Manusia Tak Tahu Diri

1999 Words
BAB 6 "Kamu apa-apaan, sih, Nina? Sampai malam kita nungguin transferan dari kamu. Gak dikirim juga uangnya." Aku menoleh. Menatap Mas Reno yang marah-marah. Wajahnya tampak memerah. Aku tidak bisa membayangkan dia membayar dengan apa di rumah makan itu. Ah, pasti seru sekali tadi. "Malu-maluiin." Mama Mas Reno meletakkan tas sembarang tempat. Dia terlihat malu sekali. Dalam hati, aku justru tertawa. Ini seru sekali, mengerjai keluarga tidak tau diri. "Aduh, tadi ada temanku, apa kata mereka liat tadi gak bisa bayar makanan." Rini ikut bergumam. Wajah mereka terlihat menanggung malu. Sambil menyapu, aku menggelengkan kepala. Bodo amat dah. Mereka malu karena masalah yang mereka lakukan sendiri, bukan karena aku. "Jangan makan di restoran kalau gak bisa bayar," gumamku. "Kamu tadi katanya mau transfer. Kaku gimana, sih, Nin? Aku capek lama-lama kayak gitu. Pusing." Mas Reno mengacak rambut. Dia ikut duduk di sebelah Mamanya. Ah, bisa dibayangkan wajah bingung mereka tadi. Diam-diam, aku tersenyum. Sok-sokan makan di restoran mahal, tapi gak bisa bayar. Maunya enak, tapi gak mau usaha. Mau pakai uangku? Maaf saja, tidak akan lagi. Sudah cukup yang dulu. Aku kembali melanjutkan menyapu, tidak peduli dengan mereka. Ponselku berdering. Aku melirik ke ruang keluarga. Tidak ada Mas Reno, Mamanya, dan Rini. Aku bebas. Bisa mengangkat telepon ini kapanpun. Aku menggeser tombol berwarna hijau, mendekatkan ponsel ke telinga. Dari orang kepercayaanku. "Iya?" tanyaku tanpa menyapa, karena tidak ada gunanya. Aku ingin langsung ke topik pembicaraan. "Misi kedua selesai." Suara di seberang sana terdengar mantap sekali, membuatku tersenyum puas. Aku suka sekali dengan kerja mereka. Tidak pernah gagal kalau sudah melakukan sesuatu. Aku mengangguk-anggukkan kepala, mereka sangat bisa diandalkan. Tidak salah aku memiliki anak buah seperti mereka. Yang meneleponku sekarang adalah orang kepercayaanku. Yang benar-benar aku percaya melakukan sesuatu dengan segala risikonya. Dia setia sekali sejak dulu. Itu yang membuatku sangat menyukainya. "Kerja bagus."Aku memujinya "Besok saya ke rumah." Sesuai dengan yang dia janjikan. Aku menganggukkan kepala, kerja yang bagus sekali. "Oke." Aku meletakkan ponsel ke atas meja. Tersenyum simpul. Ah, aku tidak sabar untuk besok. Pasti akan menyenangkan sekali. Akhirnya yang aku tunggu-tunggu berhasil dengan baik. *** "Ini kenapa perhiasan aku hilang semua? Padahal sebelum pergi makan ke restoran tadi, aku taruh di sini." Bisa aku dengar teriakan adik iparku. Salah sendiri dia tidak mau membayar utangnya. Siapa yang minjam, siapa yang bayar. Itu sangat tidak masuk akal. Dia tidak merasa bersalah sama sekali. Bahkan sepertinya tidak ingat kalau punya utang. Dasar menyebalkan, sebentar lagi aku yang dituduh sudah menghilangkan barangnya. Dasar menyebalkan semua. "Kok bisa? Aduh, kayaknya ada tuyul di rumah ini." Terdengar juga suara Mama Mas Reno. Sepertinya ramai sekali di kamar itu. Aku duduk di sofa ruang keluarga, membaca salah satu majalah. "Aduh kemana ya, Ma? Aku susah payah buat perhiasan itu. Malah hilang sekarang." Suara Rini terdengar sedih sekali. Dasar ratu drama. Hampir saja aku meneriakinya begitu. Menyebalkan sekali dia, benar-benar menguji kesabaran. "Jangan-jangan yang ambil Nina lagi. Kan dia di rumah terus sejak tadi. Kamu yang ambil perhiasan Rini ya? Dasar maling, kalau gak bisa beli itu jangan ambil barang orang lain dong. Gayanya aja yang sok kaya, tapi gak bisa beli perhiasan." Mulut Mama Mas Reno sepertinya enak kalau dilempar sesuatu. Aku kalau mau bisa beli berkali-kali lipat dari perhiasan si Rini. Untuk apa mengambilnya? Kurang kerjaan. "Ma." Mas Reno langsung menegur Mamanya, kemudian kembali menatapku yang masih diam sejek tadi. "Kamu tau dimana perhiasan Rini, Sayang? Atau seenggaknya kamu lihat perhiasannya?" tanya Mas Reno baik-baik. "Halah, gak usah dibelain. Pasti si Nina itu." Mama Mas Reno yakin sekali menuduhku. Udah menuduh, salah lagi. "Nin, kamu tau perhiasan Rini di mana? Di cari-cari gak ada. Soalnya, kamu yang ada di rumah tadi." Mas Reno keluar kamar Rini, bertanya padaku. Dia menatapku serius, untung saja kalimatnya itu tidak diawali Aku menganggukkan kepala, akhirnya membuka suara setelah diam saja sejak tadi. "Bayar utangnya." "Eh?" Mas Reno terdengar terkejut, dia melebarkan matanya menatapku. "Utang siapa?" "Adikmu. Masa adikku." Aku menjawab singkat, masa begitu saja dia pakai bertanya. Kalau utangku, tidak perlu aku membayar pakai perhiasan Rini, aku akan membayarnya pakai uangku sendiri. Juga kalau itu utang adikku. Kenapa membayarnya pakai perhiasan si Rini? Aku yang akan membayarnya sendiri, tidak perlu memberikan uang orang lain. Aneh sekali pertanyaannya. "Serius? Rini, kamu punya utang sama orang?" tanya Mas Reno dengan suara kesal. Dia tampak kaget mendengarku mengatakan kalau adiknya itu memiliki utang. "Sedikit kok." Rini meringis. Dia sepertihya malu dengan Mas Reno. "Dua juta. Bayar pakai perhiasannya." Aku yang menjawab. "Mbak, itu perhiasannya kalau dijual lebih dari dua juta. Kenapa Mbak kasih semua?" Rini bertanya kesal. Aku mengangkat bahu, tidak peduli. Memangnya siapa juga yang akan membayar utang si Rini kalau tidak memakai perhiasan itu? Aku sih malas. "Maka nya jangan punya hutang." Masalah itu hanya sebentar. Keluarga Mas Reno akhirnya bisa melupakannya, mulai membahas hal lain. Aku duduk di sofa, menatap Raja yang ada di gendonganku. Sesekali, aku mengusap pipinya. Tersenyum lembut. "Sayang." Mas Reno memegang pipi Raja. Dia terlihat ceria. Mungkin sudah lupa dengan perhiasan Rini yang kuberikan pada penagihan utang tadi. Aku membiarkan Mas Reno bermain dengan Raja. Bagaimanapun juga, Mas Reno adalah Papa dari bayiku. Dia berhak juga bermain dengan Raja. "Mau gendong?" tanyaku pelan. "Iya. Aku mau coba gendong Raja. Dia lucu banget." Mau seburuk apa pun perlakuan Mas Reno padaku saat hamil Raja, Mas Reno tetap Papanya. Mas Reno mengambil alih menggendong Raja. Dia tampak senang sekali bisa menggendong Raja. Seandainya saja Mas Reno selalu punya sifat seperti ini, aku pasti tidak akan berpikir ulang tentang cintanya. Juga hubungan kami tidak akan seburuk ini. Namun, aku bersyukur sekali sudah diperlihatkan sifat asli Mas Reno. "Aku minta maaf banget pas kamu melahirkan, Sayang. Kukira kamu bohongan, ternyata kamu mau melahirkan betulan. Ah, aku jadi tidak ada di samping kamu saat melahirkan. Juga gak azan buat Raja. Padahal itu moment yang aku tunggu-tunggu." Kalau itu moment yang kamu tunggu-tunggu, tidak mungkin kamu akan membentakku saat aku melahirkan, Mas. Juga kamu tidak mungkin malah makan enak bersama keluargamu saat aku melahirkan. Ah, Mas Reno kebanyakan alasan. Aku menghela napas pelan, mengecek ponsel. Ada pesan dari Hani. [Aku berharap rencana kita berjalan mulus, Nin.] Aduh, rencanaku sendiri aja entah bagaimana nasibnya. Kenapa si Hani malah menambah beban pikiranku sih? Ini akibat terlalu terbuka pada orang lain. Mana sudah berjanji kalau aku akan membantunya lagi. Aduh, benar-benar mampus aku kali ini. "Sayang? Kenapa? Kok wajah kamu tiba-tiba berubah gitu? Lagi ada masalah? Siapa yang ngechat kamu?" Banyak sekali pertanyaan Mas Reno. Aku meliriknya, kemudian menggelengkan kepala. Enggan menjelaskan semuanya. Ngapain juga aku menjelaskan pada Mas Reno? Tidak ada gunanya. "Ayolah. Kamu cerita sama aku semuanya. Jangan simpan masalah sendiri. Aku ini suami kamu, lho. Aku berhak tahu semua yang kamu lakuin." "Gak papa." Aku menjawab singkat. "Masa? Aku gak percaya. Coba liat ponsel kamu. Aku mau tau siapa yang ngechat kamu barusan. Pasti ada hubungannya." Aku memperbaiki posisi duduk, kemudian menatap Mas Reno yang juga ikut memperbaiki posisi duduknya. Dia pasti penasaran sekali. "Coba lihat ponselmu dulu kalau mau lihat ponselku. Jadi adil, aku lihat ponselmu dan kamu lihat ponselku." "Eh?" Mas Reno tampak terkejut sekali. Pasti dia tidak menduga perkataanku barusan. Mau bagaimana lagi? Aku keburu geram dengan Mas Reno yang menyebalkan. Bisa-bisanya dia mau mengecek ponselku, sementara aku tidak boleh melihat ponsel dia. Apakah itu adil? Lebih baik ideku barusan kan? "Yaelah, tinggal kasihin aja, Mbak. Pakai acara persyaratan segala. Pasti ada sesuatu itu, Bang." Rini yang duduk di dekat kami akhirnya ikut berkomentar. Padahal kami tidak mengajak dia berbicara lho. "Jangan ikut campur, Rin." Mas Reno melotot ke adiknya, seolah tau tatapanku. Aku tau kalau Mas Reno sekarang berusaha untuk membujukku agar kembali seperti sebelum melahirkan. Menjadi Nina yang bodoh. Ah, jangan harap aku akan kembali begitu, Mas. Raja menangis. Aku langsung mengambil alih menggendong Raja. Mas Reno tampak salah tingkah. Dia sejak tadi ingin mengatakan sesuatu, tetapi batal terus. Aku tidak menanggapinya sama sekali, kembali sibuk dengan Raja. Ah, anggap saja yang tadi itu pencitraan Mas Reno. Aku paling tidak suka dengan orang yang kebanyakan drama. "Kita makan apa malam ini?" tanya Mama Mas Reno sambil duduk di dekat televisi. Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Aku sibuk dengan Raja. Mas Reno juga terlihat sibuk dengan ponselnya. Dia enggan menjawab pertanyaan Mamanya, mungkin sudah pusing dengan Mamanya itu. "Jawab dulu pertanyaan Mama, Reno." Mama Mas Reno tampak kesal, aku masih mengabaikannya, sementara Mas Reno sudah bergerak dari tempat duduknya. "Makan apa, Nin?" Mas Reno akhirnya bertanya padaku. Bukankah mereka sudah makan tadi? Kenapa pakai acara meminta lagi padaku? Harusnya aku yang meminta dibawakan makanan oleh mereka, ini malah kebalik. Aku mengangkat bahu. "Gak tahu." "Loh, kamu gimana, sih? Jadi istri gak becus. Ya ampun, bisa kurus kering beneran kamu di rumah ini, Reno. Semuanya gak diurusin." Mama Mas Reno berkacak pinggang menatapku, dia tampak kesal sekali sepertinya. Pokoknya tidak ada hari tanpa kemarahan Mama Mas Reno. Aku sampai pusing sekali mendengarnya berbicara. Ternyata begini rasanya tinggal dengan mertua. Menyebalkan. "Yang serius, Nin." Mas Reno mendelik padaku. Baiklah. Aku beranjak. Raja sudah ada di tangan Mas Reno. Kebetulan, di lemari pendingin ada beberapa potong ayam. Cukup untuk malam ini. Sebelum menggoreng untuk Mas Reno, Mama, dan Rini, aku menggoreng ayam untuk diri sendiri. Kemudian memakannya sendiri. Baru menggoreng untuk mereka. Baru saja memasukkan tiga potong ayam ke dalam minyak panas, terdengar teriakan Mas Reno, disusul suara tangisan Raja. Aku menghela napas kasar. Ini sebenarnya Mas Reno bisa mengurus anak atau tidak sih? "Nin, anak kamu nangis!" teriakan Mas Reno bergema di seluruh ruangan rumah. Aduh, dia tidak bisa menjaga anak atau apa? Hanya disuruh menjaga Raja saja tidak bisa. Makan saja dia sepertinya yang bisa. Aku meletakkan piring ke sembarang tempat, buru-buru mengambil alih menggendong Raja. "Itu tinggal dibalik. Suruh si Rini." Aku membawa Raja ke dalam kamar. Beberapa menit, Raja akhirnya tertidur. Aku tersenyum. Melihat Raja tenang, itu membuatku bahagia. Meskipun harus berhadapan dengan keluarga Mas Haris "Ya ampun, minyaknya meletus-meletus!" Teriakan Rini terdengar. Aku membiarkannya saja. Memilih untuk fokus di dalam kamar. Aku juga sempat mencuci wajah. Sudah aman, sudah makan tadi. Untung saja aku duluan makan. Kalau bareng mereka, entah apa jadinya. Setelah memastikan Raja masih tertidur, aku baru keluar kamar. Memastikan apa yang terjadi di dapur. Langkahku terhenti. Lihatlah, seperti kapal mau berangkat. Aku menggelengkan kepala melihat minyak tumpah semua. Menghabiskan uang saja, tidak bisa disuruh-suruh. "Aduh, ayam itu nyusahin banget." Aku kembali berhenti di dekat meja makan. Menatap ayam yang terlihat gosong. Itu bukan ayam goreng. Hampir saja tawaku meledak. Itu salahnya si Rini terlalu dimanjain. Tidak bisa masak, hanya bisa menghabiskan uang. Ya, tidak jauh beda dari Mas Reno. "Ayamnya habis perang?" tanyaku pada Mas Reno yang memasang wajah kecut. Sudah tau adiknya tidak bisa menggoreng ikan masih saja dibiarkan. Mamanya juga kemana, masa sudah sebesar ini masih belum bisa menggoreng ayam. "Gak ada makanan lain, ya? Mama gak nafsu makan lihat ayam itu?" Mama Mas Reno tampak muak melihat ayam goreng yang sudah menghitam itu. Justru di situasi ini aku malah hendak tertawa. Lucu juga ternyata, bisa-bisanya mereka membiarkan si Rini memasak ayam sendiri. Jadinya ya beginilah. Aku menggelengkan kepala. "Pakai kerupuk tadi." Mama Mas Reno mendelik ke aku. Memilih untuk mengambil makanan itu, kemudian memasukkannya ke dalam piring. Ya, nikmati saja ayam gosong itu. Aku hanya menatap dari jauh. Semakin merasa beruntung, karena sudah makan tadi. "Gak usah diliatin. Mas tau kamu udah makan." Mas Reno mulai makan, dia sesekali melirik Mamanya yang tampak malas-malasan memakan ayam goreng gosong itu. Aku sebenaenya hendak tertawa melihat mereka. "Terus?" tanyaku pelan. Hampir saja aku tidak bisa menahan tawa. Astaga, mereka lucu sekali. Keluarga teraneh yang pernah aku temui. Mas Reno memilih untuk tidak menanggapi perkataanku barusan. "Terserah kamu. Dari kemaren aneh betul." Ternyata gampang sekali membuat keluarga Mas Reno kesal.Pintu rumah diketuk. Aku melangkah ke depan, meninggalkan keluarga Mas Reno yang aneh. Ketika pintu terbuka, aku terdiam melihat siapa yang datang. "Halo, Mbak Nina." Tanganku mengepal. Orang yang sejak dulu aku benci dan menjadi parasit di hidupku. Kenapa dia datang sekarang? Menyebalkan sekali. "Ngapain kamu di sini?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD