3. Invisible Red Thread (3)

1148 Words
Chapter 3 : Invisible Red Thread (3) ****** MENDENGAR jawaban dari Eric itu, kontan saja mata Atsushi terbelalak. “Kau gila?! Aku yakin di dalam sana penjaganya lebih banyak! Aku akan membantumu untuk mengalihkan perhatian sebagian penjaganya. Bukankah kau tidak suka dibuat lelah oleh pekerjaan simpel seperti ini?” Pria ini benar-benar sinting, pikir Atsushi. Mereka memang ditugaskan untuk membunuh pemilik rumah besar itu, tetapi orang itu bukanlah orang sembarangan. Di dalam sana pasti ada banyak penjaga dan pelayan. Kemungkinan besar, pemilik rumah itu juga memiliki beberapa pengawal yang kuat untuk melindunginya. Atsushi tahu bahwa Eric memang sangat kuat, dia membunuh dengan begitu sadis dan tak berperasaan. Jika kau tengah berperang, memasukkan satu manusia bernama Eric akan jauh lebih menguntungkan daripada memasukkan seribu pasukan biasa. Dia adalah pion terkuat, monster tak terkendali, yang sebetulnya tidak memerlukan siapa pun untuk membantunya. Namun, tetap saja, bukankah Atsushi ada di sini untuk membantunya? “Kau sudah membunuh penjaga di luar, Sushi-kun,” jawab Eric dengan polos, atau lebih tepatnya, polos yang dibuat-buat. Membuat Atsushi kesal saja. “Iya, aku memang sudah membunuh mereka—oi! Namaku bukan Sushi!!” teriak Atsushi dongkol. “Eeeh? Katamu kau mau memasak mi soba, ‘kan? Ini tidak akan lama, Sushi-kun.” Eric tersenyum manis, tetapi entah mengapa Atsushi merasa seperti sedang diejek habis-habisan. Setelah itu, tanpa ba bi bu lagi, tanpa menunggu reaksi dari Atsushi, tiba-tiba saja Eric melompat. Kontan saja Atsushi panik, dia langsung berdiri dari posisi jongkoknya dan langsung meneriaki Eric. “Hei! Hei—hei!!! Oi, apa kau gila?!! Tunggu seben—" Gila! Eric, pria sinting itu, melompat dari atas pohon dan mendarat di pagar beton rumah tersebut, lalu dengan entengnya melompat masuk ke area rumah itu! Apa dia bahkan seorang manusia? Atsushi kontan menepuk jidatnya. Sial. Seperti biasa Eric menjadikannya sebagai b***k sekaligus kambing congek saja di sini. Lain kali, dia betul-betul akan menolak perintah bosnya untuk menemani Eric. Psikopat gila itu jelas-jelas tak butuh ditemani. Dia adalah orang sadis yang sesat akal. Makhluk yang mengerikan. Tidak normal. Biarlah binatang buas itu menggila sendirian, Atsushi tak mau ikut-ikutan. Dia sudah tua, dia juga tak mau mati cepat. ****** Siang itu, Ai tengah meletakkan pesanan seorang pelanggan ke atas meja tatkala Sora, seekor kucing berwarna kuning yang biasa main di bar milik Gin, tiba-tiba mengeong keras dan berlari keluar dari bar. Semua orang kontan menoleh ke asal suara, yang mana di depan sana terlihat Sora yang sedang berlari keluar melalui pintu depan bar. “Sora!!” teriak Ai. “Eh, ada apa??” tanya Shin, pria itu berjalan dengan cepat ke ujung counter seraya mengelap sebuah gelas. Ia terlihat agak kaget, kedua matanya terlihat melebar di balik kacamatanya. “Sora, ya?” “Iya! Aku akan mengejarnya!” ujar Ai dengan suara yang agak keras. Gadis itu langsung berlari ke luar bar, sukses membuat Shin kaget bukan main. Shin langsung buru-buru berteriak, “EH? AI-CHAN!!!” Shin panik. Gin sedang pergi ke luar sebentar karena ada urusan, jadi mereka berdua harus menjaga bar dan melayani pelanggan. “Sebentar!!!” teriak Ai, suaranya mulai terdengar menjauh karena ia berteriak seraya berlari ke luar. “Sepertinya dia terluka!!” Akhirnya, Shin pun menghela napas. Dia harus mengatasi ini—menjaga bar—sendirian untuk beberapa waktu sampai Ai kembali. Kasihan juga kalau misalnya kucing yang sudah biasa jadi tamu di bar ini tiba-tiba terluka. Di sisi lain, Ai tengah berlari mengejar Sora hingga ia sampai di sebuah jalan besar. Di sisi kanan dan kiri jalan tersebut terdapat berbagai toko yang berjajar. Toko-toko itu memiliki bentuk yang kurang lebih sama, yakni bentuk bangunan khas Edo. Bisa dibilang area tersebut merupakan area perdagangan di sana; ada juga beberapa penjual makanan yang berjualan di pinggir jalan. Terkadang area ini mengingatkan Ai pada barisan yatai saat festival musim panas. Banyak kios-kios makanan, tetapi bedanya adalah: yang ini rata-rata menjual dagangannya di dalam toko. Toko ramen, okonomiyaki, bahkan ada toko-toko lain seperti toko penjahit, toko kuas, toko bumbu, toko benda tajam, dan lain-lain. Jalan ini biasa disebut dengan jalan pedagang oleh masyarakat Edo. Ai melihat Sora yang masih berlari di depan sana, lalu Sora belok ke kanan. Spontan saja Ai ikut belok ke kanan. Tak lama kemudian, Sora berhenti di sebuah toko kecil yang menjual dango. Ada sebuah kursi kayu panjang dan sebuah meja panjang yang diletakkan di depan toko tersebut. Kursi itu biasanya diduduki oleh para pelanggan yang ingin memakan dango di bagian luar toko. Ai melihat ada beberapa orang yang sedang duduk di sana, tetapi Ai hanya melihat mereka sekilas karena Ai sedang fokus kepada Sora. Rupanya Sora berlari masuk ke bawah meja panjang yang ada di depan toko dango tersebut. Tanpa tedeng aling-aling, Ai langsung berlari ke arah toko dango tersebut dan mulai merundukkan tubuhnya. Ia lantas mencari celah untuk masuk ke kolong meja tersebut, berjongkok, lalu diam-diam mendekati Sora yang sedang duduk di ujung sana, membelakanginya. Ai memang tidak anggun sama sekali; dia tak tahu bahwa pelanggan dango yang biasanya duduk di sana adalah laki-laki. Namun, masa bodoh. Lagi pula, sepertinya pelanggan yang duduk di sana hanya sekitar tiga orang. Ai pun berjalan jongkok pelan-pelan…dan hap! Dia berhasil meraih Sora. Gadis itu pun langsung bernapas lega dan menarik Sora ke dalam pelukannya. Sora hanya mengeong di dalam pelukannya. “Nah, dapat kau! Akhirnyaaa!! Oi, Sora, kau ini! Mengapa larimu kencang sekali?! Kau sedang kesurupan atau apa?!!” Ai pun tersenyum lega. Dia harus keluar dari sini terlebih dahulu dan memeriksa tubuh Sora, kalau-kalau ada luka. Namun, tatkala Ai baru saja ingin berbalik dan keluar dari kolong meja tersebut, tiba-tiba Ai mendengar sebuah suara. “Oi. Apa yang kau lakukan di sini?” Ai kontan menoleh ke asal suara. Ternyata di samping kirinya ada seorang pria yang tengah merundukkan tubuhnya hingga Ai dapat melihat kepalanya, lehernya, dan sebelah tangannya yang bertumpu di kursi agar bisa melihat ke bawah meja. Rupanya sedari tadi kedua kaki pria itu ada di samping Ai. Namun, tatkala melihat wajah pria itu dan mengenali siapa dia, kedua mata Ai kontan memelotot. Sialan! Mengapa pria ini ada di sini?!! Ah, sompret. Ai sedang malas bertengkar dengan pria ini. “Bukan urusanmu,” jawab Ai ketus. Ai langsung lanjut berbalik dan berencana untuk keluar dari kolong meja tersebut. “Hah?” ucap pria itu, betul-betul tak habis pikir. Dahinya berkerut; dia mendadak jadi merasa kesal. Perempuan ini selalu saja bisa memancing emosinya. Pria yang bernama Kei Arashi itu mulai menegakkan tubuhnya kembali, lalu menatap dengan sinis ke arah Ai yang sedang berusaha untuk keluar dari kolong meja tersebut seraya menggendong seekor kucing. “Aku hanya ingin tahu perempuan mana yang cukup serampangan untuk masuk ke kolong meja di sebuah toko dango, padahal ada beberapa laki-laki yang tengah duduk di dekat sana,” ujar Kei sarkastis. “dan ternyata itu adalah kau. Danna, tolong berikan beberapa dango untuk perempuan berbaju cheongsam ini. Dia sepertinya sangat kelaparan sampai-sampai bersembunyi di bawah meja.” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD