Badai

1120 Words
Kediaman Pak Hasan suasana rumah terdengar riuh dari percakapan yang terdengar sana sini. Kehadiran orang yang akan menjadi saksi dari pernikahan Varrel dan Zahra cukup memenuhi ruangan keluarga itu. Tak ramai hanya beberapa kerabat dekat dan tetangga pak Hasan yang diundang dalam acara akad nikah ini. Atas permintaan keduanya pak Hasan tidak bisa menolak. Padahal ia sangat berencana ingin mengadakan pesta besar-besaran terhadap putri kesayangannya. Tapi sepertinya ia harus membuang jauh-jauh pikiran itu. Terpenting adalah putrinya akan menjadi menantu sahabatnya dan sebentar lagi mereka akan menjadi besan. Hembusan nafas gusar terdengar pelan, Varrel menarik nafasnya dalam-dalam saat sosok penghulu didepannya meminta ia untuk menjabat tangannya. Suasana seketika hening tak ada sepatah katapun lagi yang keluar. Pak Hasan selaku pihak keluarga mempelai duduk disamping pak penghulu, tersenyum ramah menjadi saksi pernikahan putrinya. Begitupun juga dengan pak Romi. Pria paruh baya itu duduk berdekatan dengan anak tunggalnya. Hanya jarang setengah meter memisahkan mereka. "Bagiamana tuan Varrel anda siap?" tanya sang penghulu sembari meramas sedikit kasar tangan Varrel. Tanpa lama pria itu langsung mengangguk. "Siap!" "Kalau begitu pak Varrel ikuti kata-kata saya berikut ini ya?" Sekali lagi Varrel mengangguk cepat. "Saya nikahkan dan saya kawin kan engkau dengan putri kami Fatia Azahra bintu Hasan Mubarak dengan logam mulia dan uang tunai senilai 500 juta dibayar tunai." Dengan tegas sang penghulu berkata. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Fatian Zahra binti Hasan Mubarak dengan logam mulia dan uang tunai senilai 500 juta dibayar tunai." Sahut Varrel tak kalah tegas dengan sang penghulu dengan sekali hentak. "Gimana para saksi sah!" tanya pak penghulu. Serentak semua orang menjawab "Sah!" "Alhamdulillah!" Di kamar, Luna sangat jelas mendengar ijab kabul itu karena pintu terbuka lebar dan tentu saja suara apapun pasti akan terdengar jelas. Wanita itu menunduk, kini hilang sudah stastu kegadisannya. Berganti menjadi seorang istri dari pria yang sama sekali tidak ia kenal. Entahlah, apakah ia harus bahagia atau merasa sedih dengan stastusnya ini. Yang jelas ia tidak bisa membuat kedua orang tuanya merasa sedih. Membayangkan bagaimana pengorbanan orang tuanya yang selama ini kepadanya Luna merasa tidak tega untuk membantah. Anggap saja ia sedang membalas kebaikan orang tuanya yang telah melahirkannya dan membesarkannya hingga sekarang. Kedua kakinya ia layangkan untuk turun dari anak tangga itu, selangkah demi selangkah. Genggam tangannya semakin terasa saat Ibu Ningsih melekatkan jemarinya disela-sela jarinya. Seolah tau apa yang di rasakan putrinya saat ini. Menguatkannya. Suasana kembali hening seperti saat akad nikah dinyatakan. Semua orang tertegun terpana melihat sosok bidadari yang sedang menuruni anak tangga. Glukkk Rasanya sekali tegukan tidaklah cukup. Sungguh mata Varrel tak berkedip, ia benar-benar mengangumi kecantikan Zahra. Kebaya putih dihiasi manik-manik berkilau dan rambutnya yang ditata rapi dengan sanggul adat Jawa. Berhasil membuat semua orang menatap tak percaya kearah Zahra. Rasanya tidak menyangka kalau yang berjalan itu ada sosok Zahra. Wanita nyebelin yang membuat ia kesal telah menjadi istri seorang Varrel Jonas. *** Why do you have to piss me off Awan hitam mengepung di langit-langit yang tadinya cerah karena sinar matahari yang begitu menyingsing. Angin sepoi berlarut memaju hingga besar menerjang keributan. Pukul setengah delapan malam, makan malam dimulai, suasana canggung tak ada sepatah kata yang keluar kecuali suara sendok. Sesekali hanya ekor mata yang saling melirik antara satu sama lain. Duarrrrr .... Suara gemuruh terdengar keras, reflek membuat semua orang terkesiap tak terkecuali Zahra sudah memegang tangan Varrel kuat. "Sepertinya akan terjadi badai, cepat habiskan makanan kalian." tintah pak Hasan. "Bi," panggil pria paruh baya itu. Hanya berselang beberapa menit sesosok yang merasa namanya dipanggil segera menghampiri meja makan. "Iya tuan!" "Cepat siapakah lilin nyalakan di seluruh ruangan sebentar lagi pasti akan mati lampu. Kalau sudah seperti ini harus berjaga-jaga. Tutup semau pintu dan jendela kunci rapat-rapat!" kata pak Hasan mendapat anggukan cepat dari asisten rumah tangganya. "Siap tuan!" sahut sang asisten rumah lalu bergegas melaksanakan perintah. "Lu kenapa?" bisik Varrel, Zahra semakin kuat mencengkram erat pergelangan tangannya. Rasa sakit tentu saja, namun pria itu menahannya apalagi kuku Zahra sedikit panjang menusuk kedalam kulitnya. "Gue takut!" Kata Zahra. Ia sudah tidak bisa konsentrasi lagi untuk menghabiskan sarapannya. "Lebih baik cepat masuk kedalam kamar, sebelum mati lampu. Biarkan saja ini besok kita bereskan!" Kata pak Hasan lagi. "Iya, cepat Zahra sayang, tuntun suamimu kedalam kamar istirahat sana hujan akan pasti akan semakin lebat." timpal Bu Ningsih. Duarrrrr .... Untuk kedua kalinya suara gemuruh itu terdengar kuat, angin ribut serta hujan turun begitu lebat. Varrel mengenggam erat tangan istrinya membawa wanita itu segera masuk kamar tak lupa untuk menguncinya. Bersamaan dengan itu aliran listrik pun mati total. Kamar gelap gulita, reflek Zahra memeluk Varrel kuat, membenamkan wajahnya di bidang d**a pria itu. Dengan tubuh gemetar Zahra semakin mempererat pelukannya. "Gue takut!" lirih Zahra. Varrel maklum, bukankah perempuan takut akan kegelapan. Dasar penakut, umpan Varrel dalam hatinya. Perlahan-lahan dan meraba-raba Varrel menuntut kearah ranjang. Juga Zahra yang ikut melangkah kakinya, jemarinya tak melepaskan pria itu. Entah berapa kali sudah ia menggeliat disana. "Bisakah Lo lepasin gue. d**a gue sakit!" ucap Varrel berbohong padahal ia dirinya merasa nyaman di peluk oleh istrinya itu. Tapi tidak seperti ini. Tubuh Zahra menempel kuat di bidang d**a nya kedua belah gunung kembar itu sangat terasa. Sebagai laki-laki normal tentu saja hormonnya naik. Si junior sudah mulai mengembang disana. Demi apapun ini pertama kalinya Varrel dipeluk oleh seorang wanita yang membuat ia terangsang. "Tidak mau, gue takut. Ada hantu!" ucap Zahra. "Hahhhhh .... Lo pikir kita lagi syuting film suster keramas. Mana ada hantu zaman sekarang, udah enggak usah parnok. Lepasin gue badan gue gerah Lo peluk terus, atau Lo mau gue buat Lo enggak bisa jalan besok!" gerutu Varrel senyuman licik mengukir indah disudut bibirnya. Zahra tau betul apa yang dikatakan Varrel barusan. Tidak bisa jalan bukankah itu melakukan adegan panas. Oh tidak dia menikah saja karena terpaksa menerima perjodohan apalagi sekarang melakukan itu. Ia bisa jadi gila menyerahkan kehormatan yang selama ini ia jaga kepada laki-laki yang sama sekali tidak ia cintai. Segera Zahra mengusurkan tubuhnya sedikit jauh. Hujan semakin lebat suara gemuruhnya langit terdengar sangat jelas, sepertinya akan marah. Angin badai terus meniup kencang. Gorden yang tadinya hanya diam kini sudah berterbangan kesana kesini memutar ditempat. Varrel, laki-laki sudah tiba atas ranjang membaringkan tubuhnya di sana dengan perasaan lega. Akhirnya juniornya kembali seperti semula. Duarrrrr .... Petir yang seakan menyambar di sebelah rumah kamar Zahra, cahayanya berhasil menembus dari sela-sela kaca. Tentu, Zahra yang langsung berteriak sekeras-kerasnya meloncat mendekati Varrel memeluk kembali tubuh pria itu. Kini posisinya berada di atas sementara Varrel berada dibawah. Wajahnya ia sembunyikan dileher laki-laki itu. Tidak peduli sudah berapa kali laki-laki mendengus kesal menahan berat badannya. "Aaagggrrr!" Terpaksa Varrel memiringkan posisinya menarik Zahra untuk tidur disamping baru setelah itu membawa wanita itu kedalaman pelukannya. Hingga tanpa mereka sadari keduanya pun terlelap dalam posisi saling berpelukan satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD