Chapter 13 :
Eric Shou (1)
******
MATA Ai membulat. Begitu Eric menanyakan itu padanya, jantungnya seakan-akan nyaris berhenti berdegup.
Wajahnya memucat.
Di kamar yang gelap itu, mata biru laut milik Eric terlihat begitu dingin. Eric tengah membelakangi sinar rembulan yang masuk melalui jendela kamar, tetapi meskipun begitu, mata biru lautnya seakan-akan memantulkan sinar itu hingga berkilat tajam. Sosoknya yang tinggi itu sukses mengungkung Ai dari atas.
Eric memegang pipi Ai demi membuat gadis itu mendongak. Tatapan mereka jadi berserobok; Ai tak bisa kabur atau memalingkan wajahnya. Akan tetapi, kontras dengan situasi yang dingin dan menegangkan itu, telapak tangan Eric terasa hangat di kedua pipi Ai.
Ai merasa tertekan, tetapi di sisi lain…ada kenyamanan yang familier.
Meskipun tubuhnya sempat mematung, sebenarnya Ai sempat merasa goyah saat memikirkan jawaban untuk Eric. Jauh di dalam hatinya, sebenarnya…ia ingin sekali mengatakan semuanya kepada Eric.
Tiba-tiba saja, jantung Ai berdegup kencang. Bibirnya bergetar. Ia takut ketahuan Eric, tetapi di sisi lain, ia juga menahan dirinya mati-matian untuk tidak mengadukan semuanya kepada Eric.
Akan tetapi, untungnya…rasa takutnya tetap menang.
Jika hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tentu ia akan mengadukan semuanya pada Eric. Itu akan menyelesaikan semua masalahnya lebih cepat. Meskipun keperawanannya takkan kembali, setidaknya ia bisa menumpahkan seluruh perasaan sedihnya saat ini. Selain itu, mungkin saja…ia akan mendapatkan keadilan atas segala musibah yang menimpanya.
Namun, sayangnya…semuanya tidak sesimpel itu.
Karena apa?
Karena Eric dan Kei bukanlah pria biasa. Eric adalah pembunuh bayaran yang paling ditakuti dan paling dicari oleh Shinsengumi, sementara Kei adalah salah satu petinggi Shinsengumi itu sendiri.
Kalau Ai mengadukan semuanya langsung pada Eric sekarang, Eric pasti akan mengamuk. Pria itu takkan peduli dengan kenyataan bahwa dia adalah kriminal yang paling dicari oleh Shinsengumi. Dia akan menampakkan dirinya secara terang-terangan meskipun nyawa adalah taruhannya. Oh, lupakan itu. Dia sebetulnya tak pernah merasa terancam dengan keberadaan Shinsengumi.
…karena dia memang sekuat itu. Manusia mana yang tak bisa Shinsengumi tangkap sampai bertahun-tahun selain Eric Shou?
Eric selama ini menyamarkan dirinya bukan karena takut tertangkap, melainkan karena baginya, melawan polisi tiap kali dia menjalankan misi tentulah akan merepotkan. Namun, jika ada polisi yang mencari masalah secara pribadi dengannya, contohnya seperti kasus Ai saat ini…
…dia pasti akan pergi ke Markas Shinsengumi tanpa peduli apa pun. Layaknya seekor binatang buas yang diganggu, dia akan menyerang balik dengan seluruh kekuatannya. Tentunya, dia akan memulai perang dengan Shinsengumi. Selain itu, bila kita ingat tentang betapa gilanya kekuatan Eric dan Kei, tak menutup kemungkinan bahwa hasil dari peperangan itu akan meluluhlantakkan Edo. Manusia-manusia kuat seperti Eric dan Kei tentu mampu mengajak ribuan manusia untuk menjadi pasukan mereka. Kekuatan adalah kunci utama agar orang-orang mau mengikutimu.
Kini, Ai merasa terjebak di antara dua pria yang terkuat di Edo. Gadis itu bahkan tak yakin kalau ada pria lain yang mampu menandingi kekuatan mereka di luar Edo sana. Dia terperangkap di tengah-tengah mereka sehingga banyak sekali hal yang harus dia pikirkan sebelum bertindak. Banyak sekali hal yang harus ia tahan, termasuk egonya sendiri.
Pada akhirnya, dia tak bisa mengadukan semuanya pada Eric. Dia tak mau peperangan itu terjadi. Oh, jangankan peperangan, ia bahkan tak mau Shinsengumi tahu bagaimana wajah Eric. Dia ingin Eric tetap aman; dia ingin semua keadaan di sekitarnya tetap sama seperti sekarang. Dia tak mau ada yang hilang, hancur, sakit, atau apa pun itu.
Jadi, apabila dia berpikir lebih matang atau lebih jauh ke depan, diam adalah keputusan yang terbaik. Dia harus menahan egonya. Menahan kesedihannya. Menahan penderitaannya.
Demi Eric, demi Gin dan orang-orang baik di sekitarnya, serta…demi keamanan jangka panjangnya.
Oleh karena itu, Ai pun membulatkan keputusannya. Tangannya terkepal. Meskipun dadanya terasa sesak—karena ingin menangis—ia tetap menahan semuanya dan meyakinkan dirinya sendiri.
Mencoba untuk tetap kuat…meski hatinya hancur berkeping-keping. Mencoba untuk menyimpan semuanya sendirian…meski tubuhnya mau ambruk ke lantai karena tak kuat menahan sakitnya.
Pelan-pelan, Ai pun mengusap matanya. Ia tak mau air matanya sampai menetes. Ia menarik napas, lalu mengeluarkannya perlahan. Setelah itu, ia mulai memegang kedua lengan Eric dan tersenyum lembut kepada pria itu.
“Tidak ada, Kak. Tidak terjadi apa-apa.”
Seluruh tingkah Ai itu justru membuat Eric mengernyitkan dahi. Tatapan mata pria itu terasa semakin dingin dan menekan. “Matamu berkaca-kaca, Sayang. Jangan coba bohongi aku.”
Deg.
Napas Ai tersekat di tenggorokan saat mendengar jawaban itu.
Benar. Eric adalah kakak kandungnya; Eric sudah ada di sampingnya sejak kecil. Mereka hafal dengan watak satu sama lain. Ai tak bisa membohongi Eric.
Namun, kali ini…ia harus berbohong. Ia harus berakting. Ia tak bisa berterus terang.
“Tidak, Kak, tidak.” Ai menggeleng. Ia lalu tersenyum manis. Matanya melengkung seolah-olah ikut tersenyum. “Aku tidak membohongi Kakak. Aku kesepian akhir-akhir ini, jadi aku merasa sedih. Makanya, saat aku melihat Kakak, aku hampir menangis. Aku—aku hanya rindu pada Kakak.”
Mata Eric melebar. Pria itu terdiam sejenak; dia sedang mencerna jawaban Ai barusan. Ada binar yang sempat muncul di matanya.
“Ini pertama kalinya kau berterus terang kalau kau merindukanku,” ujar Eric. Matanya agak menyipit. “Biasanya, kau hanya akan memelukku, lalu tetap menutupinya dengan mengomeliku. Apa kau yakin tidak terjadi sesuatu padamu?”
Tiba-tiba, Ai jadi merasa kesal. Dia berdecak. “Kakak mau mengejekku, ya?”
“Bukan mengejekmu, Sayang,” ujar Eric. Dia mengusap pipi Ai dengan jempolnya, lalu menatap Ai dengan ragu. Dahinya agak berkerut. “Kita baru saja bertemu kemarin, ingat? Tumben sekali kau sudah rindu padaku.”
Ai melepaskan kedua tangan Eric, lalu kembali berdecak kesal. “Jadi, aku tidak boleh kangen sama Kakak, nih, kalau baru satu hari?!!”
Mata Eric melebar. Pria itu terdiam.
Dua detik kemudian, dia pun tertawa kecil. Ditatapnya Ai dengan penuh kasih sayang.
Ah, Sayangku marah.
Imutnya.
Tak butuh waktu lama, Eric pun mulai mendekati Ai. Mata Ai melebar ketika tiba-tiba Eric memeluk pinggangnya dan menempelkan kening mereka. Napas Eric yang hangat itu menerpa permukaan wajahnya.
“Bukan tidak boleh, Cinta,” bisik Eric. Suaranya terdengar begitu seksi. “Hanya tak biasa terjadi. Itu saja.”
Eric tersenyum miring, lalu mulai menciumi hidung, pipi, dan kedua mata Ai. Ciumannya begitu lembut, tetapi sensual. Ia lalu berbisik, “Namun, kalau benar begitu…aku senang mendengarnya.”
Namun, sebelum Ai sempat merespons seluruh tindakan intim itu, tiba-tiba saja…
…Eric mencium bibirnya.
Mata Ai membeliak. Bibir Eric yang basah dan lembut itu mencium bibirnya. Melumat bibirnya.
Ini jelas-jelas bukan hal yang biasa dilakukan oleh saudara kandung. Namun, sebenarnya…Eric sudah sering mencium Ai seperti ini. Semakin besar, Ai semakin sadar kalau Eric tidak melihatnya sebagai seorang adik.
Eric selalu memperlakukannya seperti…
…seorang kekasih… []