Sendirian

1759 Words
“Adam! Bangun!” Kedua mataku terbuka lebar dan aku langsung melompat berdiri. Terbiasa dengan suasana perang membuat tidurku tidak pernah pulas sehingga sangat mudah bagiku untuk terbangun dan sigap atas segala hal yang terjadi. “Ada apa?” Tanyaku pada Steven yang sudah berlutut di samping sofa yang aku duduki. Ia bahkan berani memanggil namaku, padahal nama kami tidak boleh didengar oleh gadis yang kami culik. Bocah sialan. “Ini gawat.” Wajah Steven terlihat pucat pasi. “Apa yang gawat? Berbicaralah dengan benar, sialan!” Tanyaku dengan kening mengkerut. “Aku sudah mengirimkan videonya pada Tonny Droma. Namun ia tidak mau memberikan uangnya. Ia mengatakan bahwa ia tidak akan melaporkan kita pada polisi karena ia akan langsung mencari kita untuk membunuh kita.” Jelas Steven. “Oh..” Sahutku dengan menghela panjang, “Sialan.. Kau mengagetkanku. Apakah kau bodoh? Tentu saja orang itu hanya menggertak. Sekarang aku ragu bahwa kau benar-benar sudah sering melakukan penculikan.” Steven segera menggeleng dengan wajah horror. Bibir pucat dan butiran keringat yang menghiasi kening dan atas bibirnya membuatku jadi agak khawatir. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, kemudian mengutak atiknya sebentar dan menunjukkan layarnya padaku. Aku cukup terkejut melihat sebuah foto seorang pria bersimbah darah dalam kondisi terikat dengan leher yang hampir putus setengah. Kedua mataku melotot besar melihat itu. “Si.. siapa dia?” Tanyaku. “Dia adalah rekanku yang membantu mengatur penculikan ini. Dia dibunuh, Adam. Tonny Dorma adalah pelakunya. Ia membunuh temanku dua jam setelah kami mengirimkan videonya!” Bisik Steven dengan nada terdesak. “Sial,” Gumamku. “Bagaimana ia bisa tahu siapa penculiknya?” tanyaku langsung dengan suara pelan agar gadis yang kami culik tidak mendengarnya. “Aku tidak tahu! Namun jika ia sudah bisa menemukan temanku, tentu saja ia pasti juga mengetahui siapa aku dan di mana aku tinggal.” Sahut Steven. “Sial! Berengsek! Aku tahu ini adalah ide yang buruk,” Dengusku dengan memijat batang hidungku sendiri. “Kalau begitu kita kembalikan saja gadis itu.” lanjutku cepat. “Apa?! Kau sudah gila?! Kita sudah berjalan sejauh ini. Bahkan temanku sampai mati!” “Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?! Menunggu giliran kita dibunuh?” Tanyaku geram. “Kenapa kau menakutkan hal itu? Bukankah kau adalah mantan militer? Kita bisa melindungi diri. Aku memiliki senjata api. Aku yakin kau sangat mahir menggunakannya.” Jawab Steven. Kedua mataku menyipit dengan menatapnya tajam, “Jadi aku harus mengambil resiko membunuh orang untuk melindungi kita berdua karena pekerjaan ini? Tidak akan.” “Kau juga membunuh orang di dalam perang, kan?” Sahut Steven putus asa. “Itu berbeda!” Bentakku sebelum mendecak kesal, “Sudahlah! Tidak ada gunanya kita berdebat sekarang. Jika kau memang tidak mau mengembalikannya, apa yang harus kita lakukan?” “Untuk sementara, kita pergi dulu dari sini. Aku yakin mereka sedang mengarah ke sini. Aku mempunyai kenalan yang tinggal di kota sebrang. Kita ke sana dan memikirkan langkah selanjutnya.” Jawab Steven. Aku mengangguk, “Baiklah.” “Aku akan menyiapkan mobil. Kau bereskan ini semua dan siapkan gadis itu. Aku akan segera kembali.” Ucap Seteven sebelum merangsak keluar kamar. Ugh.. Penyesalan memang benar selalu datang terlambat. Seharusnya sejak awal aku menolak tawaran ini. Mama pernah berkata bahwa aku harus mendengarkan kata hatiku. Kini aku menyadari bahwa ucapan itu hanyalah omong kosong. Atau mungkin itu hanya berlaku untuk perempuan? Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak habis pikir mengapa aku bisa menerima ajakan bodoh Steven hanya karena aku merasa hatiku mengatakan bahwa itu adalah kesempatan yang lumayan. Dengan tergesa-gesa, aku membereskan semua barang penting kami ke dalam dua buah tas besar. Setelah itu, aku menghampiri putri Tonny Dorma setelah aku selesai mengenakan masker dan topi dengan asal. “Aku sedang memegang pisau. Jika kau berani melawan atau berteriak, aku akan menikam perutmu. Aku tidak bercanda dan akan benar-benar melakukannya. Kau harus tahu bahwa kami sedang terdesak.” Ucapku pada gadis itu. Aku terpaksa membuka ikatan pada matanya dan kedua kakinya agar ia tidak menyusahkanku dalam perjalanan kami menuju lantai bawah. Gadis itu hanya diam dan menatapku dengan ekspresi datar yang tidak bisa aku tebak dan tidak aku pedulikan juga. Setelah semua sudah beres, aku menarik tangan gadis itu dan menggenggam kedua pergelangan tangannya yang terikat tali, lalu beranjak menuju satu-satunya jendela kamar yang mengarah pada lahan parkir di depan. Aku ingin memeriksa Steven karena pria sialan itu entah mengapa membutuhkan waktu cukup lama hanya untuk menyiapkan mobil. Aku menyibak tirai hijau kumal jendela itu dan mengintip ke bawah dengan satu tangan tetap menggenggam pergelangan tangan gadis yang sedang aku culik. Mobil van Steven sudah berpindah dari posisi terakhir kami meninggalkannya, yaitu terparkir di bawah pohon. Kini, mobil itu sudah berada di tengah-tengah jalan sekaligus lahan parkir kosong. Namun yang mengejutkan adalah adanya dua pria lain yang berada di samping mobil dengan cat memudar itu. Aku langsung sigap menutup kembali tirai jendela dan hanya mengintip sedikit dari celahnya. Itu adalah Steven yang sedang dikepung oleh dua orang pria dengan jaket kulit hitam. Steven terlihat sedang berbicara dengan mereka, atau lebih tepatnya memohon. Aku tidak tahu siapa kedua pria itu, namun Steven terlihat sangat takut pada mereka dan entah mengapa.. dari gerak-geriknya ia terlihat seperti mengenal mereka. Meski tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, aku bisa melihat Steven sedang menunjuk-nujuk ke kamar yang sedang aku tempati, kemudian ia memberikan simbol angka dua berkali-kali. Kini aku yakin bahwa dua pria yang sedang menyudutkan Steven bukanlah orang-orang Tonny Dorma. Mungkin kedua orang itu memiliki hubungan dengan pekerjaan Steven yang hingga detik ini tidak aku ketahui apa.. SIAL! Kedua mataku seakan nyaris melompat keluar dari rongga tengkorakku ketika aku menyaksikan salah satu pria itu menikamkan pisau pada perut Steven sebanyak dua kali hingga pria itu langsung tersungkur ke tanah. Tidak cukup sampai di sana. Ia juga menikam pisau tersebut ke leher samping Steven sebelum ia dan rekannya kabur dari tempat kejadian. “Sial! Sial! Ini benar-benar gila!” Aku menjambak rambutku sendiri dengan melangkah mundur dari jendela. Steven dibunuh! Aku tidak tahu siapa yang membunuhnya dan apa alasan mereka! Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku menoleh pada gadis yang sedang kami.. tidak.. aku culik! Ia hanya berdiri di sana dengan menatap datar padaku menggunakan kedua mata biru indahnya yang kini terasa lebih mengerikan daripada film hantu apa pun yang pernah aku tonton. Ah.. Tuhan. Ini adalah pertama kalinya aku berbuat dosa besar dengan sengaja. Namun apakah kau harus menghukumku separah ini? Bahkan sebelum aku berhasil melakukannya? Aku saja belum menerima uang itu. Baunya saja belum tercium olehku. Namun kenapa hukumannya sudah datang meski aku belum merasakan kenikmatannya secuil pun? Bisakah aku menawar padaMu untuk menjatuhkan hukuman padaku sepuluh kali lebih berat di neraka? Setidaknya jangan menghukumku sekarang, berengsek! Sepertinya aku akan memilih untuk menjadi seorang atheis sekarang. Meski begitu, tidak ada gunanya jika aku mengeluh dan meraung-raung seperti orang bodoh sekarang. Jika memang Tuhan berpikir untuk menghukumku atau tidak menolongku sama sekali, maka aku akan mengandalkan kekuatanku sendiri untuk bertahan hidup. Aku segera menyambar dua tas yang sudah aku bereskan dan keluar dari kamar Steven dengan terus menggandeng tangan gadis yang aku culik. Kami turun dari rumah susun menuju ke bawah. Jam hampir menunjukkan pukul lima pagi dan kondisi di depan bangunan ini masih kosong seperti kuburan. Meski tergesa-gesa seperti ini, gadis yang sedang aku gandeng tidak memberontak dan bisa mengikuti langkahku dengan benar tanpa suara. Oke, itu sangat teramat aneh. Namun aku akan memutuskan untuk memikirkan keanehan ini nanti. Begitu tiba di bawah, aku langsung menghampiri Steven yang tergeletak di atas tanah yang sudah dikelilingi oleh genangan besar darah segar yang mengalir hingga ke pinggir jalan. Meski aku tahu Steven tidak mungkin selamat setelah pisau tadi menusuk lehernya, aku masih menyempatkan diri untuk memeriksa apakah ia benar-benar sudah mati dengan cara menyentuh nadinya. Sayangnya, ia benar sudah tidak bernyawa lagi. Maafkan aku, Steven. Aku tidak bisa menolongmu. Bagaimana pun, yang masih hidup adalah yang harus diutamakan. Layaknya dalam peperangan, kawan yang sudah mati di mendan perang terpaksa ditinggalkan jika perang masih berlangsung. Itu karena manusia yang sudah meninggal hanya akan menjadi beban bagi mereka yang masih hidup. Dari seorang manusia yang terpenting adalah nyawanya. Jika nyawa itu sudah menghilang, maka sesungguhnya tubuh itu tidak memiliki arti lagi. Aku harap Steven bisa mengerti mengapa aku mencuri kunci mobilnya dan meninggalkan jasadnya di atas tanah begitu saja. Sungguh, aku memang merasa bersalah. Namun hal ini sudah biasa aku lakukan, bahkan kali ini, itu terasa lebih ringan daripada ketika aku harus meninggalkan kawan-kawanku yang tewas di medan perang. Bagaimana pun, aku masih baru saja bertemu dengan Steven setelah berpuluh tahun. Aku pun tidak ingin menyalahkan Steven atas keadaan yang sedang menimpaku sekarang. Lagipula, aku yang memang menerima tawarannya tanpa ia paksa. Namun, aku tidak bisa berbohong bahwa aku merasa sedikit kesal karena aku tahu ada sesuatu yang Steven sembunyikan dariku sejak awal. Aku menyetir mobil tanpa arah tujuan dengan gadis yang mulutnya masih tertutup lakban di sampingku. Kepalaku terasa akan meledak sekarang juga. Sambil melaju di jalan kota yang sangat sepi, aku terus berusaha menelaah apa yang sedang terjadi dan apa yang harus aku lakukan. Steven sudah meninggal sekarang. Temannya yang baru aku ketahui ternyata ikut mengambil bagian dalam rencana penculikan ini pun sudah dibunuh. Ini adalah salahku yang membiarkan Steven memiliki rahasia dalam pekerjaan yang juga melibatkan diriku. Sekarang, aku tidak tahu apa-apa ketika Steven tiba-tiba tewas dibunuh. Rasanya aku ingin membangunkan mayat Steven dan menanyakan beberapa pertanyaan sebelum melemparkannya ke liang kubur. Apa yang harus aku lakukan pada gadis ini? Apakah aku harus mengembalikannya? Namun jika itu terjadi, aku tetap akan masuk penjara dengan kondisi hutang yang akan terus berbunga sampai aku terlepas nanti. Bahkan kemampuan berhitungku tidak akan mampu menghitung jumlah hutang yang sudah berbunga subur itu ketika aku sudah keluar dari penjara nanti. Jika memang aku harus ditangkap oleh polisi dan masuk ke dalam sel, setidaknya aku sudah mendapatkan uang tebusan itu dan melunaskan hutangnya. Dengan begitu, aku tidak memiliki beban apa pun ketika aku sudah terbebas dari penjara nanti. Keringat terus mengucur di keningku. Saat ini, aku sedang dikejar oleh Tonny Dorma. Jika ia memang sudah menemukan rekan Steven, ia pasti mengetahui di mana tempat tinggal Steven dan nomor plat mobilnya. Namun yang menjadi pertanyaanku, apakah ia juga mengetahui bahwa aku, Adam Viggo, juga turut serta dalam penculikan ini? Ada banyak kemungkinan. Namun yang pasti, aku tidak boleh terus berkelana menggunakan mobil ini. Aku akan kembali ke rumahku, mengambil semua barang berhargaku dan pergi ke luar kota bersama gadis ini. Namun, untuk sekarang, aku harus berhenti menggunakan mobil van bodoh ini dan menggunakan cara lain untuk mencapai rumahku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD