bc

Just YOU

book_age16+
918
FOLLOW
4.3K
READ
family
fated
arrogant
badboy
CEO
comedy
sweet
no-couple
campus
enimies to lovers
like
intro-logo
Blurb

Nara bagaikan burung pipit yang cacat. Sebelah sayapnya tidak lagi bisa ia gerakan, meski bisa.. Ia takut terluka dan menjadi cacat selamanya. Untuk itu, dia tidak ingin mencoba dan memilih berdiam diri dalam zona nyamannya.

***

"Cowok sampah! Lo dan species jenis lo, bener-bener bikin gue jijik!" setelah mengatakan itu, Nara berbalik dengan cepat Jovan menahan tangan nya.

"Gue_" ucapnya terputus saat Nara dengan rasa sakitnya menamparnya kuat. Jovan Mengusap sudut bibirnya yang sedikit robek, tamparan Nara benar-benar dahsyat. Kekuatan seseorang yang tengah sakit hati memang sangat kuat.

Ah, Jovan benar-benar telah membangunkan singa dalam diri Nara mengaum marah.

"Gue benci kalian!"

R_Quella ™ JANUARI

chap-preview
Free preview
Nara Sidzkia
Luka emosional sering kali membuat seseorang terpuruk dan takut melanjutkan hidupnya. *** Terlihat seseorang tengah berdecih seraya menggigit buah apel di tangan kirinya. Ia merasa jengah dengan pemberitaan maraknya p*********n juga tindak kekerasan rumah tangga dalam suatu program televisi yang ia saksikan. Tanganya bergerak mengambil remote dan memencet tombol power.  Semua itu membuatnya muak. Ralat. Lebih tepatnya, Semua hal berbau laki-laki membuatnya muak. Terkecuali Orang tuanya dan Bayu tentunya. Iya Bayu, sahabat lelaki nya sejak kecil.  Namanya Nara Sidzkia, 24 tahun, seorang psikiater muda mahasiswi Fly high university. Ini adalah tahun pertamanya menjalani medical training. Gadis bersurai panjang itu memejam kan matanya lelah. Sudah dua hari ini ia di sibukkan dengan pasien paranoid akut.  Ya bagaimana tidak? coba bayangkan saat istrinya memberi tahu jika dia sedang hamil dengan gamblangnya ia menyebutkan jika tidak mungkin istrinya hamil, apalagi mereka hanya melakukan hal itu tiga kali selama sebulan terakhir. Bahkan ia dengan rasa curiga nya menuduh jika sang istri mungkin memiliki hubungan gelap dengan lelaki lain di belakang nya. Sungguh ironis. "Nara! Ra! Buka pintu woy!!" suara teriakan menyadarkan Nara dari pikiran mengenai pasiennya. Namanya Aqila, salah satu sahabat dekatnya sejak kecil, selain Bayu dan Kinan. Sudah di pastikan kehadiran si berisik itu pasti akan merecokinya. Dengan malas, Nara membuka pintu apartemen nya. Menyorot sang sahabat dengan pandangan malas. "Gue mau nginep. Papa mama lagi ke bogor buat nengokin nenek, boleh ya?" pinta Aqila memohon. Nara berdecak, menyingkir untuk memberi jalan Aqila masuk. "Gue lagi baik. Buruan!" Aqila nyengir.  "Lo emang terbaek, Ra. Cium dulu sini.. " ucap Aqila mengulurkan kedua tanganya. Nara menepisnya.  "Jangan bikin gue jijik. Mau gue usir lo!" sentaknya galak. Aqila manyun, Dengan cepat masuk mendahului sang empunya rumah. "Galak banget sih, pantesan gak laku-laku." gerutunya sebal.  Nara menarik rambut panjang Aqila membuat Aqila berhenti. "Kalo masih banyak bacot, gue tendang juga lo lama-lama." Aqila meringis. Tersenyum manis di hadapan Nara. "Lo gak bakalan tega ngusir gue yang imut nan mengemaskan ini, ya kan Ra? '' ucap Aqila mengedipkan mata berkali-kali. Nara mencebik geli. Mendorong kening Aqila menjauh. "Geli gue liat tampang i***t lo. Jauh-jauh sana." Aqila tertawa, berlalu membuka kulkas mengambil segelas air putih dan meminumnya hingga setengah. Aqila menghampiri Nara yang tengah membaca sebuah Novel. Duduk di sebelahnya dengan mengambil alih apel di sebelah tangan kiri Nara. Nara berdecak, tak ubah membiarkan Aqila bertindak sesuka nya. Dia dalam mode malas ribut. "Gue suka heran, lo sering baca Novel romantis, tapi kenapa gak ada keinginan buat pacaran lagi setelah sekian lama. Gue jadi curiga.. Lo gak belok kan, Ra?" Nara mengulurkan tangan, menjitak kepala Aqila membuat sang empunya mengaduh. "Jangan ngomong aneh-aneh. Gue cuma males jalin hubungan. ''  Bosan! Selalu itu dan tidak ada jawaban yang lain. Sejak terakhir kali Nara menjalin hubungan yang membuatnya sakit hati. Nara selalu menjawab malas menjalin hubungan jika di tanyai perihal pacaran.   Aqila menghela napas, menatap Nara intens.  "Udah Dua tahun Ra.. Sampe kapan lo mau kayak gini terus?" Nara tidak menjawab. Berusaha menulikan telinganya. Aqila meletakkan apelnya di atas meja, meraih lengan Nara membuat posisi mereka berhadapan. Nara berdecak, menatap Novel di tangannya. "Kinan yang gue kira gak mau nikah, bahkan sekarang dia udah punya baby. Sedangkan lo, orang yang selalu dukung Kinan buat sembuh dari masa lalunya, kenapa malah sekarang lo yang stuck? Demi Tuhan Ra, Gue gak rela lo terbelengu masa lalu kayak gini." "Plis, Jangan bahas ini lagi." ucap Nara dingin. Melempar Novel nya kasar. Berlalu menuju kamarnya. Aqila mendesah lelah. Menatap punggung Nara menjauh.  Satu hal yang terbesit di pikiran nya. jika Kinan saja bisa, Kenapa dia yang sudah paham mengenai kondisinya sendiri tidak mau berubah? ** Nara melirik Aqila yang tengah sibuk dengan bubur ayamnya. Pagi ini dia tidak ada jadwal. Mereka sarapan dalam diam. Dering ponsel di atas meja membuat perhatian keduanya teralihkan. "Siapa, Ra?" Nara menggeser tombol hijau, berucap Kinan tanpa mengeluarkan suara. Aqila membulatkan bibir, kembali melanjutkan sarapanya. "Kenapa, Kin?" bukan suara Kinan yang ia dengar, melainkan suara tangis anak kecil memenuhi pendengaran nya. Nara tersenyum geli, membayangkan Kinan tengah di repotkan dengan Baby Twins nya. Ah.. Apa memiliki Baby terasa menyenangkan? Senyum di bibir Nara lenyap saat suara Kinan mengalun di indra pendengaran nya, wajahnya berubah masam. "Gantiin gue di acara talk show department university, Ra. Kali ini aja, gue lagi repot sama si kembar." pinta Kinan memohon. Nara berdecak. "Bisa gak kalo mau minta tolong itu biasain pake kalimat Tolong atau Please gitu? Kebiasaan!" gerutu Nara meminum segelas air putih. Kinan mencebik. "Banyak maunya lo.." Nara mendengkus. "Tau diri dong!"  Aqila terkekeh, tidak ada yang berubah. Meski Kinan sudah menikah dan memiliki Baby, hubungan persahabatan mereka tetap terjaga hingga sekarang. Yah, perdebatan kecil mereka tak akan pernah hilang meski mereka telah beranjak dewasa. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka yang mendarah daging. "Tolongin gue Ra, gue udah terlanjur janji buat acara itu. Lo tau sendiri kan, Sir Jimmy ngajuin Gue buat acara itu, lagian ini bukan publik kok, cuma antar fakultas buat pembukaan MABA baru." Nara menghembuskan napas panjang "Lain kali gue gak mau lagi. Ini yang pertama dan yang terakhir." "Siap 86! Tangkyuuu Ante Nara, makin cinta gue sama lo." seru Kinan senang. Nara berdecak. "Ada maunya aja, manis banget. Ya udah gue tutup. Si kembar rewel tuh," Kinan tertawa pelan, "Oke, mereka baru bangun tidur jadi rewel. Thanks ya. Bye Ante galak." ucapnya sebelum memutuskan panggilan sepihak. "Gue rasa dia gak punya kaca." gumam Nara menatap ponselnya kesal. Aqila melihat nya. "Jam berapa acaranya?" Nara memicing, "Jangan bilang lo udah tau mengenai ini?" Aqila nyengir. "Lo yang paling tau kalo gue males buat acara begituan. Gue udah nolak semalem." Nara meliriknya sinis. "Kambing sih, emang lo!" *** Sesampainya di kampus. Nara langsung di sambut oleh Tiffany selaku penata rias untuk acara hari ini, Tiffany mengiringnya menuju ruang tata rias. "Syukur lo bisa, gue udah was-was karna Kinan gak bisa hadir." curhat Tiffany. Nara tersenyum simpul. "Kebetulan gue lagi senggang, jadi bisa gantiin Kinan. Si kembar lagi rewel katanya." Tiffany tersenyum maklum.  Well, Siapa yang menyangka seorang Kinan Leteshia yang dulunya membenci laki-laki, sekarang telah menikah bahkan memiliki baby twins? Di umurnya yang masih terbilang muda, pastinya merepotkan harus mengurus dua anak sekaligus. Oke, lupakan tentang Kinan.  Mereka sampai di depan ruang tata rias. Tiffany membuka pintu, Menyuruh Nara untuk berias. Nara mengernyit melihat seseorang yang tidak asing baginya sudah duduk manis dengan beberapa kertas di tangannya. Tiffany menarik tangan nya menjauh. "Dia lawan debat gue?" Tiffany mengangguk.  "Hm. Namanya Jovan Arion, lulusan kedokteran tahun lalu. Kalo gak salah.. S2 ini dia ambil bisnis." jelas Tiffany. "Gue gak peduli dia fakultas mana, yang jadi masalahnya, topik kali ini bukannya mengangkat tentang kesadaran manusia dalam hidup bersosial? Terus kenapa ada dia?" Mereka menoleh serentak saat sebuah suara berat memutus pembicaraan mereka. Melihat Jovan menghampiri Nara, Tiffany segera pamit untuk mengurusi beberapa hal yang harus ia selesaikan.  "Gue udah dapet gelar doctor. Itu artinya, dalam hal sosialisasi gue udah cukup buat standar masyarakat. Dan lo.. Gue kira Kinan yang bakal jadi lawan gue, tapi kenapa jadi lo? " Nara mendengkus. "Lo kecewa karna gue bukan Kinan?" Jovan mengendik. "Sedikit." What the hell! Ini penghinaan!!  Jelas-jelas Jovan menganggap nya tidak kompeten seperti Kinan? Well, itu sedikit menyentil egonya.  Nara meliriknya sinis, ''Wah, sombong sekali. Well, kita liat aja nanti. "balas Nara berlalu menuju kursi riasnya. Meski perkataan nya terdengar biasa saja. Namun dalam hati ia terus mengumpat kesal.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Maaf, Aku Memilih Dia!

read
230.6K
bc

Dear Pak Dosen

read
434.3K
bc

Skylove

read
115.1K
bc

My Sweet Enemy

read
49.2K
bc

I Love You, Sir!

read
270.4K
bc

Symphony

read
184.8K
bc

Perfect Marriage Partner

read
821.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook