bc

Perjodohan

book_age18+
355
FOLLOW
2.0K
READ
drama
comedy
like
intro-logo
Blurb

Fatia Az-Zahra, atau kerap kali di panggil Zahra. Harus rela mengorbankan impiannya menjadi model berbintang karena terpaksa harus menerima perjodohan dari sang ayah. Laki-laki yang bahkan belum Zahra kenal ataupun melihatnya. Mau tidak mau Zahra tetap harus menikah laki-laki tersebut. Akankah Zahra sanggup bertahan menjadi seorang istri atau malah sebaliknya hanya reader yang tau. Yok mari sama-sama simak selengkapnya.

chap-preview
Free preview
Permulaan
"Apa? menikah, Papa lagi bercanda kak, ini tidak serius kan, Zahra harus menikah. Oh tidak." suara seorang wanita cantik terdengar berdecak kecil menghambur tubuhnya diatas kasus. Sungguh mendengar desakan dari Papanya membuat Zahra rasanya ingin mati saja. Menikah, satu kata itu tergiang sampai kepala rasanya ingin pecah. Zahra tau menikah adalah suatu perbuatan Sunnah yang sangat dianjurkan dalam agama tapi untuk saat ini Zahra merasa sangat ingin sendirian dia tidak mau menikah dulu. Apalagi Zahra baru saja lulus dari perguruan tinggi ternama di Pakistan dan nanti malam akan pulang ke Indonesia. Padahal awalnya dia sangat ingin menjadi seorang Model, memulai karirnya. Tapi permintaan Papa, tapi ah sudahlah! "Zahrah, Zahra dengarkan Papa dulu nak! Papa melakukan ini semua demi kamu. Papa ingin kamu mendapatkan suami yang terbaik yang bisa melindungi dan menjagamu sayang." ucap pak Hasan terdengar nyaring dari sambungan telepon. Suara itu tak jauh dari telinga Zahra sehingga membuat Zahra dapat mendengar semuanya. Penuh malas Zahra kembali memegang ponselnya itu yang sempat ia lambungkan, menempelkannya didaun telingan. Diikuti dengan bola mata memutar malas dan hembusan nafas begitu kasar Zahra berbicara lagi. "Tapi Zahra ingin menjadi Model dulu Pah. Zahra belum siap untuk menikah, Zahra ingin mencapai cita-cita Zahra dulu!" "Papa tidak mau tau Zahra, nanti malam kamu harus pulang ke Indonesia bagaimanapun juga. Kalau kamu masih menganggap Papa ini sebagai Papamu." tukas pak Hasan tanpa toleransi sedikitpun mematikan sambung telepon. Aaagggrrr .... Ingin rasanya Zahra berteriak sekeras-kerasnya meluapkan isi kepalanya. Menolak permintaan Papa, apa tidak dengar apa yang papa katakan tadi. Ckckck "Seperti Papa sangat serius dalam ucapan. Oh tidak apa yang harus aku lakukan Hahhhh ..." *** Istanbul, Turki airport Pukul 20.00 Zahra baru saja tiba di bandara setelah memboking tiket pesawat Garuda Indonesia bangku bisnis class terbang ke Indonesia malam ini juga. Ancaman Papa masih sangat jelas teringat dalam memori Zahra, mau tidak mau Zahra harus tiba di Indonesia besok. Karena kalau tidak, mungkin dia akan dicoret dalam daftar keluaran dan ahli waris, oh Now. Zahrah tidak bisa hidup gelandangan. Pesawat delay dua jam lamanya, Zahra semakin mendengus kenapa suasana hatinya sangat tidak baik seharian ini. Pertama karena makanan gosong tadi pagi, kedua karena terlambat menghadiri acara fashion kampusnya, dan ketiga desakan Papa untuk menikah, sekarang malah menunggu dua jam pesawat delay karena cuaca. Oh tidak! Sungguh menyebalkan, menjengkelkan rasanya ingin mencabik-cabik seluruh semua orang yang ada di bandara. Tepat pukul setengah dua belas malam akhirnya pesawat yang di tumpangi Zahra lepas landas juga dari bandara. Barulah Zahra bernafas lega. *** Indonesia Ningsih Tepat pukul lima sore seorang pria paruh baya baru saja tiba di rumahnya, setelah sesaat ia memarkirkan mobilnya di garansi. Pria yang tak lain tak bukan adalah Pak hasan . Ayah kandung Zahra. Di sisi lain seorang wanita yang umurnya melewati empat puluh tahun, berdiri tepat di ambang pintu. Wanita paruh baya tua itu mengembangkan penuh senyumannya tak kala melihat seseorang yang sudah dari tadi dia tunggu-tunggu sedang melangkah ke arahnya. "Ehhh.... Papa mau kemana? katanya janji mau menjemputmu putri kita di bandara, ini sudah terlambat Lo," berucap ibu Ningsi tak kala melihat suaminya malah menerobos masuk sesaat setelah ia menyalami sang istri terlebih dahulu. "Iya, Mah, sebentar. Papa mau ganti baju dulu." pak Hasan menerobos masuk. "Tidak perlu, tidak usah gonta-ganti baju segalak. Begini aja udah bagus, emang kita mau pergi kondangan. Kita ini mau menjemputmu putri kita di bandara." seru Ibu Susi dengan gerak cepat menghadang langka suaminya itu. "Tapi, Mah, badan Papa itu bau. Nanti kalau orang-orang di bandara pada muntah-muntah bagaimana. Kan bisa malu," ucap pak Hasan memberikan alasan, padahal ia sudah tidak tahan ingin segera mandi. "No ... Pokoknya Papa tetap enggak boleh ganti baju dulu apalagi mandi. Sebelum Zahra pulang Papa tidak boleh mandi sama sekali titik." ancam Bu Ningsi membuat pak Hasan tidak berkutik lagi. Percuma perempuan selalu benar dan laki-laki selalu salah. "Hahhh ... Baiklah." kalau sudah titik berarti tidak ada koma. Dengan nafas panjang pak Revan melayangkan kakinya lagi. Ibu Ningsi pun langsung tersenyum penuh kemenangan, pasalnya ia sudah tidak sabar ingin bertemu anak semata wayangnya itu. Bagaimana tidak sudah tiga tahun terakhir ini Ibu Susi sangat merindukan Zahra. Bahkan tak ada hari tak pernah melakukan panggilan video call walau hanya sesaat saja. Walau terkadang Zahra sangat sibuk tapi dia tetap menyisikan sedikit waktunya untuk berbicara pada Ibunya itu. Pekerjaan kuliah di semester terakhir sungguh benar-benar membuat dirinya super sibuk. "Halo sayang kamu di mana?? apa kamu sudah sampai di bandara.??" tanya Ibu Susi ketika mendapat panggilan masuk, dan melihat nama Zahra tertera di layar ponsel. "Iya Mah, Zahra sudah tiba di bandara. Mama di mana Zahra tidak melihat Mama dana Papa" tanya Zahra dari sebrang sana. Ia barusa keluar dari pesawat, berharap bisa segera bertemu dengan orang tuanya. "Nah kan, apa yang Mama bilang, Papa sih! Zahra sudah sampai dari tadi. Papa sih kelamaan sudah di bilang pergi dari tadi juga." omel ibu Ningsi seraya memukul pelan paha Pak Revan. "Sayang kamu tunggu di sana dulu ya, Mama dan Papa lagi dalam perjalanan sebentar lagi kami pasti akan sampai." ucap Ibu Ningsi kembali berbicara kepada Zahra. "Iya Mah, kalau begitu Zahra tunggu di depan saja." Sahut Zahra setelah itu langsung mematikan ponselnya dan memasukkan ponsel itu ke dalam tas jinjit yang sudah bergantung di bahunya. Wanita itu dengan elegan berjalan seraya menenteng koper Xiaomi berwarna putih kelabu. Di lengkapi dengan kacamata hitam, rambutnya panjang terurai begitu saja dan apalagi Zahra sekarang menggunakan dress berwarna hitam pekat membuat dirinya bak model papan atas dunia. Semua mata menatap penuh kagum ke arah Zahra, kecantikan zahry sangatlah terpancar hingga membuat laki-laki mata keranjang langsung melotot tanpa berkedip sama sekali. Dengan langkah kaki yang panjang dan elegan Zahra terus berjalan tanpa menoleh ke kanan maupun ke kiri ia hanya fokus menatap lurus ke depan. hingga tampa ia sadari seorang pria menabraknya dari arah samping. Brukkk ... Kacamata Zahra refleks terjatuh ke lantai akibat benturan tabrakan itu. Zahra langsung menatap ke arah orang yang menabraknya dengan perasaan kesal matanya melotot siap menerkam hidup-hidup. "Hey, apa kau tidak punya mata." gerutu Zahra kesal dengan sorot mata menajam. Sebuah senyuman tersungging di bibir pria itu, entah apa yang ia pikirkan namun sesaat kemudian pria itu malah pergi meninggalkan Zahra yang masih menatap dirinya tajam "Hey... dasar laki-laki tidak tau malu." teriak Zahra kesal karena pembicaraannya tidak di respon sama sekali. Sontak Laki-laki itu pun menghentikan langkahnya tak kala mendengar cibiran Zahra yang begitu keras. "Apa kau bilang tadi?" tanya pria itu seraya mengambil kacamata hitam yang menutupi matanya hingga dengan sangat jelas Zahra bisa melihat bagaimana bentuk wajah orang itu. "Omaigat tampan sekali." Zahra tidak mengedipkan matanya sama sekali. Seolah-olah seperti sihir yang menyihirnya menatap wajah pria itu. Sungguh wajahnya sangatlah tampan Zahra tidak bisa berkata-kata. Matanya, hidungnya, bibirnya sungguh ciptaan tuhan yang sangat indah. "Halo, kenapa kamu melihatku seperti itu apa sekarang kamu terpaksa sama ketampananku." gerutu pria itu mendengus. "Kepedean Lo." sahut Zahra sedikit terbata-bata. "Varrel ..." panggil seseorang tak jauh dari mereka, pria itu yang merasa namanya dipanggil segera menoleh. "Mama..." laki-laki itu mengembangkan penuh senyumnya. kemudian ia kembali melirik ke arah Zahra. "Dengar ya, urusan kita belum selesai, aku pasti akan membuat kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu katakan tadi." ucap Varrel seraya melototi Zahra lalu ia langsung berlari menghampiri Mamanya. "Heleh belagu amat lo emang Lo pikir takut takut!" gerutu Zahra kesal mengambil kembali kacamata lalu bergegas pergi.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook