SILENT ACTION

1004 Words
Hafidz melepaskan pelukannya, menatap Hanna. Matanya merah, namun tekadnya mengeras. "Kita rahasiakan semua ini," ucapnya, suaranya mantap. "Kita akan bergerak secara diam-diam. Kita sebut saja ini silent action Hafidz mengambil alih amplop itu dari tangan Hanna. Hafidz menatap kosong ke depan. Amplop yang berisi surat dan foto-foto itu terasa berat di tangannya. Otaknya berputar, mencoba mencerna semua yang baru saja ia baca. Ia masih tidak percaya. Kematian Ani bukan hanya tragedi antara Ani dan suaminya, Andi. Ini sangat erat kaitannya dengan Hanna. Hafidz melihat ke arah Hanna yang masih bersandar lemas di bahunya. Rasa takut yang begitu besar menyelimutinya. Ia takut Hanna juga akan hancur seperti Ani. Ia takut Hanna akan mengambil jalan yang sama. Ia takut akan kehilangan adiknya yang lain. "Na," bisik Hafidz, suaranya parau. "Kamu harus janji pada Abang. Kamu tidak akan melakukan hal bodoh. Kita akan hadapi ini bersama-sama. Kita akan selesaikan ini." ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ "Mau kamu bagaimana? Mau terus atau berhenti?" Hanna mendongak, matanya yang sembab menatap wajah Hafidz. Ia tidak perlu berpikir lama. "Pastinya berhenti, Bang," bisiknya. Suaranya serak. "Tapi, bagaimana Amang dan Inang?" Pikiran Hanna hanya pada kedua orang tuanya bila dia memutuskan langkah yang akan dia ambil. Hafidz mengangguk, ia sudah menduga jawaban adiknya. Rasa sakitnya sama, rasa ingin melindungi orang tua mereka lebih besar dari segalanya. "Biar jadi rahasia dulu," jawab Hafidz. Ia memeluk Hanna lebih erat, membiarkan tangis mereka kembali pecah. Keputusan telah dibuat. Tidak ada lagi yang perlu mereka cari. Kebenaran yang mereka temukan sudah terlalu berat. Sekarang, tugas mereka adalah menyembunyikannya dari semua orang. Sedang pada Amang dan Inang mereka akan jelaskan, sekaligus menjelaskan tentang rencana Hanna selanjutnya. Mereka berdua berpelukan, Tiur membiarkan dua kakak-beradik itu menumpahkan seluruh beban mereka. Ia mengerti, keputusan ini akan menjadi beban seumur hidup yang hanya mereka bertiga yang tahu. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Di ruang tengah yang remang-remang, setelah memastikan orang tua mereka tertidur, Hafidz dan Hanna duduk di sofa. Tiur mendampingi mereka, diam-diam menyemangati dengan kehadirannya. Hafidz memegang tangan Hanna, jemarinya mengusap pelan punggung tangan adiknya. "Karena kamu sudah memilih untuk berhenti," bisik Hafidz, suaranya mantap. "Maka kita akan bergerak secara silent action. Abang yang akan urus semua." Hanna menatap abangnya, matanya lelah namun penuh kepercayaan. "Jangan pernah, sekali pun, kamu ceritakan semua ini pada Akbar dan Andi," lanjut Hafidz. "Mereka tidak boleh tahu. Ini hanya urusan kita. Urusanmu dengan Abang." Hafidz menghela napas, rasa sakit terpancar di matanya. "Dan setelah kamu siap dengan segala amunisi, Abang rela melepasmu menjauh." Hanna tersentak, tatapannya beralih dari Hafidz ke Tiur, yang mengangguk lembut. "Urusan Amang dan Inang, serahkan pada ito dan eda," kata Hafidz, menepuk d**a dengan penuh keyakinan. "Kami akan menjaganya untukmu." Ada janji dan sebuah misi dalam kata-kata Hafidz. Dia tidak hanya menawarkan dukungan, tetapi juga sebuah jalan keluar. Dia akan menanggung semua beban untuk Hanna, agar adiknya bisa menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup, bahkan jika itu berarti harus menjauh dari semua ini. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Akbar duduk gelisah di ruang kerjanya. Sejak pagi, Hanna tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati. Dia sudah mencoba berulang kali, tetapi nihil. Kini, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan kecemasan itu berubah menjadi kepanikan. Akbar meraih ponselnya, mencari nama kontak Tiur. Dia tahu, Tiur dan Hanna sangat dekat. Selama ini, jika ada masalah, Hanna selalu bercerita pada Ani, tetapi kini Ani sudah tidak ada. Tiur adalah satu-satunya orang yang mungkin bisa memberinya jawaban. "Halo, kak Tiur," kata Akbar begitu panggilan tersambung, suaranya terdengar cemas. "Maaf, ini Akbar. Apa Hanna ada bersamamu?" "Mas Akbar?" Tiur terkejut mendengar suara Akbar yang panik. "Iya, Mas. Hanna ada di rumahku. Tadi siang dia datang bersama Mas Hafidz." "Kenapa dia tidak memberitahuku? Aku panik sekali," kata Akbar. "Kenapa dia tidak angkat teleponku?" "Ponselnya mati, Mas. Mungkin baterainya habis," jawab Tiur. "Dia, dia sedang istirahat. Dia sangat lelah." Akbar menghela napas lega. "Oh, syukurlah. Aku kira ada apa-apa. Tolong sampaikan padanya, aku akan menjemputnya sekarang juga." "Jangan, Mas," kata Tiur. "Hanna, dia ingin tinggal di sini saja malam ini. Dia, butuh waktu sendiri." Ada keheningan singkat diantara mereka. Akbar merasakan ada yang aneh. Dia tidak bodoh. Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres, tetapi dia tidak tahu apa itu. "Kak Tiur, tolong jujur padaku. Apa yang terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan mbak Ani?" Tiur terdiam. Ia tidak bisa menceritakan semuanya. "Mas Akbar, tolong jangan khawatir. Hanna baik-baik saja. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Besok pagi dia akan pulang. Kami, hanya ingin menemaninya." "Berikan teleponnya, Tiur," bisik Hafidz. Ia mengambil ponsel dari tangan istrinya. "Mas Akbar, ini Hafidz." "Bang Hafidz! Ada apa, Bang? Ada apa dengan Hanna?" suara Akbar terdengar panik di seberang sana. "Hanna baik-baik saja, Bar. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri, sehabis kehilangan kak Ani," jawab Hafidz, suaranya mantap. "Besok pagi, hari Sabtu, jam sepuluh pagi, Abang tunggu kamu di rumah orang tua kita. Hanna juga ada di sana." "Oke, Bang. Saya akan datang," jawab Akbar. "Jangan datang sendiri, Bar," potong Hafidz. "Ajak kedua orang tuamu. Kita perlu bicara serius. Ada hal penting yang harus kita bicarakan bersama." Akbar terdiam sejenak, ia merasakan ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar duka. "Baik, Bang. Saya akan sampaikan ke orang tua. Mereka pasti akan datang." "Bagus," kata Hafidz. "Dan tolong, jangan beri tahu Andi dan orang tuanya tentang pertemuan ini. Biar Abang sendiri yang hubungi mereka." Akbar mengangguk, meskipun tidak bisa dilihat. "Baik, Bang." Hafidz mengakhiri panggilan, lalu segera menghubungi Andi. Setelah tersambung, suara Andi terdengar serak, menahan tangis. "Halo, Bang," suaranya bergetar. "Andi, ini Abang. Bagaimana kabarmu?" tanya Hafidz, suaranya melembut, menyadari kondisi Andi. "Saya, saya tidak tahu harus bagaimana, Bang. Rasanya seperti mimpi buruk," jawab Andi, isakannya kembali terdengar. "Saya tidak percaya Ani pergi. Kenapa? Kenapa dia melakukan ini?" "Abang tahu, Andi. Abang juga tidak tahu. Tapi Abang ingin kamu datang besok pagi, jam sepuluh pagi, ke rumah orang tua kita," kata Hafidz, suaranya kini kembali tegas. "Ada apa, Bang? Baru saja pemakaman selesai. Saya tidak bisa berpikir jernih," protes Andi. "Tolonglah, jangan paksakan saya. Saya masih hancur." Hafidz tahu ia harus meyakinkan Andi tanpa memberi tahu kebenaran yang akan menghancurkan semua orang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD