Menjual Rumah

2043 Words
BAB 9 "Nyebelin banget. Untung gak sampai dipanggilin satpam." Aku menoleh. Keluarga Mas Reno sudah masuk ke dalam rumah. Mereka baru kembali dari acara pesta itu. Entah pesta apa. Sepertinya berakhir memalukan. Bagus sih, mereka memang sejak dulu memalukan. Aku menyenderkan punggung, kembali sibuk dengan Raja. "Aku pergi dulu." Kami menoleh ke Mas Reno yang beranjak. Mataku menyipit, dia mau kemana lagi? Padahal, ini sudah beranjak malam. Entah aoa yang akan dia lakukan nanti. Aku menatap keluarganya yang lain. "Mama ikut." "Rini juga ikutan." Kan, baru saja dibicarakan. Mereka pasti akan mengikut ke Mas Reno. Pasti akan meminta-minta makanan. Aku menggelengkan kepala, menatap ke arah lain, berusaha untuk tidak peduli dengan mereka. "Kamu mau ikut, Sayang?" Aku menatap Mas Reno agak geli. Malas sekali ikut dengan dia, mau ngapain juga? "Udah, gak usah diajak si Nina. Dia mah bisa cari makan sendiri, kita berangkat sekarang yuk." Mama Mas Reno tampak melarang anaknya untuk mengajakku pergi. Lagipula siapa juga yang mau ikut dengannya. Aku hampir saja mendengkus, tetapi pandanganku terhenti kembali ke televisi. "Yakin gak mau ikut, Sayang?" "Ayolah, Ren. Biarin aja si Nina mah. Ngapain diajak-ajak." Aku hanya melirik mereka sekilas. Paling juga jalan-jalan. Keluarga menyebalkan itu akhirnya pergi. Terserah mereka saja. Kafka datang, dia membawa makanan, kemudian meletakkannya ke atas meja. "Tumben. Biasanya langsung minta disiapin makanan." Kafka menyeringai. Dia tidak mempedulikan perkataanku, fokus menonton televisi dan memakan makanan yang dia bawa kesini tadi. Entah anak ini kemasukan apa. "Mbak, apa yang buat Mbak bertahan sama si Reno itu? Ditambah keluarganya lagi. Ih, kalau aku gak betah." Kafka sembarang mencomot pembicaraan, dia menoleh ke aku, pertanyaan yang sebenarnya dia sudah tau, tapi ditanya lagi. "Harta." Aku menjawab pendek. Memang masih ada yang ingin kurebut dari Mas Reno. Ini bukan sesuatu yang kecil, tapi sesuatu yang besar dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Kafka mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia seperti mengerti saja. Padahal kerjaannya hanya menghabiskan harta, aku meletakkan gelas ke atas meja, tapi dia yang juga sok tau. Adikku ini memang berbeda. Kalau aku tidak terima Mas Reno menghabiskan hartaku, justru aku malah senang kalau Kafka ikut menikmati hartaku. Karena kalau terjadi apa-apa, Kafka yang selalu membantuku. Aku ingin membalas kebaikan saja begitu. "Kenapa lihat-lihat? Awas naksir, Mbak." Hah?! Aku langsung tertawa mendengar perkataan Kafka. Benar-benar sakit anak ini. Aku menggelengkan kepala ke dia. Entah obat apa yang dia minum tadi bisa sampai kayak gini. "Maaf, Mbak. Cuma bercanda." Kafka ikut tertawa. Aku sudah tau. Mana pernah Kafka serius soal itu. Dia juga tau batasan di rumah ini, meskipun hanya adik angkatku. Awal mula Kafka menjadi adik angkatlu, itu sebenarnya unik sekali. Ponselku berdering. Dari Hani. Kenapa dia menelepon? "Siapa yang menelepon?" tanya Kafka penasaran. "Teman lama Mbak." Aku menjawabnya singkat. "Oalah." Kafka menganggukkan kepala, aku langsung mengangkat telepon itu, mendekatkan ponsel ke telinga. "Halo, Han. Kenapa?" "Cewek?" tanya Kafka berbisik padaku. Dia ini penasaran sekali. Aku saja jarang sekali punya teman cowok. Jelas sajalah cewek. Dasar aneh, tapi aku yakin dia memang ingin melindungiku. Kafka sering sekali bertanya aku punya teman cowok atau tidak. Aku menganggukkan kepala, menunggu Hani menjawab di seberang sana. Malah terdengar isak tangis. Eh? Hani kenapa? Aku memperbaiki posisi duduk. Ada apa dengannya? Kenapa di malah tiba-tiba menangis? "Kenapa? Halo, Hani? Kamu kenapa?" Kafka mencolek lenganku. Aduh, dia ini tidak tahu tempat atau bagaimana sih? Bisa nanti-nanti saja tidak bertanyanya? Aku menatap Kafka sebal, memberikan kode untuknya agar jangan menggangguku dulu. Tetap sja Kafka penasaran. Dia kembali mencolek lenganku beberapa menit setelah terdiam. Aku mendelik ke dia. Tidak tau kalau aku sedang berusaha mendapatkan kabar dari Hani ya? Hani malah sejak tadi menangis, dia belum bicara apa pun padaku. "Halo, Hani? Jawab dulu dong pertanyaanku. Jangan nangis aja." Aku menepuk dahi. Aduh, tidak mungkin juga aku menghampiri Hani malam-malam begini ke rumahnya, kan? Tapi aku juga khawatir. Bagaimanapun juga, Hani adalah temanku dan aku susha berjanji pada dia untuk membantunya, masa aku bodo amat sih? "S—suamiku marah-marah lagi, Nin. Dia berteriak-teriak." Astaga. Aku menggelengkan kepala mendengarnya. Kasian Hani. "Besok aku kalau sempat main ke rumahmu, deh." "A—aku capek sama semuanya, Nin. Aku pengen cerai aja dari suamiku." "Iya, tapi gimana sama rencana kita? Tolong tunda dulu ya. Besok aku ke rumahmu, jangan khawatir." Hani mematikan telepon, aduh aku merasa bersalah sekali dengannya. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan Hani. Aku menoleh ke Kafka yang masih penasaran dengan apa yang terjadk. Akhirnya, aku menceritakan semua soal Hani. Kafka mengangguk-anggukkan kepala, dia sepertinya paham. Kami akhirnya terdiam, Kafka tidak lagi membahas soal Hani. "Rumahnya keluarganya si Reno yang sekarang itu punya siapa, Mbak?" tanya Kafka penasaran setelah terdiam cukup lama. Aku terdiam. Ah, aku baru ingat. Itu adalah rumah milikku, seritifikat rumah dan tanah juga milikku. Mereka lagi-lagi hanya menumpang. Sebenarnya, mertua dan Rini hanya tinggal di rumah kecil, peninggalan Papa Mas Reno. "Punya Mbak." Aku menjawab pendek, menatap Kafka yang tatapannya berbeda. Apa yang dia pikirkan sekarang? "Nah. Kafka ada ide bagus." Kafka membisikkan sesuatu padaku. Dia terlihat gembira sekali dengan idenya itu. Aku menganggukkan kepala, tersenyum mendengar semua rencana Kafka. "Ide bagus," gumamku. *** "Mana, sih? Gak tau ngantuk apa, ya?" Kafka sejak tadi mendumal. Aku akhirnya berdiri. Tidak tahan menunggu lama. Di sini juga banyak nyamuknya. Kami sampai begadang menunggu keluarganya Mas Reno. Entah kemana mereka. "Eh, Mbak. Lihat, deh." Kafka menyodorkan ponselnya. Mataku menyipit melihat foto di ponsel itu. Dari aplikasi berwarna biru, aku tidak berteman dengan akun itu. Foto Mas Reno dan keluarganya sedang makan malam. Di sebelah mereka ada wanita. Entah siapa wanita itu. "Mbak gak curiga sama wanita ini?" Wah, jangan-jangan apa yang dipikirkan oleh Kafka sama dengan apa yang aku pikirkan. Kalau benar, aku tidak akan pernah memaafkan Mas Reno. Sampai kapanpun. Baiklah. Aku beranjak. Mengunci pintu rumah, tidak ada lagi yang perlu ditunggu. Percuma sekali menunggu mereka, kurang kerjaan menurutku. "Coba lihat ada kunci di kamar Mamanya si Rini, gak." Aku menatap Kafka yang menganggukkan kepala. Adikku itu akhirnya beranjak. Beberapa menit, dia memberikan beberapa kunci padaku. Ada kunci rumah juga di situ. Bagus sekali, untung saja tidak dibawa pergi. "Kira-kira perempuan ini siapa, Mbak?" Kafka masih penasaran saja. Entah kenapa aku malah berpikiran lain soal wanita itu. "Besok mbak cari tahu. Kamu tidur sana." Aku menyuruh Kafka untuk tidak terlalu memikirkannya. Tidak penting juga. Untuk apa? Toh ujung-ujungnya nanti akan ketauan juga siapa wanita itu. "Kenapa gak cari tau sekarang?" "Kurang kerjaan, Kafka." Aku mendelik. Hanya untuk Mas Reno dan wanita yang entahlah siapa itu, aku harus repot-repot sekarang begitu? "Terus pintunya?" tanya Kafka berusaha mengorek informasi dariku. Dia tau kalau aku punya rencana. Aku mengangkat bahu. "Biar aja tidur di luar." *** "Nina! Kafka!" Astaga, suara mereka kencang sekali. Aku menatap jam dinding, baru satu jam aku tidur. Mereka mengganggu sekali. Aku menatap Raja yang tampak tenang. Jangan sampai anakku terbangun gara-gara suara mereka yang kencang itu. Ponselku berdering beberapa kali. Mas Reno, Mamanya, juga Rini meneleponku beberapa kali. Aku menggelengkan kepala, beranjak. Mereka mengganggu sekali. Belum juga keluar dari kamar, kamarku sudah diketuk. Kafka tampak kesal sekali, dia mengacak rambut. Kafka palibg tidak bisa kalau sedang tidur diganggu. "Aduh, suami Mbak ganggu banget. Gak tau lagi aku. Pusing dengarnya." Aku tertawa pelan, Kafka melotot. Dia menguap lebar, membuatku menepuk pundaknya. "Tidur lagi sana. Pakai penutup telinga. Jangan didengerin. Ponsel kamu disilent." Kafka kembali menguap lebar. Aku buru-buru menahannya yang hampir saja menabrak tembok, kemudian menggelengkan kepala. Kafka melangkah seperti orang mabok ke kamar. Raja juga tidak bangun. Aku kembali menutup pintu rumah. Bodo amat soal Mas Reno, Mamanya, dan juga Rini. Aku tidak peduli sama sekali. "Tahan saja. Besok baru kubukakan pintunya," gumamku sambil kembali menutup pintu kamar. *** "Kamu tega banget, Nin. Parah. Gak dibukain semalaman. Nyamuk semua, lihat ini merah-merah." Mas Reno protes, dia terlihat kesal sekali. Wajahnya kusut, matanya merah kurang tidur. Aku meliriknya sekilas. Ini sudah pagi, mereka memang semalaman ada di luar rumah. Bahkan saat aku hendak tidur suara pintu diketuk keras sekali terdengar sampai ke kamar. Yang aku takutkan hanya Raja yang terbangun. Yang lainnya mah aku bodo amat. "Siapa suruh pulang malam." Aku mengangkat bahu, tidak merasa bersalah sama sekali. Lagian memangnya apa salahku? Tidak ada. Malah Mas Reno marah-marah. "Tapi gak di biarin gitu aja, Nina. Kamu bukain tadi malam kita gedor-gedor. Masa gak dengar sih sampe ke kamar. Kita sampai teleponin kamu berapa kali lho, tapi gak ada jawaban juga. Udah telepon Kafka, gak ada respon sama sekali. Ngantuk banget aku." "Tidur." "Ya ampun, Nina. Kamu berubahnya kebangetan. Capek." Perkataannya tidak aku tanggapi. Lebih memilih untuk meletakkan makanan ke atas meja. Tidak ada yang penting dari perkataan Mas Reno. "Kamu mau kemana lagi? Udah siap kayak gitu." Mas Reno akhirnya menanyakan soal pakaian yang aku pakai pagi ini. Dia penasaran sekali sepertinya. "Butik." Aku menjawab singkat. Memang hari ini aku akan ke butik. Sudah lama tidak memantau di sana. Waktunya melihat apa yang ada di sana, juga melihat keadaan. Apakah baik-baik saja selama aku tinggal? Itu yang menjadi pertanyaanku. Awas saja sampai ada yang selip sedikit. Aku berharap tidak ada masalah sama sekali dengan butik itu, karena penghasilan terbesar ada di butik itu. "Terus anak kamu?" tanya Mas Reno penasaran. "Kamu yang jagain." Aku meliriknya tajam. Bisa-bisanya dia bertanya begitu, apakah dia tidak sadar kalau Raja itu juga anaknya? "Lah kok aku, sih?" Mas Reno langsung protes, tidak terima kalau dia yang harus menjaga Raja. Memangnya siapa lagi? Tidak mungkin aku membawa Raja ke butik. Dia benar-benar hanya mau enak sendiri. Apakah dia tidak sadar kalau dia juga Papanya Raja? "Sama Kafka aja, Mbak gak usah bingung mau sama siapa, ada Kafka di sini. Justru kalo sama orang itu jangan dipercaya." Kafka melirik Mas Reno, dia baru saja menyindirnya. Baiklah. Terserah saja. Yang penting Raja baik-baik saja, aman sampai aku kembali ke rumah. Aku mengambil piring, tidak peduli dengan perdebatan Mas Reno dan Kafka. Sebelum berangkat, aku menghentikan langkah mendengar perkataan mertua dan Mas Reno di belakang rumah. Ada si Rini juga. Mereka sepertinya sedang membahas sesuatu yang lumayan penting. Kenapa sampai membicarakan di belakang rumah? Bukan di ruang tamu saja? Pasti ada sesuatu lagi nih. Aku menganggukkan kepala, bersembunyi di balik tembok. "Udahlah. Kamu ceraiin aja si Nina itu. Bosan Mama lihatnya setiap hari. Masa kita aja gak dikasih makan, cuek. Dia bukan Nina yang dulu, yang bisa kita suruh-suruh." Suara Mama Mas Reno terdengar "Gak bisa gitu, Ma. Reno belum dapat pekerjaan apa pun sekarang, kita makan apa nanti? Jadi gelandangan?" Senyumku terangkat mendengar itu. "Lagi pula, surat-surat aset masih sama Nina, meskipun atas nama Reno." "Ya, kamu mintalah. Jangan mau jadi budaknya si Nina." "Gak bisa. Reno juga masih cinta sama Nina. Ada Raja juga yang baru lahir." "Halah, lama-lama Mama tinggal tulang tinggal di rumah ini. Kesal sama kamu yang terlalu cinta sama si Nina." Mama Mas Reno mengentakkan kaki, kemudian masuk ke dalam rumah. Aku tersenyum samar. "Sayangnya, aku tidak mencintaimu lagi." *** "Ini udah dapat pembelinya." "Bagus. Saya kesana sekarang." Aku hanya beberapa jam di butik. Mengecek keuangan, mengecek barang masuk dan keluar. Juga lihat kinerja karyawan. Mobilku berhenti di depan rumah Mama Mas Reno. Sudah ada orang yang akan membeli rumah itu. Sejak tadi malam, iklan penjualan rumah memang dipasang. Aku tersenyum ke calon pembeli itu. Rumah ini memang akan aku jual. Agar kalau sudah bercerai nanti, keluarga Mas Reno akan pindah ke rumah lamanya, yang kecil itu. "Kalau barang-barang yang masih di dalam bagaimana?" tanya calon pembeli rumah. "Nanti kalau sudah deal saya bakalan ambil barang-barangnya, Pak." Akhirnya, rumah itu dibeli dengan harga cukup fantastis. Aku tersenyum pada calon pembeli itu, mengantarkannya keluar rumah. Tinggal memikirkan bagaimana cara mendapatkan tanda tangan Mas Reno untuk membalikkan surat-surat aset. Aku duduk sejenak di sofa. Menatap rumah yang akhirnya terjual. Dulu, rumah ini tidak ada yang menunggu, akhirnya keluarga Mas Reno pindah ke sini, katanya enak di rumah yang besar. Kalau dipikir-pikir betul juga, harusnya sejak dulu aku menjualnya. Ponselku berdering. Dari Kafka. "Kenapa?" tanyaku pelan. "Udah selesai, Mbak?" "Apa yang udah selesai?" "Jual rumahnya. Harus selesai sekarang, Mbak. Biar gak kebanyakan pikiran." Aku berdeham. "Udah kejual. Tinggal pindahin barang-barang ini. Banyak banget." "Bagus. Enak aja mereka numpang doang, tanpa bayar sesuatu." "Kapan kasih tau ke mereka?" tanyaku sambil mengambil salah satu bingkai foto keluarga Mas Reno. "Secepatnya, Mbak." "Oke. Kamu atur aja." "Aku gak sabar lihat reaksi mereka, Mbak." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD