Aku hanya diam, dan tak menghiraukan apa yang mereka katakan, sebenernya aku sangat malu, diperlakukan seperti itu di hadapan banyak orang, rasanya sangat sesak sekali… dan itu aku alami setahun selama di kelas satu, di kelas dua aku kembali sekelas dengan mereka, neraka duniaku akan kembali terulang lagi dan lagi.
*****
Aku duduk di teras rumahku sambil menatap langit yang warnanya antara orange dan hitam, tiba - tiba datang seorang pria paruh baya yang tak kukenal....pria itu mengaku pengacara ayahku , ia datang membawa surat kepada kami… setelah berbincang lama...akhirnya mamaku menandatangani surat tersebut dengan wajah pucat.
aku tahu itu adalah " surat perceraian"
pengacara tersebut memberi mama sejumlah uang, kita seperti sampah yang dibuang begitu saja.
ya aku keluarga broken home… papa dan mama sering bertengkar dan tak pernah tinggal serumah , papa hanya 1 tahun sekali pulang kerumah
lengkap kan penderitaanku?
Aku melihat mama menangis dan terus menangis, aku sangat lelah dengan hidupku yang seperti ini, belum lagi adik kecilku harus hidup tanpa seorang ayah, adikku yang masih kecil kala itu tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya, dia tertawa bahagia melihat sejumlah uang di meja.
sungguh bahagia menjadi anak kecil, ia masih sempat tertawa senang dalam keadaan hancur seperti ini.
Sejak saat itu mama berubah menjadi temperament…
*****
" hei...."
Hei…. “ Panggil seseorang saat aku hendak turun dari angkutan menuju sekolah, akupun menoleh kaget kearahnya….
“ Iya… jawabku ragu “ aku sangat ketakutan saat itu, aku takut dia salah satu dari mereka
“ Boleh pinjam uang buat ongkos dulu nggak, dompet aku ketinggalan “ katanya lebih ragu, akupun mengeluaran uang 10 rb dan kuberikan padanya, FYI dulu uang 10 Rb itu banyak banget, bisa buat makan dan naik angkot pulang pergi hehehe
“ makasih ya, besok aku kasih uangnya “ katanya sambil tersenyum kaku padaku, yaa dia teman sekelasku, tapi aku tahu dia orang yang baik, aku hanya tersenyum dan mengangguk padanya.. lalu pergi.
****
Entah kenapa semenjak 1 th pembullyan yang aku alami, rasanya sangat berpengaruh di hidup aku, aku selalu ketakutan ketika menemui orang, siapapun itu, badanku gemetar dan tak berani menatap orang, padahal aku bukan tipe orang pendiam atau introvert aku orang yang ektrovert, tetapi aku seperti mendapat tekanan , bahkan hanya untuk membeli makanan atau minuman di warung, aku selalu menganggap semua orang pasti membenciku, aku menganggap semua orang melihatku seperti para pembully itu.
Sejak di kelas 2 mereka semakin gencar membullyku, mereka terlihat semakin bersemangat..jika sebelumnya aku mengabaikannya, justru saat itu aku sangat terpukul dan mengalami ketakutan yang tak biasa,ketakutan yang tak wajar, bahkan hanya untuk selfie di hp aku tak berani menatap wajahku, aku tak berani mendengar rekaman suaraku, aku seperti mengutuk diriku sendiri seperti yang para pembully itu katakan.
“ woy lu anak haram kan, makanya lu nggak punya bapak “ kata salah satu dari anak-anak tersebut
“dasar anak haram “ timpal yang lain, merekapun bersorak-sorak mengelilingku, badanku terasa panas, aku takut sekali,rasanya mengigil tapi tak kedinginan, jantungku berdegup kencang, dan air mataku terasa panas.
Lagi- lagi aku hanya terdiam….dan berusaha tegar untuk tidak menangis.
******
Aku memasuki kamar siang itu, melepas semua beban yang aku dapat dari sekolah, akupun mendengar mama memanggilku kasar..
“ Fel… lu bantuin jaga took sana, jangan tidur mulu, lu nggak lihat sepupu lu rajin pinter , ranking, gak kaya lu begok “
Seperti yang aku bilang, mama berubah menjadi temperament dan selalu mengolokku, serta membanding-bandingkanku dengan anak tetangga atau anak keluarga yang lain.
Sejak saat itu aku tak punya control diri, tak ada yang mencintaiku, bahkan mama orang yang aku percaya juga tak mendukungku, aku melihat ia sama seperti para pembully itu, ia merendahkanku, dan selalu mencaciku.
“ kenapa lu lahirin gue kalau lu gamau punya anak begok “ itu kali pertama aku membentak ibuku, mata ibuku terbelalak mendengarku berbicara seperti itu, dia menamparku dengan sangat kencang,
“dasar anak g****k, kenapa gue mesti punya anak kaya lu “
Kata-kata itu selalu terngiang di kepalaku, hanya dia terkadang sangat baik dan perhatian, tapi terkadang dia juga mengataiku dan mengolokku.
Akupun tak menghiraukannya, aku membanting pintu dan menguncinya dari dalam, dia terus berteriak dan mengatakan hal-hal menyakitkan padaku, kemudian aku menyalakan headset dan measangnya di telinga..
Waiting for the end… ya lagu linkin park
waiting for the end to come
Menunggu akhirnya datang
Wishing I had strength to stand
Berharap aku punya kekuatan untuk berdiri
This is not what I had planned
Ini bukan apa yang telah aku rencanakan
It's out of my control
Ini di luar kendaliku
Lagu itu sangat berkesan bagiku..aku seperti mendapat kekuatan baru mendengarkannya, semua hal yang aku alami di luar kendaliku,di luar hal yang bisa aku tanggung, aku sangat mengidolakan Chester Benington, dia adalah salah satu motivasiku untuk bisa bertahan dengan apa yang aku alami, karena keadaan kita 11/12 , pembullyan , broken home dan depression, hanya saja di desaku tidak ada alcohol apalagi narkoba hehehe jadi tidak ada alasan untuk aku lari ke hal negative itu.
Aku membaringkan diriku dan membuka laptop...aku sampai berfikir hal yang tidak masuk akal saat itu, aku searching di google cara memanggil setan untuk menjual jiwa agar mendapat kekuatan untuk membalas mereka semua… para pembully itu. ( ini hal paling konyol yang pernah kulakukan.
Aku ingat…artikel itu menyebutkan 5 cara.. dan aku memakai 1 cara yaitu mematikan lampu, menyalakan lilin,menyiapkan gambar bintang dan mulai memanggilnya.. ya itu kulakukan.. berhari-hari setiap malam tapi tak ada yang terjadi, tak ada setan apapun yang datang…gambar bintang yang ku buat dipakai mamaku buat bungkus gorengan.
Dan saat itu juga aku menyadari bahwa aku seperti orang bodoh, akhirnya aku menyerah soal setan …
Aku mempunyai kebencian yang amat dalam saat itu bahkan setan tak mendukungku, membenci hidupku, diriku sendiri,keadaanku dan aku mulai menanyakan keberadaan Tuhan.
****
Keesokan hari diasaat aku sampai di sekolah, ada satu hal yang sangat mengguncangku…
Keesokan hari diasaat aku sampai di sekolah, ada satu hal yang sangat mengguncangku…
Bagaimana tidak? baju olahraga yg akan di kenakan di jam ke dua di gantung di langit-langit kelas
aku menarik nafas panjang melihat bajuku dan juga ekspresi mereka menahan tawa, aku tahu jika aku mengambilnya aku tidak akan sampai untuk meraihnya, dan pada akhirnya aku akan menjadi bulan bulanan mereka semua, akhirnya aku memilih mengabaikannya.
" woy lu ngapain fred..."
" ambil baju dia " katanya santai, meskipun beberapa pasang mata menatapnya tak suka
setelah mengambil baju tersebut dia menghampiriku dan memberikan baju itu padaku
" nih punya lu kan? sama gue mau kasih uang yang kemarin "
masih ingat orang yang tiba-tiba pinjem duit ke gue? ya fredy orangnya, aku sedikit tidak percaya dia akan membantu aku seperti ini, karena dia biasanya akan terkesan cuek dan tak ikut-ikutan jika ada hal semacam ini.
" makasih " mendengar ucapanku dia hanya tersenyum dan mengangkat alisnya, aku sadar dengan adanya kejadian ini, setiap kebaikan yang kita berikan ke orang suatu saat akan di balas dengan kebaikan juga meski kita tak memintanya.
" tai lu fred " teriak seseorang di susul dengan teriakan anak -anak lain.
fredy tak menghiraukan dan memilih pergi meninggalkan kelas.
***
Semakin hari aku semakin merasa tak berdaya, berbagai tekanan ku terima dari semua sisi, pembullyan yg ku alami belum lagi tekanan dari mama yang selalu menuntutku ini dan itu, mengolokku dan membanding-bandingkanku seakan tak menginginkan keberadaanku, aku semakin lelah dengan semua ini, kepalaku sakit.. aku merasa sendirian
hingga akhirnya setahun berlalu dan kini aku duduk di kelas 3, aku bertemu dengan teman baru,mereka benar benar teman yang baik dan lucu, sesekali tingkah mereka membuatku tertawa lepas yang belum pernah ku rasakan sebelumnya
Terutama fifi dan andre... fifi adalah teman bermain warnetku sepulang sekolah, kita sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain f*******: dan pointblank hahaha.
sedangkan andre adalah teman ngobrol yang lumayan asyik,sesekali dia bertanya tentang budanya cina yang bahkan aku sendiri tak mengetahuinya, ya aku memang cina..tapi bisa dibilang aku hanya numpang sipit doang, untuk budaya atau apa aku nggak ngerti...
Bahkan sesekali andre dan fifi memintaku untuk membantu mereka menghafal doa sholat untuk ujian praktek agama...hmm sebenarnya aku heran kenapa mereka bisa nggak hafal?
bisa dibilang Fifi, Fredy, dan Andre adalah orang yang paling berkesan bagiku, membuatku merasa bahwa masih ada orang baik di sekitarku.
singkat cerita masa smpku di kelas 3 berjalan lancar aku bahagia sebelum lulus aku sempat mendapat teman yang baik disini, setidaknya tidak hanya pengalaman pahit yg kudapat tapi ada pengalaman indah juga yg pernah terjadi walau hanya sebentar.
Masuk sma aku menjadi over ketakutan, aku takut jika pembullyan itu kembali terjadi padaku, aku sampai mencari sekolah yang paling jauh... dari rumah, karena sekolahku masih di bayar bokap, jadi aku sengaja mengambil sekolah smk swasta paling mahal di sana.
aku memotong habis rambutku seperti laki- laki saking stressnya, sampai semua orang menganggapku tomboy... hehehe
tapi ternyata kehidupan di smk ku lumayan berjalan lancar, aku memiliki teman yang baik, meskipun rasa traumaku masih belum bisa ku atasi, aku masih saja gemetar saat bicara dengan seseorang, menjadi pendiam, penakut dan terkadang ingin mual saat berhadapan dengan banyak orang.
tapi aku mempunyai banyak teman yang mendukungku dan merangkulku menghadapi rasa phobia sosialku.
ya kehidupan smkku semua berjalan lancar...hingga akhirnya waktu PKL... aku PKL di sebuah stasiun tv swasta kala itu..dan kalian tahu apa yang terjadi ?
Patricia melangkah cepat, menghindari kejaran Alfath. Gadis 25 tahun itu terpojok di ujung lorong kantor. Dia mendengkus kesal. Yang bisa dilakukannya sekarang adalah menyerah dan pasrah. Alfath tersenyum menang melihat gadisnya terpojok. Melipat tangan di d**a, memasang wajah kesal tanpa senyum nyatanya malah membuat Alfath semakin tersenyum menatapnya. Semakin jatuh cinta ... mungkin.
"Ayolah, menikahlah denganku!" Patricia melengos. Gadis manis itu jengah menghadapi Alfath, rekan kerjanya selama enam bulan ini. Sudah berminggu-minggu Alfath melakukan hal yang sama. Tak peduli penolakan, lelaki itu tetap melakukannya.
"No! Big no!" Patricia berlalu.
"Aku kurang apa?"
Patricia hanya diam, tanpa mau menatap wajah Alfath yang justru tak beralih menyusuri setiap lekuk wajah cantik miliknya.
"Please, marry me!" Kali ini Alfath berjongkok di depan Patricia. Dia mengulurkan sekotak cincin bermata bening yang cantik.
"Oh, please stop it! Aku jijik melihatmu begitu," ucap gadis bertubuh langsing itu ketus. Lantas mendorong Alfath hingga jatuh bersimpuh.
Patricia berlalu. Meninggalkan suara ketukan stiletto hitam di lantai marmer. Pun meninggalkan Alfath yang jatuh bersimpuh. Ya, ditolak lagi. Seperti sebelumnya. Entah dengan halus atau terang-terangan seperti ini. Namun, lelaki kurus dan tampan itu sepertinya tidak menyerah.
"Bukan Alfath kalau menyerah. Lihat saja nanti!"
Alfath lantas menuju meja kerjanya. Setumpuk file dari klien sudah menunggu. Sesekali dia melirik Patricia yang duduk tak jauh dari meja kerjanya. Senyum sinis tercipta pada bibir kecokelatan itu.
****
"Apa-apaan ini?" gumam Patricia keheranan. Matanya melotot menatap taburan kelopak mawar beraneka warna di lantai rumahnya. Benda itu berserakan dari pintu masuk hingga ke ruang tengah.
Patricia semakin terbelalak ketika memasuki kamar. Ruangan bernuansa hitam itu juga penuh dengan mawar dan balon dengan aneka warna.
Belum sempat gadis itu mencari tahu lebih banyak, sebuah benda kecil berujung runcing menusuk lehernya. Pandangannya mendadak kabur lantas menghitam dengan tubuh yang tak berdaya.
****
"Sudah bangun, Sayang?"
Patricia menggeliat. Lantas meronta ketika tahu bahwa kini dirinya terikat kuat di sebuah kursi. Kedua tangannya terikat ke belakang, kaki yang diikat erat pada kedua kaki kursi, dan tubuh yang juga diikat.
Dia dihadapkan pada meja makan yang penuh bunga mawar dan kue cokelat dengan hiasan patung pengantin di atasnya.
"What the hell are you doing!" pekiknya.
"Sstt, jangan berisik!" Alfath menempelkan telunjuknya di bibir merah Patricia. Tangan kekarnya memainkan pisau kecil yang ditemukannya di meja rias wanita itu.
"Aku kan sudah bilang, menikahlah denganku! Kau tak paham bahasaku, ya?" Ujung pisau diarahkan ke wajah Patricia yang berkeringat.
"Aku tidak sudi menikah dengan lelaki aneh sepertimu. Aku lebih baik ...."
Plak!
Pipi sehalus porselen Patricia memerah akibat tamparan keras Alfath.
"Kau .... Baiklah, sepertinya kamu lebih suka paksaan. Akan aku lakukan!"
Alfath melepaskan ikatan tangan Patricia. Meletakkan kedua tangan itu di pangkuan Patricia dan mengikat kembali ke pahanya.
"Menikahlah denganku! Aku memerintahmu, bukan bertanya. Paham?" Alfath mengambil kotak cincin di saku celananya. Tergesa-gesa dia mengambil dan segera meraih jari manis Patricia.
"Apa ini?" tanyanya ketika melihat cincin perak sudah terpasang di jari manis Patricia.
"Kau sudah menikah? Tidak! Kau tidak boleh menikah dengan orang lain!"
Alfath kalap, jemari kokohnya mencengkeram pipi Patricia dengan kuat.
"Kau .... Sial!" Alfath menyentakkan wajah Patricia. Luapan emosi terlihat jelas dari rahangnya yang menegang. Lelaki 27 tahun itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari sesuatu. Hingga matanya menemukan sebuah gunting. Dia tersenyum sinis dan meraih benda tajam itu.
"Apa yang akan kau lakukan?" Patricia berontak, berusaha melawan.
Tanpa menjawab, Alfath langsung meraih jemari Patricia. Gadis itu menjerit saat jari manisnya berada di antara mata pisau gunting. Semakin menjerit ketika Alfath menekan gunting dengan kuat.
Darah mengucur deras bersamaan dengan jari pucat yang terjatuh ke lantai, lengkap dengan cincin yang kini berwarna merah. Patricia menjerit. Kursi yang didudukinya bergerak-gerak karena dia meronta kuat.
"Kamu akan menyesal melakukannya. Aku akan .... Akh!" Patricia terhenyak saat tinju kokoh Alfath menghantam perutnya.
"Andai kau bersikap manis, kita pasti sedang melakukan adegan romantis sekarang. Lihat! Kau mengacaukan segalanya, 'kan?" Alfath menjambak rambut halus Patricia hingga mendongak.
"Kalau aku sudah begini, kau bisa apa, hah?" bentaknya lantas berjongkok, memungut potongan jari Patricia. Dia terkekeh menatap jari yang pucat dan berlumuran darah.
Tiba-tiba Alfath mengerang seraya memegang leher. Belum sempat menoleh, tubuhnya ambruk karena tak kuat menahan beban. Ya, Patricia sudah menerkamnya dengan bengis. Pisau kecil dan tajam yang tadi dipegang Alfath nyatanya sudah menjadi senjata Patricia sekarang.
Alfath mengerang kesakitan karena Patricia terus menusuk lehernya dengan membabi buta. Hingga akhirnya dia tersungkur ke lantai.
"Sudah kubilang aku tidak mau menikah denganmu! Kau tak paham bahasaku, ya?" bisik Patricia sembari membalik tubuh Alfath yang bersimbah darah. Dia tersenyum sinis.
Alfath menggapai-gapai dengan mulut dan leher yang terus mengeluarkan darah. Patricia yang duduk di atas dadanya justru tergelak.