Zahra mendengus, ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih untuk bisa membatalkan perjodohannya.
Aaagggrrr ....
Kalau aku tau bakal di jodohkan seharusnya aku pulang aja bulan depan kenapa malah pulang sekarang, Papa Mama kalian berdua kenapa tega sekali kepada anakmu sendiri hikkk aku punya pilihan sendiri untuk menikah tidak mau sekarang.
Batin Luna rasanya ia segera menghilang dari bumi, kutub Utara pun menjadi pilihannya sekarang. Andai saja dia wonder woman dia pasti sudah terbang menembus awan pergi ke kutub Utara. Tidak apa-apa dia akan kedinginan dan berteman dengan pinguin tapi setidaknya dia tidak mau menikah sekarang. Huuaaaaaa
Menangis terpaksa tidak akan mengeluarkan air mata hanya sia-sia saja.
"Zahra, sayang kamu didalam. Ayo cepat turun sayang. Jangan lama-lama kasian para keluarga pak Romi sudah menunggu lama." Suara yang sangat Zahra kenali mengaung diluar.
"Iya, Mah, Zahra sudah siap sebentar lagi!" sahut Zahra penuh kesal ia mengerakkan anggota tubuhnya menuntun keluar.
Sementara diruangan tamu terlihat tiga pria berbeda umur itu sedang berbincang-bincang dengan serius sesekali tertawa kecil dalam pembicaraan mereka yang entah apa itu. Namun dua sosok wanita di samping mereka hanya bisa menjadi dua pendengar Budiman.
"Om dengar kamu mendapat nilai terbaik di universitas kamu apa itu benar nak Varrel?" tanya Pak Hasan. Sungguh kekaguman pak Hasan kepada Varrel semakin tinggi. Ia benar-benar sudah tidak sabar rasanya ingin segera menikahkan anak semata wayangnya dengan pria tampan didepannya itu.
Aroma dan khas pria sangat terpancar di wajah Varrel. Pak Hasan sangat yakin kalau anaknya pasti akan bahagia dengan keputusannya kali ini.
"Om bisa saja, Varrel tidak seperti yang Om bayangkan kok." Sahut Varrel sedikit tersenyum tipis.
"Jangan merendah, Om sudah tau semuanya tentang dirimu, Papa kamu sering bercerita tentang dirimu. Jadi Om semakin yakin kalau kamu bisa menjaga anak Om dengan baik!" Kata pak Hasan lagi.
"Hahaha iya, kau tenang San, anakku seorang jentelmen dia pasti bisa menjaga putrimu dan tidak lama lagi kita akan segera mengendong cucu hahahaha ...." Tawa pria paruh baya disampingnya Varrel. Yang selanjutnya diikuti semua orang.
Zahra mendera itu, dia baru turun dari anak tangga dengan pelan-pelan ia menuruninya. Tawa mereka sangat jelas terdengar di telinganya namun dia tidak tau apa yang sedang mereka itu bicarakan. Tapi ah sudahlah.
"Sayang kamu sudah turun, sini sayang!" ucap Ibu Ningsih yang seketika membuat semua pandangan orang teralih tak terkecuali. Sosok wanita yang sudah sadari tadi mereka tunggu-tunggu Akhirnya tiba juga.
Dengan sedikit menundukkan kepalanya Zahra melayangkan Langkah kakinya lalu berhenti tepat didepan Mamanya, memposisikan tubuhnya untuk duduk dengan benar.
Lalu kedua ekor matanya mencoba mendongkrakkan melirik kearah Papanya, lalu berpindah ke seorang pria yang seumuran dengan Papanya. Pria itu tampak asing namun Zahra bisa menduga kalau itu adalah calon mertuanya.
"Selamat malam Om!" ucap Luna basa basi sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan.
"Malam. Wah anakku sangat cantik San, aku tidak menyangka kalau dia akan sebesar ini padahal dulu dia begitu kecil dan menggemaskan selalu mintak dimanjakan." Ucap pak Romi tertekekeh kecil membayangkan masa kecil Zahra.
Ya, masa kecil Zahra begitu sangat akrab dengan pak Romi, Zahra masih bisa membayangkan itu tapi dengan anaknya Zahra sama sekali tidak ingat apakah dia dulu pernah bertemu atau tidak.
"Siapa dulu dong, aku Papanya jelas dia akan mengikuti ke cantikan Ibunya." sahut pak Hasan juga ikut terkekeh menatap kearah putrinya.
Dari senyuman kedua pria paruh baya itu Zahra dapat melihat bagaimana kebahagiaan yang mereka pancarkan, kesabaran yang mereka nantikan, melihat anaknya menikah dan segera mengendong cucu. Zahra seakan tidak tega merenggut kebahagiaan mereka.
Lalu pandangan Zahra teralih kearah sosok pria jangkung yang sadari tadi tak pernah berhenti menatapnya dengan tatapan penuh intens.
Zahra memicingkan tatapannya rasanya begitu sangat familiar. Oh tidak sekarang Zahra tau siapa pemuda yang ada didepannya.
Pantas saja ia merasa sangat tidak asing teryata dia adalah pemuda yang menabraknya kemaren di bandara.
"Elo!" Gumam Zahra.
"Hai, ketemu lagi kita!" Varrel mengulum senyum manisnya.
"Ngapain kamu disini?"
Oh tidak kenapa kamu bisa bodoh sekali Zahra sudah pastilah dia anak pak Romi, Varrel Jonas kalau tidak mana mungkin dia ada dirumahnya sekarang.
"Kalian saling kenal?" Tanya pak Hasan sedikit mengerutkan keningnya. Perasaannya ia belum pernah menemukan putrinya ini dengan anak tunggal sahabatnya.
"Tidak!" Jawab mereka secara bersamaan. Serentak membuat kedua orang tua mereka masing-masing terkesiap.
"Hah .... Kalau begitu tinggu apalagi ayo kenalkan, Varrel kenalkan dirimu!" Kata pak Romi menyela.
Varrel yang mendengar itu segera menyodorkan tangannya meminta dijabat.
Tampa menunggu lama Zahra segera membalas jabatan tangan Varrel. Bahkan tidak membiarkan laki-laki didepannya itu berkata dulua. "Zahra!"
"Varrel!" Pria itu juga tak kalah. Setelah selesai buru-buru Zahra menarik tangannya kembali.
"Hahahaha .... Kamu lihat Rom, aku semakin tidak sabar ingin meningkatkan kedua anak kita," ucap pak Hasan.
"Iya, kamu benar aku juga!"
"Bagaimana kalau Minggu ini, aku akan segera menyiapkan semuanya. Kita akan membuat pesta pernikahan semeriah mungkin, kamu setuju?" tanya pak Hasan, yang buru-buru disela oleh Zahra.
"Jangan! Ma-maksud Zahra, Zahra tidak mau acaranya meriah cukup Mama Papa dan keluarga om Romi saja!" Sela Zahra ekor matanya sekilas memicing kearah Varrel. Pria itu tersenyum tipis.
"Kenapa sayang, bukanya semua orang menginginkan pernikahan mewah. Pernikahan itu sekali seumur hidup sayang. Kamu tidak ingin mengundang teman-teman kamu. Kamu tidak ingin menjadi ratu!" Kali ini Bu Ningsih yang berbicara. Ia mengerutkan keningnya dalam begitu juga dengan yang lainya tak kalah terkesiap dengan apa yang dikatakan Zahra barusan.
"Iya, Zahra. Kamu tidak ingin menjadi ratu. Pernikahan itu sekali Lo. Dan setelah itu kamu tidak akan memiliki kesempatan lagi!" Tumpah Bu Mirna.
"Emm maksud Zahra, Zahra tidak suka keramaian. Zahra ingin pernikahan biasa saja. Cukup Papa Mama dan Tante om saja sudah lebih dari cukup. Bagi Zahra semua itu tidak berarti kecuali ikatan sah dalam hubungan kami. Untuk apa kami berpesta besar kalau kami nantinya tidak saling cocok dan pada akhirnya semua itu akan menjadi candaan bagi semua orang," Ucap Zahra.
Wau Zahra ide dari mana kamu dapat mengatakan hal semacam itu. Kenapakamu berani sekali, apa kau mendapat anugerah.
Demi tuhan Zahra sudah panas dingin berkata seperti itu. Semoga saja kedua orang tuanya memaklumi.
"Ok, Varrel tidak masalah. Varrel juga kurang suka keramaian. Mah Pah, Varrel setuju dengan apa yang dikatakan calon istri Varrel!" ucap pria tampan itu.
Berhasil membuat Luna mendongkrakkan kelapanya menatap kearahnya.
Dih ...
Sok cakap pulak dia, pakek bilang calon istri belum juga ada ikatan. Sok soan pulak dia orang. Dia pikir aku berharap banget jadi istrinya apa.
"Kalian yakin, ini sekali seumur hidup Lo?" Tanya pak Romi memastikan.
"Iya, coba pikir-pikir dulu. Kesempatan enggak akan datang dua kali?" Timpal pak Romi.
"Iya, sayang. Kami mau kamu bahagia dan enggk akan menyesal nantinya!" seru buk Ningsih mengelus lembut punggung putrinya.
"Zahra yakin Mah, Zahra enggk suka keramaian terlalu bising jadi Zahra mau biasa saja. Lagian Varrel juga tidak keberatan ya kan. Kamu enggak keberatan kan?" Zahra menaik turunkan alisnya.
Dasar gadis liar kamu pikir aku senang dengan pernikahan ini, dan mau memberitahukan dunia kalau kamu istriku. Kamu sengaja melakukan ini, karena aku sudah tau maksudmu. Jangan kamu pikir setelah menikah denganku kamu akan bebas, tidak, sama sekali tidak, kau harus membuang jauh-jauh pikiran itu karena itu sama sekali tidak akan terjadi, akan membuat kamu berlutut kepadaku! Gadis liar.
"Iya, Varrel tidak keberatan sama sekali!" laki-laki itu berkata.
Hahhh ...
Akhirnya Zahra bernafas lega. Berpihak sekali dia. Baguslah kalau begitu jadi tidak repot sama sekali bukan.
***
Empat hari telah berlalu setelah Zahra menerima bersedia untuk menikah kini tibalah detik-detik yang paling ditunggu-tunggu kedua belah pihak keluarga acara ijab dan kabul.
Disini lain Zahra tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan sang Papa dan Mamanya. Mungkin mereka sangat ingin menimang cucu kalau tidak mana mungkin.
Huuufffff .... Zahra menghembuskan nafasnya ia sudah menduga kalau masalah ini pasti akan terjadi lambat Daun kedua orang tuanya pasti akan memaksanya untuk segera menikah karena.
Penuh tidak sabar Zahra sudah bersiap diri mengunakan pakaian pengantin serta make up tebal membaluti kulit wajahnya. Sempurna!
"Wah sayang, kamu cantik sekali?" puji sang Mama terpesona dengan kecantikan anaknya bak Dewi Yunani apalagi postur tubuh Zahra bak gitar spanyol sudah pasti semakin membuat dirinya semakin sempurna.
"Mama bisa saja, terimakasih!" Ucap Zahra memeluk erat sang Mama bahkan ia semakin memperdalam pelukannya itu.
"Mama sangat sayang kepadamu sayang, jangan lupakan Mama ya. Kamu nanti harus sering-sering main kerumah Mama. Ingat ya kamu baik-baik disana!" Ucap Ibu Ningsih setelah sesaat ia meregangkan pelukannya menatap nanar kearah sang buah hati yang sebentar lagi akan menjadi istri orang tanggung jawab orang.
"Hei, apa yang Mama katakan, Zahra tidak akan kemana-mana emangnya Zahra akan pergi kemana. Zahra tidak mau pisah dari Mama dan Papa.
"Zahra sayang, dengarkan Mama mau bagaimana pun juga kamu harus tetep ikut suami kamu sayang. Setiap wanita setelah menikah pasti akan mengikuti suaminya pergi, kemanapun itu. Kita harus mengikutinya!" jelas Bu Ningsih.
"Kalau begitu Zahra enggak mau pergi, bilang aja sama mas Varrel kalau Zahra enggk mau ikut dengannya. Zahra enggak mau pisah lagi Mah!" Rengek Zahra memanyunkan kedua bibirnya.
"Hahhhh, sayang. Tidak boleh seperti itu. Kamu tidak boleh menolak ok. Tidak baik seorang istri melawa suaminya apalagi kalian baru menikah, jadi pesan Mama apapun yang terjadi kamu harus tetap bertahan dengan Varrel mengerti. Kamu tidak boleh egois ataupun menang sendiri pikirkan juga suamimu, mengerti!"
"Tapi Mah, bagaimana kalau dia enggak mengizinkan Zahra untuk menjenguk Mama lagi, bagaimana kalau dia membawa Zahra pergi jauh laut negeri. Zahra enggak mau Mah, Zahra enggk bisa!"
"Zahra, sayang. Kenapa kamu berpikir seperti itu, mana mungkin nak Varrel akan menjauhkan putri mama ini dari ibu kandungnya percayalah Varrel anak baik dan dari keluarga baik-baik. Jadi sangat tidak mungkin dia berpikir seperti itu. Pokoknya ingat kamu harus janji sama Mama apapun yang terjadi kamu harus tetep bertahan dengan nak Varrel mengerti. Kamu tidak boleh egois!"
"Hikk baiklah, tapi Zahra tidak janji!"
"Zahra, harus janji biar Mama tenang!
Sesaat Zahra terdiam lalu barulah mengangguk pertanda mengiyakan.
Sebuah senyuman penuh bahagia langsung terpancar dalam benak Ibu Ningsih dia kembali memeluk Zahra membawa gadis itu kembali kedalam pelukannya.
Bersambung ...