12. Airell Shou (3)

1375 Words
Chapter 12 : Airell Shou (3) ****** MATA Ai membulat sempurna. Kei memosisikan kepala Ai agar mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka. Saking kuatnya tenaga Kei yang memegang kepala sekaligus menarik sebelah tangan Ai ke atas, gadis itu pun jadi berjinjit. Sebenarnya, Kei tahu bahwa hal ini akan terjadi. Lebih tepatnya, Kei menyempatkan dirinya untuk datang ke rumah Gin di tengah misi penting Shinsengumi karena ia tahu bahwa Airell Shou akan bereaksi seperti ini. Jika ia datang lebih lambat, segalanya akan menjadi lebih rumit. Ai memberontak, mencoba untuk mendorong d**a Kei dengan sebelah tangannya yang bebas. Namun, tubuh Kei—yang jauh lebih besar darinya itu—terasa amat kuat dan keras; ia sama sekali tak mampu mendorong pria itu. Ai baru saja ingin menggigit bibir Kei tatkala tiba-tiba saja Kei melepaskan ciumannya. Begitu ciuman itu terlepas, Kei langsung menatap Ai dengan penuh intimidasi. Pria itu menempelkan keningnya dengan kening Ai, lalu memegang bagian belakang leher Ai dengan erat. Kedua mata mereka memiliki warna yang sangat kontras; mata milik Ai berwarna biru layaknya lautan…dan mata milik Kei berwarna merah gelap bak darah. Tatapan mata mereka lantas berserobok. Ai dapat merasakan napas hangat Kei yang menyentuh wajahnya, begitu pula sebaliknya. Tiga detik kemudian, Kei pun bersuara. Suaranya terdengar pelan, tetapi sangat tajam. “Kalau kau tidak ingin orang-orang di sekitarmu tahu apa yang terjadi padamu, datanglah ke Markas Shinsengumi malam ini. Aku akan memberitahumu segalanya.” Setelah itu, Kei pun melepaskan Ai…dan meninggalkan Ai begitu saja di sana. Begitu Kei menutup pintu kamar itu, tubuh Ai pun pun memerosot. Ai jatuh terduduk di lantai. Kak Eric, Gin, Shin… Kumohon tolong aku. ****** Ai duduk di bagian lengan ranjangnya, menghadap ke jendela kamar. Lampu kamar itu tidak ia hidupkan; ia hanya bergantung pada cahaya bulan yang masuk melalui jendela kamarnya yang terbuka separuh. Malam itu, Ai mengenakan sebuah piama yang panjang. Rambutnya digerai dan menutupi seluruh bagian lehernya. Ornamen rambutnya ia letakkan di atas meja rias. Ai tahu bahwa Kei menyuruhnya untuk datang ke Markas Shinsengumi malam ini. Pria itu bahkan mengancam akan memberitahu segalanya kepada orang-orang terdekat Ai apabila Ai tak menurutinya. Baik, Ai memang tak ingin orang-orang mengetahui masalahnya dengan Kei, tetapi bukankah hal itu berlaku juga untuk Kei? Kei pasti tak ingin orang-orang di sekitarnya tahu soal ini juga, ‘kan? Terutama, dia itu adalah seorang polisi! Dia adalah andalan Shinsengumi; dia adalah kapten dari divisi terkuat Shinsengumi. Kei adalah manusia yang paling terkenal dan paling ditakuti di Shinsengumi meskipun di atas pria itu masih ada Komandan dan Wakil Komandan Shinsengumi. Dia masih muda, tetapi posisinya sudah berada di bawah Wakil Komandan. Di luar jabatannya, dia adalah seorang pria yang sangat dihormati di Shinsengumi karena kekuatannya. Ai sering mendengar orang-orang berkata bahwa Kei Arashi adalah satu-satunya kandidat yang akan menggantikan posisi komandan Shinsengumi begitu Fudo Osuke dan wakil komandannya (Jun Kazuya) pensiun. Nyatanya, Kei Arashi jauh lebih kuat daripada Fudo Osuke dan Jun Kazuya. Pasukan divisi pertama juga merupakan pasukan yang terkuat dan terbanyak. Apabila kaptennya, si monster mengerikan itu, memutuskan untuk berkhianat, tamatlah riwayat Shinsengumi saat itu juga. Dengan reputasi yang seperti itu, tidak mungkin Kei Arashi akan mengungkapkan dosanya kepada publik. Bahwa dia telah berbuat jahat kepada seorang gadis biasa, anak angkat dari seorang pemilik bar di Edo. Bahwa dia telah memerkosa seorang gadis yang bernama Airell Shou. Maka dari itu, meskipun Ai tidak datang ke Markas Shinsengumi, pria itu pasti takkan memberitahu siapa pun tentang masalah mereka. Seharusnya begitu. Ai tak ingin melihat wajah pria itu. Ai tak ingin pergi ke Markas Shinsengumi. Iya. Ini adalah keputusan yang tepat. Lebih baik Ai memutuskan benang merah kusut yang mengikat mereka berdua. Lagi pula, sejak awal…benang merah itu tidak ada, bukan? Kei sendirilah yang menjalin benang itu. Tiba-tiba saja, Ai mendengar suara ketukan. Ai tersentak; alisnya kontan terangkat. Suara ketukan itu bukan berasal dari pintu, melainkan berasal dari jendela kamarnya yang terbuat dari kayu. Ai, yang tadinya sedang melamun karena memikirkan banyak hal, kini langsung memusatkan pandangannya ke jendela kamarnya yang terbuka separuh. Setelah melihat ke sana, mata Ai kontan membulat. Soalnya, di sana… …ada Eric. Eric Shou, kakak kandung Ai, tengah berdiri di luar seraya mengetuk jendela kamar Ai yang terbuka. Eric tersenyum manis kepada Ai. Melihat kedatangan Eric, entah mengapa seluruh rasa sedih Ai mulai meluap. Ia seolah-olah mendapatkan sebuah harapan, sebuah rasa lega yang tak dapat ia jelaskan. Ia ingin menghambur memeluk Eric, lalu menangis sepuasnya. Ia ingin menangis, mengadu, dan menceritakan segalanya kepada Eric. Dengan begitu, Eric pasti akan mengusap kepalanya, memeluknya, dan menenangkannya… Namun, ia tak bisa melakukan semua itu. Dengan mata yang berbinar—tetapi sedikit berkaca-kaca—itu, Ai pun berdiri. Ia langsung menyambut kakaknya itu dengan riang meskipun nyatanya ia hampir menangis. “Kakak!!” Seperti biasa, kedatangan Eric itu selalu tak terduga. Kalau saja…kalau saja Eric datangnya kemarin… …apa yang akan terjadi? Eric lantas masuk ke kamar Ai melalui jendela itu; ia melompati jendela itu dengan mudah. Malam itu, seperti biasa Eric mengenakan pakaian tradisional yang digunakan dalam seni bela diri Tiongkok; atasannya berwarna hitam dan lengannya hanya sebatas siku. Ia membalutkan perban di bagian lengannya—yang tidak tertutupi pakaian itu—dan perban itu mencapai jemari tangannya. Celananya berwarna abu-abu dan ia memakai sepatu bot berwarna hitam. Ada sebuah kain panjang (seperti selendang) berwarna putih keabuan yang melingkar di lehernya dan terlihat seperti jubah. Seperti halnya Ai, Eric juga memiliki mata biru, rambut vermillion, dan kulit yang putih. Namun, karena ia adalah seorang pria dewasa, tubuhnya dipenuhi dengan dengan otot-otot yang sangat kuat. Begitu kedua kaki Eric menapak lantai kamar Ai, pria itu pun memiringkan kepalanya dan berkata dengan nada yang bersahabat, “Halo, Sayang.” Jika biasanya Ai akan mengomeli kakaknya karena dipanggil seperti itu, malam ini Ai justru merasa lega saat mendengarnya. Ini Eric. Eric ada di sini. Mata Ai semakin berkaca-kaca. Gadis itu mewek dan langsung berlari ke arah kakaknya; dia menghambur memeluk kakaknya. Mata Eric membulat. Namun, karena tak ingin menyia-nyiakan pelukan adik kesayangannya itu, Eric pun langsung balas memeluk Ai. Pria itu bahkan meletakkan sebelah tangannya di tengkuk Ai, lalu menciumi puncak kepala adiknya itu dengan penuh kasih sayang. Dia mencium kepala Ai, telinga Ai, dan leher Ai…berkali-kali. Ciuman-ciuman kecil yang begitu lembut dan menenangkan. Eric memejamkan matanya; pria itu menghirup wangi tubuh Ai mulai dari leher…hingga ke bagian belakang telinga Ai. Ah, dia rindu sekali. Sementara itu, Ai menyandarkan keningnya pada d**a bidang Eric. Dahinya berkerut; pikirannya berkelana. Segala masalah mulai berkecamuk di dalam benaknya. Ia ingin sekali…menceritakan segalanya kepada Eric, terutama saat Eric ada di sini. Namun, ia tahu bahwa jika ia melakukannya, akan ada bencana besar yang terjadi saat itu juga. Kekuatan Kei dan Eric sama-sama besar. Mereka sama-sama monster. Sama-sama abnormal. Sama-sama sadis. Sama-sama sinting. Jika Kei berada di pihak Shinsengumi yang pada dasarnya merupakan pelindung masyarakat, Eric justru sebaliknya. Dia adalah eksistensi yang menjadi sumber ketakutan masyarakat. Dia adalah wujud dari mimpi buruk dan mara bahaya itu sendiri. Dia adalah pembunuh berantai nomor satu yang paling dicari oleh Shinsengumi. Tanpa adanya masalah tentang Ai pun, mereka berdua sudah berada di pihak yang berlawanan. Namun, bagaimana jika di antara mereka ada masalah berupa seorang perempuan yang bernama ‘Ai’? Ai langsung menggeleng. Tidak. Ini benar-benar berbahaya. Eric dan Kei adalah jenis manusia kuat yang dapat mengumpulkan ribuan orang untuk menjadi pasukan mereka dengan mudah. Hentikan, Ai. Hentikan. Ini gila. Betapa pun menderitanya dirimu, jangan pernah memberitahukan hal ini kepada Eric. Jangan sampai Kei juga mengetahui tentang Eric. Ai harus melindungi Eric juga, bukan? Eric harus tetap aman. Ai tak mau kehilangan Eric. Tanpa sadar, karena banyak sekali masalah yang berputar-putar di kepalanya, Ai pun mencengkeram bagian belakang baju Eric. Eric yang menyadari hal itu pun kontan membuka matanya, lalu melepaskan pelukan itu. Eric memegang kedua lengan Ai, lalu sedikit mendorong tubuh adiknya itu ke depan. Setelah itu, Eric memegang kedua pipi Ai dan membuat gadis itu mendongak. Eric memperhatikan wajah Ai dengan lekat. Ia sadar bahwa mata adiknya itu berkaca-kaca. Tatapannya begitu sendu. Ekspresinya terlihat seperti sedang menahan diri; menahan diri untuk tidak mengatakan apa pun meski hal itu menggerogoti pikirannya. Mata Eric kontan menatap Ai dengan sungguh-sungguh. Bola mata berwarna biru lautnya itu mendadak menggelap. Ia lalu bertanya dengan suara yang sungguh mengerikan, “Apa yang telah terjadi padamu?” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD