“Alatnya sudah terpasang?” Tanyaku dengan berbisik begitu keluar dari pintu kamar besar gelap dengan seonggok manusia menggantung di pundakku.
Steven sudah berdiri di belakang tralis balkon dengan sebuah tali khusus yang menyatu dengan alat yang ia pasangkan di tralis itu. Ia tidak menjawabku, namun langsung menarikku mendekat pada alat itu dan memasangkan sebuah alat ke pinggangku, “Kau turun duluan dan langsung pergi ke mobil. Aku akan menyusul nanti.”
Kedua alisku terangkat tinggi, “Kau yakin?”
Ia mengangguk, “Cepatlah,”
Setelah kail itu terpasang di pinggangku, aku memanjat tralis dengan satu tangan memegangi korban kami agar ia tidak terjatuh. Jika ia sampai terjatuh dari lantai tiga, aku pastikan nyawanya akan melayang, kemudian diikuti oleh nyawa kami.
Karena pinggangku terpasang pengaman, aku tidak perlu terlalu kesulitan menuruni tali yang mengantarkanku dengan selamat ke tanah dengan satu tangan yang fokus menahan gadis yang berada di pundakku ini. Setelah berhasil mendarat, aku langsung berlari keluar dari rumah berbentuk istana ini untuk mencapai mobil van tua kami.
Di dalam mobil, aku terus menunggu dengan jantung berdebar. Bahkan aku tidak pernah merasa seperti ini ketika sedang menjalankan misi dalam militer, di mana aku dengan terang-terangan harus mempertaruhkan nyawa. Meski aku tahu bahwa Steven menyuruhku ke mobil lebih dulu karena ia akan membereskan semua peralatan yang sudah ia pasang, aku tidak bisa mengatasi perasaanku untuk menaruh curiga padanya. Tentu saja, itu karena Steven adalah teman lama yang baru aku temui setelah sekian tahun. Kini aku menyadari bahwa ia adalah seorang penjahat. Mungkin saja ia sedang menjebakku sekarang dengan tujuan yang tidak aku ketahui.
Gadis yang kami culik masih tertidur dalam kondisi kepala terbungkus kain hitam agak tipis yang berguna untuk menghalangi pengelihatannya agar ia tidak bisa melihat ke mana kami membawanya pergi. Aku meletakkannya di kursi belakang dan berjaga di sampingnya. Namanya adalah Dasha Dorma. Aku masih mengingat itu. Aku harap ayahnya akan segera memberikan kami uang tebusan sehingga kami tidak perlu menahan gadis malang ini terlalu lama. Dengan hidupnya yang selalu dimanja, ia pasti sangat ketakutan ketika mendapati dirinya diculik oleh dua pria asing.
Tok! Tok!
Aku terlonjak atas suara jendela yang diketuk dari luar. Dengan cepat, aku membuka kunci mobil dari dalam dan pintu kemudi langsung terbuka. Steven melemparkan semua peralatannya ke kursi penumpang depan seraya bergeser duduk di kursi kemudi. Meski wajahnya tertutup topeng ski, aku bisa membayangkan seberapa lebar bibirnya tersenyum sekarang hanya dari pergerakan tubuhnya. Ya, kami berhasil menculik putri dari pria terkaya di kota. Kami akan segera mengantungi uang ratusan dollar dan meluniasi hutang yang mencekik leher kami.
“Dia belum bangun?” Tanya Steven sambil menyetir.
Aku menggeleng dengan melirik gadis bernama Dasha yang nampak tidak bergerak dari tadi, “Apakah seharusnya ia sudah bangun?”
Steven menggidik bahu, “Itu adalah obat tidur yang tidak biasa aku pakai. Aku juga tidak tahu seberapa banyak kau menggunakannya tadi. Namun biasanya, korban akan bangun dalam waktu sepuluh sampai dua puluh menit.”
“Ini sudah tiga puluh menit,” Gumamku dengan melirik jam tanganku, “Dia masih bernapas. Tapi aku jadi ragu ia baik-baik saja,”
“Haha.. Kau tidak perlu memikirkan itu, Adam. Selagi ia masih hidup, ia akan tetap menghasilkan uang untuk kita.” Tawa Steven.
“Kapan kau akan meminta tebusan pada ayahnya?” Tanyaku.
“Besok pagi. Malam ini, kita akan buat video pembuktian bahwa gadis itu benar-benar ada bersama kita. Kau tidak perlu khawatir, Adam. Ini adalah hal yang sudah biasa aku lakukan. Kita tidak memerlukan waktu lebih dari lima hari untuk mendapatkan uang yang kita butuhkan. Bahkan, aku bisa menjamin ini mungkin hanya membutuhkan tiga atau empat hari. Aku yakin Tonny tidak akan berpikir lagi untuk membayar kita agar putri kesayangannya bisa kembali ke istana. Uang sebesar ini tidak memiliki arti baginya,” Ucap Steven dengan riang gembira.
Setelah perjalanan menembus jalan yang sepi, mobil van kami tiba di depan sebuah bangunan rumah susun kumuh dengan sepuluh lantai. Kondisinya sudah sangat sepi dan aku bahkan bisa menebak bahwa ada cukup banyak kamar kosong di bangunan itu. Aku pun tidak yakin bangunan ini memiliki petugas kebersihan untuk sekedar menyapu sampah dan dedaunan kering yang penuh berserakan di jalan depannya. Aku tidak sudih jika harus hidup di tempat seperti ini.
Steven memarkir mobil di bawah pohon besar. Karena tidak ada lampu di sini, keadaan menjadi sangat gelap, cocok sekali untuk penculik seperti kami. Setelah mematikan mesin mobil, Steven langsung melompat dari kursi kemudi ke kursi belakang, di mana aku dan gadis yang kami culik berada.
“Apa yang akan kau lakukan?” Tanyaku agak bingung.
“Ini sudah cukup lama. Ia seharusnya sudah bangun.” Ucap Steven, membuat keningku mengkerut.
“Apakah kita perlu membuka penutup kepalanya?” Tanyaku dengan tangan sudah menggenggam ujung kain hitam berbentuk kantung itu, siap melepasnya dengan satu tarikan.
Steven mengangguk santai. Mungkin ia terlihat seperti itu karena korban kami masih terlihat bernafas dari pergerakan perutnya dan suhu tubuhnya yang normal.
“Lagipula, kita tidak mungkin menurunkannya dalam kondisi kepala tertutup dan kaki tangan terikat. Meski tempat ini terlihat kosong, tidak menutup kemungkinan akan ada orang yang akan melihat kita nanti.” Jelas Steven.
“Baiklah. Aku membukanya sekarang,” Ucapku dengan perlahan menanggalkan kain penutup kepala itu.
Ah.. Ternyata itu benar. Gadis itu sudah terbangun. Kedua mata birunya langsung menyapaku nyalang. Keningnya terlihat berkeringat, tentu saja, karena sekujur kepalanya terbungkus kain selama satu setengah jam. Namun, aku sangat lega karena ia nampak baik-baik saja dan masih bisa memelototiku seperti ini dengan matanya yang indah.
Tiba-tiba Steven mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku celananya. Ia mengarahkan pisau tersebut ke leher gadis itu, membuatku tidak kuasa mengerinyit. Meski merasa keberatan, aku tidak menghalangi Steven atau sekedar menegurnya. Aku tahu ia tidak akan benar-benar melukai gadis itu. Bagaimanapun, kami adalah sebuah tim sekarang.
“Dasha Dorma.” Ucap Steven, “Itu adalah namamu, kan? Saat ini, kau sedang kami sandera. Kami akan mengembalikanmu kepada papamu jika ia membayar uang tebusan. Kami tidak akan melukaimu jika kau bisa bekerja sama. Dengarlah baik-baik, Dasha. Kau harus tetap diam dan menundukkan kepalamu selama berjalan bersama kami. Jika tidak, pisau tajam yang masih sangat baru ini akan melukai wajah cantikmu. Aku bahkan tidak yakin jika operasi pelastik bisa memperbaikinya seperit semula nanti. Karena itu, sebaiknya kau jangan mencoba memberontak. Apa kau mengerti?”
Dasha menatap Steven dalam diam. Ya, ia diam, selayaknya ketika kepalanya masih terbungkus kain tadi. Sebenarnya ini sangat aneh karena ia tidak berusaha meronta meski mengetahui ia sedang diculik. Ia benar-benar diam, bukan karena mulutnya sedang dilakban. Ia hanya memang tidak mau mengeluarkan suara.
Kedua mata Steven membentuk sebuah lengkungan kecil, pertanda ia sedang tersenyum di balik masker yang menutupi separuh wajahnya. Sebelum mobil kami meninggalkan rumah Tonny Dorma, kami memang menyempatkan diri untuk menukar topeng ski kami dengan masker yang menutup mulut dan hidung kami. Selama bersama korban penculikan, kami harus tetap menjaga agar identitas kami selalu tertutup.
“Gadis pintar,” Ucap Steven dengan meraih dua buah topi baseball yang tergeletak di pinggir jok mobil. Ia memberikan satu buah padaku dan mengenakan satunya lagi.
Setelah mengenakan topi hitam itu, aku mengikat sebuah kain hitam di kepada gadis ini untuk menutupi kedua matanya. Kemudian aku merapihkan rambut panjangnya untuk menyamarkan bahwa matanya sedang ditutup oleh kain, “Tundukkan kepalamu,” ucapku, yang langsung dituruti olehnya.
Steven menggeser pintu mobil terbuka dan melangkah keluar. Aku menyusulnya dengan menuntun korban kami dengan melingkarkan tanganku di lengan atasnya. Kami sudah melepaskan ikatan pada kaki gadis ini, namun masih mengikat kedua tangannya. Aku meletakkan sebuah jaket di atas kedua tangan itu, membuat gadis ini seakan memang sedang membawa jaket di tangannya.
Aku tidak tahu apakah ini adalah hal yang patut dicurigai atau tidak. Aku tidak pernah sekali pun menculik seseorang. Aku juga tidak pernah melakukan tindakan kriminal. Namun bukankah seorang korban seharusnya tidak sepenurut ini? Gadis bernama Dasha ini bahkan tidak memberontak sedikit pun. Kepalanya terus menunduk dan kakinya melangkah ringan mengikuti ke mana aku membawanya. Apakah otaknya terganggu? Apakah ia adalah manusia dengan kondisi kejiwaan dan memiliki IQ normal?
Steven pernah mengatakan bahwa Tonny memang menyembunyikan putri satu-satunya ini dari publik. Ia berkata putrinya terlalu cantik, polos, dan sangat berharga sehingga ia merasa tidak aman jika putrinya berkeliaran di luar rumah. Ya, itu benar bahwa putrinya memang sangat cantik. Tapi sekarang aku menjadi curiga bahwa mungkin putrinya adalah seorang i***t.
Kamar Steven terletak di lantai paling atas bangunan rumah susun ini. Ia membuka pintu kamarnya dan kami bergegas masuk ke dalam. Ah.. tulang punggungku terasa nyeri karena merasa terlalu tegang. Kini aku bisa bernapas lega setelah kami sudah berada di dalam kamar berantakan dengan lampu remang dan bau asap rokok yang bercampur dengan makanan basi dan tumpukan pakaian kotor.
Steven berengsek! Ternyata ia masih mempertahankan kebiasaan berantakan dan joroknya sejak kecil. Ia adalah ciri-ciri pria yang paling aku hindari untuk menjadi teman kamar karena aku adalah pria rajin yang cinta kebersihan.
“Di mana kita meletakkannya?” Tanyaku pada Steven.
Pria itu menarik nafas panjang dengan kedua tangan di pinggang seraya menerawang sekujur kamarnya yang terlihat seperti gudang terbengkalai. Kemudian, ia menunjuk sebuah ranjang single dengan sprei kotor berantakan, “Biarkan tamu kita duduk di tempat terbaik di rumah ini.”
Aku hanya bisa tertawa mengejek, “Tempat terbaik, katamu? Apakah menanyakan kapan terakhir kau membersihkan rumah akan terkesan kurang ajar?” tanyaku dengan mengarahkan Dasha untuk duduk di pinggir ranjang.
Steven tertawa, “Kau tidak berubah sejak dulu. Aku bahkan membencimu yang selalu ingin cuci tangan setelah bermain pasir. Dasar bocah cengeng!” hinanya seraya membuka kulkas kecil yang terletak di samping kitchen set kecil tanpa memperdulikan dua ekor kecoa yang langsung kabur setelah ia mendekat. Ia mengambil dua kaleng bir murah dan melemparkan satu padaku.
“Bocah cengeng ini biasa meledakkan kepala orang,” Sahutku seraya membuka penutup kaleng itu dan meneguk isinya banyak-banyak. Sungguh, bir murah ini terasa begitu enak setelah ketegangan panjang yang membuat kerongkongan dan lidahku menjadi segersang padang pasir.
“Hei.. Berhati-hatilah dengan apa yang keluar dari mulutmu. Kau tidak ingin gadis itu mengetahui informasi apa pun tentang dirimu dan menceritakannya pada polisi, kan?” Tanya Steven santai dengan duduk di atas kursi komputer. Ia menekan tombol komputer tersebut hingga layarnya menyala biru.
“Ah.. Sial.. Aku melupakannya.” Aku mendecak. Lalu aku menunjuk gadis yang masih duduk di sisi ranjang, “Apa kita membiarkannya seperti itu?”
Dengan enggan, Seteven melirik gadis tersebut, “Oh, tolong ikat kembali kakinya dan sandarkan dia pada sandaran ranjang.”
“Hah.. Aku bertanya apakah kita mungkin memberinya minum? Ia mungkin akan dehidrasi.” Sahutku dengan wajah datar. Aku tidak percaya si berengsek ini malah menyuruhku untuk kembali mengikat kaki gadis malang itu. Aku bahkan sempat berpikir untuk membuka lakban di mulutnya agar ia setidaknya bisa bernapas dengan sedikit lebih nyaman di tengah kamar berbau busuk ini.
Steven tertawa kecil, membuatku jengkel mendengar dengusan mengejeknya, “Itu terserah padamu. Aku sempat melupakan bahwa kau adalah laki-laki baik.”