"Seharusnya Lo memberitahu gue lebih dulu kalau kita akan pindah di perumahan elite seperti ini, kalau geu tau pasti tidak gue akan menolak." tutur Zahra kegirangan seraya melirik sekilas Varrel walupun nafasnya masih sedikit ngos-ngosan membawa koper begitu berat namun sepertinya rasa letihnya hilang saat melihat isi rumah.
"Apa di sini ada taman yang indah?? tanya Zahra kembali melirik ke arah Varrel menunggu jawaban dari pria itu, namun Varrel tidak menjawab sama sekali pertanyaan kimmy barusan.
"Pasti, itu sudah pasti. Wauuu akhirnya aku bisa cuci mata juga. di sini pasti banyak pria tampan, Semoga aja ada yang lebih tampan dari dia." Gumam sudah membayangkan bagaimana kejadiannya nanti ketika ia melihat banyak cogan yang tinggal di perumahan elite ini. mata Zahra kembali melirik ke area sudut. ia terasa sangat tidak sabar ingin tinggal di sini. Et, tapi sekarang memang udah tinggal ya, Zahra menepuk jidatnya kecil.
Jujur, sebenarnya Zahra begitu senang jika jika tinggal perumahan elit perumahan elite seperti ini bahkan ada yang jauh lebih bagus dari ini di Pakistan. Zahrah sering memasuki perumahan elite sewaktu ia masih kuliah di sana, ia ingat betul kala itu ia ke taman kawasan perumahan elite.dan ia pun di kejutkan oleh begitu banyak sekali pria tampan yang berkulit putih dan hidung yang mancung duduk di taman walau hanya sekedar duduk sebentar. namun cukup membuat ia girang sendiri.
Aneh, tentu saja. Ketidak berjalan-jalan dia begitu suka melihat para pria tapi begitu para pria mendekatinya dia malam kabur dan ada yang tidak segan-segan memarahi mereka.
"Kalau Intan tau dia pasti sangat senang, aku yakin itu. tapi, nanti kalau Intan disini dia pasti akan setiap mari main kesini. Tapi tak apa-apa, dari pada aku sendirian tak punya teman sedikitpun? Lagian kan dia juga kan udah tau kalau aku sudah menikah. Jadi aku rasa juga buat apa dipermasalahkan, kalau aku tidak cerita dia l pasti akan berpikir macam-macam nantinya. aaagggrrr aku harus bagaimana alasan apa yang harus aku buat. ah bodoh amat." batin Zahra
" Apa nanti geu boleh memelihara kucing anggora...??" tanya Zahra lagi, dan lagi-lagi Varrel tidak menjawab pertanyaan Zahra barusan, pria itu malah asik diam menatap lurus ke depan.
"Gue nanti ingin memelihara kucing anggora berwarna putih emh, kuning, abu-abu, belang-belang, merah--"
"Diam.." ucap Varrel tiba-tiba memotong perkataan istrinya. "Bisakah kamu duduk dengan tenang tidak usah berisik!! perkataan mu membuat kepalaku pusing." ucap Varrel datar tanpa ekspresi sama sekali.
Rumah yang memiliki dua lantai itu memiliki empat kamar tidur masing-masing lantai memiliki dua kamar dan masing-masing kamar di lengkapi balkon yang sangat luas dan juga kamar mandi yang begitu besar. di lantai dua juga di lengkapi dengan ruangan tamu, bioskop mini, ruangan olahraga ataupun gym, mini bar, kolam renang mini dan juga teras yang begitu luas membuat kita seakan-akan ingin berlama-lama di sana menikmati pemandangan indah. sementara di lantai satu ada ruangan dapur cukup begitu begitu besar, ruangan tamu, ruangan keluarga, ruangan nonton TV, garansi yang di satukan dengan rumah dan teras depan.
sebenarnya rumah yang di pijak Zahra sebelah dua belas dengan kediaman pak Romi, Papa Varrel beda tipis lah hanya bedah penempatan ruangan saja.
"Apa Lo hanya akan berdiri mematung di sana." tutur Varrel, membuyarkan lamunan Zahra seketika di bawa angin.
"Ahm...."
"Ambil kopermu dan cepat masuk, pilih saja kamar mana yang kamu sukai." sambung Varrel lalu langsung pergi menuntun kedalam kamarnya di lantai atas.
"Hah... nyebelin banget." gerutu Zahra lalu ia mengambil koper miliknya, dengan susah payah ia membawa menaikan koper itu kelantai atas. Sedikit susah namun dengan penuh hati-hati ia menaikinya agar tidak membuat koper itu terjatuh.
Mata Zahra kembali terbelalak melihat isi rumah yang begitu indah dan tersusun sangat rapi, manik-manik mata Zahra menangkap seluruh isi rumah. Zahrah yang kini sudah tiba dilantai atas menarik nafasnya panjang karena rasa letih yang menyerang. Teryata mengangkat koper tidak semudah yang ia bayangkan.
"Kenapa Lo ngikuti gue? bukankah gue udah menyuruh Lo untuk memilih kamar yang kamu sukai. atau jangan-jangan Lo udah siap lagi." Varrel tersenyum licik menatap ke arah Zahra.
"Agr, i-itu."---
"Lo sudah siap gue perkosa." Varrel mulai melangkah mendekati Zahra.
Zahrah yang melihat Varrel semakin dekat dengannya pun sontak membulatkan matanya penuh, tanpa menunggu lebih lama lagi Zahra langsung mengambil ancang-ancang membalikkan badannya berlari sejauh mungkin dari laki-laki itu.
"Tidak... tidak... tidak... enak saja hufff... Gue udah capek-capek menjaganya selama ini dia mau mengambil begitu saja tidak, oh tidak semudah itu furgoso."
"Ck... dasar wanita bodoh dia pikir gue tertarik apa dengan tubuhnya itu." Varrel tersenyum tipis entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu sekarang. Varrel kembali melangkah menuntun kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang seraya di ikuti pejaman singkat matanya.
"Hufff...." suara nafas Varrel gusar.
Drettt.....
Drettt.....
Drettt..... terdengar suara bunyi ponsel Varrel dari dalam saku celananya.
Pria itu langsung meraih ponselnya dan meletakkan benda itu di telinganya.
"Halo." ucap Varrel ketika sambungan telepon terhubung.
"Halo bro loe di mana??" ucap seseorang di sebelah sana.
"Di rumah."
"Bro mending loe kesini deh bersama kita nikmati kopi bareng. dah lama banget kan loe enggak gabung lagi bersama kita."
"Loe di mana sekarang??"
"Di tempat biasa."
"Ok gue ke sana sekarang." tutur Varrel sebelum sesaat ia mematikan ponselnya. Varrel kembali memasuki ponselnya ke dalam saku celana, pria itu sudah siap untuk pergi sekarang.
Clek.... suara pintu terbuka. Varrel sontak terkejut ketika melihat Zahra sudah berdiri mematung di sana tepat di depan pintu.
"Hehehe gue mau mengambil koper gue yang tertinggal." guma Zahra.
"Ck. ambil saja sendiri, ngapain lirik gue kek gitu ngarep gue bantuin. Ogah gak akan sama sekali mending Lo ambil sendiri gue mau cabut, jangan tanya kau kemana. Karena gue ada pekerjaan.
"Dih sok kepedean amat gue mau nanyak Lo mau kemana. Tenang aja gue akan segitunya." Balas Zahra cepat.
"Ok bagus gue seneng dengar ya. Lebih baik Lo gak usah atur hidup gue dan apapun itu karena gue sangat enggk suka dan satu lagi. Satulagi jangan coba-coba Lo berani masuk ke kamar gue dan nyentuh apapun disana. Karena itu sangat privasi. Awas aja kalau Lo langgar gue makan hidup-hidup Lo." ancam Varrel setelah itu pergi begitu saja.
"Nyebelin banget sih jadi cowok. Udah pede tingkat dewa. Dia pikir gue perhatian gitu sama dia ngerep" gerutu Zahra melengos pergi sembari menarik kopernya.
***
Setelah membereskan semua pakaian dalam lemari Zahra berjalan ke arah balkon. heeeppp... udara sangat sejuk Untu menghangatkan tubuh apalagi di tiup oleh angin sepoi-sepoi membuat bulu roma merinding saja. sofa yang empuk untuk merebahkan tubuh, Zahra membaringkan tubuhnya dengan bola matanya menatap ke arah bawah. dilihatnya ada taman bunga yang cukup luas dan indah membuat manik-manik mata Zahra tidak berpaling dari tempat itu. dia perempuan apa lakik sih kenapa ada taman bunga di sini. tapi bagus juga hehehe, ku pikir pria tidak menyukai bunga tapi ternyata pikiranku salah. ternyata selera dia bagus juga ya, dia membeli rumah yang sangat bagus. tapi, ngomong-ngomong duet dia banyak juga ya bisa belik rumah sebagus ini. paling juga duet bapaknya mana ada dia duet sebanyak itu bisa membeli rumah sebesar dan semewah ini pikir Zahra.
Ting.... sebuah pesan masuk.
Zahrah beranjak segera mengambil ponselnya yang di letakkan di atas nakas samping ranjang.
"Ra, Lo dimana. Gue mampir kerumah Lo enggak ada?" pesan singkat dari Intan. Zahra menaikan sebelah alisnya.
Ting...
"Ra, kamu di mana sih, gue udah di rumah Lo ini."
"Ya ampun ni anak tiba-tiba di rumah, sehari enggk ketemu apa enggak bisa." Zahrah dengan cepat membalas pesan Intan. "Tan, lagi di luar kota mending Lo pulang aja gue enggak bisa pulang sekarang soalnya."
"Tan, Lo pindah rumah ya? barusan Mama bilang Lo kalau Lo udah pindah rumah di ibu kota."
" iya, maaf ya gue enggak sempat kasi tau kamu soalnya tadi aku buru-buru."
"Iya gue tau, Lo mau bulan madu kan sama suami Lo biar enggak ada yang ganggu. Cie cie, gue kerumah Lo ya."
"Eeeetttt... jangan, jangan, jangan. Ngapain juga Lo kerumah gue, mau jadi nyamuk Lo. Husss mending jauh-jauh gak usah deket-deket."
"Eh buset Lo judes amat sama kawan Lo sendiri ya. Katanya enggak cinta, gue di paksa nikah. Bohong lo, padahal Lo suka kan. Gimana besar enggak kasi tau gue Napa?"
"Besar apa-apa? Lo jangan ngadi-Ngadi ya!" dengus zagray.
"Gue tunggu di cafe xxxx, langsung datang. Gak datang gue coret Lo dari daftar kk." Paksa Intan di sebrang sana.
"Gue lagi malas!"
"Lah lah kenapa pesan gue enggak di baca. agrrr dia udah offline teryata, tu anak buru-buru amat udah ganggu malam pergi gak pamit, dasar!" Zahra dengan perasaan kesal berjalan ke arah lemari mengambil tas hitam queltek bag miliknya yang baru kemaren ia membelikannya di aplikasi online.
Zahrah berjalan pinggiran jalan menunggu taksi online yang baru saja ia pesan, wanita itu nampak merintis karena cuaca sangat panas. "Padahal tadi mendung kenapa sekarang malah sangat panas." gumanya menutupkan wajahnya dengan tas agar tidak terkenak sinar matahari. " duh bedakku bisa luntur ni."
Di tempat lain Varrel baru saja tiba di cafe yang biasa ia kunjungi sewaktu dulu sebelum ia ke luar negeri. laki-laki itu segera berjalan menuju ruang VVIP cafe yang memang sudah di pesan oleh sahabat kecilnya itu, Rama Alberto dan beberapa sahabat Varrel lainnya.
"Lihat siapa yang datang." gumam Rama langsung berdiri ketika melihat Varrel baru tiba.
"Sorry aku terlambat." Varrel memeluk singkat Rama, lalu pria itu duduk bersebelahan dengan sahabatnya.
"Wah... wah Rel makin hari tubuh lu bagus aja." puji Ramai tersenyum lebar.
"Apaan sih, orang biasa juga."
"Hahahaha... kayek ya Lo makan enak tiap hari di Amerika."
"Makan enak apanya, Lo tau sendiri kan kalau gue enggak suka makanan luar." sahut Varrel sebelum sesaat ia mengambil air minum yang memang sudah ada tersedia di atas meja.
"Hahahaha... bukan itu maksud gue, itu-tu." ucap Rama dengan pikiran mesumnya.
Sementara Varrel tidak merespon lagi perkataan Viki ia lebih baik meminum dari pada harus menjawab perkataan Viki yang tidak jelas maksudnya pikir Varrel kembali meneguk air.
Zahrah berlari memasuki cafe, wanita itu melirik ke kanan dan kiri mencoba melihat sosok orang yang ia kenal, hufff.... teryata aku sampai duluan. Kimmy bernafas lega karena dia tidak melihat keberadaan Intan. Zahrah hendak melangkah mencarikan kursi kosong namun langkah langsung terjeda saat merasakan seperti seseorang memegang bahunya.
"Whhhhh...." Zahra terperanjat kaget
melihat Intan berada di belakangnya.
"Zahra, aaaaaa..." guma Intan kegirangan, entah apa yang terjadi pada wanita ini tapi tiba-tiba intan memeluk erat tubuh Zahra seraya meloncat kecil.
Zahra tersentak sedikit ke belakang karena harus menahan tubuh sahabatnya itu yang sangat besar. bayi beruang ini sangat berat Zahra menggeliat berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Intan.
"Tan, lepasin, gue bisa mati."
"Aaaaaaa Lo Ra." bukannya malah melepaskan Zahra, Intan malah semakin mempererat pelukannya mengajak wanita itu menari bersamanya.
"Permisi mbak." ucap pelayan cafe tiba-tiba datang menghampiri mereka. Intan yang mendengarkan itu segera melepaskan pelukannya.
"Maaf tolong jangan berteriak di sini." sambung lagi pelayan itu dengan nada lembut.
"Maaf mbak maaf" Zahra sedikit menundukkan kepalanya merasa tidak enak dengan mbak pelayan. lalu wanita itu menarik sahabatnya ke arah bangku kosong.
"Tan, pelankan suara Lo ini tempat umum bukan wahana rollercoaster bisa berteriak sesukamu." ucap Zahra pelan dengan nada kesal.
"Hehehehe maap maap lah, abisnya gue seneng banget hari ini." Intan kembali kegirangan, wanita itu nampak sangat bersemangat.
"Tan..." Zahra merapatkan giginya merasa sangat geram dengan sahabatnya ini.
"Ra Lo tau kan gue enggak pernah senang ini sebelumnya." ucap Intan.
"Hadeh Tan, mending Lo itu duduk yang tenang dulu tarik nafas dalam-dalam terus buang lalu jelasin sama gue kenapa kamu teriak kayek tadi main peluk-peluk lompat gak jelas kayek gitu. kamu itu lagi kesambet apa sih??" Zahra kehabisan kata-kata dengan sahabatnya yang satu ini.
"Hufff... ok gue akan tenang sekarang." Intan berusaha menenangkan dirinya. lalu wanita itu mengambil ponselnya berada di dalam tas "Sekarang Lo lihat sendiri apa yang aku dapatkan." Intan menunjukkan sesuatu di layar ponsel. sesuatu yang membuat dia sampai seperti tadi berteriak dan loncat gak jelas.
Zahra langsung membulatkan matanya penuh ia begitu sangat terkejut melihat apa yang ia lihat sekarang. "Tan, ini beneran?" mata Zahra tak berpaling dari apa yang ia lihat dari layar ponsel Intan.
"Iya, makanya gue senang banget dari tadi."
"Aaaaaaa...." kini Zahra malah berteriak kegirangan, sekaligus membuat semua orang yang ada di cafe menatap heran kepadanya.
"Aaaaaa... ini bukan mimpi kan...?" Zahra mencubit pipinya kasar. ia masih tidak percaya kalau Intan berhasil mendapatkan dua tiket liburan ke Maladewa. sebelum Zahra juga sudah berusaha membeli itu, sewaktu acara konser di Pakistan namun Zahra tidak mendapatkannya sama sekali. Karena pesawat yang kesana di tunda penerbangan beberapa kali. Bahkan Zahra sudah mati-matian berusaha hingga rela di jemur di bawah sinar matahari dan desak-desak kan demi mendapatkan liburan kesana tapi usahanya malah sia-sia karena penerbangan ditunda.
"Zahra, ini itu beneran gue itu udah bersusah payah tau beliknya, pakek uang tabungan gue." sahut Intan juga antusias kegirangan.
"Huuufff.... kenapa Lo enggak bilang dari tadi sih." gerutu Zahra.
"Anggap aja itu kado dari gue buat Lo sama suami Lo. Liburan ke sana, gue pengen kalian segera ngasi gue ponakan!"
"Intan!"
Bersambung....