2. Invisible Red Thread (2)

1406 Words
Chapter 2 : Invisible Red Thread (2) ****** NAPAS Ai tertahan. Jantungnya bagai berhenti berdetak. Semuanya terjadi dalam waktu yang sesingkat itu, secepat cahaya. Tubuh Ai mematung. Kaku. Ada sesuatu yang membuat dirinya seakan membeku. Setelah menemukan napasnya kembali, Ai refleks langsung melihat ke belakang. Napasnya jadi terengah-engah, dia buru-buru melihat apa yang sebetulnya tengah terjadi di belakang tubuhnya. Melihat apa yang sebenarnya sedang Eric lakukan. Begitu Ai benar-benar membalikkan tubuhnya dan melihat keadaan di sana, Ai spontan terperanjat. Mulutnya menganga dan napasnya tertahan. Matanya melebar penuh; dadanya jadi terasa sesak. Di sana ia melihat Eric, tangan pria itu tengah memegang sebuah katana miliknya yang selalu ia bawa. Eric berdiri di sana dengan posisi menyamping; tangan dan katananya dipenuhi oleh darah segar. Darah itu menetes dari katananya, dari jemarinya, lalu jatuh ke tanah. Di bawah Eric ada sebuah jasad dari seorang laki-laki. Laki-laki itu memakai topi lebar samurai dan kimono lusuh yang berwarna abu-abu. Laki-laki itu tampak sedang memegang sebuah katana, tetapi katana itu justru dibasahi oleh darahnya sendiri. Darah itu mengucur keluar dari bagian jantungnya yang ditusuk oleh Eric. Tubuh Ai gemetar. Ia melihat semua itu dengan kedua matanya sendiri. Dia tahu bahwa inilah dunia yang Eric jalani, inilah kekejaman dunia yang sedang mereka hadapi, tetapi baru kali ini Ai melihat jasad yang ditusuk oleh katana dan mengucurkan begitu banyak darah di depan matanya sendiri. Ai pernah melihat Eric membunuh seseorang di depan matanya, tetapi tidak dengan katana dan tidak dengan darah yang sebanyak ini. Ai bahkan tak bisa berteriak, napasnya seolah tersekat di tenggorokan. “K—Kak—" Mendengar panggilan dari adiknya itu, Eric pun menoleh. Dengan penuh darah—bahkan ada darah yang memuncrat ke pipi pria tampan itu—Eric tersenyum manis pada Ai. Pria itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Seperti dia tidak baru saja membunuh seseorang beberapa saat yang lalu. “Ya, Sayang?” jawabnya pada Ai, masih dengan senyumannya yang amat manis, yang kini justru terlihat mengerikan karena beberapa bagian tubuhnya telah dipenuhi oleh darah. Ai menggeleng, wajahnya tampak pucat. “A—apa—yang—” “Aaah, ini?” ujar Eric, pria itu lalu melihat ke bawah, tempat di mana jasad itu tergeletak dengan begitu mengenaskan. “Ini serangga, Sayang. Terkadang ada serangga yang suka mengganggu waktu luangku.” Alis Ai bertaut. Apakah lelaki itu merupakan salah satu orang yang mengenali Eric dan ingin mencoba untuk membunuh Eric? “Apakah—apakah dia mencoba untuk membunuhmu?” tanya Ai, jantungnya berdetak kencang. Dadanya bergemuruh tak keruan, ia belum bernapas dengan normal. “Kakak baik-baik saja, ‘kan…?” “Uh-hm!” jawab Eric dengan riang tatkala ia melihat ke arah Ai lagi dengan senyuman. Setelah itu, Eric menatap jasad itu lagi. “Aku akan membiarkannya dengan satu tusukan di perut apabila dia hanya mengincarku. Namun, dia mengincarmu.” Kontan saja mata Ai membeliak. Mengincar Ai? Napas Ai semakin tertahan. “A—ku…?” Apakah samurai ini memilih untuk menyerang Ai karena tahu bahwa Eric akan kehilangan akal sehatnya apabila Ai mati? Untuk menenangkan adik perempuannya itu, Eric pun mendekat. Ia berjalan ke arah Ai dengan santai, lalu tatkala ia sudah berdiri tepat di depan Ai, ia pun mulai mengelus pipi Ai dengan sebelah tangannya yang tidak sedang memegang katana. Elusannya terasa lembut. Menenangkan. Penuh cinta. Jari telunjuknya mulai mengangkat dagu Ai agar gadis itu menatap ke arahnya. Ia lalu tersenyum lembut dan berkata, “Jangan khawatir, Sayang. Aku akan melindungimu.” Dengan jantung yang masih berdegup kencang serta segala rasa terkejut, panik, dan takut yang tersisa, Ai pun langsung memeluk tubuh Eric dan menenggelamkan kepalanya di d**a bidang milik kakaknya itu. Dia kontan berteriak; matanya memerah; air mata sudah siap meluncur dari pelupuk matanya. Setelah itu, bagaikan sebuah tali yang terus menerus ditarik, segala perasaan yang ia tahan pun akhirnya terlepas. Tumpah. Ia lantas meneriaki Eric. “Aku kira seseorang baru saja menusukmu dengan katana!! Jantungku hampir berhenti, aku—aku kira—aku kira barusan—” Meskipun Ai tahu bahwa yang ia khawatirkan itu tak mungkin terjadi, mengingat Eric adalah pembunuh bayaran tersadis yang selalu menjadi simbol kengerian di Edo, Ai tetap kalah pada rasa cemasnya. Ia takut kakaknya terbunuh. Ia takut ada sesuatu yang terjadi pada kakaknya. Eric pun balas memeluk Ai menggunakan sebelah tangannya. Dengan senyuman lembut di bibirnya, Eric pun memejamkan mata dan membenamkan wajahnya di helaian rambut berwarna vermillion milik Ai. “Sshh… Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku tidak apa-apa.” Ai sadar; gadis itu sudah sadar bahwa kemungkinan besar…Eric telah berhenti melihatnya sebagai adik, entah sejak kapan. Kakaknya itu sering menciumnya, memeluknya, memanggilnya dengan penuh cinta, menatapnya dengan intens, menatapnya dengan penuh hasrat, dan memperlakukannya bukan seperti seorang adik kandung. Ai tidak tahu pasti sejak kapan Eric berhenti melihatnya sebagai seorang adik, tetapi… …tidak mungkin sejak awal sudah seperti itu, ‘kan? ****** Di balik barisan pepohonan yang tinggi dan lebat, ada sebuah rumah besar yang hampir bisa disebut sebagai mansion. Rumah itu memiliki desain yang bergaya Eropa; rumah itu milik seorang saudagar kaya yang ada di luar Edo. Rumah itu sebagian besar terbuat dari kayu dan bata lumpur. Warna rumah itu didominasi oleh warna coklat. Banyak jendela yang berjajaran di rumah yang tinggi itu dan mungkin saja karena malam telah larut, sebagian besar lampu di dalam rumah itu telah dimatikan. Rumah sebesar itu dikelilingi oleh susunan pepohonan yang cukup besar dan cukup lebat, bagaikan istana yang tersembunyi di dalam sebuah hutan. Ada juga pos penjaga di depan rumah itu; rumah itu dipagari dengan beton yang tinggi. Pemiliknya betul-betul menjaga hartanya dengan baik. Namun, meski dengan penjagaan yang ketat begitu, di sinilah Eric dan Atsushi, tengah bertengger di sebuah ranting dari salah satu pohon yang ada di samping rumah tersebut. Pohon itu tumbuh di barisan terdepan dari hutan yang ada di sisi kiri rumah tersebut. Atsushi sudah membunuh seluruh penjaga yang sedang bertugas di sekitar rumah tersebut dalam diam. Sekarang di sinilah dia, tengah berjongkok di sebuah ranting pohon yang besar dan kokoh, memperhatikan rumah itu dari samping bersama Eric. Atsushi yang bertubuh tinggi dan besar itu pun menoleh kepada Eric, menemukan bahwa pria yang lebih muda darinya itu tengah berdiri di ranting yang sama dengannya. Sebelah tangan Eric tengah memegang sebuah ranting yang ada di atas kepala pria itu, ranting dari pohon yang sama. Atsushi, pria berusia empat puluh tahun itu, kemudian berbicara dengan kesal pada Eric. Pria yang bernama Eric Shou itu jauh lebih muda darinya, tetapi jauh lebih sadis dan lebih sinting darinya. Meskipun ia lebih tua, ia benar-benar tak mau berurusan dengan Eric. Namun, apa boleh dikata, bos mereka sering menugaskannya untuk mendampingi Eric. Meski Eric adalah pria pembangkang yang bergerak sesukanya saja, bos mereka tak bisa berbuat banyak karena Eric adalah andalan di dalam organisasi mereka. …padahal semua orang pun tahu bahwa Eric tak perlu didampingi! Yang ada, Atsushi malah jadi budaknya saja di sini! “Apa kau gila? Aku bisa mati duluan kalau kau tak membantuku; penjaganya banyak sekali!” ujar Atsushi. “Aku belum mau mati. Aku masih mau belajar membuat mi soba!” Eric, pria yang ada di sampingnya itu, hanya menoleh kepadanya dan tersenyum manis. Itu adalah senyuman biasanya—senyumannya yang paling dikenal—di mana matanya jadi tertutup seolah ikut tersenyum. Atsushi bahkan tak yakin apakah itu benar-benar sebuah senyuman atau bukan, sebab entah mengapa lama-kelamaan senyuman itu jadi terlihat seperti seringai. Mungkin Atsushi sedang mengantuk atau apa, penglihatannya harus ia perjelas lagi setelah ini. Setelah itu, mata Eric membulat polos. Dengan nada bicara yang terdengar seperti anak-anak, Eric pun menjawab, “Waah, seraaam. Jangan begitu, dong, Sushi-kun. Kau, kan, belum mati.” “Siapa itu ‘Sushi-kun’?!!” teriak Atsushi tak terima. “Berhentilah memanggilku Sushi! Aku terlalu besar dan terlalu tua untuk disamakan dengan sushi, astaga!” Eric memiringkan kepalanya. “Bukannya namamu memang Sushi? Jadi, aku harus memanggilmu dengan apa lagi?” “Kau—!” geram Atsushi. Eric itu masih muda, tetapi dia betul-betul tidak sopan pada Atsushi. Eric memang agak sinting. Atsushi ingin memukul kepala Eric yang mengesalkan itu, tetapi ia betul-betul masih sayang dengan nyawanya sendiri. Eric adalah psikopat gila dan Atsushi tidak mau mengambil risiko. Akhirnya, Atsushi menghela napas. Mencoba untuk melupakan saja ejekan mengesalkan dari Eric itu, lalu bertanya, “Jadi, apa yang kau rencanakan?” Kedua mata Eric beralih melihat ke depan—ke rumah itu lagi—dan senyuman manisnya pun kembali. “Aku akan masuk ke sana. Kau tunggu di sini.” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD