14. Eric Shou (2)

1319 Words
Chapter 14 : Eric Shou (2) ****** TIAP kali Eric bersikap ‘di luar batas’, terutama mencium bibirnya seperti ini, sebenarnya Ai selalu protes. Namun, tahulah bagaimana sifat Eric. Saat mendengar protes atau omelan dari Ai, pria itu hanya akan tersenyum manis, menjawab dengan ‘polos’, lalu lanjut menciumi Ai. Itu menyebalkan. Agaknya, kali ini pun, Ai akan melakukan hal yang sama. Jadi, dengan mengumpulkan seluruh tenaganya, Ai pun berhasil memegang pipi Eric dan menjauhkan wajah Eric darinya. Gadis itu lalu mengernyitkan dahi dan menatap Eric dengan kesal. “Kak! Aku ini adikmu! Tidak boleh mencium—” Belum sempat Ai menyelesaikan kalimatnya, Eric sudah kembali menciumnya. Namun, kali ini, ciuman Eric terasa semakin dalam. Semakin panas. Semakin intim. Eric memegang bagian belakang kepala Ai agar gadis itu tak bisa melepaskan ciuman mereka. “Hmmh—” Ai tak sengaja mengerang saat Eric menggigit bibirnya. Erangan itu membuat Eric jadi semakin bersemangat. Gairahnya meluap. Ia langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut Ai dan melilit lidah Ai bersamanya. Pipi Ai merona. Gadis itu refleks mencengkeram pakaian kakaknya di bagian d**a; jantungnya berdegup kencang. Ia sadar bahwa tubuh kakaknya jauh lebih besar darinya dan ia tak bisa bebas. Tiba-tiba, Eric mulai menggendong tubuh Ai dengan sebelah tangannya. Mata Ai spontan membulat—tangannya refleks memeluk leher Eric, sementara kakinya spontan melingkar di pinggang Eric—tetapi agaknya, Eric masih fokus menciumnya. Ciuman itu terasa begitu nikmat. Memabukkan. Sebelah tangan Eric berada di b****g Ai untuk menopang tubuh gadis itu, sementara sebelahnya lagi tetap berada di belakang kepala Ai agar ciuman mereka tak terlepas. Oh, Ai adalah candu bagi Eric. Ai mencengkeram selendang yang melingkar di leher Eric. Dahi gadis itu berkerut; tanpa sengaja, ia mengeluarkan suara “Hngg!” berkali-kali saat Eric mengisap lidahnya. Ini…gila. Ia berciuman panas dengan kakaknya sendiri. Saat napasnya terasa nyaris habis, ia spontan mendorong bahu Eric dengan sekuat tenaga agar ciuman itu terlepas. Sambil terengah-engah, dengan bibir yang basah akibat bertukar saliva dengan Eric, ia pun berkata, “K—Kak—” Ai belum sempat meneruskan perkataannya tatkala ia melihat… …Eric menatapnya dengan penuh cinta. “Aku juga merindukanmu, Sayang,” jawab Eric seraya tersenyum manis. “Itulah sebabnya aku datang lagi hari ini.” Ai menggeleng, masih terengah-engah. “Kak, kita tidak boleh berciuman—” Mata Eric mendadak terbuka lebar, membulat dengan polosnya. Pria itu lalu memiringkan kepalanya. “Hmm? Mengapa aku tak boleh mencium kekasihku?” ‘Aku ini adikmu, bodoh! Bukan kekasihmu!!’ teriak Ai dalam hati. Astaga. Dasar gila. Ai benar-benar tak habis pikir. Akan tetapi, Ai tahu satu hal: kalau dia protes lebih daripada ini, niscaya Eric akan tersenyum manis—senyum mematikan andalan pria itu—dan berkata, ‘Siapa yang membuat aturan itu? Beritahu aku di mana dia berada.’ Ai langsung bergidik ngeri. Kakaknya memang sudah tidak waras. Tanpa banyak bicara, Eric pun kembali mencium bibir Ai. Kali ini, sambil menggendong Ai, pria itu mulai melangkah ke ranjang. Begitu naik ke ranjang, ia pun membaringkan Ai di sana. Mengurung Ai bawah tubuh kekarnya. Ia melakukan semua itu sambil berciuman dengan Ai. Setelah Ai tertindih di bawahnya, ia pun mulai meraba tubuh Ai. Mengelus perut, pinggang…hingga turun ke pinggul dan paha gadis itu. Ia membelai…lalu meremas tubuh adiknya dengan mesra. Berkali-kali. Tangan besar Eric itu mulai naik ke atas. Dengan gerakan yang pelan dan sensual, ia mulai meraba area tulang rusuk Ai…hingga akhirnya sampai di p******a gadis itu. Ia lantas meremas p******a itu dengan penuh gairah. Merasakan betapa lembutnya gundukan daging yang bulat itu. Oh, dia bisa hilang akal. Ia sudah lama tergila-gila dengan Ai. Cinta yang ia punya sudah sangat dalam dan mendarah daging. Baginya, Ai adalah adiknya, pasangan sehidup sematinya, takdirnya, dan belahan jiwanya. Baginya, sejak dahulu sampai mereka mati nanti, mereka takkan bisa dipisahkan. Baginya, mereka memang diciptakan untuk menemani satu sama lain. Ia sudah melihat adiknya dari kecil. Menyaksikan pertumbuhan adiknya. Mereka selalu bersama, selalu berdua. Dahulu, ia sering memandikan adiknya, sering memakaikan pakaian adiknya, sering bergandengan tangan dengan adiknya, dan sering tidur berdua sambil berpelukan dengan adiknya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, semakin lama…adik tercintanya itu tumbuh semakin besar. Semakin dewasa. Wajahnya yang sejak kecil sudah cantik itu jadi semakin cantik. Tubuhnya jadi sintal. Buah dadanya, bokongnya, pinggulnya, pahanya…semuanya sempurna. Kulitnya yang seputih salju itu terasa sangat lembut. Kenyal. Mulus. Saat b******u dengan adiknya seperti ini, Eric kembali sadar—untuk yang kesekian kalinya—bahwa Ai adalah satu-satunya gadis yang bisa membuatnya mabuk kepayang. Satu-satunya gadis yang ia cintai. Satu-satunya gadis yang mampu membuatnya hilang akal. Satu-satunya gadis yang bisa membuatnya berahi. Satu-satunya gadis yang mampu membuatnya melakukan apa pun, termasuk menyerahkan nyawanya atau membakar dunia. Sial. Dia benar-benar terangsang. Meraba tubuh Ai—meski gadis itu masih mengenakan pakaian—tentu adalah ujian tersulit baginya. Cinta, pengabdian, gairah, nafsu, semuanya bercampur menjadi satu. Payudara Ai itu sangat lembut. Bulat. Indah. Pas di tangannya yang besar. Perut gadis itu juga terasa lembut. Pinggangnya ramping. Pinggul, b****g, dan pahanya juga berisi. Ai begitu menggiurkan. Memikat. Semuanya sukses membuat Eric menggeram. Kejantanannya mulai mengeras. Suhu tubuh adiknya—yang terasa hangat saat ia tindih itu—juga sangat…mengundang. Ia ingin menikmati kehangatan itu. Kenyamanan itu. Ia ingin tenggelam di dalam adiksinya. Ia ingin merasa sesak di dalam udara yang penuh dengan cinta ini. “Oh, Sayang. Cantik sekali,” bisik Eric di depan wajah Ai yang memerah. Eric mengerang, lalu melanjutkan, “Kau tumbuh dan mekar seperti bunga.” “Kak, sudah, hentikan,” bisik Ai seraya memegang d**a Eric. “Apa kau sudah lupa kalau aku ini adik kandungmu?” Tak memedulikan ucapan Ai, Eric justru melanjutkan kegiatannya. Dia menciumi rahang Ai…lalu telinga Ai. Ciumannya lembut, tetapi sensual dan penuh hasrat. Sambil mencium Ai, dia berbicara dengan lirih. “Aku telah melihatmu tumbuh dari sebuah kuncup kecil...hingga kini menjadi bunga yang paling indah.” “Ah!” Tanpa sadar, Ai mendesah saat Eric mengigit telinganya. Eric lalu turun ke bawah dan mulai menciumi p******a Ai dari luar piama gadis itu. “Hmmh…” desah Eric ketika menciumi p******a Ai. Oh, dia membayangkan betapa nikmatnya p******a itu jika ia isap tanpa penghalang. “Lembut sekali, Sayang…” Dia sudah lama membayangkan dirinya mencumbu Ai tanpa penghalang, menyatakan cinta ratusan kali, dan bersanggama dengan Ai hingga Ai tak bisa berjalan. Menyaksikan gadis yang dia cintai dari kecil hingga dewasa, menyaksikan gadis kecil yang cantik dan imut itu tumbuh besar dengan sempurna…sudah sanggup membuatnya sesat akal. Dia selalu menganggap bahwa Ai adalah takdirnya. Mereka sudah bersama sejak kecil, jadi siapa lagi yang pantas untuk Ai selain dirinya? Eric hidup dalam kekerasan, darah, pertarungan, langit gelap, trauma, dan pembunuhan. Namun, di tengah semua itu? Ada Ai. Adik perempuannya yang cantik, ceria, berani, dan menggemaskan. Ai adalah satu-satunya hal murni yang pernah dia miliki. So of course he clings to her like a lifeline. Jika Ai menangis, dia akan hancur. Jika Ai menolaknya, dia akan menjadi gila. Jika Ai menyentuhnya dengan lembut, dia akan meleleh. Jika Ai memanggil ‘Kak’, dia akan bergetar. Ai benar-benar merupakan satu-satunya orang yang bisa memengaruhi perasaannya. Selama-lamanya. Sepanjang hidupnya. Dia seolah-olah tersihir. Ai memegang seluruh hatinya di tangan lentik gadis itu. Baginya, Ai adalah rumahnya. Kenyamanan. Kehangatan. Perasaan manusiawinya satu-satunya. Alasan hidupnya. Segalanya. Tidak ada yang boleh mengambil Ai darinya. “Hnggh! K—Kak!” teriak Ai saat Eric meremas kedua payudaranya dengan kencang. Ia mendongak dan memejamkan matanya; dahinya berkerut. Eric mulai naik ke atas lagi, berencana untuk mencium leher Ai. Namun, saat dia mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Ai, …tiba-tiba dia terdiam. Untuk sesaat, dia berhenti mencumbu Ai. Akan tetapi, tiga detik kemudian, dia kembali tersenyum manis. Dia mulai mengangkat wajahnya dari ceruk leher Ai, lalu mencium bibir Ai singkat. Setelah itu, dia pun menempelkan keningnya dengan kening Ai. “Aku sangat mencintaimu, Sayang,” bisik Eric seraya mengusap pipi Ai. Tatapannya penuh akan damba dan kasih sayang yang tak terukur. “Aku tak bisa hidup tanpamu.” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD