KEMANA HANNA ?

975 Words
"Dengarkan Abang baik-baik, Andi. Ini bukan permintaan, tapi Abang mohon. Ada hal yang sangat penting yang harus kita bicarakan. Ini menyangkut rahasia Ani." Terdengar keheningan di seberang sana. Kata "rahasia Ani" seolah berhasil menarik perhatian Andi dari dukanya yang dalam. "Maksud Abang?" tanya Andi, suaranya penuh keraguan. "Abang tidak bisa bicara di telepon. Ini hal yang sangat sensitif, yang hanya bisa kita bicarakan secara langsung. Ini akan menjawab banyak pertanyaanmu, Andi.” “Tentang kenapa Ani memilih jalan ini. Dan Abang yakin, ini hal yang Ani ingin kamu ketahui," kata Hafidz, menggunakan kalimat yang samar namun mengikat. "Andi, ini bukan hanya tentang kita berdua. Ini tentang semua orang. Jadi, Abang minta, besok pagi kamu datang ke rumah dan ajak juga Tante dan Pakde. Kita akan bicarakan ini bersama-sama. Abang tunggu." Andi terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang diucapkan Hafidz. Ia tahu, jika Hafidz sampai memohon, ini pasti hal yang sangat serius. "Baik, Bang. Saya akan datang. Saya akan sampaikan ke orang tua saya. Kami akan datang besok pagi." “Dan terima kasih sudah diambilkan barang-barang saya di rumah.” ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Dua minggu telah berlalu sejak kepergian Ani. Hari ini, keluarga besar berkumpul di rumah Amang dan Inang, duka yang masih pekat terasa di setiap sudut rumah. Di tengah keramaian, Akbar mencari-cari Hanna. Ia menelusuri setiap ruangan, namun tak juga menemukan istrinya. Akhirnya, ia menghampiri Tiur yang sedang menemani Inang di ruang tengah. "Kak Tiur, kau lihat Hanna?" tanya Akbar, suaranya terdengar cemas. "Sejak tadi aku mencarinya, tapi tidak ketemu." Tiur menatap Akbar. Ia tahu rahasia yang disimpan Hanna dan Hafidz. Ia membalas dengan senyum tipis, "Hanna keluar sebentar, Mas." "Keluar? Ke mana?" tanya Akbar bingung. "Dia tidak bilang padaku." "Dia keluar bersama si kembar," jawab Tiur, berusaha mengakhiri pembicaraan. "Mungkin dia butuh udara segar. Jangan khawatir, dia akan segera kembali." Namun, jawaban Tiur tidak menenangkan Akbar. Ia merasakan ada sesuatu yang disembunyikan. Wajah Tiur, meski berusaha tenang, tak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang terpancar di matanya. Akbar berdiri di sana, di tengah keramaian, namun hatinya terasa sepi. Ia tahu, ada rahasia yang kini memisahkan dirinya dari istrinya. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Semua berkumpul di ruang tengah rumah Amang, duduk dalam diam yang tegang. Yang hadir lengkap, mulai dari Hafidz, Tiur, Akbar, kedua orang tua Akbar, Andi, dan kedua orang tua Andi. Hanya Hanna dan Amang yang tidak ada. Suara isak tangis tidak terdengar, namun duka masih pekat di udara. Hafidz, duduk di kursi paling depan, menatap satu per satu wajah yang ada di hadapannya. Ia menghela napas, lalu mulai berbicara. "Terima kasih banyak atas kehadiran Bapak dan Ibu semua. Kami sangat menghargai dukungan yang diberikan kepada keluarga kami selama masa duka ini." Suaranya tenang, namun semua orang merasakan beban yang ia bawa. Setelah basa-basi ucapan terima kasih itu, Hafidz terdiam sejenak. Ia menyatukan kedua tangannya di atas meja, pandangannya beralih dari satu orang ke orang lain, memastikan semua perhatian tertuju padanya. "Ada alasan mengapa saya meminta Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semua untuk datang hari ini," kata Hafidz, suaranya kini berubah serius. "Kami, saya dan Hanna menemukan sesuatu yang membuat kami yakin bahwa kepergian Ani bukan sekadar dugaan bunvh diri." Semua orang menahan napas. Suasana di ruangan itu semakin mencekam. Hafidz menatap langsung ke arah Andi dan orang tuanya, lalu ke arah Akbar. "Hari ini," lanjutnya, suaranya tegas dan mantap, "Saya akan membuka rahasia di balik alasan Ani mengakhiri hidupnya." ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Hafidz menghela napas. Tanpa membuang waktu, ia mengambil dua buah amplop coklat dari dalam tas kerjanya. Amplop itu tebal, seperti berisi banyak lembaran. Ia menyerahkan satu amplop kepada orang tua Andi, dan satu amplop lagi kepada orang tua Akbar. "Saya tidak akan bercerita," kata Hafidz, suaranya pelan, namun tegas. . "Bapak dan Ibu, tolong lihat sendiri isinya. Di dalam amplop ini, ada salinan surat yang Ani tulis untuk Hanna. Dan juga, ada salinan beberapa foto yang Ani berikan pada Hanna." Semua mata tertuju pada amplop di tangan mereka. Orang tua Andi dengan tangan gemetar membuka amplop itu, sementara orang tua Akbar terlihat ragu-ragu. Akbar, yang duduk di samping orang tuanya, mencondongkan tubuhnya, ingin tahu. Hafidz memberi isyarat dengan matanya, meminta mereka untuk membaca. “Bapak dan Ibu bisa membacanya dan melihat sendiri apa yang Ani ingin sampaikan. Ini adalah alasan sebenarnya di balik kepergiannya." Hening. Satu per satu, lembar demi lembar, mereka membaca tulisan tangan Ani. Wajah mereka berubah. Dari kebingungan, menjadi terkejut, menjadi marah, dan akhirnya, sedih. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Raungan kaget orang tua Andi memecah kesunyian. Tangan mereka gemetar saat menatap foto-foto yang ada di amplop, lalu tatapan mereka beralih, penuh amarah dan tuduhan, ke arah orang tua Akbar. Ibu Andi berdiri, menunjuk dengan jari gemetar. "Kalian!" teriaknya, suaranya serak. "Kalian! Anak kalian! Apa yang dia lakukan pada anak kami?!" Ayah Andi, yang selama ini diam, kini bangkit. "Apa ini? Apa maksud semua ini?!" suaranya menggelegar, ditujukan pada keluarga Akbar. Di seberang kursi, Ayah Akbar langsung berdiri, menatap anaknya dengan tatapan tak percaya. Istrinya, ibu Akbar, kini menangis dalam diam, tangannya menutup mulutnya sendiri. Mereka tak sanggup melihat bukti nyata yang ada di depan mata mereka. Akbar, yang selama ini tidak tahu apa-apa, kini merasakan semua tatapan tertuju padanya. Wajahnya memucat, kebingungan. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Semua orang menatapnya seolah ia adalah monster. Andi, yang duduk di samping orang tuanya, hanya bisa menatap bingung. Ia tidak tahu apa yang ada di dalam amplop itu. Ia menoleh ke ayahnya, menuntut penjelasan. Namun, ayahnya terlalu marah dan syok untuk bisa berbicara. Hafidz, yang menjadi satu-satunya orang yang tahu kebenaran di antara mereka, hanya bisa menyaksikan. Ia melihat duka yang tadinya menyatukan mereka, kini berubah menjadi amarah dan tuduhan. Rencananya berhasil. Rahasia itu telah terungkap, namun konsekuensinya akan sangat besar. Inang dan Tiur yang memperhatikan kemarahan orang tua Andi dan orang tua Akbar hanya tersenyum tipis. Biar mereka tahu, kalau anak-anak mereka yang melukai Ani dan Hanna. Itu sebabnya Amang tak mau ikut duduk di pertemuan dengan dua besannya itu. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD