BAB 13 "Buset. Pasti pedas banget itu." Kami mengintip dari balik dinding. Beberapa detik, aku mengangkat bahu. Memilih untuk melakukan hal lain. Menonton mereka tidak ada gunanya, hanya buang-buang waktu saja. Tidak penting sama sekali. "Mau kemana, Mbak?" tanya Kafka sambil mengikutiku dari belakang. "Kamar. Kenapa?" Kafka mengelengkan kepala, dia menatapku yang ikut berhenti melangkah. "Gak papa." "Piringnya jangan lupa suruh mereka cuci." Adikku itu mengacungkan jempol. Dia masih saja mengintip hal tidak penting itu. Kurang kerjaan sekali dia, pasti sebentar lagi akan ada teriakan, Kafka yang mengganggu kalau itu terjadi. Sampai di kamar, aku berhenti sejenak ketika mendengar suara ponsel Mas Reno berdenting pelan. Ponselnya ternyata ditinggal di kamar. Ah, kesempatan yang

