chapter 42

1321 Words
Kediaman keluarga Rama. Terlihat Rama sedang menguyurkan tubuhnya dengan air dalam kamar mandi. Ini jauh lebih menggoda menggoyang jantungnya sudah berdetak sangat kencang. Rintikan air yang masih berada di d**a sixpack Rama bertambah membuat jantung Luna seakan ingin berhenti. Rasanya nafasnya begitu sesak seolah olah ia begitu susah menarik dan menghembuskan nafasnya. Hingga beberapa saat kemudian mata Rama berhasil menangkap mata Sinta yang sudah dari tadi memperhatikannya. Seulas senyuman langsung tersungging di bibirnya. "Sayang, kamu kenapa? Kok ngiler gitu??goda Rama tersenyum kecil, ia baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati Sinta ada didalam kamarnya. "Ah, hahhh .... A-apa, apa? Kamu bilang apa barusan?" tanya Sinta kelabakan. "Apa? apa? Kamu tadi terpesona dengan ketampanan ku buka?" terka Rama sembari melangkah dua langkah kedepan berhadapan tepat didepan Sinta. "Enak aja, si-Siapa bilang aku, aku terus pesona. Enggak kok, A-Aku B aja." sahut Sinta sembari sedikit mengusurkan tubuhnya kebelakang. Wajahnya seketika mera merona ketahuan. "Kalau B aja lalu kenapa kamu jadi gugup seperti itu, Hem." ucap Rama secara perlahan-lahan ia menurutkan badannya mengenai Sinta. Membuat wanita itu berada dibawah belahan dadanya. kedua tangannya menopang di atas ranjang. Jantung Sinta seakan meledak bagaikan di bom, matanya kini dengan sangat jelas memperhatikan bidang d**a sixpack Rama yang hanya berjarak kisaran 5 cm saja. Nafasnya seakan memburu naik turun tidak beraturan. Tanpa berkedip Sinta menelan ludahnya kesekian kalinya. Hormon nafsunya sontak naik drastis. Bau aroma maskulin yang tercium semakin membuat Sinta terbuai. Kini lirikan matanya berpindah menatap kearah roti sobek yang kembang kempis itu, Pikiran kotornya langsung terbayang begitu saja. Sebagai penggemar cogan Sinta tidak bisa melihat yang satu ini. Rasanya ia begitu ingin menyentuhnya namun dengan cepat Sinta mengendalikan dirinya. "Sayang, apa kamu sudah siap, aku berjanji akan membuatmu puas tiada tara. Kamu akan medesah nikmat, permainan ku akan membuat kamu ketagihan sayang." bisik Rama begitu lembut mengalun menggoda iman. "Rama." Sinta membulatkan kedua bola matanya, jujur ia sudah tidak bisa menahan nafsu hormonnya dengan gerak cepat mendorong tubuh Rama agar menjauh darinya, serasa oksigennya sudah habis dan sangat butuh udara segar. Rama yang melihat Sinta seperti itupun malah tersenyum senang, rasanya ia belum puas menggoda wanitanya. Dengan penuh hati-hati Rama mengayunkan ke-dua tangannya memegang handuk yang membaluti sebagai tubuhnya itu. "Rama, k-kamu mau ngapain." seketika mata Sinta membulat, ludahnya kembali tertelan. "Menurutmu, apa yang akan aku lakukan?" Tanya balik Rama sembari melepaskan handuk yang membaluti area pinggangnya. Ya, karena tadi ia sempat ke kamat mandi membuang hajatnya, namun sayang bajunya malah terkena banyak ceprikan air, sehingga mengharuskan dia untuk melepaskan kain yang melekatkan ditubuhnya, dan membuat Rama mandi saja. "Rama ...." sontak Sinta berteriak tanpa pikir panjang menutup matanya rapat-rapat, Rama yang melihat itu tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha ...." Rama tidak henti-hentinya tertawa. "Rama apa yang kamu lakukan?" gerutu Sinta dengan tangan masih menutupi wajahnya. "Emangnya kamu pikir aku sedang ngapain?" "Rama berhentilah bermain-main. Cepat pakaikan celana mu." "Makannya lihat sayang apa aku udah memakaikan celana apa belum jangan menutup matamu seperti itu. Lagipula kamu sudah melihat semuanya bukan. Ini bukan pertama kalinya" tutur Rama masih tertawa. Sinta yang mendengar itu secara perlahan-lahan ia menurunkan tangannya mencoba melihat bagaimana keadaan Rama sekarang. Wajahnya sudah merah seperti tomat sudah siap dipanen kan. "Lihat Aku sudah memakaikan celana, kenapa kamu menutupi wajahmu seperti itu sampai merah hem." Goda Rama lagi. "Au ah gelap" Sinta mengerucutkan bibirnya, teryata benar kalau Rama memang sudah memakai celana pendek. Dengan penuh kesal Sinta pun beranjak bangkit dari pinggir ranjang dengan tergesah-gesah ia memasuki kamar mandi. Di dalam kamar mandi Sinta menatap dirinya dari pantulan cermin, dia berdiri tepat didepan wastafel melihat wajahnya yang merah merona. Dia seakan malu ke ubun-ubun sekarang. Teryata Rama hanya menggoda dirinya. "Dasar pria tidak tau malu beraninya kamu menggodaku. Awas aja kamu, aku akan membalasmu." guma Sinta. Beberapa menit kemudian, setelah menghabiskan waktu kurang lebih 10 menit dalam kamar mandi akhirnya Sinta keluar. Namun sebelum itu Sinta terlebih dahulu mengintip Rama, ia ingin melihat apakah suaminya sudah pergi dari kamar apa belum. Dan ternyata belum, Rama terlihat duduk atas ranjang bersandar di headboard. Pandangan matanya tertuju pada layar ponsel yang ia pegang. Sinta tersenyum licik, ia sedikit berdehem seolah olah mengabarkan kalau dia sudah selesai dalam kamar mandi. Langkah kakinya yang kecil secara berangsur-angsur ia layangkang. Dengan tangannya yang mengibak rambutnya sedikit basa ke arah samping. Memperlihatkan kemulusan leher jenjangnya itu. Sedangkan bibir bawahnya sudah digigit dengan kasar. klik, tepat saat Rama menatap kearahnya Sinta mengedipkan sebelah matanya. "Kamu menggodaku?" tanya Rama to the poin. "Tidak. Aku tidak sedang menggoda mu, tapi kalau kamu merasa tergoda itu wajar karena aku memang perempuan penggoda." sahut Sinta dengan nada sangat seksi. Tangannya yang sebelah kiri mengelus ngelus lembu pahanya yang putih bersih itu. "Rama, aku bisa memuaskan mu jikalau kau mau. Aku juga bisa membuat kamu jauh lebih merasakan kenikmatan surga dunia." bisik Sinta dengan nada centil, berusaha menggoda harimau buas. "Benarkah, kamu akan memuaskan ku?" tanya Rama antusias tersenyum kecil. "Iya, apa kamu pikir aku tidak bisa bermain di atas ranjang, Hem. Aku ini jauh lebih hebat dari pada wanita p*****r manapun." tukas Sinta yang sudah tidak menyadari kalau dirinya sekarang sudah benar-benar berada dalam kerangkeng harimau. Rasakan, sekarang kamu menerima akibatnya bukan hahahaha, siapa suruh mengerjai ku. Emang kamu pikir aku tidak bisa mengerjaimu. Kamu suka sekali bukan membuat jantungku rasanya ingin copot berhenti berdetak. "Tapi aku masih belum percaya sayang. Kamu pasti akan menangis nantinya memohon ampun." ujar Rama memancing mancing Sinta agar lebih lagi masuk kedalam perangkatnya. "Apa kamu piki aku tidak tau, kamu sedang ingin membalas ku bukan. hehehe, tapi aku akan mewujudkan apa yang kamu katakan barusan sayang." Batin Rama "Kamu masih belum percaya, Baiklah akan aku buktikan." secara perlahan-lahan dengan gaya seksi Sinta menurunkan dress yang ia gunakan. Hingga belahan paha mulusnya terlihat sangat jelas Tunggu, tunggu. Kalau aku melepaskannya itu berarti sama saja aku menyerahkan diriku sendiri tidak, tidak. "Hem'em, aku rasa sudah cukup sampai disini." Sinta membenahi kembali dress-nya. "Aku baru ingat tadi Ibu memanggilku, aku hampir saja lupa" sambung Sinta hendak kabur. "Tidak bisa semudah itu sayang. Kamu jangan coba-coba membohongiku" Rama yang melihat itu dengan gerak cepat menarik Sinta dan menindihnya. Setelah itu tanpa sabar ia melepaskan dress yang membaluti tubuh istrinya. "Rama" Mata Sinta membulat sempurna. "Suuttttt... Jangan berbisik, nanti suaramu didengar oleh orang." jari telunjuk Rama mengatupkan belahan bibir seksi Sinta. "Aaagggrrr" Rama menelan ludahnya begitu kasar, kedua gunung kembar berwarna putih sangat jelas berada di depan matanya. Secara bergiliran Rama menamkan tanda kepemilikan sampai ia merasa puas lalu setelah itu baru berpaling dileher jenjang mulus Sinta. Sedangkan kedua tangannya memainkan kedua gunung itu. Sinta yang ingin menolak tapi sudah tidak kuat lagi, hormon nafsunya kini sudah menjelajah keseluruh tubuhnya. "Ahhhhh...." Akhirnya Sinta mengeluarkan desahan, permainan Rama benar-benar membuat ia lupa diri. Kedua tangan Sinta dengan bergelayut manja dileher Rama, sesekali ia menjambak rambut pria itu. Kini kedua bibir mereka menyatu begitu dalam. Saling melum**. "Hahhhh Hahhhh Hahhhh." suara nafas Sinta begitu terengah-engah setelah Rama mengentikan ciuman panasnya. Rama beranjak bangkit, melepas kasar baju yang ia kenakan dan membuatnya sembarang arah, begitu juga dengan kain yang membaluti area pinggangnya. Kini dirinya bertelanjang bulat-bulat di depan Sinta. Glukkk... Untuk kesekian kalinya Sinta menelan ludahnya lagi. Manik-manik matanya dengan sangat jelas melihat sesuatu yang bulat, besar nam panjang sedang mengarah kearahnya. Berdiri kokoh rasanya ingin menerjangnya. Rama dengan penuh lembut kembali menindih Sinta, mengangkat kan kedua paha putih mulus Istrinya lalu meletakkan kedua paha putih itu di atas pundaknya. Setelah itu secara perlahan-lahan ia mencoba membukakan pintu nikmatnya surgawi yang tiada tara itu. "Sayang mungkin ini agak sedikit sakit tapi tahanlah, nanti sakitnya akan menjadi nikmat." ucap Rama yang mendapat anggukan dari Sinta. Ia sudah terbiasa dengan sakit ini, karena tentu ini bukan kedua kalinya ia rasakan setelah di pesawat saat itu. "Aaahhhkkk..." Sinta menjerit bukan main saat benda tumpul itu berhasil masuk kedalam surga dunia. Kedua tangannya meremas kasar sprei bewarna putih cerah itu, diikuti kepalanya yang terperangah ke atas karena menahan rasa nyeri. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD