Malah hari angin suasana terlihat dingin. Hembusan angin sangat terasa, bahkan para pepohonan diterjang kiat oleh angin ribut. Zahra menutup semua gorden yang ada lantai satu, baru setelah menuju lantai dua. Awalnya ia menonton drama Korea kesukaannya namun Varrel melarang Zahra, beralasan karena sudah larut malam.
Dan benar saja, jarum pendek hampir mendekati jam sebelas malam. Bukankah ini sudah tengah malam.
"Kamu kemana?" tanya Varrel melihat Zahra hendak menuruni anak tangga.
"Hm, mau nonton!" jawab Zahra seadanya.
"Sudah jam berapa sekarang?"
"Setelah sebelas!" Zahra melirik jam tangannya.
"Sudah larut malam, besok saja nontonnya. Ayo tidur!" ajak Varrel.
"Tapi ---" belum selesai Zahra berbicara Varrel sudah memotong terlebih dahulu.
"Tidak ada tapi-tapian, tidak baik bergadang. Ayo cepat tidur!" Final Varrel membuat Zahra tidak bisa berkutik lagi. Dengan dengusan kesal Zahra membalikkan badannya hendak menuntun masuk kedalam kamar yang biasa ia tiduri. Namun baru dua langkah ia melangkah tangan Varrel sudah memegang pergelangan tangannya.
"Hey, mau kemana?" tanya Varrel.
"Lah, tadi katanya suruh tidur!" Jawab Zahra polos.
"Iya, tapi maksudnya aku bukan tidur di kamar itu tapi di kamar kita. Kamar aku!" kata Varrel menjelaskan.
"Maksudnya, ta-tapi!"
"Suuttttt, lupakan apa yang aku katakan dulu, biarkan itu berlalu. Ayo, masuk kamar, besok pindahkan semua barang-barang kamu kedalam kamarku. Hm!"
"Mulai saat ini kita satu kamar!" Sambung Varrel lagi.
Dug ....
"Ka-kamu tidak bercanda kan?" Zahra memicingkan tatapannya merasa aneh dengan suaminya ini. Bagaimana tidak, Varrel menyuruhnya untuk sekamar bukan semalam melainkan bermalam-malam. Padahal dulu, dia yang tidak mau kamarnya Zahara masukin.
"Buat apa aku bercanda, emang apa untungnya untukku. Gak ada sama sekali. Sudah jangan banyak tanya. Besok siang barang-barang kamu sudah harus ada didalam kamarku mengerti!" Tinta Varrel penuh penegasan. Zahra hanya bisa pasrah serta anggukan kepala singkat.
Dikamar Varrel tidak henti-hentinya memeluk dan mencium lekuk Zahra, kalau saja Zahra tidak sakit dibagian sensitifnya sudah pasti ia akan melakukannya lagi malam ini.
Namun mengingat tubuh Zahra yang lemas membuat Varrel merasa tak tega jika nanti Istrinya kesakitan
Hujan turun lebat, membasahi kota Jakarta, dan suasana jalan sudah terlihat seperti akan lalu lalang kendaraan tidak seperti siang hari. Hanya beberapa kendaraan beroda empat saja yang masih satu-persatu berada dijalan raya.
***
Zahra POV.
Suasana pagi dari silaunya mata hari masuk dari sela-sela jendela kamar membuat aku menggeliat beberapa kali diatas ranjang. Kulihat Varrel masih tertidur pulas dalam mimpinya. Aku tersenyum kecil, mencium kening Luna baru setelah itu beranjak turun dari ranjang.
Seperti biasa, sudah jadi rutinitas ku menyiapkan sarapan pagi sebelum Varrel berangkat kerja.
Dengan penuh talenta aku memasak sarapan pagi setelah itu beralih kepada mencuci pakaian.
"Sayang, apa kamu lelah. Kalau kamu lelah aku akan menyewa kan pembantu untuk membersikan rumah ini." Tawar Varrel setelah sesaat dia siap dalam sarapan paginya dan pergi ke kantor.
"Tidak perlu, aku masih bisa mengerjakan semua ini sendiri kok." Toalkku halus.
"Tapi, aku tidak tega melihat kamu membersikan semua isi rumah ini sendirian."
"Aku tidak apa-apa beneran, tidak perlu. Aku tidak bisa duduk diam tanpa melakukan pekerjaan apapun." Lagi-lagi aku menolaknya dengan halus.
Aku mendengar Varrel membuang nafasnya gusar mendengar lagi penolakan dariku.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Aku pamit dulu, dan ingat jangan biarkan siapapun masuk kedalam rumah ini tanpa izin dariku!" tintah Varrel aku mengangguk cepat sebagai jawaban.
"Bagus, kalau begitukah aku pamit kerja dulu ya!" Kata Varrel lagin
"Iya, hati-hati. Dijalan!'
"Hem!" sekilas bibir seksi Varrel mencium kening ku lama selama dia benar-benar pergi menjauh menuju padatnya jalan raya.
Setelah Varrel pergi aku pun melanjutkan tugasku yang sempat tertunda. Baru selepas semua perkejaan rumah siap aku pun beristirahat diruangan keluarga sembari menonton film kesukaan ku.
Satu dua, sampai tiga jam lamanya. Lama-lama membuat aku bosan sendiri didalam rumah ini. Rasanya sekarang aku ingin bekerja saja, agar membuat pikiranku jalan, percuma juga kan aku kuliah jauh-jauh tapi tidak bekerja bukankah itu terdengar sangat aneh.
Aku mengambil ponselku yang tak jauh dari jangkauan ku. Segera aku mencari nama Intan disana, lalu setelah menemukannya tanpa sabar aku mulai mengetik pesan kepadanya.
"Selamat siang Tan, maaf ganggu. Cuma aku ingin tanya kamu kerja di perusahaan siapa?" Beliaulah pesan aku kirim kepada Intan, sahabatku. Setahuku dia sekarang sudah berkerja disalah salah perusahaan terbesar di kota ini. Mungkin saja disana ada lowongan kerja jadi dia bisa menawarkan diri.
Tig ... Pesan balasan dari Intan.
"Di perusahaan global grup. Kenapa? Kamu bekerja?" Pesan balasan dari Intan seolah-olah tau isi hatiku sekarang ini butuh kerjaan supaya bisa menghilangkan rasa bosanku.
"Hehehe ... Aku bosan Tan, dirumah. Terus, aku pengen kerja."
"Lah kenapa kerja, kan lakik lu kaya Ra. Ngapain kerja?"
"Iya, memang aku tau suamiku kaya, aku tidak merasa kekurangan apapun."
"Lah terus kenapa pulak kau mau kerja. Kalau aku mah mending dirumah, tidur sepuasku. Kerjamah capek apalagi kalau ada lembur pulang larut malam."
"Iya iya, aku paham betul kok bagaimana berkerja di perusahaan besar. Tapi masalah Ra, aku tuh bosan banget. Tidak hari melakukan pekerjaan rumah setelah beres terus aku ngapain lagi. Nonton, cuma itu. Bisa tau, jadi tolong ya. Please bantuin gue cari pekerjaan kek. Ya, ya,".
"Serah Lo dah, akan gue usahakan. Tapi tunggu, tunggu. Tadi pagi aku dapat kabar dari ruangan HRD kalau mereka lagi merekrut anggota Humas baru, karena beberapa dari kami anggota humas udah dipindahkan ke perusahaan cabang. Nah itu kesempatan Lo, ikut dah siapa tau lolos. Lo kan lulusan luar negeri pasti keterima cepat."
"Seriusan kan. Ok aku mau bekerja apalagi ditempa kamu. Jadi dong yang harus aku persiapkan untuk melamar kerja."
"Ehhh, tunggu dulu. Jangan mau datang kesini aja. Kamu isi from pendaftar dulu melalui email. Bentar aku kirim email kantor dulu. Nanti selepas itu kamu tunggu kabar, baru deh kamu bisa datang ke kantor setelah diberitahu oleh pihak HRD."
"Oh begitu, ok. Semoga aja aku keterima, soalnya aku udah gak betah banget bah dirumah. Serasa penjara terkurung disini gak jelas seperti ini membuat otakku mumet."
"Hahaha, rasain Lo kan. Makanya nikah lagi muda, udah nikah gak kasi tau gue lagi memang teman gak otak lu."
"Hehehe .... Iya iya, aku kan udah mintak maaf, udah sono kerja yang benar. Jangan makan gaji buta lu gak kerjar. Kalua aku bos udah aku pecat."
"Heh, ini anak bukanya terimakasih malah nyuruh orang pergi seenaknya. Emang dasar kawan edan!"
Aku terkekeh sendiri membaca pesan balasan dari Intan.
Bersambung ....