Menyerah

1743 Words
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Tanyaku. “Itu mudah. Temanmu yang sudah mati itu dan temannya yang lain sudah memata-matai rumahku dalam beberapa hari terakhir. Aku melihat mereka mengendap-endap di sekitar taman rumahku di tengah malam. Dari sana, aku mengetahui bahwa akan ada yang menculikku. Karena itu, aku menunggu dan terus menunggu hingga aku bisa bebas seperti sekarang.” Jelasnya dengan tawa kecil. “Kau sudah gila,” Gumamku tidak percaya. “Apa perbedaan waras dan gila? Aku yakin kau bahkan tidak mengetahui kau sekarang berdiri di sisi mana. Orang sepertimu, seseorang yang selalu mengatakan bahwa dirinya adalah orang baik, kini melakukan kejahatan yang sangat jarang orang lain berani lakukan. Kau menyalahkan uang dan keadaan. Padahal kau sudah tahu, meski hutang itu masih ada, kau tetap akan terbangun dan bernapas besok pagi.” Ucapan gadis itu membuatku terdiam. Berapa tahun umurnya? Siapa dia sesungguhnya? Kenapa kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut seorang gadis yang nampak polos? Ini menjengkelkan. Sulit untuk mengakuinya. Namun apa yang ia katakan benar. Aku bahkan tidak tahu di posisi mana aku berdiri. Aku tidak tahu apakah sekarang aku masih waras atau sudah gila. Menjalani hidup dengan prinsip ingin menjadi orang baik dan kini harus melakukan kejahatan tingkat berat. Sebenarnya apa yang terjadi padaku sekarang? Kenapa aku bahkan melakukan ini? Bagaimana aku bisa sampai di sini? Sebuah tawa kecil menyadarkanku dari lamunan. Suara kekehan kecil itu berasal dari gadis bernama Dasha yang kini beranjak santai menuju sofaku. Ia bahkan dengan lancang menyalakan televisi. Ini tidak benar. Gadis itu aneh. Ia tidak akan membantuku sama sekali dengan masalah hutang yang sedang aku alami. Aku tidak tahu apakah informasi yang ia katakan padaku tentang ayahnya adalah sesuatu yang benar atau hanya untuk menakutiku. Namun aku tidak mau mengambil resiko bahwa itu adalah kebenaran. Jika memang gadis itu tidak mau diculik, seharusnya sejak awal ia berusaha kabur. Seharusnya sejak awal ia tidak hanya menurut kepada penculiknya. Ia memiliki beberapa kesempatan untuk kabur, namun tidak menggunakannya. Benar atau tidak, semua itu cukup membuktikan bahwa ia benar-benar ingin keluar dari rumahnya. Apa alasan gadis itu ingin kabur dari rumah? Ya, kabur dari rumah adalah hal yang terkadang sering dilakukan oleh remaja yang merasa perlakuan orangtuanya tidak adil. Namun gadis itu sudah lulus SMA. Ia bukan lagi remaja. Ia berada dalam umur di mana kebanyakan orang seumurannya memang sudah keluar dari rumah orangtuanya. Apakah benar bahwa ia dikurung? Ia mengatakan bahwa ayahnya mencari untuk membunuh aku dan Steven bukan karena kami sudah menculik putrinya, melainkan karena kami sudah bertemu dengan putrinya. Ini bukanlah suara hati. Ini adalah suara insting bertahan hidupku. Ya, instingku berkata bahwa aku tidak boleh berurusan dengan gadis itu lebih lama lagi. Lupakan tentang uangnya, lupakan tentang hutang yang sedang melilitku seperti ular Python. Aku harus segera melepaskan gadis itu. Ia akan membawa petaka untukku. “Aku akan membebaskanmu,” Ucapku dari dapur yang masih berada dalam satu ruangan dengan sofa dan TV. Gadis itu sudah duduk santai sambil menonton kartun. Senyum pada wajahnya akibat adegan konyol di film kartun itu mendadak sirna. Ia langsung menolehkan wajah datarnya padaku, “Jadi.. kau tidak menculikku lagi?” Aku segera menggeleng dan melangkah menghampirinya sambil merogoh kantung celanaku untuk mengelurkan dompet. Dari dalam dompet, aku mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyodorkannya pada gadis yang tengah duduk di sofa itu, “Kau bisa pergi sekarang. Ambil uang ini untuk ongkosmu pulang. Ini lebih dari cukup.” Gadis itu menatap uang yang masih berada di tanganku. Dari wajahnya, aku langsung mengetahui bahwa ia tidak sedikit pun berniat mengambil uangnya. “Kau pikir aku bisa pulang sendiri?” Tanya gadis itu. “Baiklah. Aku akan memanggil taxi untuk mengantarmu ke rumahmu.” Aku mengambil ponselku dari atas meja dapur. “Jika kau memang mau melepaskanku, maka kau harus mengembalikanku secara langsung pada papaku. Bukankah kau harus bertanggung jawab sebagai pria?” Tanyanya. “Bukankah kau berkata ia akan membunuhku karena aku sudah bertemu denganmu? Mengantarmu sama saja menggali kuburanku sendiri,” Jawabku langsung. “Jika kau berjanji akan mengembalikanku secara langsung, maka aku akan mencegah papa membunuhmu. Ia akan melakukannya jika aku yang memintanya.” Satu alis gadis itu terangkat. Kelihatannya ia mulai bermain tawar menawar padaku. “Kau pikir aku akan percaya begitu saja padamu?” Tanyaku sinis. “Kau percaya ucapanku bahwa papaku akan membunuhmu karena kau bertemu dengan putrinya. Kau pikir mengapa ia melakukan itu?” Tanya gadis itu. Kedua mataku menyipit menatapnya, “Jangan pikir kau bisa mempermiankanku, pirang.” Desisku, meski sungguh, aku tidak dapat membaca wajahnya. Aku tidak dapat melihat apakah ia sedang berbohong atau berkata jujur. “Itu adalah keputusanmu mau mempercayaiku atau tidak. Namun aku akan memperjelas ini. Aku tidak mau kembali sendirian dan akan membuatmu terlibat masalah besar jika kau berani memaksaku. Aku akan mengatakan pada papaku untuk tidak membunuhmu atau bahkan tidak melaporkanmu pada polisi hanya jika kau yang mengantarku langsung ke rumah.” Jelas gadis itu. Aku tidak menjawabnya. Bukannya tidak mau, namun aku bingung apakah harus mempercayainya atau tidak. Ia terlihat manipulatif. “Orang-orang yang membunuh temanmu itu, mereka bukan orang papaku. Aku tidak tahu siapa mereka.” Gadis itu berucap lagi. “Dari mana kau tahu itu itu bukan orang papamu?” Tanyaku curiga. “Dia adalah ayahku sendiri. Tentu saja aku mengetahui seperti apa orang-orangnya. Anak buah papaku tidak pernah mengenakan kostum jaket kulit murahan seperti penagih hutang illegal. Mereka selalu mengenakan jas berkelas. Lagipula, jika mereka memang adalah orang papaku, kenapa mereka langsung pergi begitu saja setelah membunuh temanmu? Bukankah mereka seharusnya langsung ke rumah busuk temanmu itu untuk mencariku?” Jawabnya. Ah.. Itu benar. Sebenarnya sejak awal aku juga sudah mencurigainya. Jika apa yang gadis itu katakan benar, maka berarti dua pembunuh itu merupakan orang-orang yang berkaitan dengan pekerjaan Steven. Sejak awal, aku sudah mencurigai bahwa pria sial itu menjalani pekerjaan gelap. “Baiklah. Aku harap apa yang kau katakan itu benar. Aku akan mengantarmu sendiri ke rumahmu. Tepatilah janjimu.” Jawabku. Gadis itu mengangguk, “Tentu saja. Jadi kapan kau akan mengantarku pulang?” “Sore ini. Persiapkan dirimu.” Jawabku. “Hm.. Sore ini, yah? Sepertinya kau bisa mengantarku besok pagi saja.” “Kenapa begitu?” Tanyaku. “Karena hari ini adalah hari jumat. Hari jumat adalah hari di mana semua penjaga akan berkumpul di rumahku untuk mengambil gaji mingguan mereka. Semua penjaga sift pagi dan malam akan memenuhi rumahku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Namun para penjaga itu tidak pernah mendengarkan kata-kataku. Aku hanya berpikir, mungkin saja mereka akan langsung menghabisimu bahkan ketika aku belum sempat bertemu dengan papaku.” Jelas gadis itu. Wajahnya nampak sedang membayangkan kejadian yang ia maksud. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengantarmu besok pagi. Apakah itu aman?” Tanyaku. Ia mengangguk ringan, “Seharusnya begitu.” Aku menghela panjang. Rasanya tengkukku sakit sekali. Mungkin aku akan terserang stroke setelah ini. Aku tidak percaya ternyata apa yang aku lakukan ini berakhir sia-sia. Aku telah terjatuh dan tertiban tangga yang aku panjat. Ini semua terjadi karena kebodohanku. Karena putus asa, aku tidak bisa berpikir jernih dan memilih untuk melakukan hal salah untuk mengatasi masalah yang sedang aku hadapi. Sekarang aku harus membayar harga dari kecerobohanku. Besok aku akan mengantar gadis bernama Dasha Dorma ini kembali pada keluarganya. Mungkin benar ia hanyalah seorang anak perempuan yang terlalu berharga bagi orangtuanya sehingga selalu dikurung. Ia begitu menginginkan kebebasan sehingga rela dirinya diculik. Aku bisa menilai bahwa ia sedikit mengalami gangguan kejiwaan. Mungkinkah ia memiliki sakit bipolar? Ia bisa sangat ketus padaku dan tiba-tiba bersedia repot memberikan saran padaku untuk tidak mengantarnya di hari yang salah. Hah.. Entahlah.. aku hanya perlu menunggu hari esok untuk mengakhiri ini semua. “Aku lapar.” Suara gadis itu membuatku tersadar dari lamunan. “Oh, ya. Maaf. Kebetulan, aku hanya memiliki beberapa telur dan sosis di sini. Apa kau keberatan memakan itu?” Tanyaku. “Jika kau tidak sanggup membeli yang lain, maka aku akan memakan apa yang ada.” Jawab gadis itu enteng. Meski adalah anak orang kaya, gadis itu ternyata tidak rewel. Kelihatannya ia merasa iba padaku karena mengetahui bahwa aku miskin dan sedang terlilit hutang. Sikapnya yang seperti ini malah membuat egoku sebagai pria merasa tercoreng. Sebenarnya, aku masih memiliki uang meski sedikit. Itu adalah uang yang tadi hendak aku berikan padanya untuk ongkos pulang. “Tunggulah sebentar. Aku akan keluar membelikan makanan yang lebih layak untukmu. Bagaimana dengan Pizza?” Tanyaku dengan beranjak menuju tiang gantungan baju dan meraih jaket abu-abuku sebelum mengenakannya. “Aku pikir kau miskin,” Gumam gadis itu dengan menatapku datar. Aku hanya bisa mendengus, “Aku memiliki sedikit uang. Namun itu cukup untuk membelikanmu makanan yang setidaknya hampir menyamai standar makanan kelas atasmu.” jawabku malas. “Jika kau memang bersedia mengeluarkan uang untukku. Maka aku akan meminta salad dan smoothy. Itu adalah makanan termurah yang pernah aku beli di luar.” Ucap gadis itu. Ya. Itulah makanan orang-orang kaya. Mereka sungguh menginginkan makanan sungguhan daripada makanan cepat saji. Aku harap uangku cukup untuk membeli makanan-makanan sehat dengan harga mahal itu. “Baiklah, kunci pintunya setelah aku keluar.” Gadis itu melangkah mendekati pintu, “Kelihatannya kau sangat mempercayaiku,” Ucapannya membuatku tertawa mengejek, “Aku akan sangat senang jika mendapatimu sudah menghilang ketika aku kembali. Kau harus tahu itu.” “Sebaiknya kau cepat. Aku tidak terbiasa menahan lapar.” Gadis itu tersenyum manis namun sinis. Aku menutup pintu rumahku dan segera mendengar suara ketukan kunci dari dalam. Gadis itu benar-benar mengunci pintunya. Ia tidak berniat kabur sama sekali. Kalau boleh jujur, aku tidak percaya ini. Ada seorang gadis di dalam rumahku. Jujur saja, meski aku tampan dan keren seperti ini, aku belum pernah menjalani tahap berpacaran hingga membawa seorang perempuan ke dalam rumahku. Biasanya, aku hanya akan mengajaknya berkencan di luar dan mengantarnya pulang. Naas, entah mengapa, hubungan percintaanku selalu kandas bahkan sebelum melangkah setengah jalan. Aku sering berpikir, sebenarnya apa yang salah denganku? Namun aku sering menyalahkan pekerjaan militerku yang membuatku harus meninggalkan pacarku cukup lama hingga berakhir mendapati mereka berselingkuh di belakangku. Sebagai seorang pria, aku harus bertanggung jawab. Aku memutuskan untuk menganggap gadis bernama Dasha itu sebagai temanku atau adik temanku, mungkin? Ya, anggap saja ia adalah seorang gadis yang dititipkan padaku sehingga aku harus mengurusnya. Selama ini, aku jarang mencari makanan sehat di luar. Aku biasanya akan makan makanan cepat saji karena di pangkalan militer aku memang selalu mendapatkan makanan sehat yang menunjang tenaga dan otot para tentara. Mungkin aku akan sedikit berusaha untuk mencari makanan orang kaya dengan harga murah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD