chapter 6

2387 Words
“Maksud Daddy?” Sopi tercengang mendengar ucapan lanjutan dari Ayahnya. Dahinya berkerut, tak paham dengan arah pembicaraan sang Ayah. “Begini, Neng. Maksud Bapak—kamu—sudah waktunya kamu punya pendamping hidup.” “What? Jadi maksud Daddy Sovia harus segera married? Menikah begitu? No, Daddy!” “Dengar dulu Sopi. Bapak sudah pikirkan matang-matang hal ini. Bapak ....” “Tapi, Daddy. Sovia enggak mau berpisah dari Daddy.” Sopi mulai terisak. “Jangan nangis atuh, Neng. Bapak kan jadi ikut sedih. Setelah menikah nanti Sopi boleh kok tinggal di sini. Lagian calon kamu juga tinggalnya deket-deket sini kok.” Pak Asep mengelus lembut punggung putri tercintanya itu. “Memangnya siapa orangnya, Daddy?” tanya Sopi, heran. Keningnya berkerut, seolah mencari siapa sosok pemuda yang tinggal di dekat sini. Ia menggelengkan kepalanya, nihil. Tak satu pun wajah lelaki yang bisa terbayang di benaknya. “Kamu mau kan Bapak nikahkan sama Aden?” Pak Asep malah balik bertanya. Sopi terperanjat mendengar Ayahnya menyebut nama itu. “What? Daddy enggak salah jodohin Sovia sama dia? Orangnya ganteng sih, tapi dandanannya persis seperti si Kabayan. Jangan-jangan dia juga pemalas, sama seperti Kabayan itu.” “Sopi, kamu ingat waktu dia melindungi kamu dari pemuda-pemuda yang mengganggu?” Sopi mengangguk. “Nah, Bapak rasa dia bisa menjaga kamu dengan baik. Kesan pertama melihat dia, Bapak yakin dia anak yang baik, tidak seperti kebanyakan pemuda lainnya.” Sopi tertegun. Pak Asep membiarkan gadis itu hanya diam saja, mungkin putrinya sedang mencoba meresapi semua ucapannya. Hanya helaan napas gadis cantik itu yang sesekali terdengar. Setelah hening beberapa saat, tak lama kemudian, Sopi pun buka suara, “Baiklah, Daddy, beri Sovia waktu untuk berpikir.” Gadis itu menyeret langkahnya menuju kamar, meninggalkan Pak Asep yang di hatinya tengah berharap sang putri mau menerima rencana perjodohan ini. Satu jam berlalu. Namun, tak ada tanda-tanda Sopi keluar dari kamarnya. Pak Asep pun merasa heran. Ia mulai mengetuk pintu kamar Sopi. “Sopi, Neng, sarapan yuk.” Tak ada sahutan. “Geulis, Bapak udah bikinin telor ceplok kesukaan kamu. Kita makan bareng yuk.” Tetap tak ada sahutan. “Sopi, lagi apa di dalam? Masih dandan atau lanjutin mimpi? Masa baru juga bangun udah tidur lagi.” Karena tak terdengar juga sahutan dari Sopi, Pak Asep membuka pintu kamar yang ternyata tak dikunci oleh pemiliknya. Namun, betapa kagetnya Pak Asep saat ia tak menemukan putrinya di dalam kamar itu. Ia mendapati jendela kamar putrinya terbuka lebar. “Sopi? Kamu di mana, Nak? Ini mah ngajak Bapak main petak umpet ya?” Pak Asep mulai berkeliling ke seluruh ruangan, tetapi tetap saja ia tak menemukan putrinya. “Duh, Sopi. Kamu teh ke mana atuh? Bapak jadi kuatir.” Pak Asep memutuskan kembali ke kamar Sopi, siapa tahu di sana dia bisa menemukan petunjuk. Netra Pak Asep jatuh pada secarik kertas di atas nakas yang berisi tulisan tangan Sopi. Daddy, maaf, Sovia gak bermaksud bikin Daddy cemas. Sovia hanya kesal mendengar rencana Daddy. Biarlah Sovia bertemu jodoh Sovia dengan sendirinya. Dan Sovia akan menikah setelah benar-benar merasa siap. Don’t worry Daddy, saat Daddy membaca surat ini, Sovia sudah berada di rumah Grandma. Setelah membaca surat itu, Pak Asep yang sedari tadi pikirannya kalut, kini merasa lega. Bergegas lelaki itu melangkah ke luar hendak menyusul Sopi ke rumah Mak Onah. Wanita itu tampak sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya. Ia merasa heran saat dari kejauhan tampak putranya sedang berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Wanita itu pun menyuruh putranya masuk dan menyodorkan segelas air putih yang langsung diteguk habis oleh Pak Asep. “Heh, nyari apaan kamu teh? Tuh minum udah Emak ambilin. Kalau cemilan mah kebetulan lagi kosong.” Mak Onah memandang heran putranya yang mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumahnya. “Mak, Sopi ada di sini?” Kembali Pak Asep mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan di rumah Emaknya. Kening Mak Onah berkerut, heran dengan pertanyaan putranya. “Kalian kan tinggal serumah, kok nanya Sopi ke Emak?” “Jadi, Sopi enggak ada di sini?” Pak Asep malah balik bertanya. Wajahnya mulai terlihat panik. Ia pun bangkit dari duduknya. “Mau ke mana, Sep? Ada apa sebenarnya?” Asep menyerahkan surat yang ditulis Sopi kepada Mak Onah. Sejurus kemudian wanita itu membacanya dengan saksama. Raut wajahnya tampak serius. “Seharusnya sudah sejam yang lalu dia tiba di sini,” ucap Mak Onah pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Duh, Sopi teh ke mana atuh ya, Mak?” Hati Pak Asep semakin diliputi rasa kuatir. Peluh mulai bercucuran di pelipisnya. Raut wajah Mak Onah pun sama-sama tegang, ikut merasakan kegelisahan yang sedang melanda putranya. “Makanya, ini kan bukan zaman Siti Nurbaya. Kamu teh meuni seenaknya jodoh-jodohin Sopi.” Pak Asep menyesali tindakannya, hingga membuat gadis itu pergi dari rumah. Kini entah di mana putrinya berada. Tak berapa lama, ia pun pamit untuk mencari putri kesayangannya. Namun, Mak Onah yang juga merasa sangat kuatir akan keberadaan cucunya, minta untuk ikut mencari. Akhirnya, mereka berdua berjalan menyusuri desa, berharap menemukan sosok cantik yang sangat dicintai. “Sep, ngapain kamu bawa Emak ke kedai ini? Kamu belum sarapan? Kenapa tadi enggak makan di rumah Emak atuh?!” Mak Onah tampak kesal saat putranya membawa dia ke kedai serabi milik orang yang sangat dibencinya. Dulu, Mak Otih pernah berusaha merebut sang suami. Untunglah almarhum suaminya itu setia, sehingga tidak tergoda sedikit pun. Matanya menerawang, senyumnya terkembang ketika membayangkan sosok gagah perkasa sang suami yang mirip Gatotkaca. Pak Asep memandang heran Mak Onah yang memasang muka cemberut. Sungguh, ia tak mengerti mengapa Ibunya begitu membenci Mak Otih dan sama sekali tak mau makam kue serabi yang terkenal lezat ini. “Assalamuaalaikum, Mak. Aden ada?” Pak Asep mencium takzim punggung tangan Mak Otih. Mak Onah memalingkan wajah melihatnya. Sebal. “Waalaikumsalam, ada, sebentar ya, Den, Aden, ada yang nyari nih!” teriak Mak Otih. Tidak berapa lama, Aden pun keluar. “Eh, Pak Asep, ada apa Pak?” Aden mencium tangan Pak Asep, kemudian ia hendak mencium punggung tangan Mak Onah, namun Neneknya Sopi itu tak membalas uluran tangan pemuda ganteng itu. “Sep, Emak mah pulang aja ya, panas lama-lama berada di sini. Kabari Emak kalau Sopi sudah ditemukan.” Mak Onah melangkahkan kakinya lebar-lebar, bergegas meninggalkan kedai itu, diiringi tatapan bengong Pak Asep dan pandangan heran Aden juga Mak Otih. “Maafin Emak saya, ya. Beliau lagi sakit gigi, jadinya agak sensitif begitu.” Pak Asep mencoba mencari alasan atas sikap Mak Onah. Aden memandang heran ke wajah mantan guru pencak silatnya yang kelihatan tegang itu. Pak Asep menceritakan tentang kepergian Sopi dari rumah yang katanya mau minggat ke rumah Nenek, tetapi gadis itu tak diketahui ke mana rimbanya. Setelah pamit pada Mak Otih, mereka berdua pun berangkat menyusuri setiap sudut desa mencari keberadaan gadis cantik itu. *** “Duh, Den, kita harus cari ke mana lagi ya? Belum terlihat tanda-tanda keberadaan Sopi. Kamu di mana atuh Geulis? Baik-baik aja kan di sana?” Pak Asep terlihat sangat cemas. Wajahnya membiaskan kelelahan. Namun, ia tepiskan rasa itu. Kuatir akan keadaan putrinya lebih besar dibandingkan apapun juga. “Sabar, Pak, kita belum menyusuri seluruh ruas jalan desa ini. Udah Zuhur, Pak. Kita salat dulu di masjid itu yuk, sambil memanjatkan doa buat Neng Sopi juga.” Aden menunjuk sebuah mesjid besar yang terletak di ujung gang. Pak Asep mengangguk lemah. Tidak berapa lama, mereka berdua sudah berbaur dengan orang-orang, khusyuk menunaikan salat Zuhur berjamaah di mesjid itu serta memanjatkan doa untuk Sopi. “Den, kita istirahat sebentar di sini.” Pak Asep menenggak air mineral di dalam botol, kemudian ia menyodorkan satu botol lagi pada Aden. “Nih, minum dulu, Den.” “Terima kasih, Pak. Oh, ya, boleh Aden tanya-tanya tentang Neng Geulis?” ucap Aden dengan nada ragu dan malu-malu. “Tentu saja, biar lebih tahu tentang calon istrimu.” Pak Asep memandang wajah pemuda calon menantunya itu, yang raut wajahnya sedang tampak merah jambu itu. Pipi Aden bersemu merah, hatinya berdesir aneh. “Pak, ngomong-ngomong sejak kapan Ibunya Neng Sopi meninggal?” “Ibunya meninggal saat melahirkan dia. Makanya Bapak selalu berusaha membahagiakan dia, kasihan sejak kecil dia enggak merasakan kasih sayang seorang Ibu.” Netra Pak Asep berkaca-kaca. Sekelebat bayang wajah sang istri muncul di pelupuk matanya. Aden manggut-manggut, “Lantas, Pak—maaf sebelumnya kalau Aden lancang, tetapi Aden penasaran sama dandanan juga gaya bicara Neng Geulis yang—maaf, terlihat aneh.” “Hahaha, iya dia memang unik. Logat bicaranya dan dandanannya seperti itu sejak lulus kuliah jurusan sastra Inggris. Bapak juga enggak tahu dia dapat pengaruh dari mana.” Pak Asep tergelak membayangkan style dandanan dan gaya bicara putri semata wayangnya itu. Oh, pantesan atuh si Eneng teh begitu. Sekali lagi Aden manggut-manggut. “Makanya, Den, kalau memang kalian ditakdirkan berjodoh, Bapak titip Sopi ya. Selama ini Bapak belum maksimal membimbing dia, terutama dalam hal agamanya. Tolong, bimbing dia untuk lebih mengenal Islam.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak Aden. Aden mengangguk. “Pak, udah enggak capek kan? Kita lanjutkan mencari Neng Sopi yuk.” Pak Asep mengangguk, kemudian dua laki-laki itu beranjak dari teras mesjid. Berdua mereka melangkah meninggalkan mesjid, melanjutkan pencarian. *** “Neng ... Neng, bangun Neng.” Sebuah suara membangunkan gadis cantik itu. Sopi tak bisa menggerakkan badannya. Saat ia membuka mata, kedua tangannya sudah terikat pada sebuah kursi dengan posisi duduk di atasnya. Ia berusaha melepaskan ikatannya. “Neng—Neng—Neng, tenang,” ucap seorang pemuda jangkung berambut keriting berusaha menenangkan Sopi. “Siapa kamu? Kenapa aku ada di sini?” Sopi mengamati wajah pemuda di hadapannya. Gadis itu terperanjat, saat dia mengingat sesuatu. “So, ka—kamu, salah satu dari empat pemuda yang waktu itu menggangguku?” Pemuda itu mengangguk, kemudian ketiga temannya yang lain muncul. Kembali Sopi bergerak-gerak berusaha melepaskan diri. “Eneng, enggak usah takut. Kita berempat hanya ingin mengenal Eneng lebih dekat.” Tangan pemuda berambut lurus dibelah tengah mulai terulur, hendak menyentuh pipi mulus gadis itu.   。 Senja merangkak naik ke peraduan, meninggalkan semburat halus bernuansa merah jingga di atas langit Semarang. Hati kian berdebar, sembari memandangi hamparan padi dari pematang. Semakin kucoba untuk biasa saja, justru semakin meningkat detaknya. Rasanya sungguh berat meninggalkan panti dan para penghuni. Bunda Dian, Bunda Ami, Bunda Santi, dan adik-adik yang teramat kusayangi. Nanti malam rencananya aku akan pergi ke Jakarta, menjalani pembekalan dalam rangka mendedikasikan seluruh tenaga dan kemampuanku untuk kemanusiaan. Semenjak kuliah di Semarang, aku memang kerap mengikuti kegiatan sosial dan mendedikasikan diri sebagai relawan kemanusiaan. Entah kota terdampak bencana alam ataupun kerusuhan. Meskipun aku tidak diinginkan dan dibuang oleh orang tua kandung, tapi aku memiliki keluarga dan banyak saudara di panti. Mereka mengajarkan banyak hal tentang kasih sayang dan hubungan antara sesama. Aku merasa inilah saat yang tepat untuk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung. Tangis haru, ada sesuatu yang berat terasa mengganggu pernapasan. Dengan mengucap basmallah, kaki melangkah menaiki bus jurusan Terminal Lebak bulus. Kususuri setiap angka yang tertera di atas bangku bus. Aku menyusuri lorong, mencari nomor bangku tempatku duduk. Ternyata sudah di duduki oleh pemuda yang tengah asyik bermain gadget, sementara bangku lain telah terisi penuh. "Mas, permisi, saya duduk di bangku no.15." Kutunjukkan tiket bertuliskan angka 15 yang di lingkari dengan tinta biru. "Lho, saya juga nomor 15, Mbak. Ini." Kulihat dengan saksama, tiket yang ditunjukkan padaku. Benar saja, Ia pemilik bangku 15, persis denganku. Pemuda tersebut beranjak dari duduknya setelah meminjam tiket dan memintaku untuk menunggu. Tak berselang lama, ia kembali memberi instruksi agar aku duduk di bangku sampingnya. Aku lega karena tidak harus berdiri selama perjalanan ke Ibukota, hanya karena kesalahan teknis. "Hmm maaf, bukankah kita pernah bertemu sebelumnya? Bukankah anda Husna?" Suara pemuda di sampingku tadi menyadarkan dari lamunan. Kuamati lekat wajah itu, tapi nihil, sama sekali tidak ‘ku ingat memori tentangnya. "Azzam. Ingat?" Dia menunjuk mukanya sendiri dan aku menggeleng karena memang belum mampu mengingat. "Wudhu ... sumur ... hhmm ... Donggala. Ingat?" potongan demi potongan clue ia berikan dan aku teringat akan suatu kejadian. "MasyaAllah, Mas Azzam?" “Iya, duh segitunya wajah saya ini memang ya, mudah dilupakan, hehehe, ups.” “Ih, nggak gitulah, Mas. Masalahnya Mas banyak berubah. Bukan sekadar janggutan sekarang, tapi brewokan, sampai pangling saya. Hehehe.” Aku bahagia memandangi pemuda yang tengah tertawa lepas di sampingku. Seketika memori kembali ke masa lalu, ketika seorang pemuda datang menghampiriku yang tengah kebingungan saat hendak mengambil wudu di sebuah sumur di dekat puing reruntuhan bangunan. Aku ingat betul, memoar manis saat itu dia membantuku menuang sedikit demi sedikit air sementara aku berwudu, begitu pun sebaliknya, aku membantu menuangkan air untuknya. Semenjak perkenalan itu, kami mulai dekat, meski tetap menjaga batasan. Banyak berbagi tentang kisah masing-masing. Bahkan tak jarang selama sepekan di sana, ia kerap mendatangi camp tempatku beristirahat hanya untuk mengantarkan makanan dan vitamin bagi tim relawan putri. Bisa di bilang, kami telah mengungkapkan rasa kagum dan ketertarikan dengan cara yang berbeda. Dengan menunjukkan perhatian dan berdialog lewat tatapan mata. Ada rasa penyesalan ketika aku harus lebih dulu meninggalkan Donggala tanpa memiliki kontaknya. Qodarullah, sekarang kita dipertemukan lagi. "Maaf, sekali lagi maaf ya, Mas. Aku nggak ngenalin kamu, habis sekarang beda, sih." Aku terkekeh dengan jawabanku sendiri, karena Mas Azzam benar berbeda dari waktu terakhir bertemu. Rambut halus dibiarkan tumbuh di sekitar pipi dan dagu, membuat ia terlihat lebih dewasa. "Ya Allah, Dik. Aku senang sekali bisa ketemu kamu lagi. Aku minta kontakmu dari Mas Anam, tapi nggak aktif." "Iya, Mas. Handphoneku hilang saat perjalanan pulang, waktu itu. Oh, ya, bukannya Mas Azzam asli Malang, kok ada di sini?" "Ah, iya, Dik. Aku mampir dulu ke rumah teman sebelum ke Jakarta." Aku sama bahagianya dengan Mas Azzam. Berjumpa dengannya merupakan sebuah anugerah yang terindah di dalam hidupku. Aku sempat berandai akan bertemu lagi, dan bisa menjalin hubungan yang lebih dekat lagi dengannya. Kini menjadi kenyataan. Sesampainya di tempat tujuan, kami berpisah, aku menemui kenalanku di Jakarta, salah seorang relawan saat memberi trauma heeling, kepada anak-anak korban bencana di Donggala. Namanya Kak Marwa, dialah yang telah menggugah hatiku, membuka lebar tirai yang menutupi mata hati. Betapa di luar sana masih banyak orang-orang yang jauh kurang beruntung di banding diriku. Mereka membutuhkan uluran tangan dari kita. Setelah beristirahat, Kak Marwa mengajakku berkeliling dan mempekenalkan staf di kantor pusat. Kemudian, ia memintaku menunggu di sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat satu set meja dan sofa. Tidak berselang lama, Kak Marwa kembali dengan diikuti oleh empat laki-laki dan dua perempuan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD