chapter 4

3178 Words
"Aku tau, aku yang salah. Aku yang tidak ingin pernikahan ini di ketahui bayak orang. Hik... hanya belum siap menikah muda Bi... Tapi kenapa dia menyudutkan ku Bi huaaaa..." "Non yang sabar. Setiap rumah tangga pasti ada aja masalah. Non harus siap dengan itu, Non harus bisa menghadapinya. Jangan biarkan orang lain berhasil masuk ke dalam rumah tangga Non." Bi Ani ikut menagis. * Di dalam ruangan Varrel terlihat uring-uringan sendiri. Perasaan bersalah berhasil menghantuinya. Di dalam lubuk hati yang paling dalam ia benar-benar menyesali perbuatan kasarnya terhadap zahra tadi. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu padanya. Aaggrrr..... Kata-kata penyesalan itu terus mengelilingi otaknya. Sembari membuang nafas kasar Varrel perlahan-lahan memijit keningnya lembut, mencoba memikirkan apa yang harus ia lakukan nantinya jika bertemu dengan Zahra. Mengatakan maaf, apa Zahra nantinya akan memaafkannya, Varrel masih belum yakin kalau zahra akan memaafkannya. "Aggrrrr... Kenapa pikiranku selalu di hantuin." Varrel bergemuruh memukul meja kerjanya kasar. Selama hidupnya baru Zahra sosok yang berhasil merasuki pikirannya terus-menerus. Bertahun-tahun lamanya Varrel membuang rasa cinta terhadap wanita, setelah ia mengalami penolakan yang begitu menyakinkan yang pernah ia alami. Ya, tentu saja itu adalah cinta pertama Varrel. Gadis polos, cerdas dan tentunya sangat cantik. Dia adalah mahasiswi di kampus universitas tempat Varrel menuntut ilmu di Amerika. Awalnya Varrel tidak tertarik dengan namanya Cinta dan kasih sayang. Cukup rasa Cinta dan kasih sayang untuk kedua orang tuanya saja, selebihnya tidak. Tapi, seiring berjalannya waktu tanpa Varrel sadari teryata dia jatuh Cinta pada wanita polos itu. Dia berharap bisa memiliki gadis polos itu, ingin hidup bersamanya selamanya bagaikan Romeo and Juliet. Namun, takdir berkata lain. Varrel di tolak mentah-mentah oleh gadis itu, dengan mengunakan alasan yang sangat konyol. "Aku tidak suka laki-laki yang menyukai warna merah. Itu terlihat seperti perempuan" Deg. Detik itulah Varrel memutuskan untuk menjauhi yang namanya wanita. Hatinya benar-benar hancur mendengar penolakan yang tidak masuk akal itu. Apa salahnya jika laki-laki menyukai warna merah, bukankah itu hal yang wajar. Bagi Varrel warna merah adalah melambangkan keberanian dan kesucian. Tapi sayangnya tidak semua orang berpikir sama dengan dirinya. Dari situlah Varrel menyatakan kalau cinta itu sangat brensek. Datang secara tiba-tiba dan pergi meninggalkan bekas yang begitu teramat menyakitkan. Varrel menutup hatinya kepada siapapun itu. Dia juga sangat membenci warna merah. Bagi dirinya warna merah kini telah melambangkan kepahitan. Di sisi lain Rama, Justin dan Intan. Mereka masih sibuk mencari Zahra keseluruhan penjuru kantor. Dengan tujuan berbeda. "Perasaan kemaren dia keluar dari kantor ini deh, tapi kenapa dia tidak ada ya. Ckck." Ramaberdecak kesal sadari tadi dia tidak menemukan zahra. Justin dan Intan sudah kesalahan mencari zahra ke semua tempat, kecuali lantai Lima puluh. Karena lantai itu di luar kemampuan mereka. Mencari di situ sama dengan menyerahkan surat resign. Jalan satu-satunya mencari keberadaan Zahra adalah di tempat security. Ya, mungkin saja dia telah keluar tanpa sepengetahuan mereka. "Pak. hahhhhh..... Apa bapak melihat Bu Zahra keluar dari kantor...??" Justin bertanya dengan nafas terengah-engah. "Maksud Pak Justin Ibu Kimmy ketua Humas baru...??" Pak security bertanya memastikannya. Sudah pasti semua orang kini mengenakan Zahra, kerena dia pernah menjadi trending topik di kantor beberapa hari yang lalu. "Iya, iya. Apa bapak melihatnya...??" "Saya melihatnya, beberapa menit yang lalu Bu Zahra keluar dari kantor pak. Beliau terlihat seperti terburu buru. Mungkin ada sesuatu yang penting." "Keluar." Justin menaikkan alisnya. "Ehm. Ibu zahra keluar sendiri atau bersama seseorang...??" Luna menduga Zahra pergi bersama Seli. "Sepertinya sendiri pak Justin. Soalnya saya tidak melihat siapapun di kursi penumpang." "Zahra kamu kemana. Jam makan siang sudah lewat. Tidak mungkin dia pergi jauh-jauh hanya untuk makan. Apa jangan-jangan dia sudah di pecat." "Kalau begitu saya ucapkan terimakasih Pak. Saya mau balik lagi kerja." pamit justin a sembari tersenyum kecil. "Sama-sama Pak Justin." * Di ruang Presdir Varrel membukakan matanya kembali setelah beberapa menit laki-laki itu memejamkan matanya, berusaha untuk tidur agar bisa melupakan kejadian tadi. Namun, hasilnya nihil. kejadian tadi malah semakin membuat dia terbangun karena perasaan menyesal semakin memberat. Tok... Tok... Tok... Suara ketukan pintu, langsung saja membuat laki-laki itu menoleh dengan cepat. "Masuk." Seorang office girl memberanikan diri masuk setelah mendengar sahutan Varrel. Wanita itu berjalan sembari menundukkan sedikit kepalanya. "Ada apa...??" Varrel langsung bertanya lebih dulu sebelum wanita itu membukakan mulutnya. "S-Saya kesini cuma mau mengantarkan ini pak." Sembari menyerahkang berkas-berkas yang dia bawa. Meletakkan berkas itu di atas meja. Varrel langsung saja mengambil berkas itu, dan mencoba membacanya. Seketika saja matanya membulat penuh saat membaca apa isi semua berkas itu. " Ini..." "Saya menemukan berkas itu berserakan di lantai Pak. Saya pikir itu berkas penting jadi saya berikan kepada Bapak." "Hem. Kami boleh pergi sekarang." "Permisi." Varrel mencoba kembali mengingat kejadian tadi. Keraguan mulain muncul dalama dirinya. Sekarang ia sudah tau kalau Zahra pergi ke ruangannya hanya untuk mengantarkan berkas saja. Tapi yang jadi jadi pertanyaan, apa yang terjadi pada mereka bertiga. Kenapa mereka saling dorong mendorong. Varrel semakin pusing memikirkannya. Apalagi setelah ia melihat dengan jelas berkas-berkas itu. Berkata yang sudah sangat rapi di siapkan oleh zahra. Dirinya semakin menyesal. * Tepat pukul lima sore Varrel tiba di rumah. Hari ini ia memilih pulang lebih awal, agar bisa secepatnya berbicara pada Zahra. Bi Ani dengan cepat membukakan gerbang pintu sesaat setelah ia mendengar suara bunyi bel dan klakson mobil yang terus berbunyi. "Bi. Apa zahra sudah pulang." "Sudah, tuan. Non Zahra sudah sampai di rumah sejak dari tadi siang." Bi Ani hanya bisa berkata setengah. Padahal dalam hatinya, ingin sekali bercerita apa yang telah terjadi dengan zahra sesampainya di rumah. "Tuan." suaranya panggilan Bi Ani. Menghentikan langkah Varrel yang kala itu hendak memasuki rumah. "Iya." "Sepertinya Non, kurang sehat Tuan. Semenjak pulang Non, belum makan apa-apa. Saya sudah berusaha membujuk Non makan. Tapi tetap saja di tolak." "Apa??" "Tuan muda" Bi Ani kembali memanggil Varrel. Dan lagi-lagi Varrel kembali menghentikan langkahnya. "Maaf Tuan, kata Non Zahra. Non tidak Ingin di ganggu." Ni zaman sekalinya Ingat betul apa yang di katakan zahra tadi siang sebelum dia masuk kedalam kamar. 'Bi aku ingin sendiri tolong jangan biarkan siapapun masuk.' "Apa dia marah, kepadaku." "Tuan muda" Bi Ani kembali memanggil Varrel. Dan lagi-lagi Varrel kembali menghentikan langkahnya. "Maaf Tuan, kata Non zahra. Non tidak Ingin di ganggu." Bi Ani Ingat betul apa yang di katakan Zahra tadi siang sebelum dia masuk kedalam kamar. 'Bi aku ingin sendiri tolong jangan biarkan siapapun masuk.' "Apa dia marah, kepadaku." "Varrel hanya ingin melihat keadaan zahra saja kok Bi." ucap Varrel lalu kembali melanjutkan langkahnya. Di dalam kamar, Zahra baru saja selesai dalam ritual mandinya. Tepat di depan cermin wanita itu menggosok-gosokkan rambutnya dengan handuk putih, sembari menatap wajahnya yang masih sembab. Mungkin karena terlalu menangis. "Mungkin beginilah rasanya ketika melihat seseorang yang kita cintai lebih mementingkan orang lain dari pada istrinya sendiri. Apa kamu bilang barusa istri hhhhhhhh, apa dia menganggap kamu istrinya. Lucu sekali." Zahra kembali merasakan sakit hatinya saat membayangkan kejadian itu lagi. "Zahra, Sayang, buka pintunya. Aku ingin bicara." suara Varrel yang diiringi dengan ketukan pintu secara berangsur-angsur. Teryata laki-laki itu kini telah sampai di depan pintu kamar Zahra, awalnya ingin langsung membukanya namun tidak bisa, karena pintunya terkunci rapat. Zahra yang mendengar suara panggilan itu pun sedikit tersentak karena terkejut. "I---" Zahra hampir saja membukakan suaranya, menyahut. Tapi dengan cepat wanita itu menutup kembali mulutnya. 'Hampir saja.' 'lima minutes later the' Zahra meresa sangat kesal sekarang karena mendengar suara panggilan yang tak kunjung berhenti. "Ck, Mau ngapain dia sih, apa masih belum puas tadi siang memarahiku. Dan sekarang ingin memarahi lagi." Zahra dengan gerak cepat menutupkan kedua telinganya dengan bantal guling. Di luar kamar Varrel sudah kewalahan sendiri mengetuk pintu yang tak kunjung juga di buka, jangankan di buka mendengar sahutan saja tidak. Akhirnya Varrel memutuskan pergi. Lebih baik mandi dulu menyegarkan badan baru setelah itu mencoba memanggil zahra kembali, mungkin saja nanti pikirannya sudah membaik pikir Varrel berlalu pergi ke kamarnya. Setelah dua puluh menit telah berlalu dan tidak mendengarkan lagi suara sahutan dan ketukan pintu. Barulah Zahra secara perlahan-lahan menginjakkan kakinya lagi di lantai. Dengan tanpa suara berjalan ke arah dapur. Sudah dari tadi cacing dalam perutnya mendemo mintak jatah makan. Bagaimana, tidak sudah dari tadi siang wanita itu belum memakan makanan apapun untuk mengenyangkan perutnya. "Non." suara Bi Ani yang terkejut karena melihat Zahra tiba-tiba berada di belakangnya. "Suuuttt..... Jangan keras-keras Nanti kedengaran sama orang yang tidak berperasaan itu." Zahra dengan cepat memberikan isyarat diam dengan jari telunjuknya yang di katup kan di bibirnya. "Eh, Iya Non. Tapi Non, Bibik mau tanya. Orang yang tidak berperasaan itu siapa ya Non?" bisik bik Ani yang belum mengerti arah pembicaraan Zahra. "Heh, suami saya. Dia laki-laki yang enggak punya perasaan, tidak punya hati dan juga tidak punya mata." ketus zahra. "Eehhhh. Orang buta itumah Non." "Beda Bi, kalau orang buta, masih punya perasaan tapi kalau orang enggak punya mata dia enggak punya perasaan sama sekali." "Eh, Non. Jangan bicara seperti itu, enggak baik. Suuuttt, seorang istri enggak boleh membicarakan keburukan tentang suaminya. Bagaimana pun kelakuan suami dia tetap cermin bagi kita yang selaku istrinya." "Bi... Bibik membela mas Varrel...??" "Bukan membela atuh Non. Bibi cuma ngingetin Non, agar Non. Tidak di sebut wanita durhaka sama suami." "Serah Bibik lah, yang penting. Yang Zahra inginkan sekarang Bibik jangan membicarakan mas Varrel lagi. Kalau enggak mood zahra kembali naik. Bawaannya kesel mulu setiap mendengar nama itu." Zahra mengigit gigi bawahnya rapat-rapat mempraktekkan kekesalannya. "Ya, udah Non, huppp... Bibi kunci ni mulut Bibik rapat-rapat enggak akan membicarakan tuan muda lagi. Supaya Non tenang dan bisa makan yang banyak. Yok Non, Bibi sudah masakin sop ayam kesukaan No." ajak bik Ani, sembari menarik kursi agar Zahra bisa duduk. "Makasih." "Non, pokoknya Non harus makan yang banyak. Agar Non, punya tenaga melawan tu perempuan tanah j*****m itu, pelakor tidak tau malu. Beraninya mengganggu rumah tangga orang. Apalagi rumah tangga Non yang baru di mulai. Hehhhh bikin greget aja." "Bi..." Zahra tersenyum mendengar perkataan Bi Ani, katanya tidak boleh membicarakan keburukan orang tapi ini malah sebaliknya. * Varrel yang juga sudah siapa dengan ritual mandinya pun, kini melayangkan kakinya melangkah kembali ke kamar Zahra, setelah sesaat ia memakaikan pakaian rumah. Varrel menaikkan alisnya tak kala laki-laki itu mencoba membukakan pintu kamar zahra, yang langsung terbuka tidak terkunci lagi. Dengan segera laki-laki itu menjulurkan kepalanya mengintip ke dalam. Ia menduga kalau Zahra sudah tidak di kamar lagi. Dan benar saja teryata memang Varrel tidak melihat keberadaan zahra di seluruh penjuru kamar. "Dia pasti di ruangan makan." Varrel menduga. Terasa lega di hatinya jika kalau dugaannya benar, sembari tersenyum Varrel seakan tidak sabar turun dari anak tangga. Perlahan-lahan namun pasti Varrel secara berangsur-angsur melayangkan kakinya mendekati ruangan makan. Di lihatnya Zahra dan Bi Ani sedang makan bersama dan sesekali tertawa bersama-sama. Entah pembicaraan apa yang mereka bicarakan, tapi kedengarannya seru sampai-sampai keduanya tertawa lepas. Varrel dari agak kejauhan terus saja memperhatikan wajah manis Zahra, apalagi saat wanita itu tertawa, manisnya melebihi gula merah. Varrel seakan terpesona melihat wajah manis Zahra. Hingga membuat matanya tak berkedip sama sekali, senyumannya tersungging tidak berhenti sadari tadi. Senyum-senyum sendiri kayek orang gila hhhhh, Mungkinkah ini yang di namakan cinta hanya hati yang tau. "Non." Bi Ani sontak mengehentikan tawanya tak kala wanita tua itu baru menyadari kalau sadari tadi mereka ada yang merhatiin. "Hah, apa?" Tanya Zahra juga kini menghentikan tawanya. "Itu... Itu... Itu..." Bi Ani mengisyaratkan dengan kode mata, memberitahukan kalau Varrel sadari tadi melihat Zahra. Zahra belum tau akan kode mata itupun langsung saja melirik ke arah samping, ke arah yang di tunjukkan Bi Zahra. "Hemmm. Khukkk... Khuk..." Varrel yang kepergok tidak tau harus melakukan apa akhirnya dia berpura-pura dehem dan batuk. "Khukkk... Khukkk... Kenapa aku batuk ya apa aku salah makan tadi." Varrel yang sudah tidak tau lagi harus mengatakan apa, Hanya bisa mengaruk-garukkan kepalanya tak gatal. Zahra dengan cepat memalingkan wajahnya kembali menatap Bi Ani. Hanya bisa melotot melihat wanita tua itu seolah-olah bertanya sejak kapan pria tidak berperasaan itu ada di situ. "Bik, seperti Zahra harus segera ke kamar. Soalnya zahra lupa tadi mencabut charger ponsel. Takutnya nanti meledak karena terlalu lama di chas." ucap zahra yang langsung beranjak bangkit dari kursi. "Iya, Non. Harus itu kalau enggak nanti meledak." Sembari menutup wajahnya dengan tangan zahra berjalan secepatnya melangkah melewati Varrel tanpa memperdulikan laki-laki itu yang sudah berulang kali memanggilnya. * “sayang tunggu..” Varrel memanggil zahra dengan sedikit mengeraskan suaranya, karena di panggilan pertama tidak membuat wanita itu menoleh ataupun berhenti. Zahra yang mendengar namanya di panggil dengan suara langtang langsung saja menghentikan langkahnya seketika. Wanita itu memalingkan wajahnya cepat, tapi sorot matanya tidak melirik kearah Varrel selaku orang yang memanggilnya, melainkan kearah Bi Ani. “Bik setelah beres-beres nanti ke kamar zahra ya Bi. Soalnya ada sesuatu yang ingin Zahra tunjukkan.” ucapnya sembari tersenyum lebar, lalu setelah itu langsung melanjutkan langkahnya kembali tanpa berhenti lagi Varrel berdecak kesal merapat akan kedua giginya menahan kekesalan. Bola matanya terus saja memperhatikan punggung Zahra hingga lenyap dari pandangannya. “Tuan muda.” panggil Bi Ani. “Katakan padanya kalau aku tidak akan peduli lagi.” Varrel sedikit menekankan kata-katanya, lalu meninggalkan bi Ani sendirian di sana. Bi Ani hanya bengong sembari menggeleng-geleng kan kepalanya merasa tak habis pikir dengan kedua majikanya itu. Sudah seperti tom end jerry saja selalu bertengkar. *** Di kamar zahra duduk bersantai di pinggiran ranjang setelah sesaat wanita itu mengambil ponselnya , yang sudah terisi penuh. Ya, karena sudah dari tadi siang ia mengisikan baterai ponselnya. Ponselnya yang lowbat membuat wanita itu kesusahan mengabari Intan kalau dia sudah berada di rumah sejak tadi siang. “Intan pasti sangat khawatir sekarang.” Zahra bergegas menghidupkan ponselnya. Seketika saja mata Zahra membulat sempurna saat melihat puluhan panggilan masuk dari Intan, yang sudah menghubunginya sejak dari tadi siang" "Tu kan, Apa aku bilang." “Maaf Tan aku lupa mengabari mu. Aku sudah pulang sejak dari tadi siang, tiba-tiba saja badanku terasa tidak enak. Jadi aku memutuskan untuk pulang lebih cepat hari ini. Semoga tidak ada masalah saat aku tidak ada di sana.” Zahra dengan cepat mengirim pesan pada Intan. “Huuufff…..” sembari menunggu balasan dari Intan, Zahra kembali melihat daftar panggilan masuk. Ia inggin melihat siapa saja yang telah menghubunginya saat ponselnya mati barang kali ada panggilan masuk dari kedua orang tuanya. Kening Zahra berkerut saat melihat nomor panggilan masuk yang tidak tertera namanya, telah menghubunginya belasan kali. Zahra hendak mencari tau siapa yang telah menghubunginya itu namun niatnya terurung tak kala mendapat notifikasi balasan dari sahabatnya Intan. “Ya ampun Zahra. kenapa kamu baru mengabarinya sekarang sih. Kamu hampir membuat aku dan Justin mati berdiri tau enggak, gara-gara nyariin kamu enggak ketemu-ketemu, di telpon enggak aktif.” Ketus Intan. “Hehehe….. Maaf baterai aku lowbat, jadi aku enggak bias ngabarin kamu.” "Kami itu benar-benar ya." "Maaf, kalau enggak baterai ku lowbat aku pasti ngabarin kamu" "Jangan ulangi lagi. Buat orang jantungan aja, udah takut setengah mati kami sama kamu. Takut kenapa-kenapa, ehhh... Tau-taunya kamu malah enak-enakan di rumah rebahan." "Ya. Janji enggak akan ulangi lagi" "Jangan lupa besok kita berangkat ke prancis jam delapan pagi, karena pesawatnya take off jam setengah sembilan." "Aku enggak pergi, kalian saja." "What..... kamu udah gila, jangan bercanda. Kalau kamu enggak pergi terus siapa nantinya yang akan menjelaskan rancangan proyek yang kamu buat hah" "Kan ada tukang drama, biarkan dia saja yang jelasin. Sekalian nyarik perhatian lakik orang" "Maksud kamu...?" "Bu Dira, kan ada dia di sana nanti, tukang nempel" "Hahahaha.... Kamu cemburu sama Bu Dira..? "Apa? cemburu, sama dia, jangan mimpi. Karena itu enggak akan pernah terjadi." "Apa yang perlu di cemburuin sih sama wanita seperti dia itu, jelas-jelas tidak ada yang patut" zahra langsung saja mematikan ponselnya dengan mode diam, Mood buruknya kembali naik. *** Tok... Tok... Tok... "Non, Non Zahra" "Masuk.... Pintunya enggak di kunci" Bi Ani baru memberanikan diri setelah mendapat izin masuk, wanita tua. itu berjalan mendekati Zahra yang kala itu masih duduk di pinggiran ranjang sembari meremas bantal guling dengan sangat kasar. Bi Ani yang menyaksikan itupun menelan ludahnya kasar. "Non..." suara Bi Ani yang sesaat berat ia layangkan. Apalagi giginya ngilu saat melihat zahra yang semakin meremas bantal guling. "Iya ada apa Bi...?" Zahra bertanya tanpa menoleh. "Katanya Non, Ingin membicarakan sesuatu dengan saya. Makannya saya datang ke sini "Enggak jadi." "Lah kok gitu Non. Bukannya tadi Non sendiri yang meminta saya untuk datang ke kamar Non." "Iya tadi, tapi sekarang enggak." Bi Ani menghela nafas panjang. sebelum sesaat wanita tua itu berjongkok tepat di depan majikannya. "Bik. Bibik mau ngapain..." Zahra sontak berdiri. "Jangan duduk di situ. Di situ dingin, Bibik duduk di sini saja." "Enggak papa kok Non, Bibik sudah biasa kok seperti ini." "Tapi Zahra tidak enak Bi." Zahra bersikeras memaksa Bi Ani agar duduk di ranjang. Bagaimana mungkin dia membiarkan orang tua duduk di lantai yang dingin sementara dia enak-enakan duduk di atas ranjang yang empuk. Ini bukanlah sikap yang baik. Akhirnya Bi Ani mau juga duduk di atas ranjang berdekatan dengan zahra. Setelah mendapat paksaan dari wanita itu. "Kalau Boleh tau Non, Non kenapa sebenarnya. Apa yang terjadi, kenapa Non bersikap sangat dingin terhadap tuan muda. Karena semenjak pulang tadi siang Non enggak memberitahu Bi Jumi sama sekali. Bi Ani kan jadi khawatir lihat kondisi Non seperti itu. Mogok makan, enggak mau di ganggu dan kesal sendiri kayek orang gila. Zahra tersenyum mendengar perkataan Bi Ani barusan. Teryata dia tidak salah memilih asisten rumah tangga. "Terimakasih Bibik sudah sangat perhatian sama zahra." Tuturnya setelah itu Zahra pun menceritakan semua kejadian hari ini yang dia alami sampai detik ini, dia juga menceritakan semua balasa pesan dari Intan sedetail mungkin. Kenapa bisa moodnya kembali bisa naik, padahal tadi sudah turun. "Non... Non, Tetap harus pergi ke Prancis." ucap Bi Ani setelah ia mendengar semua cerita yang di cerita Zahra barusan. "Bibik mendukung Intan?" Cibir zahra merasa tidak suka jika Bi Ani juga ikut-ikutan memaksanya. "Bukan, Bibik tidak membela siapapun di sini. Hanya saja Bi Ani Ingin memberikan pendapat." "Coba Non, bayangkan deh. Kalau seandainya Non enggak pergi. Terus hasil susah payah Non kerjakan proyek besar di ambil alih oleh pelakor enggak tau diri itu, bisa gawat kan Non. Dia mendapatkan banyak pujian dari orang-orang sementara dia enggak mengerjakan apapun di berkas yang Non buat. Terus yang lebih parahnya Non, dia lebih leluasa mendekati tuan muda, setiap saat dia nempel kayek ulat bulu. memerhatikan wajah tampan tuan muda, mendekati, menyentuh. Aaaaaa..... Bibik enggak bisa bayangin kalau sampai di mendekati tuan muda. Bisa-bisa dia melakukan itu, memp----" "Bibik..." Zahra dengan cepat memotong pembicaraan Bi Ani. Telinganya memanas jikalau mendengar kelanjutannya. "Non." bik Ani menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bahaya Non, kalau Non. enggak pergi. Hancur masa depan kita Non." "Siapa bilang aku enggak pergi, enak aja. Aku akan pergi." Zahra menatap lekat-lekat wajah Bi Ani, menyakinkan kalau dia berani menghadapi Dira. "Bagus Non, Bi Ani dukung. Ayo Non, maju Non jangan gentar hempaskan pelakor. Buang dia jauh-jauh kalau bisa ke Kutup Utara sekalian, biar di jadikan istri pinguin." "Benar, Bik. Aku akan membuat dia membayar semuanya sekarang. Emang dia pikir dia aja yang bisa main drama, aku kan juga bisa. Aku akan buktikan kalau aku adalah aktris terbaik di Indonesia." "Hidup Non Zahra. Hidup... Hidup.... Ayo Non, jangan gentar." Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD