Jodoh itu cerminan diri. Tapi, kalau dapatnya yang lebih, sangat patut untuk disyukuri.
Setelah merasa kesal bukan main akibat ulah Toto yang menjengkelkan hatinya, akhirnya Anna dapat tersenyum lebar sebab orang yang ia tunggu kedatangannya sudah datang meski dengan tampang memprihatinkan. Ia tidak tahu apa yang membuat Rakha manyun tak jelas seperti sekarang, yang pasti, sejak datang menemuinya di rumah sakit tadi, brondong itu tak sekalipun menampilkan senyum indah di hadapannya.
Hey?! Wanita secantik Anna harusnya selalu disuguhi senyum indah menawan, bukan bibir manyun ke depan yang amat sangat menggoda seperti ini!
“Kita mau ke mana?” ucap Anna memecah keheningan di dalam mobil.
Setelah berpamitan kepada Mom-nya, Anna dan Rakha langsung pergi untuk menjalankan acara kencan pertama. Misi pertama yang harus mereka lakukan guna untuk saling mengenal satu sama lain. Misi yang harus terlewat, jika memang salah sati di antara mereka ada yang ingin menolak acara perjodohan itu.
Sudah sangat jelas, meski baru bertemu sebanyak dua kali dengan sekarang, Anna menegaskan kalau ia tidak akan pernah mau menolak perjodohan menguntungkan itu. ia sudah jatuh cinta, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada sosok jangkung dengan rupa yang sangat mendukung itu.
Ayolah, meskipun di Amerika ia sudah menemukan berbagai macam laki-laki dari wajah tampan sampai wajah standaran, dari sikap baik hingga sikap b******n, dari yang kecil hingga yang besar, namun baru kali ini ia merasa bisa semantap dan seyakin ini. Ah, tidak, jangan terlalu serius, maksudnya, Anna juga akan ikut alur yang telah direncanakan oleh Mom dan mamanya Rakha. Jika cocok, mereka akan lanjut, dan jika tidak cocok, Anna akan terus mencobanya agar menjadi cocok.
Terkadang, ketika kita ingin mewujudkan keinginan, kita diharuskan untuk sedikit memaksa dengan cara yang gila.
“Terserah,” jawab Rakha yang tengah sibuk mengemudikan mobilnya.
Jangan kalian pikir, pertemuan kedua mereka ini akan canggung dan diam-diaman seperti dua remaja yang baru saja dipertemukan. Keduanya sudah sama-sama dewasa, jadi, sudah tahu bagaimana caranya untuk bertingkah.
Anna bertanya, Rakha menjawab. Rakha diam saja, Anna terus berceloteh. Rakha tidak menjawab, Anna merengek meminta jawaban.
Sudah bisa dibayangkan bagaimana kesalnya seorang Rakha Alexi sekarang?
Dan sudah bisa dibayangkan bagaimana kesalnya seorang Anna yang notabene-nya periang dan banyak bicara, kini dihadapkan dengan manusia dengan sikap sedingin es kutub utara?
Jika dibayangkan, maka akan semakin membuat penasaran.
“Bagaimana kalau kita pergi makan? Kau lapar?”
Rakha menggeleng sebagai jawaban kalau ia tidak merasa lapar.
Melihat itu, Anna kembali berpikir untuk mencari tempat yang sekiranya cocok untuk mereka datangi. “Bagaimana kalau kita pergi ke pusat perbelanjaan, shoping, atau apa pun bisa kita lakukan di sana. Bagaimana? Kau setuju?”
Lagi, seperti tak memiliki minat sedikitpun, Rakha menggelengkan kepalanya dengan pelan. Bahkan bibirnya masih sama, sedikit maju ke depan. Bibir manyun yang katanya sangat seksi itu disempurnakan dengan tatapan tajam juga raut wajah yang benar-benar tak bersahabat.
Bukannya takut, Anna malah semakin deg-degan. Bahkan ludahnya terasa sangat susah untuk lenyap dalam tenggorokan.
Ini tidak baik, harusnya, setidaknya untuk sekarang Anna jangan dulu memperlihatkan semua sikap gilanya. Untuk menarik perhatian seseorang, terkadang kita membutuhkan sedikit drama dan sandiwara, bukan? Sepertinya, Anna juga harus melakukan hal itu sekarang.
Tenang, buat dia tertarik, terikat, baru ia bisa bertindak.
“Kau lebih suka berkencan di luar, atau langsung di dalam ruangan? Atau langsung menyewa kamar seperti hotel atau apartemen?”
Percayalah, Anna tidak berniat untuk mengatakan hal seprontal itu—ah, tidak, jika di Amerika, pertanyaan atau ajakan seperti itu sudah biasa di dengar meski bagi orang-orang yang beru mengenal sekalipun, namun Anna lupa jika ia berada di negara yang masih tabu akan hal itu. apalagi dengan orang yang tengah sibuk mengemudia di sampingnya itu. ucapannya pasti terdengar sangat tidak sopan.
“Tidak dua-duanya.” Rakha bersuara tanpa menoleh sedikitpun kepada Anna.
“Terus kau suka apa?”
“Diam saja.”
Anna sedikit tercengang, namun terkekeh beberapa saat setelahnya. “Ah, kau aneh, tapi lucu. Aku suka.”
“Saya yang tidak suka.”
To the point sekali! Sepertinya, Rakha ini belum tahu siapa Anna sebenarnya.
“Tenang saja, akan kubuat kau suka kepadaku. Bahkan, jika perlu, kau akan bertekuk lutut di bawahku.”
“Tidak akan.”
Benar-benar menantang! Anna tidak tahu dari mana Mom-nya bisa menemukan laki-laki semacam Rakha, laki-laki minim ekspresi yang untuk bicara saja sepertinya tak memiliki selera. Anna tidak tahu, atas dasar apa Mom dan Dad-nya menjodohkannya dengan laki-laki macam Rakha yang bahkan umurnya saja jauh lebih muda lima tahun dari dirinya. Terdengar sangat gila, bukan? Tapi Anna menyukainya.
Katanya, dia adalah teman masa kecil Anna. ah, tidak, lebih tepatnya teman jauh yang memang sempat bertemu di masa dahulu. Katanya juga, mama Rakha maupun Mom-nya sengaja menjodohkan mereka bukan karena perjanjian masa lalu, bukan karena amanat nenek moyang apalagi karena terlilit hutang, bukan. Alasan perjodohan itu karena Rakha dan ia sendiri yang memang belum menemukan yang pas untuk dijadikan pasangan masing-masing. Jadi, berhubung keduanya memiliki problem yang sama, mereka memilih untuk menjodohkannya saja.
Sebenarnya bukan karena belum menemukan pasangan yang pas, Anna sudah menemukan berbagai macam laki-laki. Yang serius atau yang hanya untuk main-main saja. Namun, sebanyak laki-laki yang berusaha mendekati bahkan berniat serius dengannya, Anna memang belum memiliki niat untuk serius. Untuk apa serius kalau ia masih bisa untuk bersenang-senang? Kebebasan itu sesuatu yang sangat sulit untuk didapatkan, jadi, Anna memilih untuk tetap menikmati hidupnya sendirian.
Sampai prinsipnya terpatahkan begitu saja ketika ia bertatap muka langsung dengan Rakha Alexi. Laki-laki yang sudah ia pastikan akan menjadi suaminya sesegera mungkin. Anna tidak tahu betul apa yang membuatnya bisa tertarik kepada Rakha dengan waktu sesingkat itu. di luaran sana, masih banyak laki-laki yang lebih tampan juga lebih seksi dari Rakha, namun … entahlah. Feelingnya mengatakan kalau Rakha harus benar-benar ia dapatkan sesegera mungkin. Biarpun laki-laki itu kemungkinan akan menolak perjodohannya, akan Anna pastikan bahwa tidak akan pernah ada kata batal.
Laki-laki itu memiliki pesona yang gila-gilaan.
“Kita lihat saja nanti,” ucap Anna setelah cukup lama terdiam.
Medengar hal itu, Rakha menghela napasnya pelan. Sedikit kesal dengan tingkah perempuan yang ada di sampingnya itu. sudah dapat disimpulkan bagaimana sikapnya? Sudah dapat disimpulkan apakah dia cocok atau tidak dengan dirinya yang pendiam seperti ini?
Sikapnya terlalu petakilan, ucapannya terlalu prontal. Meski dia lebih tua darinya, harusnya dia tahu etika berbicara dengan orang yang masih bisa dibilang orang asing seperti keduanya.