"Sial tu orang kenapa sih, pagi-pagi begini mana ada orang bukan toko baju!" dengus Zahra memukul stir mobilnya sedikit kasar, sudah lebih setengah jam ia berkeliling memutar kota namun tak satupun toko baju yang bukan.
Yang benar aja, jam tujuh mana ada toko baju buka sepagi ini. Merasa lelah akhirnya Zahra memutuskan untuk kembali pulang. Ia melewati jalan pintas menuju rumahnya, tanpa sengaja kedua ekor matanya melirik kesalah satu tokoh baju yang telah terbuka. Buru-buru wanita itu menepikan mobilnya. Membeli apa yang ia rasa yakin pas ditubuh suaminya itu.
Dua pasang baju kemeja dan juga celana, Zahra memilih warna hitam dan abu-abu. Sebenarnya ia tidak yakin kalau Varrel akan menyukai warna pilihannya itu. Tapi bukanya laki-laki menyukai wanita gelap pikirnya.
Setelah siap berbelanja barulah Zahra menancapkan gas kembali pulang kerumah. Tepat pukul delapan pagi akhirnya mobil Zahra masuk kedalam bagasi mobil.
Tanpa sabar buru-buru ia menenteng paper bag belanjaan menuntun masuk kedalam rumah. Dengan nafas ngos-ngosan ia hendak beranjak kedalam kamar. Jujur mendengar Varrel ingin memerkosanya membuat ia berdelik ngeri membayangkannya walaupun itu sadar kalau Varrel adalah suaminya. Lambat Daun dia juga pasti akan memberikan kehormatannya kepada laki-laki itu.
Tapi tidak untuk saat ini, dia sama sekali tidak mencintai pria itu. Setidaknya sampai ia telah jatuh cinta.
"Zahrah, turun!" Suara teriakan Ibu Ningsih berhasil membuat wajah pengantin baru itu memutar melirik, rambutnya yang terkunci ikut mengayun kemana arah pandangan mata melirik.
"Ia!" Di pertengahan anak tangga wanita itu menghentikan langkahnya.
"Ayo cepat sarapan, sini!" kata ibu Ningsih tangannya mengayun ayun memanggil putrinya.
"Hah. Sebentar Mah, aku antar ini dulu kedalam!" ucap Zahra.
"Zahrah, suami kamu udah berangkat nak. Ayo cepat sini turun!"
"Apaaaa ...."
"Sini, nak Varrel udah berangkat dari tadi!" sambung lagi ibu Ningsih membenarkan ucapannya.
"Gila, dia pergi begitu aja setelah gue disuruh beliin baju. Gue dikerjain, Varrel, brensek tunggu pembalas gue lu ya." Gerutu Zahra dalam hati mendengus kesal. Rasanya ia ingin melempar semua paper bang yang ia bawa ke wajah suaminya saat ini juga.
***
Sementara Varrel setelah menghabiskan waktu dua jam perjalanan akhirnya ia tiba di perusahaan ayahnya. Ya, jarang waktu tempuh antara rumah Zahra dan kantornya adalah dua jam lamanya. Itupun jikalau jalanan sedikit sepi tidak ramai kendaraan lain berlalu lalang.
Pukul setengah sebelas siang kedua kaki pria jangkung itupun di tiba di perusahaan yang sudah dua tahun lebih ia kelola.
Ya, sepertiga dari perusahaan ayahnya sudah dikelola sendiri oleh Varrel sendiri. Ia menekuni sembari kuliah di Amerika. Meeting luar negeri dan kerja sama luar negeri Varrel lah yang menghandle semua itu di bantu Sinta sekretaris pribadinya. Yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi.
Sinta sebenarnya adalah salah satu teman SMA Varrel, dikarenakan Sinta terbilang keluarga berkecukupan tidak mempunyai modal untuk kuliah apalagi di luar negeri jadi Varrel membatu sahabatnya itu dengan memperkerjakan Sinta sebagai sekretaris pribadinya. Tidak banyak sembari kuliah Sinta hanya membantu Varrel dalam bidang bisnisnya.
Kecerdasan dan kemampuan Sinta pun tidak bisa di anggap remeh. Ya, karena wanita itu memiliki kecerdasan di atas rata-rata kau wanita umumnya. Tidak heran jika Varrel sering menyebutnya si Qiu. Artinya wanita bereqiu tinggi.
Hari ini pertemuan penting, juga dengan beberapa klien dari luar negeri, salah satunya adalah pak Handoko pria. Paruh baya blesteran Malaysia dan Amerika itu sudah pernah ia jumpai saat meeting dengan para tetua saham di Italia. Tentu saja banyak dari para kalangan bisnis sudah mengenal siapa sosok Varrel Jonas.
Kepulangannya ke Indonesia sekaligus membantu pekerjaan Papanya yang lain, agar tidak membuat Papanya kewalahan.
"Bos, akhirnya kamu datang juga!" suara Sinta terdengar lelah saat ekor matanya melihat siapa yang telah masuk kedalam ruangannya.
"Bagaimana lancar?" tanya Varrel menghampiri meja wanita itu dan langsung mengambil beberapa tumpukan berkas tebal disana.
"Lancar Bos, untuk saja para klien pagi tadi tidak banyak tingkah kalau tidak aku tidak tau harus beralasan apa kalau mereka memaksa ingin bertemu denganmu!" jawab Sinta reflek ia berdiri ketika Varrel menghampiri mejanya.
"Duduk aja santai, Lo kan pasti lelah. Biar meeting kedua gue yang ambil, Lo istirahat aja!" Varrel.
"Beneran Bos, Alhamdulillah. Akhirnya aku bisa istirahat." Gumam Sinta melepaskan rasa penaknya sembari menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya.
"Tapi Bos, ngomong-ngomong Bos dari mana? Perasaan setauku rumah bos enggk jauh dari kantor ini?" tanya Sinta. Jujur, Varrel sama sekali tidak memberitahu siapapun tentang pernikahannya dengan Zahra termasuk Sinta sekretaris ataupun sahabatnya sendiri.
"Ada deh, gue habis ketemu saudara gue di luar kota jadi gue menginap disana." jawab Varrel berbohong setelah meneliti berkas itu pria itupun segera beranjak pergi masuk kedalam ruangannya yang tertulis Presdir.
***
Fress Kopiko the cafe.
Terlihat dua sosok wanita sedang saling berbincang-bincang disana salah satu dari keduanya mengerutkan kedua bibirnya sembari menceritakan kejadian apa yang ia alami.
Intan, satu-satunya sahabat dekat Zahra sejak mereka masih kecil, semua keluh kesahnya hanya Intan-lah yang tau tentang sahabatnya itu.
"Jadi kamu nikah enggk ngabarin aku salam sekali. Edan Lo ya, setega itu Lo sama gue sampai hari bahagia Lo aja enggak Lo kabari gue. Jadi semalam ini Lo nganggap gue apa Ra!" Seru Intan dengan suaranya sedikit melengking berhasil menarik ekor mata pengunjung lainnya menatap heran ke arah mereka berdua.
"Suttttttt, Lo bisa diam enggak sih. Ini bukan hutan!" tukas Zahra menutup mulut sahabatnya rapat-rapat.
"Habisnya Lo gila, segitunya Lo sama gue. Emang salah gue apa Ra?" kali ini suara Intan sudah sedikit lebih kecil dari lada yang tadi.
"Ssssuttt, makanya Lo dengar penjelasan gue dulu. Jangan main potong-potong. Gue nikah bukan atas kemauan gue sendiri gue di jodohkan dengan sahabat Papa gue." jelas Zahrah.
"Terus apa masalahnya sama gue, kan Lo bisa ngundang gue kepernikahan Lo. Gue kan pengen lihat bagaimana reaksi Lo saat menikah menjadi ratu dan pusat perhatian semua orang."
"Ya ratu dan pusat perhatian dalam mimpi, gue sama sekali enggak menjadi pusat perhatian. Lo paham perjodohan gak sih, mana ada orang bahagia menikah hasil perjodohan." .
"Terus sekarang, jangan bilang kalau Lo mau cerai."
"Gak, Lo sekate kate banget kalau ngomong cerocos aja kayek kambing. Gila gue kalia baru kemaren nikah udah pisah mau taruh dimana wajah Bokap sama nyokap gue!" dengus Zahra.
"Jadi terus?"
"Makanya kalau orang ngomong itu didengerin dulu jangan main potong aja, Lo kira jalan aspal main potong-potong aja Lo. kan jadi salah paham Lo kan"
Pletakkkk ... Jertikan telunjuk jari berhenti tepat di kening Intan, membuat sang pemilik kening merintis kesakitan.
"Aaauuu ...."
"Itu hukuman buat Lo karena Lo udah bikin gue kesal, gau udah dari tadi pagi kesal saat Kokok ayam gue udah emosi di tambah bicara sama Lo. Bukannya otak gue fresh karena curhat malam otak gue makin mumet bicara sama Lo sumpah!" ketus Zahrah.
"Hehehe habisnya Lo sih, Lo buat gue kaget. Tiba-tiba Lo udah nikah aja ngundang gue kagak lagi."
"Ya namanya gue nikah terpaksa karena menerima permintaan orang tua gue dudul. Mana gue ingat sama Lo lagi."
"Serah Lo dah, Lo mana pernah ingat sama gue. Sekali aja enggak pernah, yang ada gue selalu ingat sama Lo."
"Udah enggak ngambek lagi, iya iya gue minta maaf karena enggak ngundang lo. Puas!"
"Gak, gue enggak bakalan puas sebelum Lo kasi tau dulu suami Lo ganteng apa enggak. Mirip opa-opa Korea enggk! Ada fotonya sini kasi gue lihat!"
"Mana ada gue difotonya dudul!"
"Ya siapa tau aja Lo mengabdikan momen bahagia Lo sama suami tercinta di layar ponsel Lo!"
"Bukan momen tapi mumet yang ada!"
"Eh, tunggu bentar, Ra Lo serius kan, Lo lagi enggak bercanda kan sama gue. Lo serius udah nikah?"
"Astaghfirullah Intan, dari tadi gue ngomong Lo anggap apa. Ya kali gue Artis suka preng-prengan supaya pansos."
"Ya mana tau Lo pengen pensos!"
"Kalau pun gue pengen pensos enggak sama Lo juga markonah. Mending gue preng satu Negera biar gue makan pensos!"
"Mana tau Lo jadikan gue percobaan dulu, baru setelah itu Lo prang satu Negera."
"Ya, ya gue preng. Puas Lo. Astaga kenapa hari ini gue pengen banget makan orang ya. Oh Tuhan dosa apa yang aku lakukan mohon ampuni aku Tuhan, kenapa bisa aku mempunyai teman seperti dia!"
"Heh, Lo pikir gue apaan!" tukas Intan tak terima dengan perkataan Zahra barusan. Jelas itu sangat tertuju padanya.
"Gue bertambah emosi bicara sama Lo sumpah!"
"Yang ada gue seharusnya emosi bicara sama kamu Zahra!"
"Au ah. Udah gak usah bahas lakik gue lagi gak penting banget bahas dia!" ketus Zahra.
"Bagi gue penting banget karena gue belum lihat wajah lakik Lo. Gue penasaran. Pokoknya Lo hutang foto suaminya Lo. Pulang nanti Lo foto lakik Lo terus kirim sama gue ngerti." tintah Zahra.
"Ogah, gue malas sama dia Intan, Lo ngerti enggak sih!"
"Gak, gak ada cerita alasan. Alasan Lo gak masuk akal mana ada lakik sendiri gak mau, pokoknya gue enggak mau tau. Mau Lo kesal kek, emosi kek. Gau gak mau tau. Foto suami Lo harus Lo kirim sama gue besok malam paling lambat pagi titik!"
"Intan .....!" Kali ini malah suara Zahra mengaung lebih keras dari pada sahabatnya tadi.
"Maaf bak, tolong pelan kan bicara anda sedikit. Menganggu kenyamanan pengunjung yang lainnya." Tegur salah satu pelayan cafe berjalan menghampiri dua wanita itu.
"Diam!" Dengan serentak Intan dan Zahra berbicara.
Pelayan bilek : "lah salah gue apa, anjirrrrr!"
Bersambung .....