Malam hari tepat pukul setengah tujuh Zahra mengigit bibir bawahnya kasar nyaris saja terluka karena tidak tau harus melakukan apa, sungguh pikirnya saat ini Zong tidak tau harus memikirkan apa supaya perjodohan nantinya berujung batal.
Zahra benar-benar tidak sanggup menikah sekarang, yang ada nantinya dia tidak akan bisa merasakan kebebasan lagi. Mengurus ini, mengurus itu, memasak, mencuci, Bagun pagi. aggrrrr .... Membayangkan saja sudah membuat ia frustasi apalagi sampai melakukannya.
"Apa yang harus aku lakukan ayolah, berpikir jernih. Kamu tidak mau masa depan kamu hancurkan? Ayo?" gumam Zahra menghela napas berat.
Hingga ketukan pintu terdengar membuat Zahra tersentak terkejut.
"Zahra, ini Papa." ucap Pak Hasan dibalik pintu lalu setelah membukakan pintu terbuka dari kayu pilihan itu menghampiri Zahra diatas ranjang.
"Kamu belum bersiap-siap" tanya pak Hasan melihat Zahra masih terlihat kusut dengan wajahnya yang ditekuk.
"Papa, Zahra tidak mau menikah dulu." Rengek Zahra.
"Keputusan Papa susah bulat Zahra, tidak bisa dirubah. Kamu harus tetap menerima perjodohan ini, kamu mau Papa malu didepan taman-taman Papa." sahut pak Hasan, sebenarnya ia merasa sedikit tidak tega terhadap anaknya itu tapi ini sudah terlanjur disepakati.
"Baiklah, kalau Papa tetap memaksa Zahra, Zahra punya satu permintaan." Zahra menghela napas panjang seperti tidak ada jalan keluar lagi sekarang selain menuruti perkataan Papanya.
"Katakan,"
***
Setelah pak Hasan berbicara kepada Zahra tadi untuk segera segera bersiap siap. dan malam ini adalah malam yang paling di tunggu-tunggu oleh kedua belah pihak keluarga, acara lamaran sekaligus menuju pernikahan. Pak hasan bergegas menghubungi pak Romi, ia sudah tidak sabar ingin membicarakan kabar bahagia ini. pak Hasan dan pak Romi pun sepakat kalau mereka akan segera menikahkan Varrel dengan Zahra, mereka nampa sudah tidak sabar ingin menjadi besan.
Setelah mengutarakan niat pada Varrel pak Romi memutuskan akan menikahi Varrel besok, awalnya Varrel sempat menolak karena menurutnya besok waktu yang sangat singkat melangsungkan pernikahan ia bahkan belum mempersiapkan apa-apa. baju, sepatu, undangan, gedung, dan hiasan lain untuk mempelai wanita tidak mungkin bisa siap dalam waktu secepat itu pikir Varrel.
Namun pak Romi dengan cepat memberitahukan Varrel kalau semua itu tidak perlu di pikirkan, mempelai wanita menolak semua itu. Zahra menerima permintaan pak Hasan tapi dengan satu syarat, kalau pernikahan mereka di langsungkan secara tertutup tidak ada satu orang pun yang boleh tau kalau mereka akan menikah termasuk Intan sahabatnya sendiri. pak Hasan sudah berusaha membujuk Zahra untuk membuat pernikahannya sebesar mungkin. ia ingin anak semata wayangnya ini di ketahui banyak orang secara publik namun, semua niat pak Hasan harus terkubur dalam-dalam karena Zahra bersikeras menolak itu semua. dari pada pernikahan ini tidak terjadi lebih baik ia tidak memaksakannya lagi pikir pak Hasan.
Pukul setengah sembilan malam keluarga pak Romi akhirnya tiba dikediaman pak Hasan, langsung disambut ramah oleh pemilik rumah kecuali Zahra, ya karena wanita itu masih didalam kamarnya bersiap-siap.
Zahrah menggunakan dress merah selutut, rambutnya yang terurai bergelombang depan dan bedak tipis dilengkapi lipstik berwarna merah muda sudah membuat penampilan Zahra sempurna.
Zahra bagaikan Dewi bak Yunani. Kecantikannya sangat terpancar apalagi Zahra memiliki paras wajah cantik diatas rata-rata wanita Asia.
Bik Ani datang, sekalu asisten rumah tangga di rumah Zahra. Wanita paruh baya itu berniat memberitahukan kalau pihak tamu undangan sudah datang. Namun sebelum itu dia sudah terpana melihat kecantikan Zahra.
"Puji Tuhan, Non, Non Zahra sangat cantik." Ucap bik Ani nyaris saja ileran melihat Zahra.
"Bibi bisa aja," Zahra terkekeh mendengar perkataan Bik Ani.
"Serius No, Bibi sampai kagum Non benar-benar cantik" kata Bi Abi lagi.
"Bibi terlalu memuji nanti telinga Zahra naik"
"Tidak, apa-apa non, eh Bibi hampir aja lupa. Anu non, pak Romi dan keluarganya sudah datang."
"OOO, Zahra tau kok Bi, bibi kenapa tau nama teman Papa, bibi kenal orangnya?" Zahra tiba-tiba antusias, ia berharap bisa mendapat sedikit informasi tentang calon suaminya dari Bi Ani.
"Tentu bibi tau dong Non, kan pak Romi dan istrinya sering berkunjung kesini. Jadi Bibi tau!"
"Bagaimana dengan anaknya, laki-laki yang akan dijodohkan dengan Zahra Bi, bibi kenal?"
"Kalau itu Bibi tidak kenal, Non. Cuma bibi pernah dengar kalau anak pak Romi kuliah di Amerika bidang bisnis. Namanya kalau enggak salah, den Varrel! Ya Den Varrel!" Bi Ani mencoba mengingat ingat.
"Varrel," gumam Zahra rasanya dia tidak terlalu asing dengan nama itu.
"Baiklah, kalau begitu bibi temanin Zahra turun ya." Pinta Zahra.
"Tidak bisa non, bibi tidak bisa menemani Non. Karena Bibi harus ke dapur lagi menyiapkan minuman dan cemilan." tolak Bi Ani.
"Hem, ya sudah lah kalau bibi tidak bisa."
"Non, tenang aja. Den Varrel orangnya baik kok."
"Bibi tau dari mana kalau dia baik."
"Hehehe, bibi cuma memberi Non semangat."
"Terimakasih"
Bersambung ....