Aku tidak pernah merasa keberatan dengan statusku sebagai laki-laki baik. Aku tidak pernah berusaha menjadi pria berandal dan berengsek. Bagiku, terlihat nakal dan mampu menyakiti banyak orang, terutama perempuan, bukanlah sesuatu yang akan membuatku terlihat keren. Itulah yang membuatku memilih untuk masuk ke dalam militer. Di sini, aku bisa menunjukkan betapa maskulin dan kuatnya diriku sebagai laki-laki dengan sesuatu yang baik.
Dengan menjadi pria kuat yang memiliki banyak bakat, tidak akan ada pria lain yang berani menghinaku jika aku bersikap baik dan lembut pada orang lain, karena mereka tahu aku bisa dengan mudah mematahkan rahang mereka jika berani membuatku kesal.
Nampaknya, legenda yang mengatakan bahwa Tuhan akan memberikan cobaan lebih berat kepada hamba-hamba terbaiknya adalah sesuatu yang benar. Dengan prinsip hidupku yang mulia ini, aku malah terjebak dalam situasi di mana aku harus melakukan tindakan yang selama ini selalu aku hindari, yaitu kejahatan. Aku berani bertaruh, pria sepertiku tidak mudah dicari di dunia ini. Kuat, bertalenta, berani, baik, dan menghormati orang lain. Kini semua yang telah aku jaga harus ternodai karena kesalahan orang lain.
“Ukh!”
Aku tersentak kaget dan segera menurunkan gelas yang masih menempel di bibir penuh kemerahan dari gadis yang sedang aku beri minum. “Ah, maaf,” ucapku karena telah membuatnya tersedak.
“Lepaskan aku,” Akhirnya gadis itu bicara dengan suara pelan. Anehnya, aku tidak mendengar sensasi takut di nada bicaranya.
“Tidak. Kau sudah mendengar bahwa kami baru akan mengembalikanmu pada papamu jika ia sudah membayar tebusannya. Jika kau ingin segera pulang, maka kau harus bisa bekerja sama.” Jawabku seraya menempelkan lakban pada bibir gadis itu kembali.
“Kapan kita akan membuat videonya?” Aku membalik badan untuk melihat Steven yang sedang sibuk di depan meja komputernya yang berantakan seperti tiap sisi rumahnya. Kami sudah tidak mengenakan masker karena saat ini kedua mata gadis yang sedang kami culik tertutup oleh kain.
“Apa kau tidak lihat aku sedang menyiapkan peralatannya?” Sahut Steven acuh.
Aku bangkit berdiri dari sisi ranjang, meninggalkan gadis yang sudah aku arahkan untuk bersandar itu sendirian. Aku melangkah menghampiri Steven, “Apa yang bisa aku bantu agar membuat semuanya menjadi lebih cepat?”
“Tidak ada. Aku akan meminta padamu jika membutuhkannya nanti,” Steven menggeleng.
“Kelihatannya ini bukan hanya aku dan kau saja yang terlibat, ya?” Tanyaku dengan menatap Steven yang tengah sibuk dengan ponselnya dan komputer yang memperlihatkan halaman utama emailnya.
Steven menghentikan aktivitasnya, lalu beralih menatapku. Kelihatannya pertanyaanku berhasil membuatnya lebih bersikap serius padaku. Ia melirik gadis yang berada di atas ranjang sekilas, memastikan aku melihatnya juga, kemudian bicara, “Kau tahu ada telinga yang terus mendengar. Kau tidak perlu tahu siapa saja yang terlibat di sini. Kau hanya perlu bekerja sama dengan baik dan uang itu akan sampai ke dalam tanganmu sesuai perjanjian awal.”
“Kau tahu aku tidak ingin ada masalah lanjutan. Aku tidak ingin terlibat pada apa pun mengenai pekerjaanmu, selain penculikan ini.” Ucapku dengan nada tegas yang aku sampaikan dengan santai.
Steven menghela panjang, lalu menepuk pundakku beberapa kali sembari meraih kotak rokoknya dan membukanya untuk menawarkan padaku, “Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Selama kau bisa memastikan wajahmu tidak pernah terlihat, kau bisa menganggap dirimu tidak pernah terlibat dalam hal ini. Cobalah untuk santai sedikit, Adam. Aku bahkan tidak setegang dirimu ketika pertama kali melakukan ini,” ia tertawa geli.
Mungkin Steven benar, bahwa aku harus sedikit santai. Mungkin ia benar bahwa aku terlalu tegang. Aku menggeleng singkat, “Aku sedang tidak ingin merokok,”
Dengan kekehan kecil, Steven mengangguk-angguk seraya melirik gadis yang kami culik, “Tentu saja, Adam..” ia tahu bahwa aku tidak mau membuat ruangan ini semakin mengebul karena kasihan pada gadis itu.
Aku tertawa kecil, “Sialan, kau!”
Kemudian, Steven menyesap rokoknya dalam-dalam dan bangkit berdiri, “Pakai topengmu. Kita akan membuat videonya sekarang.” Ucapnya dengan asap putih yang menyeruak keluar dari mulut dan hidungnya selagi ia berbicara.
Kami menyiapkan sebuah kain hitam besar yang digantung di dua buah tiang dan sebuah kursi kayu di depannya. Steven memberikan sebuah Handycam padaku, sementara ia menyeret korban kami untuk duduk di kursi kayu itu dan mengikatnya di sana. Dalam pekerjaannya, Steven sekali-kali melirikku dengan kekehan kecil sakras. Ia tahu jelas bahwa ia tidak bisa berlaku semena-mena pada korban kami karena aku tidak akan setuju dengan itu.
“Dengarlah, gadis manis. Aku akan membuka lakban pada mulutmu. Katakan pada papamu untuk segera membayar tebusan tiga ratus ribu dollar dan menyelamatkanmu. Jika kau berani berteriak, kami tidak segan untuk menghabisimu detik itu juga.” Ucap Steven di samping telinga gadis itu.
Seperti biasa, gadis aneh bernama Dasha itu tidak menjawab. Ia hanya diam, seakan tidak mendengar kami. Meski begitu, Steven tidak menunggu lebih lama untuk membuka lakban yang menutup mulut gadis itu. Sama sepertiku, aku yakin Steven juga berpikir bahwa gadis itu benar-benar tidak akan berteriak karena ia tadi tetap tenang ketika aku memberinya minum.
“Nyalakan kameranya sekarang.” Ucap Steven, dan aku melakukannya.
Setelah kamera menyala, Steven bergerak ke belakang punggungku dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Aku menyorot kamera pada gadis yang tengah duduk diam itu.
“Action!” Seru Steven.
Kami menunggu hingga dua puluh detik, namun gadis itu tidak membuka mulutnya sama sekali. Ia tetap diam hingga membuatku dan Steven saling menatap bingung.
“Emm..” Aku memberikan raut tanya pada Steven yang sama-sama menatapku heran. “Mungkinkah ia tidur?” tanyaku.
Steven menggidik bahu, “Jika ia manusia normal, ia tidak akan mungkin tidur di dalam keadaan seperti ini.”
“Kau benar. Aku akan memeriksanya.” Aku menyerahkan Handycam yang kupegang pada Steven.
Aku melangkah menghampiri gadis yang sudah diikat pada kursi. Kemudian, aku menurunkan penutup matanya. Ternyata yang kami duga itu tidak benar. Ia tidak tidur. Kedua matanya langsung terbuka sedikit menyipit karena sudah tertutup paksa selama berjam-jam.
“Hei. Katakan apa yang sudah aku katakan padamu. Kami akan mengirimkan video ini pada papamu. Jika kau ingin segera pulang, katakan padanya untuk segera menyelamatkanmu.” Ucap Steven.
Meski begitu, gadis bernama Dasha ini tetap diam. Kedua iris birunya mulai mengerling ke sana ke mari memperhatikan sekitar. Ia benar-benar tidak mengindahkan ucapan Steven, seakan itu hanyalah angin berhembus. Aku sekarang benar-benar berpikir bahwa gadis ini memiliki kelainan mental. Sayang sekali, padahal wajahnya sangat cantik seperti Dewi Yunani.
“Hei! Kau mendengarku tidak?!” Bentak Steven, namun masih tidak mendapatkan perhatian dari gadis itu.
“Steve, kelihatannya dia i***t,” Ucapku pada Steven.
“Itu tidak mungkin. Aku tidak pernah mendengar berita bahwa putri Tonny adalah seorang i***t. Ia bahkan mendapat nilai tinggi untuk ujian akhir sekolahnya.” Balas Steven.
“Bukankah katamu ia tidak pernah keluar rumah?” Tanyaku bingung.
“Ia melakukan sekolah privat. Aku yakin ia tidak i***t. Sepertinya ia sedang menguji kesabaranku!” Steven dengan kasar menghampiri gadis itu.
“Kau mendengarku, kan, sial?! Jangan berpura-pura tidak mendengar!” Seru Steven tepat di telinga gadis itu.
Nampaknya aksi Steven akhirnya membuat gadis itu tergerak. Kedua mata birunya berhenti berkeliaran dan melirik pada pria bertopeng ski yang berdiri membungkuk tepat di samping telinganya. “Jangan berteriak di telingaku, bodoh.” Desisnya.
Ah.. Ia ternyata tidak i***t. Ya, dari cara bicara, ucapan, dan ekspresi wajahnya yang sama seperti mantan pacarku ketika sedang memutus hubungan kami, ia benar-benar jauh dari ciri-ciri orang i***t. Kelihatannya ia memang sengaja mengacuhkan kami.
Meski balasan gadis itu sangat sinis, Steven terlihat lega karena ketakutannya bahwa gadis itu adalah anak i***t ternyata tidak benar. Namun, aku terkejut ketika ia menjambak rambut gadis itu ke belakang.
“Kau benar-benar berpikir kami akan bersikap baik padamu, ya? Aku sudah berkata kau harus bekerja sama jika ingin segera pulang!” Ujar Steven sinis.
Apa yang Steven lakukan membuatku merasa tidak senang. Namun aku tahu hal ini memang harus dilakukan untuk menakuti korban kami. Namun bukan itu yang menjadi masalahnya sekarang. Ada hal yang lebih mengejutkan. Itu adalah sebuah tawa kecil yang terbentuk di bibir manis gadis itu.
Tanpa rasa takut sama sekali, gadis itu menatap Steven balik dan berkata, “Jangan berharap kau akan mendapatkan sepeser uang pun dariku.”
Gadis itu sungguh adalah seorang pemberani. Namun selain pemberani, aku lebih kagum pada kepintarannya yang bahkan terlihat jelas hanya dengan melihat ekspresi wajah dan ucapannya saja. Ia tahu bahwa kami tidak akan menyakitinya sehingga ia tidak gentar atas semua ancaman kami. Tentu saja ia tidak akan takut. Ayahnya adalah pria terkaya di kota dan memiliki kekuatan besar. Sebenarnya, tanpa ia harus mengatakan apa yang Steven minta pun, ayahnya sudah pasti akan datang menyelamatkannya.
“Steven,” Panggilku. Kemudian Steven menoleh padaku dengan ekspersi kesal yang terlihat dari kedua matanya. “Sebaiknya kita bicara berdua.”
Aku menutup pintu kamar mandi dengan Steven berada di sampingku. “Kelihatannya kita tidak perlu menyuruh gadis itu meminta tolong pada ayahnya. Cukup merekamnya saja sebagai bukti bahwa ia benar-benar bersama dengan kita.”
“Aku pikir Tonny mungkin akan mengira bahwa itu hanyalah video editan. Aku yakin gadis itu akan bepura-pura menjadi patung. Aku juga tidak memiliki alat penyamar suara untuk menjelaskan bahwa putrinya sedang diculik.” Jawab Steven.
Aku mengangguk-angguk, lalu kembali membuka pintu kamar mandi. Kemudian aku mengambil sarung tangan hitam dari atas meja dan mengenakannya. “Apa kau punya papan tulis atau apa pun untuk menulis?” tanyaku pada Steven.
“Punya,” Jawabnya dengan mengobrak abrik tumpukan bajunya dan menarik keluar sebuah papan tulis kecil dari sana. Ia juga mengambil spidol hitam lalu memberikan itu semua padaku. Sepertinya ia baru menyadari apa yang hendak aku lakukan.
“Pegang kameranya. Sorot di bawah leherku.” Ucapku dengan meluruskan lengan jaket panjangku agar semua bagian kulitku tertutup.
Aku berdiri di samping korban kami. Setelah Steven memberikan aba-aba bahwa video sudah berjalan, aku mulai menuliskan berbagai kalimat di papan tulis yang menyatakan bahwa kami sedang menculik Dasha Dorma dan menginginkan tebusan. Di tengah aksiku, aku juga menunjuk-nunjuk sisi kening gadis bernama Dasha itu hingga kepalanya terus terhempas ke samping. Aku juga beberapa kali mencengkram rahangnya dan menggoyangkannya sebagai bukti bahwa ini bukanlah video editan.
“Aku tidak akan memaafkanmu,” Gadis itu menatapku sinis sebelum aku melakban mulutnya kembali dan menutup matanya dengan kain. Akhirnya kami selesai membuat video pemerasan.
Tentu saja aku merasa bersalah karena sudah memperlakukan seorang perempuan dengan salah. Aku sudah menculiknya dan bersikap kasar padanya. Aku akan meminta maaf padanya sebelum mengembalikannya kepada keluarganya nanti. Aku berjanji pada diriku sendiri mengenai ini.
Setidaknya, tidak lama lagi, aku akan segera terlepas dari semua hutang. Aku berjanji ini adalah kejahatan pertama dan terakhir yang aku lakukan. Videonya sudah selesai dibuat. Steven sedang mengeditnya sedikit dan mengurus segalanya untuk mengirimkannya kepada Tonny Dorma. Tidak lama lagi, aku akan terbebas dari segala hutang. Aku akan memulai hidup baru di tempat lain dengan tenang.