Wah apa ini pizza dan stek. Ah dia membelinya untukku. Benar-benar romantis pikirku tersenyum kecil. Tapi senyuman itu tiba-tiba saja buyar saat aku dengar suara yang sangat aku kenal berada dibelakang ku.
"Jangan biarkan dia masuk lagi ke rumah ini, dan aku apa-apaan. Berpakaian seperti ini didepan laki-laki lain. Apa kau ingin menjadi p*****r!" Ucapan dengan nada membentak.
Duggg ....
Pelacur, jantungku berdetak sakit mendengarnya, sumpah demi apapun rasanya seperti di tusuk jarum. Apa aku segitu rendahnya dimatanya.
"Lihat dirimu, seperti tidak tau malu." Sambungnya lagi semakin membuat d**a ini sakit mendengarnya.
Kenapa dia begitu cepat menyakiti perasaanku saat dia membawakan makanan ini rasanya aku senang dan sekarang dia meruntuhkannya dalam sekejap.
***
Varrel POV
Aku mendengus, entah kenapa aku sangat merasa kesal atas apa yang aku lihat tadi, bibirku berkata yang tidak-tidak. Aku tidak bisa menguasainya diriku saat ini. Rasanya aku ingin menghancurkan gunung yang ada.
Aku sadar apa yang telah aku katakan barusan kepada Zahra, wajahnya langsung berkaca-kaca menahan bendungan. Dia menunduk tidak berbicara sepatah katapun lalu saat ia hendak melangkah pergi aku langsung menahan tangannya. Menariknya kedalam pelukanku. Sumpah aku tidak bisa melihatnya nagis, apa yang terjadi dengan diriku.
"Maafkan aku!" Ucapku pelan semakin memperdalam pelukanku. Dia tidak membalas melainkan tangisanya sudah pecah sekarang bersandar di bahuku. Aku menahannya agar tidak memberontak.
"Aku hanya tidak suka yang sudah menjadi milikku dilihat orang lain. Hanya itu, kamu milikku dan akan selamanya menjadi milikku. Aku tidak suka orang lain melihat kamu dengan tatapan seperti itu. Aku tidak suka!" ucapku lagi entah setan apa yang merasuki tubuhku ini sehingga berkata seperti itu.
"Kenapa kamu menghinaku?" tanyanya lirik sembari terisak.
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya kesal karena kamu membiarkan laki-laki lain masuk kedalam rumah kita!" jawabku seadanya. Memang itu faktanya kehadiran Rama membuat aku emosi.
"Aku tidak mengizinkannya masuk, tapi dia sendiri yang memaksa masuk!" Katanya lagi.
"Kalau begitu lain kali jangan bukankan pintu!"tintaku final dia hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Sudah jangan nagis lagi. Aku tadi membelikan kamu makanan, ayo kita makan sama-sama!" Sambungku lagi merenggangkan pelukanku. Dia masih menunduk tidak mau menatap wajahku, melihat itu aku mendongakkan kepalanya agar dia bisa menatapku.
"Maafkan aku!" Kataku lagi mengecup bibir ranum merah muda itu sekilas.
"Kenapa kamu menciumiku?"
"Bibir kamu manis, aku saka!" Jawabku menyeringai, spontan membuat wajahnya merah merona seketika.
"Ayo kita makan sebelum makanan keburu dingin!" ajakku. Zahra menganggu pelan lalu dia mulai mengambil piring dan menaruh makanan yang aku beli diatas piring.
"Kenapa kamu pulang awal, tumben, biasanya kamu akan pulang larut malam?" Tanya Zahra telingaku sangat jelas mendengarnya. Dia duduk di kursi berhadapan denganku.
"Kalau aku bilang, aku merindukanmu. Apa kamu percaya?" tanyaku balik, sudut bibirnya menarik senyuman kecil, sekilas matanya yang coklat menatap kearahku.
"Mungkin!" jawabnya, aku menaikkan alisku mendengar jawabannya.
"Kenapa mungkin, itu tandanya kamu tidak percaya?"
"Aku tidak tau, karena itu kamu sendiri yang merasakannya. Alasan apa yang kamu buat untuk pulang cepat ada pada dirimu!" katanya aku hanya mengangguk pelan.
"Sudah jangan, pikirkan, cepat makan, makan yang banyak, kamu terlihat kurus akhir akhir ini!" tintaku sembari mengambil sendok dan langsung memakan stek yang aku beli tadi.
"Aku tidak suka gendut!"
"Tapi aku lebih tidak suka kamu kerus seperti ini. Badanku sakit semalam tekena tulang mu!" Kataku bercanda spontan mendapatkan tatapan tajam darinya.
"Lalu kalau kamu tau aku kurus kenapa kamu melakukan itu padaku?" dia bertanya dengan nada kesal. Aku terkekeh kecil melihat wajah cemberutnya membuat aku senang.
"Itu karena kamu istriku! Aku tidak mau melakukan hubungan itu dengan wanita lain tanpa stastu!" Jawabku seadanya. Ya, memang kalau aku mau melakukan seks tentu sudah lama aku melakukannya di Amerika. Namun tidak sekalipun disana aku melakukan hal itu, Karena aku sadar aku tidak mau merusak anak orang.
"Kenapa kamu pulang larut malam sekali kemaren malam?" tanyanya lagi.
"Itu, aku menghadiri ajakan temanku. Aku tidak tau kalau pulangnya pagi. Kalau aku tau aku tidak akan pergi!"
"Lalu, katamu, hm, obat perangsang!" Zahra bertanya bertanya pelan, wajahnya langsung menunduk malu.
"Enyahlan, mungkin seseorang berusaha menjebakku. Aku tidak tau!"
"Bagaimana kalau kamu selama tidak pulang apa akan---"
"Suuttttt, jangan mikir yang tidak-tidak. Percayalah aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Ayo makan, nanti makanan ini tidak akan habis!" Potongku, Zahra menganggu sebagai jawaban.
***
Tiga puluh menit berlalu, setelah sarapan pagi. Aku langsung menuju ke kamarku. Mataku sudah tidak kuasa lagi menahan ngantuk yang menyerang, bagaimana tidak. Kemaren malam aku sama sekali tidak tidur dan setelah pergulatan dengan Zahra aku langsung kembali berkerja. Rencananya aku mau istirahat tapi pekerjaan di kantor tidak bisa aku tinggalkan begitu saja.
Aku bangun dari ranjang, rasanya ada yang kurang. Membuat aku sedikit tidak nyaman. Akhirnya aku memilih masuk kedalam kamar Zahra, aku menerobos masuk tanpa mengetuk pintu. Dia terlihat memejamkan matanya seolah-olah menahan rasa nyeri. Keningku berkerut langsung aku menghampirinya.
"Kamu kenapa?" tanyaku. Dia terlihat terkejut dan spontan merubah gaya duduknya yang tadi sedikit ngangkang.
"S-sejak kapan kamu disini?" tanyanya balik.
"Barusan, aku tidak bisa tidur jadi aku kesini. Boleh aku tidur disini?" Zahra terdiam sesaat lalu dia mengangguk pelan sebagai jawaban. Bibirku langsung tersenyum menyeringai.
Ku rebahkan tubuhku di atas ranjangnya. Melihat Zahra yang sedikit mengusurkan tubuhnya tanpa aba-aba aku langsung menariknya akan berdekatan denganku.
"Jangan jauh-jauh, aku tidak bisa memelukmu!" Kataku.
"Tapi, aku tidak mau mengangguk kamu tidur!" Ucapnya.
"Ssssuttt dia atau nanti aku akan memakanmu seperti semalam!" Spontan Zahra terbelalak.
"Tapi, hm, masih sakit!" Ya Tuhan polosnya istriku. Zahra menunduk malu setelah berkata seperti itu.
"Masih sakit, apa kamu terlihat aneh jalan karena itu?" Lagi-lagi Zahra hanya menunduk malu.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak menyakitimu!"
"Tidak apa-apa, sudah jadi tukasku."
"Terimakasih, ayo tidur temani aku tidur. Aku sangat mengantuk!" Kataku membawa Zahra kedalam pukulan.
***
Zahra POV
Dug ...
Dug ...
Dug ...
Oh Tuhan, lagi lagi jantung ini tidak bisa diajak komunikasi. Bisa-bisa aku mati mendadak karena jantungan.
Aku mulai merebahkan tubuhku di bidang d**a Varrel. Tubuhnya juga berdekatan kencang. Apa dia merasakan apa yang aku rasakan. Setahuku orang yang jantungnya berdetak hebat ketika bertemu dengan seorang itu tangan dia sedang jatuh cinta.
Apa aku benar-benar mencintai dia. Sumpah Varrel sangatlah tampan ketikan dia sedang tertidur. Aku melihat jelas bagaimana bentuk indah wajahnya. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang seksi, alisnya yang tebal layaknya orang timur tengah. Dan bulu matanya yang terpesona.
"Jangan memandangi ku terus sayang, cepat tidur. Semau anggota tubuhku ini milikmu!"
Jedar bahkan kali ini jantungnya rasanya ingin meledak. Jadi dia sadar aku memandanginya. Varrel merupakan pelukannya membuat aku hanya bisa pasrah.
Bersambung ....