Lo mau gue perkosa

1312 Words
Pagi saat sinar Surya kembali berputar dalam tugasnya menyinari sang bumi. Seluk beluk dari sinar matahari yang menyingsing dari sela-sela jendela membuat sepasang kekasih itu saling mengerjapkan kedua bola mata mereka. Menggeliat di atas tempat tidur dengan posisi saling berpelukan. Sayup-sayup keduanya saling membukakan kedua kelopak mata mereka. Zahra membulat, begitu juga dengan Varrel reflek ke-dua saling mengusurkan tubuh mereka menjauh karena terkejut. "Aaaaa ..." Zahra karena terlalu jauh mengusurkan tubuhnya membuat wanita itu terjatuh dari ranjang. Brukkkk ... "Aaagggrrr ..." Wanita itu memekik saat punggungnya sakit terbentur lantai. Encok enggak tuh. Varrel terkekeh kecil. Ia mencondongkan tubuhnya melirik kearah Zahra. "Lo kenapa? Tidur di lantai?" Sinis Varrel masih terkekeh geli melihat keadaan istrinya. "Lagi dangdutan, gak lihat gue terjatuh. Tolongin kek apa kek, sakit tau!" gerutu Zahra, sungguh pinggangnya benar-benar encok pasti. "Kenapa gue harus bantuin Lo. Bagun aja sendiri, siapa suruh terjun payung!" Ketus Varrel pria itu beranjak bangkit dari ranjang tanpa perduli lalu pergi menuju ke kamar mandi. "Aaagggrrr...." Rasanya Zahra ingin berteriak memaki sekeras-kerasnya punya suami satu tapi ketusnya nauzubillah. Seharusnya membangunkan bukan pergi begitu aja. "Dasar pria aneh, kenapa bisa gue menikah dengan pria aneh sepertinya, awas saja kalau Lo membutuhkan bantuan gue gak akan pernah gue bantu." gumam Zahra berusaha beranjak bangkit sendiri. "Oh tidak, sakit sekali!" Lagi-lagi dia memekik memilih merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Mencari kenyamanan supaya rada sakit di punggungnya hilang. 12 menit berlalu pintu kamar mandi terbuka Zahra sadar akan hal itu namun ia malas untuk melirik laki-laki itu. Varrel keluar dengan mengacakkan rambutnya seperti biasa ia lakukan setelah mandi, serta hanya handuk yang melilit area pinggangnya itu. Jelas sangat terlihat bagaimana bentuk tubuh sixpack pria itu. Otot-otot yang kekar serta roti sobek terpanggang mulus disana. Sesaat pria itu berdecak kecil mengacakkan rambutnya lebih kasar. "Sial!!!" Umpatnya lalu berjalan mendekati Zahra. "Hey, Lo bisa bantuin gue enggak?" tanya Varrel kini berdiri tepat didepan Zahra. Dengan malas Zahra membukakan kedua kelopak matanya yang sempat terpejam. Ekor matanya langsung melirik kearah sumber suara. "Aaaaaa ..." "Pria m***m, b******n!" reflek Zahra berteriak keras sembari menutup matanya rapat-rapat. Bagaimana tidak ini pertama kalinya ia melihat pria bertelanjang d**a didepannya. Wajar bukan, semua wanita pasti akan berteriak sama sepertinya mengeluarkan kata-kata manis mulut. Varrel yang mendengar istri mengaung sudah seperti harimau ganas segera ia menutup mulut Zahra rapat-rapat. Dengan menindih wanita itu. Gila bisa-bisa dia dikira membunuh orang kalau sampai suara teriakan itu terdengar sampai keluar. Duggg .... Seketika jantung Zahra berdetak kencang seolah-olah berpacu kuda, bagaimana tidak dari sela-sela jari Zahra sangat lekat melihat bentuk kebugaran tubuh suaminya yang hanya berjarak 3 cm. "Lo, bisa diem enggak sih!" tukas Varrel kedua tangannya masih menutup mulut Zahra rapat-rapat. Hingga beberapa detik kemudian karena kehabisan nafas wanita itu pun memberontak kasar. "Hahhhhh ...." Suara nafas tersengal-sengal mencoba menstabilkan nafasnya. Terlambat sedikit mungkin saja nyawanya sudah berpulang ke Rahmatullah. Breaking news, berita seputar Indonesia. Telah terjadi pembuahan sadar alam di salah satu keluarga ternama kalangan bisnis. Tepat dihari pertama kedua menjadi suami istri setelah akan nikah dilansir kan sang suami mendekap istrinya sendiri. Naasnya karena kebiasaan nafas sang istri akhirnya meninggal ditempa kejadian. Seputar breaking news kami melaporkan. Begitulah kira-kira berita yang akan tayangkan di tv nantinya. "Lo udah gila mau bunuh gue!" gerutu Zahra nafasnya masih ngos-ngosan. Mendorong kasar tubuh Varrel agar menjauh darinya. "Lo yang gila! Ngapain teriak seperti itu kayek ngeliat setan aja, Lo pikir gue setan! kalau sampai bokap sama nyokap Lo dengar mereka pasti akan mengira gue apa-apain Lo lagi." sahut Varrel tak kalah menantang dengan Zahra. "Bomat!" "Apa tu?" "Bodoh amat!" "Ngapain juga Lo pakek bertelanjang seperti ini depan mata gue. Lo mau merusak kepolosan mata gue yang super suci ini!" sambung Zahra tubuhnya sudah beranjak bangkit dari ranjang begitu juga dengan pria itu. "Baju gue, maksudn gue, guelupa membawa baju ganti. Jadi gue ingin meminta bantuan Lo. Beliin gue baju!" sahut Varrel menggarukkan kepalanya tak terasa gatal. "Ogah, beli aja sendiri. Ngapain juga Lo nyuruh-nyuruh gue emang gue pembantu!" Tolak Zahra. "Gue enggak bilang Lo pembantu, gue cuma mintak tolong, lagian Lo kan istri gue. Lo mau suami Lo yang tampan ini berjalan keluar dengan bertelanjang d**a seperti ini. Lo mau suami Lo di kerumunan cewek-cewek Lo mau!" pancing Varrel berharap kalau Zahra termakan dan akan membantunya. "Bodoh amat, mau telanjang keluar kek, mau Lo dikerumuni cewek-cewek kek dan mau di perkosa cewek-cewek juga gue enggak peduli." Desis Zahra hendak beranjak keluar, tapi pergelangan tangannya sudah digenggam oleh laki-laki itu menarik paksa Zahra membuat ia dalam seketika terhantam keatas kasur. Lalu ditindih oleh pria itu. "Lo, mau apain gue!" "Sebelum gue di perkosa oleh cewek-cewek bagaimana kalau Lo duluan yang gue perkosa. Mau!" sebelas alis Varrel naik turun mengartikan maksudnya. "Gue emang mau!" Tolak Zahra berusaha memberontak, percuma karena tentu saja kekuatan Varrel jauh lebih kuat ketimbang dirinya. "Ya, kalau Lo mau itu namanya bukan perkosa ainggg. Namanya sama-sama mau!" "Gue enggak mau setan!" "Gue paksa!" "Anjing Lo, lepasin gue! "Gak akan, sebelum Lo melakukan apa yang gue suruh!" Varrel memberikan kiss rakusnya di leher Zahra membuat tanda kepemilikannya terpapang jelas dileher jenjang wanita itu. "Ok, ok, gue mau. Lepasin gue sekarang!" tinta Zahra pita suaranya sudah terdengar parah. Terlihat wanita itu sudah kehabisan tenaga untuk memberontak. Senyuman penuh kemenangan tersungging manis di sudut bibir Varrel. "Bagus," gumam Varrel lalu berdiri tegak melepaskan Zahra yang tergap-ngap seperti orang sesak. "Buset dia gajah apa manusia sih. Tubuhnya berat banget." Batin Zahra. "Cepat gue udah enggak punya banyak waktu lagi." Tukas Varrel. "Iya-iya, sabar dikit Napa. Sok sibuk Lo." Dengus Zahra berusaha memapang tubuhnya untuk berdiri. "Gue enggak punya banyak waktu cepat!" "Iya, berisik, bawel amat sih jadi lakik. Sabar gue juga udah jalan ini." "Lo jalan apa ngesot lama amat. Atau Lo mau gue benar-benar memerkosa kosa Lo!" Ancam Varrel berpura-pura bergerak berhasil membuat Zahra terbirit-b***t berlari keluar. "Mak ..." Pekik wanita itu menutup kasar pintu. Sementara Varrel terkekeh kecil. "Dasar gadis liar" gumamya *** "Zahra, hati-hati." tinta Bu Ningsih melihat putrinya terburu menuruni anak tangga. "Zahra kamu mau kemana sarapan dulu." bukanya menjawab pengantin baru itu malah semakin mempercepat langkahnya. "Nanti dulu Mah!" Teriaknya. Dikamar Varrel berdecak kesal, saat ia kembali melihat jarum jam. Laki-laki bergerutu sendiri mengambil ponselnya dari saku jas setelah itu mencari nama Sinta sang sekretaris pribadinya baru setelah itu melekatkan benda tipis itu didaun telinganya. "Halo," suara Sinta terdengar sebrang sana. "Sin, Lo bisa handle kan meeting pagi ini. Please Lo handle dulu ya, gue enggak bisa datang cepat keknya!" ucap Varrel mengusap kasar wajahnya. "Emangnya kamu lagi dimana! Tumben biasanya kamu cepat?" tanya Sinta. "Pokoknya gue enggak bisa jelaskan sekarang, Lo handle aja." "Ok, akan aku coba lakukan. Tapi kalau bisa secepatnya kamu datang ke kantor ya, soalnya nanti siang kita juga ada meeting penting dengan klien dari Amerika, itu Lo klien yang kita temui tiga bulan lalu di Italia." "Maksud Lo pak Handoko?" "Nah iya, aku baru ingat pak Handoko, dia mau kamu kamu langsung yang menghadiri meeting dia tidak ingin digantikan oleh yang lain!" "Ok, siapkan aja semuanya. Dua jam lagi gue akan sampai di kantor!" "Baiklah, bos, akan aku lakukan sebisaku!" Tutttt ... Panggilan terputus. Bersamaan dengan ketukan pintu yang terdengar. "Nak Varrel, kamu udah bangun nak, ini Mama Ningsih!" ucap Bu Ningsih dari balik pintu. "Iya, sebentar Mah!" Sahut Varrel segera ia mengambil handuk lain terlebih dahulu meletakkan di antara kedua bahunya guna untuk menutupi punggung polos pria itu. Cekle pintu pun terbuka lebar. "Ayo cepat turun nak, Mama sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kalian." "Oh, iya Mah, sebentar Varrel memakaikan baju dulu!" "Baiklah jangan lama-lama nanti sarapannya keburu dingin, hm itu Zahra pergi kemana tadi Mama liat dia buru-buru!" "Hm, sebenarnya Varrel lupa membawa baju ganti Mah hehehe jadi Zahra pergi membelikan Varrel baju!" Sahut Varrel merasa sungkan. "Hm, kenapa kamu tidak bilang sama Mama. Kan Mama bisa bantu sebentar tunggu disini!" Tinta Ibu Ningsih lalu melengos pergi menuntun ke kamarnya. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD