Mulutku hanya bisa menganga lebar mendengar ide gila Seteven. Ya, itu memang sebuah pekerjaan bagus. Bagus untuk membuat masa depan kami semakin berantakan atau bahkan meniadakannya! Aku bahkan bisa membayangkan orang kaya itu akan menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh orang yang telah menculik putri kesayangannya. Bahkan jika pada akhirnya kami melepaskan perempuan itu, aku tidak yakin hidup kami akan berbeda dari seorang buronan.
Tapi tiga ratus ribu dollar adalah jumlah uang yang besar, kan? Aku bukan orang naif atau terlalu kaya untuk bisa menyepelekan jumlah uang yang bisa memenuhi seluruh lantai kamarku yang hanya sekecil gudang peralatan kebersihan di pangkalan militer. Dan aku memang membutuhkan uang itu untuk menyelamatkan hidupku yang sedang nelangsa.
Masing-masing dari kami akan mendapatkan seratus lima puluh ribu dollar. Dengan uang itu, aku bisa langsung melunaskan hutang ayah sialanku. Jika memang akhirnya kami bisa mendapatkan uang tebusan itu dan mengembalikan anak yang kami culik, aku hanya harus pergi ke kota lain yang sangat jauh. Dengan begitu, aku akan memulai hidup baru. Aku pun tidak masalah jika harus hidup di pedesaan terpencil dan jadi penggembala domba. Setidaknya aku tidak hidup dengan diteror oleh para penagih hutang atau bahkan dipenjara karena tidak mampu membayar hutang. Di desa, aku akan berladang, beternak, dan mencari gadis desa untuk aku jadikan istri. Kami akan hidup bahagia dan tenang hingga tua nanti.
Sial.. apakah aku sudah gila?
“Jangan berdiri di sana saja, Adam? Kau mau melakukannya atau tidak?” Steven menyadarkanku.
Kedua mataku mengerjap sekali. Aku hanya bisa berdehem pelan dan mengangguk. Ya, aku memang sudah gila. Bahkan Steven sudah memberikan waktu dua hari kepadaku untuk berpikir. Namun aku berakhir memilih jalan gila yang penuh resiko ini. Bagaimana mungkin seorang mantan tentara yang sebelumnya membela negara dan rakyat sipil, sekarang harus melakukan kejahatan berupa penculikan?
Aku tidak tahu uang memiliki dampak seperti ini dalam hidup seseorang. Aku tidak tahu perkara uang bisa membuatku jadi pria tidak waras!
Ini adalah sebuah dinding tinggi. Dari warna catnya yang putih bersih tanpa adanya retak sama sekali, aku bisa menebak bahwa dinding yang membentengi istana di dalamnya ini pasti dipoles setidaknya tiga bulan sekali. Jangan mengataiku berlebihan ketika aku berkata bahwa dinding ini melindungi sebuah istana. Aku tidak berdusta bahwa rumah itu tidak terlihat seperti rumah. Siapa pun pemiliknya, ia mungkin mengusap bokongnya menggunakan selembar uang seratus dollar setelah buang air.
Menjalani misi adalah hal yang sudah biasa aku lakukan. Bersama tim militerku, aku pernah menyelamatkan tiga puluh rakyat sipil yang disandera teroris. Aku pernah mengawal seorang pangeran dari negara tetangga yang terpaksa menyebrangi perbatasan sebuah negara yang tengah terlibat peperangan. Aku juga pernah berhasil merebut wilayah yang sempat diduduki oleh pemberontak di suatu negara yang tengah mengalami perang saudara.
Aku tidak bermaksud sombong, namun menerobos rumah dengan standar keamanan tingkat menengah seperti ini sama halnya dengan mencampakkan wanita yang terus mengejarmu, mudah. Berkamuflase, mengendap-endap, menyusun strategi. Semua itu adalah makanan sehari-hariku di pangkalan. Aku adalah anak kesayangan komandan yang kebetulan memiliki ayah berengsek yang tega menghancurkan hidup putranya sendiri.
Tidak membutuhkan waktu lama untukku dan Steven menyelinap masuk ke balik dinding setinggi tujuh meter itu. Kami juga hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk mencapai rumah besar yang berdiri di tengah-tengah lahan berumput hijau yang dihiasi berbagai taman mewah dan pepohonan langka berbentuk unik yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Kami juga dengan mudah berhasil melewati para penjaga.
Meski semuanya berjalan lancar hingga titik ini, sebenarnya ada sebuah hal yang mengganjal pikiranku. Itu adalah Steven. Aku tidak tahu ia begitu mahir menyelinap seperti ini. Ya, Steven memang sudah mengatakan bahwa ia sudah beberapa kali melakukan pekerjaan seperti ini bersama bossnya, namun ia telihat sangat professional seakan telah melakukannya ratusan kali. Ia juga mampu mengakali setiap CCTV yang akan kami lewati dengan menggunakan sebuah alat khusus yang membuat kamera CCTV terus menampilkan gambaran yang terakhir tertangkap sebelum ia mengakali alat tersebut.
Melalui hal ini, aku mencurigai bahwa pekerjaan utama Seteven yang sesungguhnya adalah seorang penjahat tingkat tinggi. Aku hanya tidak tahu kejahatan apa yang ia lakukan. Apakah aku akan menyesal setelah ini? Hey, seharusnya kau sudah memikirkan ini semua sejak awal, Adam! Tentu saja aku tidak bodoh untuk sudah mencurigai hal ini sejak awal, namun aku tetap memilih untuk melakukannya.
Tonny Dorma adalah pebisnis yang kaya raya. Dengan semua bisnisnya, ia bisa memiliki rumah semegah ini. Kelihatannya, rumah ini juga belum pernah dimasuki penjahat karena, terpaksa aku akui, penjagaannya benar-benar payah. Para penjaga tidak becus itu pasti akan ketar-ketir setelah menyadari anak majikan mereka diculik. Entah mengapa, aku merasa ini adalah bagian menyenangkan dari penculikan ini selain uangnya. Aku memang tidak menyukai orang yang lalai dalam pekerjaannya. Dan tentu saja aku akan senang jika mereka mendapat ganjaran.
“Itu kamarnya,” Bisik Steven dari balik masker ski yang ia kenakan, sama sepertiku.
Aku mengangguk seraya menatap ke atas. Itu adalah sebuah balkon kamar yang terletak di lantai tiga. Ada sebuah saluran air di sampingnya, sehingga kami bisa memanjat dengan mudah. Tanpa menimbulkan suara, kami berhasil mencapai balkon yang cukup luas itu. Dari semua furnitur di sana, aku dapat membayangkan betapa dimanjakannya putri yang tidur di dalam kamar yang akan segera aku masuki.
“Ini bagus. Rencana kita masih lancar sampai di sini. Seperti yang sudah kita bicarakan tadi di mobil, kau yang masuk ke dalam dan aku memasang peralatan turun.” Ucap Steven.
“Di mana obat tidur itu?” Tanyaku.
Steven dengan cepat memberikan sebuah sapu tangan dan sebotol obat tidur berbentuk cairan yang akan membuatmu pingsan begitu menciumnya. Aku mengangguk sekali pada Steven, “Cepatlah.”
“Jangan biarkan dia berteriak. Langsung bungkam mulutnya,” Ucap Steven. Dari wajahnya, aku bisa merasakan ia mungkin agak ragu padaku. Kelihatannya, ia takut aku tidak tega untuk membungkam perempuan di dalam. Masalahnya, tubuhku cukup lebih besar dari Steven, sehingga aku bisa dengan sangat mudah menggotong korban kami keluar. Itulah yang membuatku mengambil bagian ini.
Setelah menarik nafas panjang, aku mencoba membuka pintu yang mengarah ke dalam kamar. Ini cukup mengejutkan karena ternyata pintu balkonnya tidak dikunci. Kelihatannya, keluarga di rumah ini benar-benar tidak pernah membayangkan sedikit pun putri kecil mereka akan menjadi korban penculikan.
Perlahan, aku membuka pintu dan mendapati sebuah kamar megah dengan desain khas perempuan gaya Victoria. Kamar itu agak gelap dengan lampu-lampu kecil berbentuk lilin imitasi di berbagai sudut yang menjadi sumber penerangan. Seperti yang sudah kami duga, pemilik kamar sudah tertidur karena sekarang jam menunjukkan pukul dua pagi.
Setelah melangkah sedikit, aku dapat melihat sebuah ranjang besar dengan atap dan kelambu di atasnya. Cahaya bulan menembus jendela besar yang berada di samping ranjang itu, menyorot gadis yang sedang tidur di tengah-tengah. Yang dapat aku lihat hanyalah rambut panjang pirang yang seakan berkilau diterpa cahaya purnama. Aku segera menuangkan cairan obat tidur ke atas sapu tangan. Kemudian, aku melangkah pelan menuju ranjang itu.
Semakin dekat, sosok yang tengah tertidur pulas itu nampak semakin jelas. Kelihatannya, aku terlalu naif untuk mengambil tugas ini. Tugas ini sungguh terlalu berat untukku. Mana mungkin aku tega membekap dan menculik gadis sedemikian cantik layaknya seorang dewi yang memiliki porsi sempurna untuk setiap inci wajahnya. Rambutnya pun terlihat tidak nyata. Apakah manusia sungguh bisa memiliki rambut seindah itu? Apakah ia bisa mendapatkannya dengan uang?
Sial.. Rasanya aku sudah ingin menyerah, bahkan ketika misi ini masih setengah jalan. Sungguh, rasanya aku tidak tega menyakiti gadis secantik dan semungil ini. Ketika Steven mengatakan bahwa itu adalah putri satu-satunya dari pria terkaya di kota, yang aku bayangkan adalah seorang perempuan yang terlalu dimanjakan ayahnya sehingga menjadi gemuk dengan wajah biasa saja. Itu juga yang membuatku berpikir untuk mengambil tugas menangkap korban kami. Tapi aku benar-benar salah. Aku menyesal.. sungguh!
Jantungku hampir berhenti berdetak ketika gadis itu nampak bergerak. Ia menggeliat dan menggerakkan kepalanya menghadapku. Lalu tiba-tiba..
Seperti sebuah kilat menyambar tubuhku. Sepasang manik biru terang tiba-tiba muncul dan menembak tepat pada kedua mataku. Gadis itu terbangun! Korban kami terbangun dan mendapatiku sedang berdiri seperti patung selamat datang di sisi ranjangnya.
Kabar baiknya, aku adalah seorang mantan tentara dengan berbagai tugas berat yang hanya bisa dilakukan oleh tenaga terlatih. Keadaan mengejutkan ini seketika membuat instingku terbangun sehingga dengan mudahnya mengatasi hatiku yang sempat luluh oleh kecantikan korban penculikan kami.
Sebelum raut bingung gadis itu berubah menjadi raut ketakutan yang disusul oleh teriakan nyaring melengking khas perempuan, aku dengan cepat membungkam mulut dan hidungnya menggunakan sapu tangan berisi obat tidur. Hanya dalam beberapa detik, obat itu bekerja dengan baik hingga membuat gadis bermata biru ini kembali tertidur lelap.
“Ugh.. Sial.. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak memiliki pilihan lain..” Aku hanya bisa berbisik sembari membuka selimut gadis ini.
Aku mengeluarkan karung kecil dan lakban dari dalam kantung jaketku. Aku menutup mulut gadis ini menggunakan lakban dan menggunakan karung untuk membungkus kepalanya. Aku juga mengikat pergelangan kaki dan tangannya yang terasa sangat ringkih menggunakan tali.
Sial.. aku hanya bisa mengutuki diriku sendiri karena melakukan hal ini. Sial kau, Papa! Seharusnya bibitmu mati dalam renangnya sehingga aku tidak perlu terlahir ke dunia dan memiliki ayah menyusahkan sepertimu!