Setelah memperdebatkan tempat yang akan mereka kunjungi, akhirnya Anna dan Rakha memilih restauran sebagai tempat pilihan. Restauran dengan menu utama makanan ke barat-baratan seperti yang diminta oleh seorang perempuan tak kenal penolakan seperti Anna Lee.
“Kau tidak ingat sesuatu?” tanya Anna ketika baru saja turun dari mobil Rakha, kemudian menghampiri Rakha yang sudah berjalan lebih dulu dari dirinya.
“Tidak.”
“Serius? Kau tidak lupa dengan sesuatu?”
“Tidak,” jawab Rakha masih dengan jawaban yang sama.
Anna yang kini sudah berjalan bersampingan dengan Rakha, mendengus napasnya secara kasar. Jangan tanyakan bagaimana ekspresi wajahnya sekarang, yang pasti ekspresinya terlihat sangat dan sangat penuh kekesalan.
“Kau ini memang laki-laki aneh.”
“Iya.”
“Kau terima dibilang aneh?”
“Memangnya apa lagi?”
“Kau!” Anna semakin kesal, namun kekesalan itu harus tetap ia tahan, setidaknya sampai duduk di meja yang akan mereka pilih nanti.
Tidak mau melanjutkan, Anna memilih diam kemudian mengikuti langkah Rakha yang sengaja ia biarkan lebih depan. Sepertinya, manusia semacam Rakha ini memang tidak cocok jika dilawan dengan sikapnya yang seperti biasa, Anna harus mengeluarkan sabar juga energi yang lebih ekstra lagi.
Benar-benar sangat disayangkan. Tubuhnya sempurna, wajahnya sudah jangan ditanya, tapi sikapnya seperti akan membuat seorang Anna menjadi gila.
“Kau pernah berpacaran atau memiliki orang dekat?” tanya Anna. wanita yang memakai dress biru tua dengan panjang selutut itu mendudukkan tubuhnya di samping Rakha. Tepat di samping, bahkan posisinya sangat dekat hingga baju keduanya bisa bersentuhan.
Alih-alih menjawab, Rakha malah mengambil buku menu di meja, kemudian mulai memilih-milih menu makanan yang akan ia pesan sekarang. Demi apa pun, kalau saja mamanya tidak memaksa, kalau saja mamanya tidak mengancam dengan membawa masalah kesehatan, rakha tidak akan pernah mau melakukan hal-hal merepotkan seperti ini. Di mana ia harus berubah menjadi orang yang jauh berbeda dari dirinya sendiri, harus menahan kesal, harus berkali-kali merasa aneh dan bingung dengan lawan bicaranya. Dan yang paling parah, Rakha harus merelakan jam-jam berharganya hanya untuk pergi bersama wanita aneh seperti Anna.
“Rakha, kamu harus buang sikap dingin kamu ketika bersama Anna.”
“Rakha, kamu harus peka terhadap Anna nantinya, jangan sampai dia merasa kesal.”
“Rakha, kamu harus benar-benar nunjukin kalau kamu tertarik sama dia.”
“Rakha, anak Mama yang udah dewasa, jangan sampai kamu ngecewain mama, ya?”
Perkataan mamanya masih terngiang sangat jelas di telinga, bahkan sampai detik ini juga Rakha masih sibuk mempertanyakan kata demi kata itu. membuang sikap dinginnya? Apakah itu mungkin? Rakha merasa bahwa hal itu sangat tidak mungkin. Bukan, bukannya ia tidak mau berusaha, namun wanita seperti Anna akan semakin menjadi jika saja ia bersikap hangat, baik, ataupun lembut seperti apa yang dikatakan oleh mamanya.
Harus peka? Maksudnya bagaimana? Rakha tidak tahu arti kata peka bagi Anna itu seperti apa, karena persepsi kepekaan juga sikap peka itu setiap orangnya akan sangat berbeda. Bisa saja Anna berbicara kalau dia haus, namun Rakha berpikir kalau wanita itu masih bisa mengambil minuman dengan tangannya sendiri.
Harus menunjukan kalau dia benar-benar tertarik dengan wanita itu? astaga… sevenarnya apa yang ada dalam pikiran mamanya itu?
Kata orang, cinta memang tak kenal waktu, tak terduga datangnya, juga akan buta dengan apa yang dilihatnya. Tetapi, tidak seperti ini juga. Pertemuan mereka masih baru terhitung sebanyak dua kali, dan di pertemuan pertama, Rakha benar-benar sudah merasa kalau ia tidak akan pernah tertarik dengan sosok bernama Anna itu.
Lagi pula, Rakha sudah berjanji dengan dirinya sendiri. Janji yang terucap lewat kata, yang dirasakan sepenuh rasa. Bahwa ia… tidak akan pernah mau jatuh cinta lagi. Kapan pun, dengan siapa pun, dan bagaimana pun alasannya.
***
“Kau lambat sekali makannya,” ucap Anna sembari memperhatikan cara makan Rakha yang kelewat lambat, bahkan makanan dirinya pun sudah habis tak tersisa. Dan Anna sediri, memesan sebanyak tiga porsi makanan.
Tidak mendapat jawaban, Anna mendengus gusar kemudian menopang dagunya dengan tangan. “Kenapa kau sangat tampan?”
Masih tidak ada balasan dari Rakha, membuat Anna lagi-lagi menghela napasnya gusar. “Kau banyak diam, padahal bicara tak perlu bayar.”
“Kau juga banyak bicara, padahal diam lebih mengesankan,” balas Rakha, ketika laki-laki itu baru saja selesai menghabisi makanannya.
Hey! Apa-apaan?! Maksud dari diam lebih mngesankan itu apa?
“Untuk apa diciptakan mulut jika tidak dipakai untuk berbicara?” balas Anna, tak mau kalah.
Rakha kembali diam.
“Bukannya mulut berfungsi untuk mengeluarkan suara?”
Menghela napas pelan, Rakha menatap wajah Anna dengan serius. Memang benar dan akan selalu menjadi kenyataan, biarpun mama, papa, ataupun orang lain berusaha keras mencocokannya dengan wanita itu, Rakha rasa sampai kapan pun keduanya tak akan pernah cocok.
Seperti lagu yang mengatakan, bahwa keduanya memang bagaikan langit dan bumi. Sangat dan sangat jauh berbeda.
“Mulut memang diciptakan dan berfungsi untuk mengeluarkan suara, tapi di samping itu, ada otak yang harus mengolah setiap kata yang terucap. Ucapkan kata seperlunya saja, jika terlalu banyak bicara, saya rasa itu bukan fungsi mulut yang sebenarnya.”
Gila! Anna dibuat geleng-geleng kepala di tempatnya. Tatapan kagum juga mulut yang sedikit terbuka, menandakan bahwa wanita itu benar-benar tidak menyangka dengan apa yang didengarnya. Memang terdengar berlebihan, namun kata-kata itu memang terdengar sangat mengagumkan.
Ah, ternyata seperti ini rasanya mengagumi seseorang. Di mana apa pun yang diberikan, diperlihatkan, ditunjukan bahkan di ucapkan oleh orang yang membuatnya kagum itu, semuanya akan menjadi luar biasa dan mengagumkan.
Sikapnya memang jauh sangat berbeda dengan dirinya, namun Anna benar-benar sangat tertantang dengan hal itu. bagaimanapun, ia harus tetap memilikinya.
‘barang bagus, jangan disia-siakan.’ Ujarnya dalam hati.
“Selain tampan, ternyata kau juga mengagumkan,” ucap Anna, dengan bibir yang membentuk senyum penuh makna.
“Biasa saja,” jawab Rakha seadanya.
“Kau luar biasa.”
“Kau tidak.”
Terkekeh, entah kenapa Anna merasa sedikit lucu mendengar ucapan Rakha barusan. “Iya, Okay, it’s fine. Biarpun aku biasa saja, kuyakin suatu saat kau pasti akan terpesona.”
Anna mengubah posisi, menjadi kembali menghadap ke arah rakha yang kini tengah berkutat dengan ponselnya. “Kau tau, di Amerika, aku seorang primadona yang membuat banyak laki-laki terpesona. Dari jutaan laki-laki di dunia, baru kali ini aku mendengar ada seorang laki-laki yang mengatakan bahwa aku biasa saja. Aku heran, meskipun kau memiliki sikap dingin seperti ini, harusnya, setidaknya kau mengatakan bahwa aku cantik dan mampu membuatmu tertarik.” Anna berdeham, jarinya menopang dagu seperti tengah memikirkan sesuatu. Matanya masih fokus dengan laki-laki berpakaian formal itu. “Atau jangan-jangan, kau hanya suka dengan sesama jenis?”
Kalimat akhir dari seorang Anna mampu membuat Rakha menoleh seketika, dengan mata yang terlihat seperti akan keluar dari tempatnya. Apa-apaan? Wanita itu benar-benar tak bisa menjaga ucapannya.
Rakha kesal, bahkan merasa marah dengan ucapan itu. namun, bagaimana pun ia harus tetap terlihat biasa saja, dan seolah tak merasakan apa-apa. Santai, tenang dan jangan sampai menunjukan sisi gelapnya. Wanita itu akan terkejut, dan kemungkinan akan berakhir dengan mengadukan semua ini kepada mamanya. Rakha tidak mau jika sampai hal yang ia pikirkan barusan, itu bisa terjadi. Tidak, jangan sampai.
Setelah cuku lama terdiam, akhirnya Rakha menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya secara perlahan. Sekeras batu karang di tepian laut sana, ia berusaha meredam rasa kesalnya. Bahkan sejak ia bertemu dengan wanita gila itu. “Biarpun saya penikmat sesama jenis sekalipun, kau tidak pernah ada hak untuk ikut campur. Jadi, diamlah, sebelum saya tinggalkan sendirian di tempat ini.”