chapter 7

2223 Words
Tampak Mas Azzam ada di antara mereka. Senyum semringahnya seolah mentransfer kebahagiaan yang tiada tara dalam kalbu. Ia mengamatiku, benar, ia mengamatiku. Seketika ada rasa hangat menjalar menyeruak dalam benak. Tapi logika berhasil menyadarkanku, mencoba kembali fokus untuk menerima materi pelatihan. Masa pembekalan akan sangat penting bagi para relawan yang dikirim sebagai perbantuan ke negara konflik. Kami harus dengan cepat menyerap segenap materi. Dua pekan berlalu, mengharuskan kami bersiap dan mantap dalam misi kemanusiaan di tanah Palestina. Tanah berkonflik yang memakan banyak korban setiap harinya. Aku menangis haru ketika sampai di Yerusalem, bersama Tim kami berdoa dan saling menguatkan. Mas Azzam pun turut dalam perjalanan. Kami sempat berfoto bersama tim, di depan Masjidil Aqso Yerusalem dengan banner besar bertuliskan nama lembaga yang menaungi. Sebuah organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan dan ketanggapan bencana. Usai berfoto, Mas Azzam menghampiriku dan berlutut dengan cincin di tangannya. Kurasakan darah berdesir kian tak tentu. Sementara jantung enggan mengalah dan berpacu melebihi batas normal. "Dik Husna, berkenankah, Adik menjadi istriku? Bidadari surgaku? Aku telah memiliki rasa sejak pertemuan kita di Donggala. Jawablah!" Bibirku kelu, tak mampu berucap meski hanya sepatah kata. Hanya air mata yang mampu menjawabnya. Aku bahagia, perasaan yang tersimpan selama ini ternyata berbuah manis. Allah memberi jawaban atas setiap doa yang dilangitkan. Doaku hanya ingin bertemu lagi dengan Mas Azzam. Namun, jawaban Allah jauh lebih indah dari yang kuminta. Aku mengangguk dengan wajah yang tak kutahu lagi bentuknya, tersipu. Menerima lamarannya, diiringi suara sorak bahagia, dari teman sesama relawan yang hadir saat itu. Hari ini segenap tim menjadi saksi proses perjalanan kisah cinta kita. Di depan Masjidil Aqso yang namanya telah tercantum dalam Al-quran. Berharap semoga di tempat suci ini, kami bisa diperkenankan untuk menghalalkan ikatan. Menjadi pasangan fiddini, fiddunya wal akhiroh, ilal jannah. Sebelum ijab qobul berlangsung, sehari sebelumnya, aku menelepon Bunda Santi untuk meminta izin dan doa restu dari mereka. Mereka mengijinkan, dengan perasaan penuh haru, mereka mendoakanku secara bergantian. Wejangan demi Wejangan disampaikan, membuatku semakin tergugu dan menangis pilu. Aku sangat beruntung memiliki keluarga yang teramat besar kasih sayangnya. Satu persatu pesan kugantungkan dalam hati, semoga bisa mengamalkan dan menjalani dengan tawadhu kelak. Hari yang dinanti telah tiba, hari dimana aku tak lagi sendiri, hari dimana Allah persatukan cinta kami. Cinta di sebatas diam. Cinta yang kita sampaikan hanya dari tatapan mata. "Ya akhi Muhammad Khoirul Azzam ibnu Ahmad Humam, uzawwijuka'ala ma amarallahu taala bihi minimsakinbima'rufin autasriihim bi ihsan. Ya akhi Ahmad Khoirul Azzam ibna Ahmad Human, angkahtuka wazzawajtuka makhtubataka Husna Amalia binta Fulan bitaukiili waliyyuha bimahri. Bersama lantunan mahar Ayat suci surat Ar-Rahman. Halal sudah aku sebagai istri mas Azzam. "Qobiltu nikaha watazwijaha linafsi bil mahril madzkuuri halan." Lantunan doa yang di amini oleh para saksi menambah haru suasana pagi ini. Air mata bahagia masih menetes saat Kak Marwa menggandengku menghampiri Mas Azzam. Beliau meletakkan tangan kiri di kepalaku. "Allahuma bariklana, wa barik alaina, wajma bainana fii khair." Aku tertunduk dan mengamini dengan setulus hati, doa yang dilantunkan Mas Azzam berulang kali. Membuatku semakin terharu tak mampu menahan air mata. Usai melangitkan doa, kedua jemari Mas Azzam memegang lembut kepala mengecup pucuknya. Kemudian tatapan kita bertemu. Tampak jelas kebahagiaan yang terpancar dari maniknya. Kami telah sah menjadi sepasang kekasih halal saat ini. Tapi situasi tidak mengijinkan kami untuk memadu kasih, dan meneguk hangatnya berbulan madu layaknya pengantin baru. Hari demi hari kami lalui dengan kesibukan, yang tidak memungkinkan untuk meluangkan sejenak waktu untuk berdua. Seminggu setelah ijab qobul, para lelaki termasuk Mas Azzam harus dikirim ke Gaza Untuk perbantuan di sana. Meski hati menolak tapi dengan sekuat tenaga harus ikhlas. Sore ini, kami melepas rombongan menaiki bus yang telah di sediakan oleh tim. Sebelumnya, Mas Azzam berpamitan dan mengecup keningku lama, lamaaa sekali. Sementara tangan kami saling menggenggam, rasanya aku ingin menggenggam tangan ini selamanya. Terdengar teriakan memanggil nama Mas Azzam, memintanya agar bergegas menaiki mobil. "Jaga dirimu baik-baik, Dik. Aku minta maaf karena belum sempat membuatmu bahagia. Aku mencintaimu, Istriku." Tampak pecahan kaca menggenang di pelupuknya. "Aku mencintaimu, Suamiku. Karena Allah, dan karena Allah pula aku melepasmu berjihad di jalan-Nya. Aku bahagia InsyaAllah." Suaraku bergetar dahsyat, tak mampu lagi menahan kesedihan yang mendalam. Mas Azzam berbalik dan pergi setelah memelukku erat. Berkali-kali ia menoleh dan melambaikan tangan. Pandangannya masih tertuju padaku meski kaca buram menghalangi. Mobil melaju perlahan lalu hilang termakan kelokkan jalan. Malam ini kulantunkan kalam Ilahi yang dikhususkan untuk imamku. Mengobati resah yang kian menjadi. Memohon agar beliau selalu diberi kesehatan dan keselamatan oleh Allah, Tuhan semesta alam. Derap langkah beberapa orang terdengar berlarian di luar tenda. Kututup mushaf dan mencium sampulnya. Dengan tergesa kuayunkan langkah menuju sumber suara. Kak Marwa menghampiri dengan berlari. Wajahnya tak karuan, penuh kesedihan dan kepanikan. "Na, sabar, ya." Air matanya jatuh menetes. Berkali-kali ia meneguk saliva dan membuang napas kasar. "Bus yang membawa rombongan bantuan relawan dihadang di perbatasan Gaza, Na. Bus tidak terkendali dan terjungkal." Lanjutnya lagi. "Astagfirullah, Mas Azzam bagaimana, Kak? Bagaimana keadaannya?"tanyaku. Kepanikan melanda jiwa, dibarengi kesedihan yang tak mampu kutahan. "Azzam, menjadi salah satu korban meninggal,” ujar Kak Marwa sambil tergugu. Aku hancur. Bagai di sambar petir, seketika kepalaku terasa berat dan pening. Hati rasanya terserak berkeping-keping tak kuasa menahan rasa yang teramat sakit di dadaku. Luka jiwa ini berdarah-darah, langit tempatku bernaung telah runtuh. Runtuh untuk selamanya. "Mas Azzam .... Suamiku .... " Tubuhku tersungkur ke tanah, rasa letih dan lunglai menyergap secara leluasa, hanya isakan tangis yang berbicara, sedangkan tubuh telah mati rasa. "Husna ...." "Astagfirullah ...." Terdengar suara riuh kepanikan, perhatian mereka tujukan padaku. Ada yang sibuk mencari obat-obatan, wewangian, dan lain sebagainya. Rasa kehilangan yang teramat hebat ini tidak kehilangan kesadaran. Hanya saja tidak mudah menerima kenyataan yang teramat pahit. Sungguh teramat pahit. Satu persatu dari tim, berbela sungkawa. Mereka berusaha mentransfer kekuatan. Namun, aku memilih bergeming. Rasanya benar-benar kebas rasa. Tidak mampu sekadar menyunggingkan seulas senyum, atau berbasa basi. Aku tak lagi utuh, aku bukan lagi Husna yang sama. Aku pahami apa yang mereka rasa, sama sepertiku, kehilangan teramat dalam. Namun, izinkan sejenak aku memilih hening, demi menjaga kewarasan diri. Demi iman yang masih kuat bersarang agar tak tergoda bisikan syaithon untuk mempertanyakan keadilan Tuhan. Kulalui hari demi hari dengan kekosongan yang menyeruak dalam kalbu, sampai tak terasa misi kemanusiaan di Yerusalem telah usai, mengharuskan aku dan tim agar segera kembali ke tanah air. Aku Husna Amalia, seorang janda yang masih begitu merindukan almarhum suaminya. Kupatrikan hati agar ikhlas menjalani kehidupan tanpa kehadiran Mas Azzam disisi. Senyumnya masih melekat erat dalam sanubari, menjalar di setiap desir darah yang mengaliri tubuh. Aku merasakan dia senantiasa hadir menemani. Sesampainya di tanah air, aku kembali mengabdi kepada negara. Menyumbangkan tenaga untuk membantu sesama yang mengalami musibah. Aktivitas sosial yang memadati waktu, begitu membantu meringankan beban nan bertumpu di pundak. Ada tujuan yang harus kucapai. Berbuat baik selagi aku mampu. Hari berganti begitu cepat, tanpa terasa sudah hampir empat tahun kujalani hidup penuh kehampaan, tapi tak lantas membuat terpuruk dan menyerah. Aku meyakini, Mas Azzam di alam sana, takkan rela, takkan tenang bila di sini aku terpuruk. Melanjutkan jejak kebaikannya, adalah hal terbaik bagi dalam membunuh rindu. Menjadi satu bentuk abdiku sebagai istrinya. Beberapa hati hadir meminta izin untuk berlabuh, tapi aku menolak. Bagiku saat ini, menikah dengan Mas Azzam sudah cukup menyempurnakan syariat dan separuh keimananku dalam beragama. Aku pernah menjadi istri yang berusaha sebaik mungkin menjadi sholihah di depan suami. Dan ingin disandingkan kembali dengan suamiku di jannahNYA, nanti. Pagi ini, ada kabar terbaru tentang pemberangkatan relawan ke Palestina. Aku bersyukur kembali terpilih menjadi salah satu dari mereka. Rasanya sungguh rindu dengan tanah itu, tanah yang menjadi saksi bisu cinta kita berlabuh. Tanah yang menyimpan selaksar peristiwa bahagia hingga mengharu biru. Tanah di mana aku bisa merasa akan disandingkan lagi dengan kekasih yang telah menunggu. Tanah tempatku menambatkan hati untuk satu orang, suamiku. Perjalanan berlangsung lancar, tidak ada kendala yang berarti. Tidak seperti kedatanganku sebelumnya, saat ini aku langsung bertugas di Gaza. Membantu pekerja medis merawat anak-anak dan lansia yang menjadi korban kekejaman tentara Israel. Bangunan tak selayaknya menjadi rumah bagi mereka, puing reruntuhan berserakan, darah berceceran. Setiap detik mereka lalui dengan kengerian. Anak kecil menangis, mereka menjerit ketakutan. Rasa lapar tak lagi menjadi kebutuhan utama, melainkan nyawa prioritasnya. Aku melihat seorang Ibu meraung memeluk jenazah putranya yang terbujur kaku. Pemandangan yang terlampau biasa setiap harinya. Tubuhku gemetaran, membersihkan darah yang mengucur dari robekan kulit di sekujur badan bocah tak berdosa. Tubuhnya tertimpa beton yang ambruk sesaat setelah suara ledakan keras terdengar. Lalu seorang lelaki paruh baya berteriak menggunakan bahasa yang tidak kupahami. Dari isyarat tangannya, ia seperti menginstruksikan agar kami cepat beranjak dan pergi dari tempat ini. Aku berdiri dengan mendekap erat bocah yang bersimbah darah, tangan lemahnya menggelantung di balik punggung, berlari sekuat yang kubisa dengan tanpa henti menyebut asma Allah. Hingga kurasakan, kaki tersandung dan jatuh tersungkur. Bocah dalam gendong terlepas hingga jarak yang tak bisa tergapai. Tanganku meraba-raba di tanah, mencoba meraih apa saja yang sekiranya bisa kujadikan alat menopang badan. "Allah ... Allah ...." Sesak di d**a kian menjalar menuju kerongkongan, napas tersengal dan merangsek naik, lalu gelap. Sesaat aku merasakan ada tangan-tangan yang menyentuh tubuh. Bahkan indra penciuman pun membaui aroma obat-obatan. Tapi mata tak mampu terbuka. Seluruh tubuh terasa sakit. Tulang belulang seakan hendak terlecut dari raga. Suara-suara semakin samar. Hingga akhirnya benar-benar hilang pandang. Sepi. “Husna ... Husna ... Allohurobbi, kawan kawan ....” Aku mendengar suara seoarang rekanku dari bagian medic. Kupaksakan mata, mengazzamkan segenap kekuatan, agar mampu menyampaikan pesan. 'Allah, jika tiba waktuku, mohon beri sedikit waktu.' “Husna sadar, cepat kemari!” Suara yang amat kukenali, suara Kak Marwa lantang terdengar di telingaku. Kucekal lengan Kak Marwa yang tampak bergeser dari tempat duduknya. “Kak, tolong dengarkan aku, jangan pergi,” terbata-bata dengan suara lemah aku mencoba berbicara. “Husna, sebentar ya, kakak panggil tim medis dulu, sabar, kuat ya.” “Kak, waktu Husna sudah sampai, mereka sudah menjemput. Tolong pusarakan Husna disamping makam suamiku,” lirih suaraku, mencoba menyampaikan keinginan. “Husna, bicara apa kamu!” Tiba-tiba terdengar suara Kak Marwa meraung, pilu memanggil namaku, terasa dia menepuk-nepuk lembut pipiku. Sementara mataku tak memiliki kekuatan sedikit pun untuk terbuka. Lambat laun suara Kak Marwa kian pelan, rasanya seperti menjauh, berdenging dan menggema hingga akhirnya hening. Waktu seolah terhenti seiring degub jantungku yang kian melambat. Rasa nyeri mendera di sekujur tubuh menghebat sekejap, lalu mati rasa. Allah aku ikhlas, ampuni aku, Mas Azzam tunggu aku. Laa illa Hailallah Muhammadarrasulullah, terima syahadatku Rabbi meski hanya mampu terlafadz dalam hati. Dapat kurasakan nafas ini tersengal seiring sepi. Tak lagi terdengar tangisan Kak Marwa. Semua hening. Damai.   Selamat tinggal ma, de… mungkin hari ini akan jadi petemuan terakhir kita….   Aku mencoba menelannya, rasanya sangat pahit…obat-obat ini mungkin akan mengakhiri hidupku malam ini, mungkin setelah ini, dunia akan menghakimiku, lemah..!!! pecundang..!!! tapi kalian nggak ngerti… hal sakit apa yang aku rasakan, hidup seperti apa yang aku jalani, kalian gak akan paham, karena kalian tidak mengalaminya, beberapa tahun lalu….   2009   Ketika itu aku menginjak bangku smp… seharusnya ini adalah masa-masa yang menyenangkan,bahagia…tetapi hal itu tidak terjadi padaku…   “ siapa mau duduk di deket cina…hiiiii “ teriak seseorang kepadaku, teriakannya diikuti sorakan yang sangat kencang oleh teman -teman yang lain, kakiku rasanya gemetar…aku sangat takut   “ lihat wajahnya, badannya , sepertinya dia punya penyakit yang menular “   Timpal salah satu dari gerombolan anak itu, ya memang aku mempunyai freckles di seluruh wajahku, tapi apa sepatutnya mereka menghakimiku seperti itu… perkataannya di sahut dengan tertawa keras oleh sebagian anak-anak itu.   Sebenarnya aku ingin menangis..tapi aku gak ingin terlihat lemah, aku memilih diam dan memaksa diriku .. untuk baik-baik saja.   “sabar ya fel… “ kata seorang murid perempuan itu padaku, aku masih ingat … namanya saskia, wajahnya menatapku iba…dan aku tersenyum mengangguk padanya.   ****** Setelah jam pelajaran usai… akupun berjalan menyusuri koridor sekolah bersama anak perempuan lain dan saling berkenalan dengan mereka, lili dan nadia namanya…mungkin hanya mereka yang akan jadi teman dekatku, mereka sangat baik dan kita seringkali ngokrong di kantin saat pulang sekolah, lambat laun..aku juga mengenal any dan desy, mereka berdua ini bisa dibilang teman yang asyik.   Tapi hidup ini bukan sinetron.. yang seringkali kita dapat melihat bahwa teman akan melindungi kita saat kita di bully… mereka memang baik, tapi mereka hanya diam saat aku di perlakukan seperti itu oleh murid yang lain..aku tidak menyalahkan mereka, mungkin mereka juga takut.   “woy buku siapa ini…….”   “ baca namanya… “   “ Fely…. hiiiii “ teriak mereka lagi, aku tidak tau kenapa mereka sampai seniat itu mencari topic untuk membullyku   “ jijik, ntar lu najis, cina kan makan babi, belum penyakit binti-bintiknya “ mereka tertawa seraya jijik dan melempar bukuku ke segala arah.   Aku hanya terdiam…sakit sekali rasanya harus mendengar hal itu , rasanya down sekali , akupun langsung mengambil buku yang sudah diombang-ambingkan kesana-kemari oleh mereka, dan bergegas pulang karena bell sudah berbunyi.   Dan penderitaanku tidak sampai disitu, saat menaiki angkutan umum untuk pulang,tidak ada satupun dari mereka yang mau duduk denganku..   “ hiiiii “ katanya….   “ lu mau deket cina….. cieee “   “ najis….” timpalnya lagi seraya menatapku dengan tatapan mengejek   Mereka semua tertawa kearahku dan dilihat banyak orang dari kelas dan sekolah lain disana.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD