Pencuri Gelang!

1981 Words
"Serius? Kamu gak bohongin Mbak kan? Mbak gak suka kalau kamu bohong, ya." Aku menatap Kafka serius. Dia juga tampak sungguh-sungguh kali ini, aku bisa melihat keseriusan itu. Namun, aku masih saja kurang percaya pada Kafka, karena aku kenal dengan anak ini bukan hanya satu atau dua tahun, tapi lebih dari sepuluh tahun. Tentu saja aku tidak langsung percaya dengannya kali ini, meskipun dia sudah berusaha membuatku percaya berkali-kali. Jarang sekali Kafka begini. "Serius, Mbak. Kafka janji, deh." Dia menyodorkan jari kelingkingnya, ingin membuat janji padaku seperti anak kecil zaman dulu. Mataku menyipit. Bagaimana caranya agar Kafka bisa dipercaya? Aku mengabaikan jari kelingking Kafka. Tidak mungkin kami membuat janji seperti itu. Aku masih tidak akan percaya. Hmm, aku punya yang lebih baik dan menarik. "Kalau buat surat perjanjian, kamu tanda tangan mau gak?" Kafka diam sejenak. Dia menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Beberapa detik terdiam, dia akhirnya menganggukkan kepala. Seolah sedang menantangku. "Oke. Siapa takut. Yang paling penting, aku udah janji bakalan bantuin Mbak." Kafka menegaskan kalimat di akhirnya. Ya. Terserah dia sajalah. Aku masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Kafka, membawa berkas yang tadi diberikan orang kepercayaanku masuk ke dalam. "Berkas apaan itu, Nina?" Langkahku terhenti mendengar perkataan mertuaku. Untung saja bukan Mas Reno, kalau Mas Reno bisa bahaya sekali. Aku sudah mempunyai tempat penyimpanan rahasia untuk menyimpan berkas ini di rumah ini. Aduh, aku harus menjawab apa? Mama Mas Reno kenapa kepo banget sih? Jangan sampai ketauan atau seluruh rencana ku berantakan. Sudah susah payah membuat rencana besar, malah mau berantakan. "Nina? Jangan jadi patung." Mama Mas Reno tampak gemas menatapku, pandangannya tertuju ke berkas yang aku pegang. "Bukan urusan Mama." Setelah mengatakan itu, aku bergegas masuk ke dalam kamar. Enak saja semua urusan dia harus tahu. Berkas itu aku simpan di tempat paling rahasia. Kemudian keluar kamar setelah mengecek Raja masih tidur lelap. Kafka sepertinya sudah ke kamarnya. Dia tidak mengikutiku sampai ke kamar. Dia juga tidak aku perbolehkan tau dimana letak aku menyembunyikan berkas itu. Enak saja dia, nanti bisa-bisa hal yang tidak kuinginkan terjadi lagi. "Oh iya, Nina. Cuciin dulu pakaian Mama sama Rini. Kamu itu kerjaannya cuma duduk, makan, tidur. Kayak ratu aja." Mama Mas Reno seperti tidak punya dosa menyuruhku begitu. "Bukannya itu Mama, Rini, sama Mas Reno? Cuma duduk aja, makan, kayak gak ada kerjaan lain. Kayak gitu bilang ngerjain seluruh pekerjaan rumah? Baju sendiri aja gak bisa ke urus." Aku mengatakannya pelan, tapi tajam. Ada perubahan di wajah Mama Mas Reno. Jarang-jarang aku berkata ketus padanya, itu kalau sudah kesal sekali. Aku memang sangat menghormati Mama Mas Reno, tetapi kalau sudah menyangkut harga diriku, aku tidak akan tinggal diam. "Cuci baju sendiri, kerjain seluruh pekerjaan rumah ini sendirian. Baru bilang aku gak pernah ngerjain pekerjaan ruamh, Ma. Jangan kayak orang yang berbuat tapi seolah gak melakukan apa-apa." Mama Mas Reno mendelik. "Juga si Rini sama Mas Reno. Apa kerjaan mereka di rumah ini? Mama juga. Memangnya kalian selama di sini ada ngerjain kerjaan rumah yang berat? Paling juga yang paling susah masak makanan sendiri. "Buset, kamu ngomongin Mas apa, Nin? Duduk malas-malasan? Enak aja." Mas Reno tiba-tiba muncul dengan toples keripik di tangannya. Lihat kan, baru dibicarakan saja, orangnya sudah nongol. Terlihat sekali dia tidak merasa bersalah, santai sekali makan keripik. Entah kripik kapan itu, aku saja tidak ingat ada kripik di rumah ini. Jangan-jangan itu keripik satu bulan lalu yang aku mencari toplesnya tidak ada. Ternyata sepertinya memang terjatuh dan baru ketemu sekarang. Eh, langsung dimakan olehnya. "Mama kamu yang bilang." Aku menunjuk Mama. Kemudian meninggalkan Mas Reno yang tampak menatap Mamanya sendiri kesal. Sampai di kamar mandi, aku tidak terkejut melihat banyak pakaian di sana. Meskipun aku tidak mau mencucinya, tapi aku tetap melihat apa yang disuruh oleh Mama Mas Reno. "Ini pakaian siapa? Banyak banget kayak gunung. Buset deh, bukan pakaian Mbak, kan?" Aku menoleh. Menatap Kafka yang baru saja datang. Dia langsung mendumal, kemudian mengecek pakaian yang ditumpuk di atas lantai. Aku menggelengkan kepala, tidak ada pakaianku sama sekali di sana. "Mbak tenang aja. Biar aku yang urusin." Kafka terlihat meyakinkan sekali. Aku yakin dia punya rencana. Entah akan berjalan seperti apa rencana dia, biarkan saja. Baiklah. Aku menganggukkan kepala. Memilih untuk masuk ke dalam kamar. Dari pada melihat pakaian sebanyak itu. Entah apa yang akan dilakukan oleh Kafka. Aku akan menunggu kejutan yang akan sampai ke kamar. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Kafka dengan pakaian-pakaian keluarga Mas Reno itu. *** "Pakaian Mama penuh sama lumpur, kamu enak-enakan tidur? Bangun, Nina!" Aku mengerjapkan mata, menatap Mama yang berkacak pinggang. Dia terlihat marah sekali. Aduh, baru saja tertidur padahal. Aku butuh istirahat sekali, kenapa pakai acara marah-marah sih? "Apaan?" tanyaku sambil memakai sandal. Kenapa Mama Mas Reno bisa marah-marah? Apa yang dilakukan oleh Kafka? Aku Melangkah ke kamar mandi. Hampir saja tawaku pecah melihat pakaian yang penuh dengan lumpur. Pasti kerjaan Kafka. Adikku itu memang pintar sekali, dia langsung melaksanakan apa yang dia janjikan untukku. "Aduh, ada pakaian Mas di situ. Gimana, sih, nyebelin banget." Mas Reno terlihat panik sekali. Aku sebaliknya, sangat senang melihat pakaian-pakaian bertumpuk itu. Siapa suruh Bermain-main denganku. Kalian salah kalau kenilai aku selama ini lemah, aku bahkan lebih kuat dari yang kalian lihat selama ini. Baik Mas Reno, Rini, dan mertuaku, mereka sama-sama melihat kesal. Aku menggelengkan kepala. Memilih untuk tidak peduli. "Terus ini gimana, Nina? Gara-gara adik kamu." "Urus sendiri." Setelah mengatakan itu, aku melangkah ke kamar. Mengurus Raja. Biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka mau, aku tidak peduli sama sekali. Sekarang, aku justru merasa beruntung, karena Kafka ada di sini. Kalau adikku itu tidak ada di sini, mungkin semuanya akan lebih kacau. "Halo, adek Raja." Eh? Aku menoleh ke pintu. Kepala Kafka nongol di sana. Dia nyengir, masuk ke dalam kamarku. "Ngapain di sini?" tanyaku ketus. Aku memang agak jarang akur sebenarnya dengan Kafka. Dia itu lumayan menyebalkan, jadi tidak usah dibaik-baikin. "Hah?! Mau lihat keponakan aku lah. Masa mau lihat Mbak. Gak banget deh." Hampir saja aku mendengkus mendengarnya. Kafka benar-benar mencari gara-gara denganku. Dia itu menyebalkan sekali. "Mbak hebat, deh." Lah? Aku kembali menatapnya. Kenapa tiba-tiba anak ini bilang begitu? Kenapa dia? Aku menempelkan telapak tangan ke kening Kafka, siapa tau dia sedang mengigau mebgatakannya. "Kenapa sih?" Kafka berusaha melepaskan tanganku dari keningnya. Dia mengernyit, menatapku aneh. "Mbak aneh deh. Kenapa kayak gitu? Kafka gak papa. Cuma muji Mbak sendiri masa gak boleh." Kafka menggelengkan kepala ke aku. Bukan begitu, ini benar-benar aneh untuk ukuran Kafka. Dia serius bilang begitu padaku? Hebat? Entah kenapa mendengarnya saja aku geli. Kafka tertawa pelan. Dia sedang bermain bersama Raja, adikku itu tau kalau aku paling tidak suka kalau dipuji. "Mbak, maaf ya." Dia kenapa lagi sih? Aku menatapnya aneh, Kafka kali ini tersenyum tulus, dia memang aneh. Kadang baik, kadang jahil, kadang menyebalkan, tapi lebih dari itu, dia benar-benar baik. Anak ini sebenarnya hebat. Meskipun Kafka sering sekali menghabiskan uangku, tapi dia tetap adikku. Meskipun kami hanya adik tiri. Kafka tampak tulus sekali bermain dengan Raja. Memang tanpa aku sadari, Kafka pasti selalu membantuku kalau kena masalah. Hanya saja aku bahkan selalu menganggap dia pengganggu hidupku. Karena memang Kafka sering menghabiskan uang. Aku menatap anak itu, dia seumuran dengan adik Mas Reno, Rini. Namun aku tau, kalau Kafka lebih dewasa dari si Rini. Meskipun sama-sama menghabiskan uang, jarang bekerja keras, tapi aku tau Kafka hebat. "Kenapa sih Mbak ngeliatin kayak gitu?" "Enggak. Kamu aneh aja." "Mbak, masa ada yang kirim pesan gini ke aku." [Mbak kamu cantik, Kaf. Kenalin dong sama Mbak kamu.] Tawaku pecah membaca pesan itu. Kafka juga ikut tertawa, dia memperbaiki posisi duduknya di kasur. Menatapku yang masih tertawa. Ada-ada aja, bisa-bisanya temannya mengirimkan pesan itu. "Ini serius, Mbak. Kalau Mbak bosan sama si Reno itu, Mbak bisa lho sama dia. Kebetulan dia kaya raya, gak bakalan jadi benalu kayak keluarganya suami Mbak tuh. Lumayan juga, kalau temanku jadi suami Mbak." "Kayak judul sinetron ya." Aku menyindirnya, membuat Kafka menyeringai. Aku beranjak, mengambil buku diary di dalam lemari. Perkataan Kkafka tadi tidak perlu ditanggapi terlalu serius. Dia hanya bercanda, mencoba untuk menghiburku. Dia memang pintar sekali untuk menghibur. "Rencana kita." Mendengar perkataan Kafka, aku menoleh. Kenapa dengan rencana kami? Keningku terlipat, menunggu Kafka mengatakan sesuatu lagi. "Apakah akan berjalan dengan lancar, Mbak?" "Tidak tau." Aku mengangkat bahu, tidak bisa memastikan semuanya akan berjalan dengan lancar. "Tapi itu rencana paling baik yang pernah Mbak buat, jadi mungkin ini akan aman-aman saja." "Maaf Kafka yang buat ini semua terjadi, Mbak. Harusnya Mbak gak nanggung ini semua. Kan, Kafka jadi merasa bersalah sekali." Tidak perlu merasa bersalah. Aku menatapnya tulus, Kafka tidak bersalah sama sekali. "Makasih udah mau nerima Kafka di rumah ini lagi, Mbak." "Mbak yang mau terima kasih. Kalau kamu gak ada di sini, entah apa jadinya Mbak." Kafka tersenyum. Aku ikut tersenyum menatapnya. Adikku ini memang baik sekali. Sudah hampir malam. Aku melirik jam. Ada Kafka di rumah ini, rasanya rumah ini tidak terlalu kacau. Aku menatap Mas Reno yang sibuk menyiapkan pakaian. "Tolong gosok dulu pakaian Mas, Nin." Dia menarik pakaian yang ada di bawah. Membuat semuanya jatuh berhamburan. Aku meliriknya sekilas. "Nin? Kamu dengar gak, sih?" tanyanya kesal. "Gak." "Ya ampun, gemes banget lama-lama. Nyebelin." Dia mengentakkan kakinya. Kemudian melangkah pergi dari kamar. Aku mebgangkat bahu tidak peduli. Aku mengambil ponsel di atas meja. Memutuskan untuk menghubungi orang kepercayaanku tadi. "Iya. Suratnya semua udah ada di berkas tadi, Bu." "Ah, bagus." "Saya juga udah cari tahu soal adiknya. Si Rini." "Gimana?" tanyaku sambil mengetukkan jemari. "Rini sering mencuri di kelas, Bu. Ada rekamannya, tapi selalu lolos. Jadi, bagaimana, Bu?" Ah, kabar baik. Aku menganggukkan kepala. ada bahan untuk mengguncang keluarga Mas Reno. "Buat laporannya. Laporkan ke pihak sekolah. Saya tunggu kabar besok." "Siap, Bu." Telepon dimatikan. Aku menganggukkan kepala. Kelemahan Mas Reno adalah keluarganya. Setelah meletakkan ponsel dan memastikan Raja, aku keluar kamar. Mataku menyipit melihat keluarga Mas Reno memakai pakaian pesta. "Kita mau makan enak di pesta." "Iya. Temanku lagi buat pesta ulang tahun. Pasti makanannya banyak." Benar-benar menggelikan mendengarnya. Aku menggelengkan kepala, memilih untuk ke dapur. Mengambil air minum. Melihat pakaian Mas Reno yang kusut, aku tertawa pelan. Entah apa yang akan mereka lakukan nanti. Melihat gelang yang dipakai mertuaku, aku terdiam. Buru-buru menyalakan ponsel. Benar! Itu pasti gelangku. Gelang mahal yang dulu pernah hilang. Ah, kenapa bisa sampai ada di tangan Mama Mas Reno? Sudah pasti dia mengambilnya. "Itu gelang siapa?" tanyaku sambil menghentikan langkah di depan Mama Mas Reno. Terlihat raut khawatir di wajahnya. "Jelas gelang Mama. Kenapa? Kamu suka sama gelang ini? Jelas. Harganya mahal." Aku tertawa pelan. Percaya diri sekali mengatakan itu. Benar-benar keluarga tidka tahu malu. "Lihat ini gelang siapa." Tanpa basa-basi, aku menunjukkan foto aku yang memakai gelang itu. Bahkan terlihat jelas sekali. Mama Mas Reno terlihat panik. Dia menoleh ke Rini, kemudian ke Mas Reno. Aku masih menunggu tanggapannya. "Ya gak tau. Ini gelang Mama. Kamu mau ngaku-ngaku? Enak aja." Masih tidak mau mengaku juga. Aku masuk ke dalam kamar. Memfoto surat gelang itu. Kemudian keluar lagi. "Mana surat gelang itu?" tanyaku menantangnya. "Apaan, sih? Kamu itu makin gak jelas, Nina. Nanya macam-macam. Aneh." Ciri-ciri orang panik. Aku menunjukkan foto surat gelang itu. "Dilaporin kayaknya ide bagus." Aku menganggukkan kepala, menyalakan ponsel. "Eh?" Aku langsung menoleh menatap Mama Mas Reno yang baru saja berteriak pelan. Dia sepertinya panik sekali. Sudah jelas itu gelangku. Dia masih mau mengelak juga. Sering sekali aku kehilangan barang. Mungkin baru kali ini ketahuan. Aku menatap Mama Mas Reno, menunggunya mengatakan sesuatu. "Iya-iya. Ini gelang kamu. Pelit banget, sih. Mama cuma pinjam sebentar. Biar orang ngelihatnya Mama kaya." Sok kaya. Aku mengambil gelang yang disodorkan Mama mertuaku itu. "Pinjamilah sebentar, Nin. Kamu itu pelit banget." Mas Reno ikut membujukku. "Gak taulah. Dulu aja dia bilang ambil aja kalau mau pakai barang." Mataku menyipit mendengar perkataan Mama Mas Reno. Sejak kapan aku bilang begitu? Ah, mungkin di dalam mimpinya. "Sudah jadi benalu. Jangan jadi pencuri juga," kataku sambil membalikkan tubuh, meninggalkan mereka. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD