Pasrah

1263 Words
"Papa, Mama," panggil Zahra langsung menyalami kedua tangan orang tuanya setelah sesaat pak Hasan dan Ibu Ningsi turun dari mobil Alphard Vellfire berwarna putih berhenti tepat di depannya. "Sayang..." Ibu Ningsi langsung memeluk putri bungsunya itu "Mama sangat merindukanmu sayang." Ibu Ningsi semakin mempererat pelukannya. "Zahra juga Mah, Zahra sangat kangen sama Mama." "Papa enggak di peluk ni, hem. berati Zahra cuma kangen sama Mama doang sedangkan Papa enggak." ketus pak Hasan. "Aaaaa Papa, Zahra juga kangen tau sama Papa." ucap Zahra juga memeluk pak Hasan. "Ayo sayang kita pulang Mama tadi sudah memasak makanan kesukaan kamu." Ajak Ibu Ningsi setelah merenggangkan pelukannya. "Beneran Mama masak masakan kesukaan Zahra?" "Iya, dong. Namanya kamu anak kesayangan Mama, jadi Mama masak untuk siapa lagi kalau bukan untuk kamu Hem." tukas Bu Ningsi mencibir pipi Zahra sedikit kasar hingga membuat wanita itu merintis kesakitan. "Aaauuu, sakit Mah." Zahra mengerucutkan bibirnya. "Hemmmm anak gadis Mama ini, ayo pulang." ajak Bu Ningsi mendapatkan anggukan cepat dari Zahra walaupun wanita itu masih mengerucutkan bibirnya. * Zahra tak berhenti bergosip ria bercerita semua pengalamannya kepada sang Mama, baik sekolah maupun tempat libur tak terkecuali. Sedangkan pak Hasan dan Bu Ningsi menjadi pendengar yang setia. Sesekali pak Hasan menatap anak dan istrinya dari pantulan cermin karena memang dua wanita itu duduk di bangku belakang. Tiba di rumah mereka langsung makan siang yang memang sudah disediakan oleh Bu Ningsi terlebih dahulu. Tak ada pembicaraan kecuali keheningan yang terjadi dan suara sendok menyentuh piring, ya karena memang peraturan Pak Hasan sendiri untuk tidak berbicara jikalau sedang makan. Seusai makan Ibu Ningsi melanjutkan tugasnya di dapur, Zahra hendak membantu tapi dilarang oleh Bu Ningsi, anaknya baru saja pulang dari perjalanan jauh bagaimana bisa membantu dirinya. Sedangkan pak Hasan duduk di ruang keluarga, dengan anak perempuan sematang wayangnya itu. Pak Hasan menarik nafasnya dalam-dalam sebelum sesaat ia akan mengutarakan isi hatinya. Hembusan nafas terdengar sedikit kasar. "Zahra, Papa mau bicara," panggil pak Hasan. "Tentang," Zahra menyahut ia sudah bisa menebak kalau Papanya pasti akan membahas soal Perjodohan. "Tentang apa yang Papa bicarakan kemaren malam, bagaimana kamu sudah setuju bukan?" "Apa Zahra tidak boleh mencapai cita-cita Zahra dulu." Zahra mencoba berbicara lembut mungkin saja Papannya nanti akan mendengarkannya. "Kamu mau bercita-cita seperti apa hah, dengar nak. Papa tidak mau kamu menikah dengan orang yang salah, Papa ingin kamu bahagia. Ya, tolong dengarkan Papa kali ini saja." ucap Pak Hasan dengan nada melemah. "Emang Zahra tidak pernah mendengar perkataan Papa, kan semua yang Papa katakan pasti Zahra lakuin." Zahra berucap manik-manik matanya berbinar menampungkan air matanya siap terjatuh, sungguh ini rencana terakhirnya untuk membujuk sang Papa "Kamu siap-siap nanti malam pengantin prianya akan datang. Jadi Papa harap tolong jangan permalukan Papa." tukas Pak Hasan sama sekali tidak terpengaruh dengan air mata palsu Zahra. Lalu bangkit dan pergi lagi kekantor meneruskan pekerjaannya sempat tertunda gara-gara menjemput Zahra tadi. Sungguh rasanya ingin menangis beneran " Aaaaaaaaa ....." teriak Zahra kesal setengah mati. *** Zahra merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan bola matanya menatap langit kamar. Ia sangat teringat dengan kamar ini, kamar yang sudah ia tinggalkan selama tiga tahun belakangan ini. Zahra benar-benar sangat merindukan masa kecilnya itu tapi sesaat kemudian dia langsung teringat apa yang pak Hasan katakan tadi tentang calon suaminya akan datang nanti malam. "Aaagggrrr ..." Zahra menjambak rambutnya kasar dia sungguh tidak terima jikalau saja calon suaminya nanti seorang pria tua dengan perutnya yang buncit dan kaca putih dan gaya rambutnya yang terbelah dua. Oh, sungguh Zahra memilih menghabiskan sisa hidupnya sebagai perawatan tua dari pada menikah dengan pria seperti itu. Ting.... suara notifikasi ponsel berbunyi. Suara itupun menyadarkan Zahra dari lamunannya seketika. Ia bergegas mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di atas nakas. "Intan," Zahra menaikkan alisnya sebelah ketikan ia melihat nama Intan tertera sangat jelas di layar ponselnya. Zahra merupakan temannya sekaligus sahabat terbaik yang pernah Zahra kenal. Walau kadang mereka selalu berantem tapi pada akhirnya mereka selalu saling memaafkan. "Ra, apa kamu sudah kembali ke Jakarta? kenapa kamu tidak memberitahukanku! Apa kamu tidak menganggap aku lagi sebagai temanmu? Hah! Apa kamu tau aku sangat merindukanmu? Kau ini benar-benar menyebalkan!" Sebuah pesan yang begitu banyak pertanyaan yang di kirimkan Intan membuat Zahra kelabakan membacanya. "Hufff... Bagaimana Zahra bisa tau kalau aku sudah kembali ke Jakarta...?" Ting... notifikasi kembali masuk. "Aku ke rumahmu sekarang! Jangan bilang kalau kamu tidak di rumah. Pokoknya kamu harus menemuiku saat aku tiba di rumahmu" Zahrah mematikan ponselnya sesaat ia akan kembali merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang. Memejamkan mata sungguh membuat tubuhnya terasa sangat rileks, namun tidak untuk saat ini karena suara bel berbunyi segera menyandarkan dirinya. Ting tong... "Hahhh, Intan, anak itu!" sontak langsung bangkit dari ranjang. "Secepat itu kah dia datang." Zahrah menggelengkan kepalanya merasa tak habis pikir dengan sahabatnya itu. * "Eeeehhhh... Nak Intan." tutur Ibu Ningsi setelah sesaat ia membukakan pintu dan melihat Intan berdiri menampakkan gigi putihnya berjejer rapi "Siang Tante." sapa Intan seraya menyalami tangan Ibu Ningsi. "Zahra ada Tante? tanyanya to the point. "Ada, dia baru saja naik ke kamarnya." "Benarkah, berarti benar dong kalau Zahra sudah pulang dari luar negeri." "Intan" panggil Zahra menghampiri sahabat dekatnya itu. "Haaaa, Zahrah " intan menerobos masuk kedalam saat melihat sahabatnya itu memanggilnya. Pelukan erat pun terjadi di antara mereka. "Aku sangat merindukanmu." guma Intan semakin mempererat pelukannya. "Aku juga." Sebuah senyuman pun ikut tersungging di bibir Ibu Ningsi. Ia juga merindukan moments ini di mana Intan selalu berkunjung ke rumahnya hanya untuk bermain walau mereka sering bertemu di sekolah. Tak berlangsung lama Ibu Ningsi pun pergi meninggalkan mereka. "Kamu tau aku sangat senang saat mengetahui kalau kamu akan pulang ke Indonesia. Aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak sebelum melihat dirimu." Intan mencibir pipi Zahra gemas. "Aaauuu... sakit Tan." Zahrah memanyunkan bibirnya. "Aku punya gosip terbaru ni buat kamu." Intan sontak antusias kegirangan. "Jangan bilang kalau ini gosip tentang cowok." terka Zahra. Karena memang biasanya, sahabatnya yang satu ini selalu membahas tentang perihal cogan. Di mana ada cogan di situ pasti ada dia, bukan hanya satu tapi Intan hampir mengidamkan semua cogan yang pernah ia liha. Baik K-Pop, drama Cina sampai film transgender Thailand pun ia sangat menyukainya. Bahkan hampir semua film cogan Thailand ia tau. "Iya kamu benar banget, tapi kita jangan bahas di sini kita bahas di kamarmu saja." pinta Intan sudah sangat kegirangan. "Hem, tapi kamu jangan berteriak ya nanti di kira aku apa-apain kamu lagi." "Siap Bu bos" Mengangkat tangannya layaknya anak buah sedang berbicara dengan komandan. ***** Dikediaman Pak Romi setelah menyambut kedatangan anak semata wayangnya, Varrel. Pak Romi dan Bu Mirna mulai berbicara dan menyiapkan persiapan mereka untuk acara lamaran nanti malam. Berbeda dengan Zahra Varrel langsung menyetujui perjodohan ini, walau hatinya sedikit sedih karena karena tidak bisa menikah dengan orang yang dicintainya, ya. Tentu saja Varrel memiliki seorang kekasih yang menemaninya semasa di Amerika, namun sayang kekasihnya tidak bisa pulang ke Indonesia karena harus melakukan sesuatu disana, jadi membuat sedikit terlambat. Varrel sedikit mendengus dia tidak tau harus berbicara apa nantinya kepada kekasihnya itu tentang perjodohan orang yang orang tuanya lakukan, tapi sebisa mungkin Varrel akan memberikan kekasihnya itu. "Kau tidak apa-apa?" tanya pak Romi melihat Varrel nampak murung dan pandangannya menunduk kebawah. "Tidak apa-apa kok Pah, Varrel siap kok. Apapun keputusan Papa akan Varrel lakukan," sahut Varrel mengulas senyum tipisnya. "Nak terimakasih, kami melakukan ini semua demi kamu, dia wanita yang baik dan juga pintar kamu pasti menyukainya." ucap Bu Miran yang berada di samping Varrel. Memanggang pundak laki-laki itu. "Kalau begitu persiapan dirimu. Papa akan akan mempersiapkan semuanya, nanti malam kita akan segera berangkat," ucap pak Romi mendapat anggukan kepala dari Varrel. Bersambung .....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD