Partner

1982 Words
BAB 7 "Mau minta makan, minta uang. Minta semuanya." Pria tanpa tahu malu itu langsung masuk begitu saja. Aku menggeram pelan. Benar-benar tidak punya urat malu. Kenapa dia bisa sampai di rumah ini sih? Menyebalkan sekali. "Kemana semua uang yang kamu ambil dari dompet Mbak, hah?! Habis?" tanyaku kesal. "Iya. Habis, Mbak. Maka nya aku pulang ke rumah ini. Kalau belum habis mau ngapain lagi? Kurang kerjaan?" "Astaga. Kamu ini gak bisa mandiri sedikit ya?" Dia menggelengkan kepala. Pandangannya terhenti ke perutku. Kenapa lagi? Anak ini menyebalkan sekali, dia hanya hidup bergantung denganku. "Udah ngelahirin, Mbak?" tanyanya sambil melipat kedua tangan di depan d**a. "Menurutmu? Udah sana kalo gak ada yang penting mendingan kabur aja lagi. Minta uang sama Mama dan Papa. Jangan ke Mbak. Gak ada urusannya Mbak sama kamu." "Enak aja." Dia menggelengkan kepala. "Selain mau numpang hidup lagi, aku mau lihat keponakanku. Gimana suami Mbak? Apakah datang pas Mbak melahirkan?" Wow sekali pertanyaan anak satu ini. Dia pasti sudah bisa menebak. "Gak datang, kan? Atau Mbak melahirkan sendiri? Tanpa suami? Ke rumah sakit sendirian? Ah, kayaknya ada Mama sama Papa deng. Sudah kubilang kan kalau pria itu gak ada baik-baiknya. Dia hanya memanfaatkan Mbak. Gak ada gunanya hidup terus-terusan sama dia. Makan hati." Semua yang dikatakan dia memang benar. Aku menganggukkan kepala, dia memang benar. Tidak ada yang salah dengan perkataannya barusan. "Minggir, Mbak. Aku mau lihat keponakanku." "Issh, kapan kamu mau pergi lagi?" tanyaku kesal. Baru saja melahirkan, aku sudah dipenuhi oleh orang-orang pencari masalah. Mulai dari keluarga benalu—keluarga Mas Reno, sampai pria di hadapanku ini. Cobaan hidup apalagi yang kurasakan sekarang? Ya ampun, hidupku benar-benar dipenuhi oleh orang pencari masalah, juga penghabis uang. Pria di hadapanku berdiri santai. Seolah tidak pernah merasa bersalah atas semua yang dia lakukan di hidupnya. Entah mau sampai kapan dia begini. Dia adalah Kafka. Adik angkatku yang sejak dulu kerjaannya hanya menghabiskan uang saja. Dia baru saja pergi satu bulan yang lalu. Katanya tidak betah di sini, tidak ada manfaatnya juga dia tinggal di rumah ini. Hanya menghabiskan uang. Kafka mengangkat bahu, dia langsung masuk begitu saja. Aku menghela napas pelan, malas mengajak dia ribut. Biarkan saja Kafka masuk ke rumah ini, lagipula dia juga adikku. Mau seburuk-buruk kelakuannya, tidak mungkin aku mengusirnya. Mama dan Papa juga sejak kemarin mencari Kafka. Bahkan sampai menyuruh orang untuk mencari manusia satu ini. Entah apa yang dipikirkan oleh Mama dan Papa. Aku menggelengkan kepala, bingung dengan jalan pemikiran kedua orangtuaku. "Aw. Ada benalu rupanya." Langkah Kafka terhenti di dekat meja makan, dia berkacak pinggang menatap keluarga Mas Reno. Kafka batal ke kamarku untuk mencari Raja, aku hanua memperhatikan, malas terlalu dekat. Tidak sadar diri kalau dia sendiri benalu. Aku mengusap wajah. Kalau mereka disatukan, semakin kacau dunia. Kenapa di hidupku ada orang-orang semacam mereka? Menyebalkan. "Aku ke kamar dulu." Kafka melewatiku begitu saja, tidak sopan sekali dia. Aku melirik Mas Reno yang mendengkus kesal. "Kenapa adek kamu sampai pulang, sih?" tanya Mas Reno kesal. Dia dan adikku memang tidak pernah akur sama sekali. Berantem seperti kucing dan tikus. "Mana kutahu. Lagipula ini juga rumah dia." Aku mengangkat bahu, memilih untuk pergi ke kamar. Kalau Kafka, aku tidak akan bisa mengusirnya atau mengerjainya. Kenapa aku membenci Kafka? Karena dia yang menyebabkan surat perjanjianku dengan Mas Reno terjadi. Dia yang membuatku kehilangan sebagian hartaku demi seorang lelaki menyebalkan itu. Ya. Mereka semua tepatnya. Menyebalkan. *** "Kok gak ada makanan apa pun?" tanya Kafka sambil menutup lemari pendingin. Dia mengeluh kelaparan sejak tadi, entah apa yang dia lakukan di luar sana. Aku memperhatikannya, melipat kedua tangan di depan d**a. "Belum belanja." Aku menjawab pendek. Tidak tahu saja dia, kalau bahan makanan habis semuanya karena Mas Reno. Aku melahirkan, dia malah tidak tahu malu menghabiskan bahan makanan. "Sini aku beliin." Kafka menadahkan tangan ke aku. Sejak kecil sampai sekarang, aku yang memberikan uang untuk Kafka, juga sekolahnya aku yang menanggung. Tidak pernah dia menurut padaku. Kenapa tiba-tiba hari ini dia begini? Apakah hanya modus belaka? Dia meminta uang untuk belanja, padahal uang itu malah untuk jajannya? Entah kemasukan apa anak ini. Dia kenapa sih? Kadang menyebalkan, kadang begini. Aneh. Nah, masalahnya sepertinya sekarang serius. Kafka tidak pernah meminta uang untuk jajan begini. Dia pasti selalu langsung to the point dan aku yakin sekali kalau dia sekarang pasti serius. "Mau ikut, dong." Kami menoleh ke Rini dan Mama Mas Reno yang sudah berdiri di sebelahku. Benalu-benalu menyebalkan ini, kenapa mereka datang sih? Mau membuat rencanaku gagal? "Boleh. Ayo." Kafka menyeringai, dia sepertinya akan mengerjai Mama Mas Reno dan Rini kalau ikut. Aku menggelengkan kepala, melotot ke Kafka. Jangan sampai dia malah mengajak Mama Mas Reno dan Rini. Bukannya jadi belanja, malah berantem. Aku memberikan list belanjaan dan memberikan beberapa lembar uang pada Kafka. "Gak pakai kartu ATM aja? Gak asik kalau pakai uang." Kafka mengeluh kesal, pasti kalau pakai ATM, dia akan menghabiskan uangku. Itu lebih dari menyebalkan. "Gak." Aku menggelengkan kepala. "Yah, Mbak gak asik." Kafka mengeluh kesal. "Ini Mas mau kerja kemana? Kok bisa-bisanya kamu pecat Mas dari pekerjaan. Ngeselin banget, sih, Nin." Kami menoleh ke Mas Reno yang sibuk mengeluh. Aku mengangkat bahu. Tidak menanggapi apa pun. Sejak kemarin Mas Reno selalu mengeluh kesal, dia tidak mendapatkan pekerjaan, hanya menganggur di rumah. Kafka akhirnya pergi dengan Rini dan Mamanya. Biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau dengan uang segitu. Aku membiarkan mereka, agak susah bilangin Kafka. "Nin, lapar." Mas Reno sejak tadi tidak bisa berhenti berbicara, membuatku menghela napas kesal. Tidak bisakah dia diam sedikit? Menyebalkan sekali. "Pakai kerupuk." Aku memberikan solusi untuk sarapan. Mas Reno kembali mengeluh. Sungguh, aku tidak peduli dengannya. Memilih untuk sibuk dengan Raja. Biarkan saja dia terus mengoceh, selama tidak menggangguku. Hampir satu jam. Kafka akhirnya pulang. Dia tidak menenteng apa pun. Mataku menyipit, mulai curiga sesuatu, tetapi aku akhirnya melihat Rini dan mertuaku membawa banyak kantong kresek. Hampir saja aku tertawa. Apakah Kafka menyuruh mereka membawa belanjaan itu? Ternyata ini alasan Kafka mengajak Mama Mas Reno dan Rini. Kukira dia kebentur apaan bisa sampai akur sekali dengan kedua orang menyebalkan ini. "Susun ke lemari pendingin. Cuma bisa minta aja di sana." Kafka sudah seperti tukang suruh. Aku menatapnya dari sofa. Melirik Mama Mas Reno yang pasrah begitu saja. Apa yang dilakukan Kafka sampai mereka begitu? Hebat juga adikku. Aku tersenyum tipis, dia ternyata bisa diandalkan. "Selain kurus kering, bisa lepas tulang kita di sini disuruh-suruh," gumam Mama Mas Reno sambil duduk. Mereka sudah selesai menyusun makanan dan minuman di dalam lemari pendingin. Aku mengangguk-anggukkan kepala, duduk di salah satu sofa, menonton mereka yang kecapekan gara-gara menyusun bahan makanan di lemari pendingin. Ternyata menonton saja seasik itu Memangnya enak dikerjain Kafka. Aku tersenyum. Ternyata, ada gunanya juga si Kafka. Aku kira, si Kafka akan menambah kesusahan di hidupku. Ternyata, dia malah membantu. Aku menganggukkan kepala. Pandanganku terhenti ke lantai yang becek. Lah, siapa yang masuk ke dalam rumah becek-becek? Padahal harusnya masuk ke dalam rumah ini kaki dalam keadaan bersih semua. Bahaya ini, bisa menambah kerjaanku. Aku menatap Mama Mas Reno, Rini, Kafka, dan tentu saja suamiku yang menyebalkan itu. Sepertinya tidak ada dari mereka yang masuk dengan kaki kotor, lalu siapa yang membuat lantai menjadi kotor? Aneh sekali. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Ini benar-benar misterius, tapi pasti ada sumbernya. Siapa ya? "Lantainya kenapa becek?" Akhirnya aku menanyakannya. Dari pada nanti tidak ada yang membersihkan. Siapa juga yang mau membersihkan? Semua menoleh ke aku, kemudian pindah melihat ke lantai rumah. Bisa kulihat Kafka menepuk dahinya. "Biar Kafka aja, Mbak. Emang keluarga itu nyusahin banget." Kafka sekarang kelas 3 SMA. Dia sudah cukup dewasa untuk mengerti, tapi masih menghabiskan uangku terus-terusan. Adik laki-lakiku itu menyiramkan air ke lantai. Hanya sekitar lantai di sofa yang menjadi tempat duduk keluarga Mas Reno. "Masak sana, Nin." Mama Mas Reno bilang begitu padaku. Enak sekali dia menyuruh-nyuruhku. Memangnya dia itu siapa di rumah ini? Aku menatapnya kesal. "Eh? Enak aja malah menyuruh Mbak Nina. Si Rini suruh masak, tuh. Mbak masih capek." Kafka berkata ketus, dia terlihat tidak suka dengan kalimat Mama Mas Reno. Kali ini, aku benar-benar terkejut dengan sikap Kafka. Satu bulan dia pergi dari rumahku, ternyata perubahannya signifikan sekali. Entah dia kembali ke rumah ini kemasukan apa. Aku tidak tahu. Biasanya kalau Kafka kembali ke sini, dia langsung minta uang, membelanjakan apa pun yang dia dapatkan dariku. Lah, ini berbeda sekali. Apakah karena aku sudah melahirkan? Tapi memangnya ada hubungannya ya? Ah, kurasa tidak. "Anak kecil ngelunjak ya gini." "Betul. Kalau gak, gak usah makan." Dengan ringan, aku mengatakannya. Qqqq "Sana Rini, masak." "Sama Mama. Nanti gosong kayak kemarin." Mereka sama-sama menekuk wajah, kemudian beranjak. Kusut sekali muka mereka, tidak tidak papa. Aku tersenyum tipisx ternyata gampang menyuruh-nyuruh manusia menyebalkan seperti merek. "Aduh!" Kafka lebih dulu tertawa. Aku menoleh, menatap Mama Mas Reno dan Rini yang terjatuh karena lantai basah. Ini seru sekali, aku tersenyum tipis, hampir saja tertawa, tapi malas sekali tertawa. "Ya ampun, dasar anak kecil. Bisa remuk tulang Mama." Mama Mas Reno memijat punggungnya. Dia tampak kesal denganku, juga dengan Kafka yang mengerjainya. "Enak gak jatuhnya?" tanya Kafka dengan sisa tawa. Sepertinya, Kafka memang sengaja. Bagus juga kerja anak itu. Yang masih aku bingung, apakah dia melakukan semua ini tulus atau ada maunya? Kalau ada maunya, menyebalkan juga dia. "Dasar anak kecil. Gak Mbak, adik sama aja. Nyusahin orang." Mama Mas Reno berkata ketus, masih meringis memijat punggungnya. "Ye, biarin aja." Sungguh, aku puas sekali dengan tontonan hari ini. Tidak perlu repot-repot turun tangan. Kafka yang membereskannya dengan bersih. Aku melirik jam tangan. Sebentar lagi sepertinya dia datang. Bisa aku lihat, wajah Mas Reno tertekuk lebih dalam. Ponselku akhirnya berdering. Telepon yang sejak tadi aku tunggu-tunggu. Aku menghela napas pelan, mendekatkan ponsel ke telinga. "Saya udah di depan rumah, Bu." "Oke. Saya ke sana sekarang." Sebelum beranjak, aku melirik Mas Reno dulu. sepertinya dia juga masih terlihat kacau, tidak mungkin mau mengikutiku. Kafka masih sibuk mengepel lantai. Aku meletakkan Raja ke tempat tidur bayi dulu, baru melangkah ke ruang depan. Ketika membuka pintu, seorang wanita dengan map di tangan. Dia tersenyum padaku. Dialah yang sejak tadi aku tunggu-tunggu untuk datang, akhirnya datang juga. "Beres?" tanyaku sambil menerima berkas yang dia berikan. "Pasti, Bu." "Kerja bagus." Aku memujinya yang bekerja dengan baik. Dia langsung pamit. Setelah menghilabg dari pagar rumahku, aku langsung membuka berkas itu, menganggukkan kepala, itu memang surat perjanjian yang asli. Ini yang sejak awal aku cari-cari. Mereka ternyata hebat juga bisa mendapatkan ini. "Apa itu?" Ya ampun, aku menatap Kafka yang baru saja mengambil berkas di tanganku. Dia bahkan tidak perlu meminta izin untuk melihat berkas itu. Jantungku sudah berdetak kencang, aku kira Mas Reno. Bisa bahaya kalau yang datang Mas Reno. Aku mengusap wajah, untung saja bukan dia. Meskipun Kafka, setidaknya aku masih merasa aman sekarang. Aku membiarkannya saja mengecek apa yang ada di dalam berkas itu. Toh, tidak ada gunanya menghadangnya. Kafka akan tau cepat atau lambat. "Ah, Mbak mau mulai beraksi, ya?" Kafka menyeringai, adikku itu memang tau apa yang akan aku lakukan dengan berkas itu. "Hmm." Aku berdeham. Memang sudah saatnya, aku tidak mau lagi diinjak-injak oleh Mas Reno.l Kafka menjentikkan jarinya ke wajahku. Dia tampak senang sekali. Kemudian mengembalikan berkas itu padaku. Memang adik ini agak kurang beres. Pintu ditutup oleh Kafka. Posisi kami di luar. Dia menutup pintu agar suara kami tidak terdengar sampai ke dalam, apa lagi yang akan dia lakukan? "Dari dulu Kafka nungguin itu. Biar Kafka bantuin, Mbak. Jadi partner Mbak. Kafka juga punya banyak ide." Mataku menyipit. Masih menimbang apakah Kafka serius atau hanya main-main. Dia biasanya tidak pernah serius kalau berkata dulu, pasti sering main-main. Adikku itu menggelengkan kepala. Dia berusaha untuk meyakinkanku. "Kayak kata Mbak ke Kafka dulu. Sebelum tanda tangan perjanjian itu. Kita buat mereka menderita." Kafka menatapku penuh keyakinan. Anak ini, kalau dibiarkan dia pasti akan lebih berbahaya. "Apa?" tanyaku berusaha mengujinya. Kalau dia lolos dari ujianku sekarang, aku akan menerimanya membantuku, kalau tidak malas sekali menerimanya. "Perlahan, tapi menyakitkan." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD