Aku harus berkeliling untuk mencari restoran yang menjual salad dan smoothie untuk gadis cantik itu. Tanpa sadar, aku sudah menyetir cukup jauh hingga berada di area di mana aku meninggalkan mobil van Steven. Seperti yang sudah aku duga, mobil Steven sedang dikelilingi oleh beberapa polisi patroli. Terlihat satu buah mobil dan motor polisi terparkir di belakang mobil hitam yang terlihat seperti rongsokan itu. Karena penasaran, aku memarkir mobilku agak jauh dari sana dan turun untuk melewati mereka.
Dengan topi hitam di kepalaku, aku berjalan sesantai mungkin melewati para polisi itu. Kebetulan, di dekat sana memang terdapat beberapa restoran kecil yang mungkin menjual salad dan smoothie.
“Ini benar adalah miliknya. Sepertinya pembunuhnya yang membawa mobil itu ke sini atau itu hanya orang iseng bodoh yang sedang membutuhkan mobil atau ingin mencuri mobil.” Ucap salah satu polisi wanita kepada dua rekan prianya.
Salah satu pria berkumis mengangguk, “Anak-anak sedang memeriksa korban lebih jelas. Ia adalah kurir obat terlarang. Ia berhutang pada seorang pengedar dan tidak bisa membayarnya. Mereka yang membunuhnya.”
“Para gangster itu.. mereka selalu saja menyusahkan kita. Setidaknya mereka bisa mati tanpa meninggalkan kotoran untuk kita bersihkan,” Pria yang lainnya mendengus.
“Apakah kau ayah baru?”
Aku tersentak kaget dan mengangkat wajahku, “Y-ya?” tanyaku pada pria penjual koran dan majalah di pinggir jalan.
“Kau serius sekali membaca itu,” Pria tua tersebut menatap majalah yang masih terbungkus plastik yang sedang aku pegang dan pura-pura baca agar bisa mendengarkan perbincangan polisi yang berada sekitar tiga meter dari stand penjual koran ini.
Aku langsung menatap majalah yang sedang aku pegang yang sebelumnya aku ambil asal. Ah.. ternyata ini adalah majalah ibu dan anak. Aku tertawa canggung lalu kembali menatap pria itu, “Kau benar. Tapi sepertinya aku akan membeli koran saja untuk hari ini.”
“Koran pagi ini baru saja tiba satu jam yang lalu. Silahkan,” Pria ramah itu mengambilkan kertas berwarna buram dalam kondisi tergulung untukku.
“Terima kasih.” Ucapku dengan merogoh kantung celana dan mengambil beberapa koin uang receh.
“Kelihatannya terjadi pembunuhan di suatu tempat dan pelakunya meninggalkan mobil itu di sana. Semakin hari, kejahatan semakin bertambah. Kelihatannya dunia tidak akan damai jika masih saja ada orang-orang berhati iblis yang bisa melakukan kejahatan dengan mudahnya,” Gumam pria penjual koran seraya menatap polisi-polisi di dekat kami.
Kebetulan, sebuah mobil derek juga datang untuk membawa mobil itu. Kelihatannya polisi tidak ingin merusak barang bukti, karena jelas-jelas aku sudah meninggalkan kuncinya di dalam sana. Bagusnya, aku juga mengenakan sarung tangan saat itu sehingga sidik jariku seharusnya tidak teringgal di sana.
“Terima kasih. Semoga harimu menyenangkan.” Ucap pria itu begitu aku membayarnya.
“Kau juga,” Balasku tidak kalah ramah.
Jadi apa yang gadis itu katakan benar. Yang membunuh Steven bukanlah orang Tonny Dorma. Dan ternyata, Steven selama ini bekerja sebagai kurir narkotika. Pria sial itu.. aku benar-benar bisa terlibat masalah sangat besar karenanya. Tidak seharusnya ia merahasiakan hal itu dariku.
Meski begitu, aku rasa para polisi tidak akan menyelidiki terlalu dalam mengenai kematian Steven. Aku yakin tempat aku memarkir mobil Steven sudah aman dari sorotan kamera CCTV. Lagipula, para polisi itu terlihat sudah terbiasa dengan kematian orang-orang yang bekerja dalam lingkaran narkotika. Kelihatannya, aku aman dari kejaran polisi karena sudah mambawa kabur mobil Steven. Ya, semoga saja begitu.
Makanan sehat memang jauh lebih mahal dari makanan cepat saji. Aku harus berkeliling ke berbagai restoran untuk mencari salad dan smoothie dengan harga murah. Setelah satu jam berkeliling, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku cari dan segera kembali ke rumah.
Rasanya seperti mimpi. Jika aku pikirkan, ini semua terasa tidak nyata karena aku tidak pernah membayangkan akan mengalami kejadian seperi ini dalam hidupku. Dari papaku sendiri yang menjebakku untuk terlilit hutang, kemudian aku dengan bodohnya memutuskan untuk melakukan tindakan kriminal penculikan dan sekarang malah membahayakan nyawaku sendiri. Bukan hanya itu, aku malah merasa seperti sedang memelihara seseorang di rumahku dan bertanggung jawab untuk mengurusnya. Hanya dalam sekejap, hidupku berubah menjadi ajang komedi. Jika ini benar adalah mimpi, aku harap aku segera terbangun.
Karena melamun, tanpa sadar aku sudah tiba di depan pintu rumahku. Aku merogoh kantung jaketku untuk mengambil kunci, namun benda itu tidak ada di sana. Ah.. aku baru ingat. Aku keluar untuk mencari makanan untuk seorang gadis yang berada di dalam rumahku sendiri. Aku tidak membawa kunci karena bukan aku yang mengunci pintu rumahku. Hari ini, aku tidak sendirian di rumah. Ada seseorang di dalam yang menungguku kembali sembari menjaga rumahku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memencet tombol bel rumahku sendiri. Sungguh, ini terasa sangat aneh. Tidak lama, suara kunci terdengar, disusul dengan dibukanya pintu dari dalam. Sepasang manik biru kehijauan mengintip menyapaku. Gadis itu membuka pintu lebih lebar. Aku tidak tahu apa yang harus aku rasakan sekarang. Di satu sisi, aku kesal karena ia sungguh tidak pergi dari rumahku, namun di sisi lain, aku merasa senang karena ada yang menyambut kepulanganku.
“Hai,” Entah mengapa aku menyapanya.
Gadis itu tersenyum tipis. Suasana di antara kami menjadi terasa canggung. Aku segera melangkah masuk dan gadis itu menutup pintu rumahku dan kembali menguncinya. Haha.. itu cukup aneh, kan?
“Apa kau mendapatkannya?” Tanya gadis itu dengan mengikuti langkahku menuju dapur.
Aku mengangkat satu kantung plastik berisi makanan pesanannya dengan senyum tipis, “Aku tidak tahu ini enak atau tidak. Semoga rasanya sesuai dengan standarmu.”
Jantungku hampir hancur lebur ketiga gadis itu tersenyum lembut padaku dan meraih kantung pelastik yang masih berada di tanganku. Aku harus merendahkan tanganku agar ia bisa mudah menggapainya. Semoga ia tidak menyadari wajah bodohku yang menjadi dungu karena terpesona oleh senyumannya. Gadis itu memang cantik. Ia benar-benar cantik. Ini juga bukan pertama kalinya aku melihat ia tersenyum. Namun entah mengapa, senyumannya yang kali ini terlihat begitu manis dan indah. Dia sungguh gambaran sosok peri. Jika ia adalah selebriti, ia pasti memiliki banyak penggemar.
Sebelum aku semakin terlihat seperti orang bodoh, aku segera berdehem dan membuka kabinet kitchen set hitam minimalisku, “Apa kau membutuhkan mangkuk?” tanyaku.
“Boleh,” Jawab gadis itu seraya membuka pembungkus makanannya.
Aku mengambilkan dua mangkuk terbaik yang aku miliki, lalu meletakkannya di meja makan, “Apa kau butuh bantuan dengan itu?”
Gadis itu tertawa kecil, “Apakah aku terlihat sebegitunya tidak bisa apa-apa?”
“Aku tidak berniat seenaknya menilaimu. Namun dari tempat tinggal, keluarga, dan bagaimana kau dikurung di rumah, aku bisa membayangkan bahwa kau selalu mendapatkan pelayanan di keseharianmu.” Jawabku.
“Kau bahkan percaya bahwa aku benar-benar dikurung di rumah. Untuk seorang tentara, ternyata kau sangat polos,” Ucap gadis itu dengan fokus menuangkan makanannya ke dalam mangkuk.
“A-apa?” Gumamku.
Ah.. tentu saja. Bodoh sekali, Adam. Kau benar-benar bodoh! Tentu saja gadis itu akan mengetahui siapa aku dan apa yang aku lakukan. Aku tanpa beban telah membawanya ke dalam rumahku tanpa mengingat bahwa aku memajang berbagai piala akademis dan militerku. Foto-fotoku dengan seragam militer dan teman-teman timku bahkan terpajang di dinding. Sekarang aku baru menyadari bahwa aku sungguh bodoh. Apakah ini yang menjadi penyebab aku selalu ditinggalkan oleh mantan kekasihku?
“Adam Viggo. Itu namamu, kan? Kau adalah seorang tentara, atau mungkin mantan tentara,” Ucap gadis itu enteng dengan mengalihkan pandangannya padaku. Ia tersenyum tipis hingga membuatku merinding. Kelihatannya ia mengetahui bahwa aku merasa terkejut atas kebodohanku sendiri.
“Kau.. tidak akan menggunakan identitasku untuk melakukan balas dendam, kan?” Tanyaku berusaha tenang setelah meneguk liur.
“Balas dendam, yah?” Ulangnya dengan menarik kursi makan dan duduk di sana dengan anggun, “Jika aku dendam, itu mungkin kepada temanmu yang sudah mati karena bersikap sangat kurang ajar padaku. Namun untukmu, kelihatannya kau masih bisa termaafkan.”
Ah.. Itu melegakan. Aku harap ia sungguh tidak menaruh dendam padaku. Aku benar-benar akan mengembalikan Dasha besok dan aku tidak sabar untuk itu!
“Ngomong-ngomong, terima kasih untuk makanannya. Tapi apakah kau tidak makan?” Tanya gadis itu sembari menyuap saladnya.
“O-oh.. Aku akan makan nanti. Kau bisa menikmati makananmu.” Jawabku canggung.
“Kau bisa menyiapkan makananmu dan kita makan bersama di sini. Aku adalah orang yang makan dengan lambat.”
Kalimat gadis bernama Dasha itu membuatku tertegun, “Kau tidak keberatan?” tanyaku spontan.
“Kenapa aku harus keberatan? Makan bersama lebih baik daripada makan sendirian.” Jawabnya.
“Dengan orang yang menculikmu?” Tanyaku memastikan, bahkan tanpa bisa menahan tawa kecil karena ini terasa konyol bagiku.
“Bukankah kau mengatakan bahwa kau sesungguhnya adalah orang baik? Aku mempercayaimu.” Ia tersenyum padaku, meski itu tidak tampak pada kedua matanya.
Aku tidak tahu apa niat gadis ini. Namun apa yang ia katakan membuatku teringat pada Mama dan kondisi hidupku ketika Mama masih hidup. Saat itu kami juga selalu makan bersama dan Mama juga selalu memastikan bahwa ia menemaniku ketika aku bangun kesiangan sehingga harus makan terlambat. Meski Mama tidak mengatakan bahwa makan bersama lebih baik daripada makan sendirian, perilakunya menunjukkan bahwa ia berpikir begitu.
Aku mengangguk pada Dasha, “Sepertinya kau ada benarnya.” ucapku sebelum beranjak ke dapur dan mengambil sebungkus roti tawar dan selai kacang. Kemudian aku membawa semua itu ke meja makan.
“Jadi.. biasanya kau selalu makan bersama-sama, yah?” Tanyaku untuk membuka percakapan dan menghilangkan kecanggungan seraya menyiapkan roti.
“Tidak. Aku selalu makan sendirian di kamar.” Jawabnya ringan sambil mengunyah saladnya.
Keningku mengkerut, “Oh.. Aku pikir begitu, karena kau bicara seakan kau selalu makan bersama keluargamu.”
Gadis bernama Dasha itu menggeleng, “Aku mengatakan itu agar bisa merasakan makan bersama orang lain setelah sekian lama selalu makan sendirian. Lagipula, aku bisa melihat bahwa kau tinggal sendirian di sini.”
“Jadi kau menebak bahwa aku juga selalu makan sendirian?” Simpulku.
“Apakah aku salah?”
Aku tertawa kecil dan menggeleng, “Kau benar, sayangnya.”
“Jadi kau memang tidak suka makan sendirian. Bukankah kau harus berterima kasih padaku?” Ia menatapku dengan dua alis terangkat.
“Terima kasih.” Ucapku sambil tertawa kecil. “Kau adalah gadis yang jujur.”
“Karena kau adalah pria yang jujur.” Jawabnya sebelum tiba-tiba bangkit berdiri.
Gadis bernama Dasha itu melangkah menuju kulkas di dapur dan mengeluarkan sebuah teko berisi cairan berwarna kuning. Ia juga mengambil dua gelas plastik dari lemari kabinet, seakan ia sudah tinggal di rumahku berbulan-bulan.
“Apa yang kau lakukan?” Tanyaku dengan kening mengkerut. Aku tidak senang melihatnya menggeratak rumahku padahal ia baru berada di sini selama tiga jam.
“Kau bisa melihatnya. Aku menyiapkan minum untuk kita. Ah.. aku meminta sirup jeruk yang ada di kulkas.” Ucapnya dengan membawa teko dan dua gelas itu ke atas meja makan.
“Bagaimana kau bisa menemukan itu? Kenapa kau seenaknya menggunakan peralatan di rumahku?” Protesku.