“Dasha. Ya, itu adalah namamu.” Ucapku pada gadis yang duduk di sebelahku. Ia menoleh padaku dalam gerakan lambat dan tenang, menatapku datar.
Diam-diam, aku menarik napas panjang, “Dengarlah. Aku berjanji akan mengambalikanmu pada papamu, namun setelah ia membayar uang tebusannya. Aku sangat membutuhkan uang itu. Aku benar-benar terdesak sekarang dan tidak memiliki jalan lain. Karena itu, aku memintamu untuk bisa bekerja sama denganku. Setidaknya jangan berusaha melarikan diri dariku atau berteriak meminta tolong. Aku tidak akan menyakitimu. Mungkin ini terdengar seperti omong kosong, namun aku berani bersumpah padamu bahwa aku sebenarnya adalah orang baik. Namun jika kau bertingkah, aku akan terpaksa menyakitimu. Kau tidak ingin itu terjadi, kan?” Tanyaku setelah meminggirkan mobil.
Gadis itu menatapku untuk beberapa detik, lalu akhirnya mengangguk, membuatku bisa menghela lega. Entah mengapa, aku bisa mempercayainya karena ia memang tetap tenang sejak aku pertama kali menculiknya dari rumah berbentuk istana itu.
“Aku ingin kau berjanji, Dasha. Aku pun berjanji tidak akan melukaimu. Bagaimana?” Tanyaku pelan. Gadis itu mengangguk lagi.
“Baiklah. Aku akan membuka lakban dari mulutmu dan ikatan tanganmu, oke? Kau harus berjalan mengikutiku tanpa menarik perhatian. Apa kau bisa melakukan itu?” Tanyaku lagi, begitu pula ia juga mengangguk.
Aku meneguk liur. Sungguh ini memiliki resiko yang besar. Apakah aku sebegitu bodohnya untuk berpikir bahwa korban penculikanku mau bekerja sama denganku untuk memeras ayahnya? Tentu saja. Aku memang bodoh dan sudah gila. Aku tidak peduli lagi. Tidak ada waktu lagi bagiku untuk berpikir lebih panjang. Dengan itu, aku benar-benar melakukannya. Aku melepas lakban dan tali yang membelenggu gadis itu, membuatnya menjadi manusia bebas yang bisa melarikan diri kapan saja.
Ah.. Apakah aku pernah mengatakan bahwa gadis bernama Dasha itu sangat cantik? Aku bahkan sempat melupakannya dan baru mengingatnya lagi ketika wajah polosnya terpampang di depan mataku.
Aku tersenyum tipis padanya. Entah mengapa aku melakukan itu. Namun aku berharap bisa mendapatkan rasa iba darinya sekaligus bisa membuat ia setidaknya sedikit merasa nyaman bersamaku? Entahlah. Aku merasa seperti seorang pecundang sekarang.
Aku segera mengenyahkan segala pikiran bodoh yang hanya akan menghabiskan jatah kinerja otakku. Dengan cepat, aku merogoh kantung celanaku dan mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil yang adalah milik Steven. Aku membuka pisau itu dan menunjukkannya pada Dasha, “Lihat ini. Aku tidak ingin mengancammu. Namun kau harus tahu bahwa aku mengantungi sebuah pisau. Aku benar-benar serius dengan ucapanku. Kau mengerti?”
Gadis itu masih menatapku dengan datar selama beberapa detik lalu bibir penuhnya terbuka sedikit, “Sampai kapan kau akan ketakutan seperti ini? Jangan menguji kesabaranku dengan terus bertanya apakah aku mengerti kalimat-kalimat bodohmu.”
Kedua mataku mengerjap beberapa kali. Ini adalah pertama kalinya aku mendapat hinaan setajam ini dari perempuan. Dan rupa perempuan di depanku ini membuatku merasa semakin malu. Karena.. pria mana yang tidak merasa malu jika dihina oleh gadis cantik dan anggun? Hinaan gadis cantik itu memiliki dampak berlipat ganda untuk pria.
Meski begitu, aku tidak boleh goyah. Ya, gadis ini memang cantik dan terlihat lemah. Namun ia ternyata cukup keras dan pemberani. Kelihatannya aku sudah meremehkannya selama ini. Karena itu, aku akan mulai bersikap agak keras. Paling tidak, ia memegang janjinya untuk tidak berusaha kabur.
“Baiklah. Kita akan keluar dari sini. Kenakan ini semua dan tetap tundukkan kepalamu.” Aku memberikan masker dan topi padanya.
“Aku tidak mau mengenakan itu. Bau dan kotor. Menjijikan.” Ucapnya dingin dengan menyingkirkan topi milik Steven dengan dua jari lentiknya seakan benda itu adalah bom yang bisa meledak kapan saja.
“Itu hanya sebentar. Kau bisa melepasnya dan segera mencuci rambutmu di rumahku. Rumahku bersih, tidak seperti rumah yang tadi.” Jelasku. Sial.. kenapa aku jadi harus meladeni kemanjaannya?
Gadis itu terdiam. Ia terus menatap topi Steven dengan jijik. Ya, aku tahu topi itu memang berbau busuk karena rambut Steven sangat berminyak dan kotor. Karena merasa kasihan pada gadis itu, aku akhirnya membuka topiku sendiri dan memberikannya kepadanya, “Warna rambutmu terlalu terang, jadi harus ditutupi. Kita harus bergerak sekarang. Aku memberimu waktu tiga detik untuk bisa menurut.”
Tidak sampai tiga detik, gadis itu benar mengenakan topi bekasku. Aku segera memberinya jaket dengan memasukkan rambut panjangnya di balik jaket pria yang sangat kebesaran untuknya. Karena topiku sudah aku berikan pada gadis itu, maka aku terpaksa mengenakan topi Steven. Meski aku merasa agak terganggu atas baunya, namun ini bukan masalah.
Akhirnya kami keluar dari mobil van itu. Aku membawa dua tas besar di bahu kiriku, sedangkan tangan kananku menggandeng gadis bernama Dasha yang menurut mengikuti langkahku dalam diam.
Aku meninggalkan mobil van Steven di pinggir jalan dengan kunci yang masih tercantel di lubang kuncinya. Aku sudah memeriksa dan membersihkan semua jejakku yang bisa menjadi bukti bahwa aku memiliki hubungan dengan Steven. Aku ingin membuat seakan aku tidak pernah bertemu Steven selama ini dengan harapan bahwa Tonny benar-benar belum mengetahui identitasku, sehingga aku bisa memiliki cukup waktu untuk memikirkan cara yang tepat mengembalikan gadis ini dan mendapatkan uangku tanpa harus membuat diriku terbunuh.
Setelah menunggu selama beberapa menit di sebuah gang sempit, akhirnya sebuah mobil kuning datang. Itu adalah taxi yang aku hubungi begitu kami turun dari mobil Steven. Dengan cepat, aku masuk ke dalamnya bersama gadis yang masih aku gandeng. Hingga kami tiba di depan rumah susunku, gadis itu tetap tidak bersuara. Ia menepati janjinya.
Klak!
Pintu rumahku terbuka, “Silahkan masuk,” ucapku pada gadis itu seraya menuntunnya masuk ke dalam sebelum benar-benar melepaskan tangannya. Meski ia sudah menurut sejauh ini, aku tetap tidak bisa mempercayainya begitu saja.
Aku segera menjatuhkan dua tas besar yang meletihkan pundakku dan menutup pintu sebelum menguncinya rapat. Aku langsung mencabut kunci itu dan mengantunginya untuk aku sembunyikan nanti.
Home Sweet Home! Rasanya begitu melegakan aku akhirnya bisa kembali ke rumah, tepat di mana aku merasa aman, setidaknya untuk sekarang. Begitu aku meraih dua tas besar dari lantai dan hendak menyimpannya di tempat yang benar, aku dapat melihat gadis yang aku bawa itu sedang melangkah mengelilingi rumahku. Tubuh mungilnya yang terbalut jaket kebesaran membuatnya terlihat lucu.
“Kau bisa duduk di sana. Aku akan mengambilkanmu minum.” Aku menunjuk sofa di depan TV.
Tentu saja aku merasa cukup bangga karena rumahku jauh lebih bersih, rapih, dan harum dibandingkan rumah Steven. Meski gadis itu adalah korban penculikanku, aku merasa senang bisa melihatnya terlihat nyaman berada di sini.
Setelah menyimpan tas berisi peralatan penting dari rumah Steven yang aku pikir mungkin akan berguna untuk melancarkan aksiku, aku membuka kulkas dan mengambil sekaleng soda. Gadis itu sudah duduk di sofa. Aku meletakkan sodanya di atas meja kopi yang terletak di depan sofa itu, “Silahkan diminum. Aku hanya memiliki ini di kulkas.” Jelasku dengan duduk di lantai, menghadap gadis itu dengan meja kopi di antara kami.
Kedua mata biru terangnya mengerling menatap sekilas kaleng soda terakhir yang aku miliki di kulkas. Ia tidak mengambil itu dan beralih menatapku, “Aku tidak minum soda. Itu akan membunuhku dengan diabetes.”
Aku hanya bisa melongo menatapnya. Itu terdengar aneh, namun aku harus bisa mewajarkannya karena ia adalah orang kaya. Ya, kebanyakan orang kaya sekarang memang sangat mementingkan kesehatan dan apa pun yang membuat mereka bisa awet muda. Sebenarnya, aku pun menjalani hidup sehat yang menyebabkanku tidak banyak menyimpan minuman manis di kulkas.
Aku menarik keleng itu kembali, membukanya, dan meneguknya sendiri. Aku sangat haus dan aku lebih mendahulukan gadis itu, namun malah mendapatkan penolakan sinis. Itu wajar saja karena aku sedang menculiknya. Ia pasti membenciku setengah mati.
Setelah menghabiskan seluruh isi kaleng biru itu, aku meletakkannya kembali ke meja seraya bersendawa pelan. “Dengarlah. Aku berjanji akan mengembalikanmu pada papamu. Namun kau harus melakukan rekaman untukku. Di dalam video itu, minta pada papamu untuk menyerahkan uang tebusannya dan jangan mencoba untuk membunuhku. Apa kau bisa melakukannya?”
“Tidak.” Jawab gadis itu singkat.
Tentu saja. Aku tidak heran pada jawabannya. “Aku sudah membuktikan padamu bahwa aku tidak akan menyakitimu. Percayalah bahwa aku bukan orang jahat. Aku terpaksa melakukan ini karena terjebak hutang. Aku pun tidak akan meminta tiga ratus ribu dollar pada papamu karena sekarang temanku sudah mati. Aku hanya akan meminta setengahnya.” Jelasku, berusaha membuatnya merasa iba karena aku tidak mungkin mengancamnya dengan cara kasar.
“Itu adalah masalahmu. Dan ketahuilah. Aku tidak mau kembali pada orang itu.” Jawab gadis itu dengan nada mengejek.
Keningku seketika mengkerut, “Orang itu? Siapa yang kau maksud?”
“Tentu saja Tonny Dorma, bodoh!” Sahutnya sinis dengan tawa kecil di akhir.
“Apa? Kenapa? Tapi dia adalah papamu. Kami menculikmu darinya. Kau benar Dasha Dorma, kan?” Tanyaku cepat.
“Itu benar. Namun aku tidak akan kembali ke rumah sial itu lagi. Trimakasih padamu karena kau sudah membawaku pergi dari sana.” Gadis itu tersenyum tipis.
Jawaban dari suara lembut itu terdengar seperti iringan musik horror di telingaku. Aku langsung bangkit berdiri dan mendekatinya, “Apa maksudmu?”
“Kau benar-benar adalah pria bodoh. Aku sudah menjelaskannya padamu, kan? Jangan membuatku mengulang kalimatku.” Ucapnya santai sebelum bangkit berdiri dari duduknya dan melangkah menuju dapurku untuk membuka kulkas. Ia mengambil sebotol air mineral dan memeriksa isi kulkas itu beberapa lama sebelum menutupnya, “Selain bodoh, kau juga miskin.”
Aku langsung melangkah kasar menghampirinya. Ia tidak gentar atas kedatanganku. “Berhenti bertindak sesukamu di rumahku.” Ucapku penuh penekanan. “Jika kau memang berniat kabur dari rumahmu, itu tidak masalah. Aku bisa melihat papamu tetap menginginkan kau pulang. Aku akan tetap meminta tebusan padanya, dengan atau tanpa bantuanmu.”
Gadis itu tertawa merendahkan seraya mengamati peralatan memasakku, “Kau pikir Tonny Dorma akan menurut pada seorang pria pecundang sepertimu? Ia tidak akan mengelurkan sepeser pun uang untuk anak sepertiku. Ia lebih memilih menggorok putus lehermu. Itu bukan karena kau telah menculikku, namun karena kau sudah bertemu denganku.”
“A-apa?” Aku hanya bisa tergagap bingung.
Gadis itu menatapku dengan jenaka, lalu menepuk pundak kerasku dengan tangan mungil lentiknya, “Seharusnya kau melakukan survey lebih baik sebelum benar-benar menculikku, Adam. Sejujurnya, aku merasa kasihan padamu. Meski aku kesal pada kau dan temanmu yang membuatku tidak nyaman, aku harus tahu diri karena sejak awal, akulah yang membiarkan kalian membawaku keluar dari sana.”
Ucapan gadis itu membuatku tertegun. Ia bahkan mengetahui namaku sekarang. Ini karena si bodoh Steven sempat menyebutkan namaku ketika membangunkanku dari tidur.
Itu benar. Pintunya.. pintu di balkon kamar gadis itu bahkan tidak terkunci sehingga aku bisa membukanya dengan mudah. Bukankah itu adalah hal yang aneh bagaimana seseorang tidak mengunci pintu balkon kamarnya saat ia tidur? Awalnya aku sempat merasakan keanehan itu, namun aku hanya berpikir bahwa ia lupa menguncinya karena ceroboh. Tapi kenyataannya, ia memang sengaja tidak menguncinya agar kami bisa masuk. Sejak awal, ia sudah mengetahui bahwa ia akan diculik.