi duka, hanya ada kemarahan yang dingin dan tekad yang bulat. Suasana di ruangan itu hening, semua orang menunggu apa yang akan ia katakan. "Sebagai seorang polisi," kata Hafidz, suaranya mantap, "Saya tekankan, tidak ada alasan bagi saya untuk menuntut kalian berdua atas kematian Ani." Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu meresap. "Sebab," lanjutnya, "Walaupun kalian adalah penyebab luka hati Ani, tapi kalian bukan penyebab kematiannya." Andi dan Akbar menunduk, tak berani menatap mata Hafidz. "Yang perlu kalian tahu," kata Hafidz, suaranya meninggi, tegas. "Sejak saat ini, kami, keluarga besar Lubis, Harahap, dan Nasution, menyatakan putus hubungan dengan kalian." Hafidz menoleh ke arah orang tua Andi dan Akbar. "Semua harta Ani sudah dilimpahkan untuk Hanna," katanya. "Sesuai surat notaris yang Ani buat satu bulan sebelum dia bunvh diri. Artinya, Ani sudah tahu sangat lama kisah kalian." Kata-kata itu bagai pukulan terakhir. Akbar dan Andi membeku di tempat, dan orang tua mereka hanya bisa menangis dalam diam. "Untuk harta Hanna," lanjut Hafidz. "Nanti dibahas dengan pengacara polisi yang menangani kasus Hanna. Jadi, urusan kalian dengan kami sudah selesai." ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ "Enggak kuat, Bu, enggak kuat," teriak Hanna, suaranya parau dan penuh penderitaan. Keringat membasahi dahinya, dan tangannya mencengkeram erat tangan wanita di sisinya. Wanita itu, Bu Husna, seorang pengacara polisi yang ditugaskan Hafidz untuk mendampingi Hanna. "Kamu kuat, Nak," Bu Husna membelai rambut Hanna dengan lembut. "Sebentar lagi, rombongan keluarga besarmu akan datang. Jangan salahkan keterlambatan mereka. Mereka tidak terlambat. Hanya kamu yang memang kontraksi lebih cepat dari perkiraan." Bu Husna, yang tahu seluruh kebenaran di balik penderitaan Hanna, membiarkan Hanna berpegangan erat padanya. Ia bukan hanya pengacara, tapi juga teman dan pelindung yang ditugaskan Hafidz untuk memastikan Hanna tidak sendirian. Bu Husna tahu, di balik rasa sakit fisik ini, ada rasa sakit emosional yang jauh lebih dalam. Hanna menahan tangis. Di tengah rasa sakit yang tak terperikan. Perempuan itu tahu Bu Husna benar. Di balik semua luka dan pengkhianatan yang ia bawa, ada sebuah kehidupan baru. Sebuah harapan yang lahir dari sebuah tragedi, sebuah pengingat abadi akan cinta yang hilang dan kebohongan yang menghancurkan. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Delapan bulan lalu, di tengah duka yang masih pekat, Hafidz, Hanna, dan Tiur duduk di ruang keluarga. Ruangan itu terasa sesak, dipenuhi oleh keheningan. Amang yang tak kunjung bicara sejak kematian Ani. Meskipun kondisi fisiknya sudah membaik dan dia sudah bisa berjalan, Amang tetap diam, matanya menatap kosong. Di sampingnya, Inang terlihat lelah dan sedih. Hafidz, yang kini mengambil peran sebagai kepala keluarga, menatap kedua orang tuanya dengan penuh kehati-hatian. Ia berdeham pelan. "Amang, Inang," ucap Hafidz, suaranya tenang. "Kami, Hafidz, Hanna, dan Tiur, ada hal penting yang ingin kami sampaikan. Kami minta waktu bicara sebentar." Inang menoleh, matanya menatap ketiga anaknya. Ada sorot kecemasan di sana, seolah ia bisa merasakan ada lagi beban yang akan disampaikan. Ia mengangguk pelan, memberikan isyarat setuju. "Ini bukan soal suka kehilangan Ani lagi," tambah Hafidz, mencoba meyakinkan. "Ini soal kelanjutan hidup kita."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD