"Tch, psikopat amatiran!" Patricia bangkit, sedikit merapikan kemeja kerjanya yang penuh darah. Kaki jenjangnya lantas menendang tubuh Alfath yang diam, mati. Tak lupa gadis itu memungut potongan jemarinya di lantai.
Patricia menyeret tubuh Alfath. Membawanya ke sebuah ruangan. Aroma anyir dan busuk bangkai menguar tajam. Namun, gadis itu seperti sudah terbiasa. Dengan santai dia menyalakan lampu, membuat terang seluruh ruangan.
"Kuharap ini yang terakhir. Aku muak dengan rayuan tak bermutu mereka." Dia menatap satu persatu lima jasad yang berjejer rapi di tembok dengan tangan dan kaki yang dipaku.
Mata lentik itu meneliti satu persatu wajah mereka. Termasuk cincin yang sengaja di tancapkan di mata para lelaki.
"Memintaku menikah adalah sebuah kesalahan!"
Patricia berbalik. Mematikan lampu dan menutup kembali pintu.
"Mungkin dengan cacat ini tidak akan ada yang mau memintaku untuk menikah. Ah, dasar lelaki sialan! Aku jadi tidak bisa memakai cincin lagi." Patricia menatap jarinya yang berkurang satu. Dia mulai mengobati jari manisnya yang buntung.
****
[Maukah kau menikah denganku, mawar tercantik di dunia?]
Patricia membanting ponselnya ke lantai. Lagi? Mengingat wajah sang pengirim pesan saja sudah membuatnya muak. Ya, dia adalah Kansrah, manager barunya. Lelaki sombong dan sok kaya yang intens mendekatinya selama seminggu ini.
"Oh, come on! Aku lelah! Aku lelah membunuh," keluhnya.
Aku menatap tak percaya pada wanita berbaju putih itu, Mba Anita, konselor yang diajukan dokter untukku. Meskipun telah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang ada, tetap saja ini terlalu berat untuk kuterima. Ini tak mungkin terjadi padaku, bukan? Bagaimana bisa? Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang hampir selalu menghabiskan waktu di rumah. Kenapa terjadi padaku? Kenapa harus aku?
Bibirku bergetar demi menahan bendungan air mata yang menggenang. Sesuatu dalam hatiku bergejolak dan meronta. Sakit. Sementara wanita itu menatapku dengan pandangan iba.
Positif. Bagaimana bisa hasilnya positif? Sejak kapan? Dari mana?
Bertubi-tubi pertanyaan mendesak di kepalaku. Rasa tak mengerti membuatku tak sanggup mempercayai. Aku telah terinfeksi virus laknat itu.
“Seperti yang udah kita bahas sebelumnya, kalau hasil testnya positif ada baiknya si kecil juga ikut menjalani pemeriksaan. Untuk meminimalisir resiko ke depannya," ujar wanita itu lagi.
Aku tersentak mendengar kata-katanya. Shenaku? Gadis kecilku itu harus ikut menjalani pemeriksaan? Apakah ia juga ...?
Ya Tuhan, hukuman macam apa ini? Aku tak sanggup membayangkan jika Shena kecilku juga terinfeksi virus k*****t itu. Ia masih terlalu kecil.
Dadaku bergemuruh. Ingin rasanya aku berteriak marah pada semua yang ada di sekitarku. Ini tak adil untukku. Tak adil untuk kami.
Kupilih untuk meninggalkan ruangan itu. Tak sanggup jika harus terus duduk di sana, dan melihat pandangan iba darinya.
Berjalan dan terus berjalan. Teriknya matahari tak lagi kuhiraukan. Apa bedanya bagiku kini? Aku sekarat. Kematian sedang menungguku. Seperti Mas Tama yang kini terbaring di rumah sakit itu.
Ah ... Mas Tama. Bagaimana bisa ini terjadi pada kami? Ia adalah suami terbaik sepanjang yang bisa kuingat. Tak pernah ia menyakiti hatiku, atau bahkan sekedar membuatku kecewa. Lantas bagaimana penyakit terkutuk itu mendatangi kami? Bagaimana?
Suara klakson motor Cumiakkan telinga mengejutkanku. Umpatan dari si pengendara tak begitu jelas kudengar. Sepertinya aku telah berjalan terlalu ke tengah hingga ia nyaris menabrakku.
Aku merasa seperti kehilangan akal. Bahkan aku seolah kehilangan diriku sendiri. Tubuh dan pikiran ini kini di luar kendaliku. Aku merasa kosong.
Kulangkahkan kaki kembali ke trotoar, lalu duduk di bangku pengguna jalan. Berbagai bayangan silih berganti memenuhi pikiran. Bayangan senyum manis Shena, putri kecilku yang tahun ini genap berumur tiga tahun. Si kembar Alfia dan Ulfa, putri pertama dan keduaku. Juga Mas Tama, suamiku.
Mas Tama. Ia adalah satu-satunya cinta yang kutahu. Kami bertemu dalam acara reuni sekolah sepuluh tahun yang lalu. Mudah baginya membuatku jatuh cinta, dan mengatakan iya untuknya. Ia tampan, dan penuh kharisma.
Tak butuh waktu lama bagi kami memutuskan untuk menikah. Rumah tangga kami hampir selalu bahagia, apalagi dengan kehadiran dua putri kembar Alfia dan Ulfa yang seolah semakin melengkapi. Hanya sesekali kami terlibat perselisihan, dan Mas Tama akan selalu mengalah lebih dahulu. Bagiku ia adalah suami yang sempurna.
Namun, kondisi kesehatan Mas Tama menurun drastis beberapa bulan belakangan. Batuk yang kian hari kian menjadi. Juga beberapa kali ia terkena diare. Berkali-kali kucoba mengajaknya memeriksakan diri ke rumah sakit, ia selalu saja menolak.
“Paling kecapekan aja, masuk angin. Ntar juga sembuh. Kamu nggak usah khawatir,” ucapnya selalu sembari tersenyum menenangkanku.
Hingga puncaknya dua minggu yang lalu ia mendadak kehilangan kesadaran, dan harus dilarikan ke rumah sakit. Beberapa hari ia tak sadarkan diri. Aku merasa sangat takut kehilangannya. Merasa bodoh karena tak berdaya setiap kali ia menolak ajakanku ke rumah sakit.
“Bu, mohon maaf kami harus menyampaikan hal ini ...,” ucap dokter siang itu.
Jantungku berdegup sangat kencang. Ruangan putih ini mendadak terasa begitu sempit. Ada apa dengan hasil pemeriksaan suamiku? Apa penyakitnya sungguh parah? Jantungkah? Gagal ginjal? Kanker? Astaga ... semua pikiran itu hampir membuatku gila.
“Dari hasil pemeriksaan kami menemukan bahwa bapak positif terinfeksi HIV, dan sudah memasuki fase AIDS ...,” ucap dokter hati-hati.
Aku mengerutkan kening mencoba memastikan bahwa aku tak salah mendengar pernyataan dokter. Bagaimana mungkin suamiku mengidap penyakit ... seperti itu?
“AIDS merupakan gejala lanjutan dari HIV yang telah merusak sistem imun ....”
“Nggak mungkin, Dokter! Pasti ada kesalahan! Suami saya nggak mungkin mengidap hal seperti itu,” ucapku setengah tertawa. Mereka tak mengenal suamiku.
"Bu, kami sudah melakukan pemeriksaan secara ....”
“Ya, mungkin ada kesalahan. Sampel darahnya tertukar atau apa gitu ...,” jawabku mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa menyebabkan kesalahan dalam pemeriksaan.
Dokter itu menegakkan sedikit duduknya, dan kembali berbicara dengan raut wajah serius. “Kami mengerti dengan keterkejutan Ibu, tapi pemeriksaan telah dilakukan terhadap suami Ibu, dan hasilnya bapak positif mengidap AIDS. Kami telah menyampaikan hal ini kepada bapak sebelumnya, dan beliau telah setuju untuk menyampaikan hal ini pada Ibu, ” ucap dokter itu lagi.
Aku mencoba kembali membuka suara, tetapi urung. Apakah yang dokter katakan itu benar? Suamiku mengidap penyakit itu? Ah ... bahkan menyebutnya saja membuatku bergidik ngeri.
Tak terlalu kudengarkan lagi penjelasan dari dokter. Pikiranku dipenuhi tanda tanya. Ini terlalu mustahil bagiku.
“Mohon maaf sebelumnya, apakah Ibu menggunakan pengaman setiap kali berhubungan suami istri?” tanya dokter kemudian. Aku tersentak, dan menggeleng lemah. Bingung, bagaimana harus menghadapi situasi ini.
“Kami menyarankan Ibu agar ikut menjalani pemeriksaan untuk memastikan apakah virus HIV telah ditularkan kepada Ibu sebagai istri beliau, dan kami akan merujuk Ibu pada seorang konselor yang akan membantu Ibu nantinya ...,” lanjut dokter kembali.
Aku terpana mendengar kata-kata yang baru saja kudengar. Apakah virus itu telah ditularkan padaku sebagai istri?
Limbung. Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa? Separuh hatiku tak percaya. Namun, untuk apa dokter itu berbohong? Bagaimana jika semua itu benar?
Mas Tama, bagaimana mungkin suamiku mengidap AIDS. Ia bukanlah seorang pecandu, juga bukan tipe lelaki hidung belang. Rasanya tak ada celah yang bisa menyebabkan ia mengalami semua itu. Tetapi, kenapa hasil pemeriksaannya seperti ini.
Namun, aku tetap mengikuti saran dokter untuk ikut menjalani pemeriksaan, dan hasil yang kuterima siang ini seolah menghancurkan hidupku. Satu pertanyaan terus berputar di kepalaku. Dari mana penyakit itu ia dapatkan? Bagaimana bisa?
Aku telah melakukan pencarian di mesin pencari ponsel mengenai segala hal tentang HIV dan AIDS sebelumnya. Aku benar-benar tak menemukan celah bagaimana virus itu bisa menyerang kami.
Mas Tama tak mungkin mengkhianatiku. Tak mungkin!
*****
Aku kembali ke rumah sakit menjelang pukul tujuh malam. Perlahan kubuka pintu ruang rawat Mas Tama. Ia terbaring dengan berbagai macam alat untuk menopang hidupnya. Kupandangi tubuhnya yang kini begitu kurus. Ia kehilangan hampir dua puluh kilogram berat tubuhnya.
Kusentuh lembut jemari tangannya, dan lagi semua pertanyaan itu menghantui pikiranku. Bagaimana penyakit itu bisa mendatangi kami?
Mas Tama membuka matanya, dan menatapku sendu. Mata itu kini terlihat begitu sayu. Cukup lama kami hanya berpandangan dalam diam. Bibirku seolah kelu, tak mampu berkata apa-apa.
Mas Tama kemudian membalas sentuhanku pada tangannya. Wajahnya semakin terlihat pilu dan menderita.
“Dira, aku menghianatimu. Maaf...," ucapnya lemah.
Bersambung....
Elok berjalan di bawah rindangnya pepohonan menuju kantin, tepatnya kantin kedua yang berada di tengah-tengah kantin lain. Ini merupakan kantin favorit karena sejak awal angkatannya lebih akrab dengan ibu kantin baik hati itu daripada dengan yang lain.
Cewek itu berusaha menatap lurus ke depan ketika melewati sekumpulan cowok yang asik berkelakar. Namun ekor matanya tak kuasa menahan gerak untuk menangkap segala aktivitas cowok bernama Elang.
Elok duduk di kursi belakang Elang. Sekedar untuk dapat menatap punggungnya sambil menikmati makan siang.
Rindu berjalan tergesa-gesa menghampiri Elok, memanggil namanya dua kali tapi cewek itu tetap bergeming seolah berada di dimensi lain.
Rindu menarik garis khayalan dari manik mata sewarna madu itu menuju ke depannya dan taulah apa yang membuat sahabatnya itu tiba-tiba menjadi tuli akan panggilan.
Dia menarik cepat tisu yang ada di tengah meja kayu, mengelapkan di bibir Elok dengan kasar. "Lap dulu air liurmu yang banjir ini."
Menghempaskan diri dengan kesal ke bangku yang berada di seberang Elok. Elok memberikan tatapan protes. Untung itu sahabatnya kalau nggak pasti sudah dihabisi.
"Ngapain sih? Aku kan baru makan, nggak ada air liur yang menetes seperti orang kelaparan yang belum makan tiga hari." Elok mengelap mulut menggunakan tisu yang direbut dari tangan Rindu. Menunjukkan pada cewek itu kalau tidak ada satu tetes air liur pun yang menempel pada permukaan tisu.
"Nggak salah kok kalau mengagumi ciptaaan Tuhan yang demikian memikat. Nggak usah malu mengakui kalau sedari tadi kamu lihatin Elang terus." Rindu memiringkan kepala lalu mengerling.
Elok menyibukkan diri dengan mengaduk kuah soto untuk mencari daging sapi yang sebenarnya tidak ada karena sudah dimakan semua. Apakah dia terlalu ceroboh sampai perasaannya terlihat begitu jelas.
Sudah dua tahun ini dia berusaha mengekang rasa sukanya dengan berpura-pura tidak mengenali Elang. Mereka bahkan tidak pernah berbicara satu kali pun. Ajaibnya, tidak ada yang menyadari keganjilan itu.
Kesedihan kembali merayapi Elok. Sungguh dirinya tak layak untuk berada di dekat Elang sejak kejadian naas ketika mereka lulus SD.
Kalau bukan karena sifat manjanya pasti sekarang Elang masih bisa bersama-sama dengan mamanya. Elok mendesah, memaksa menyuapkan nasi soto ke dalam mulut kecilnya.
Elok menutup wajah dengan kedua tangan, mengingat kembali kejadian itu membuat hatinya sedih. Betapa pengecutnya karena sampai sekarang tidak berani meminta maaf pada Elang. Menelan sendiri rasa bersalah itu.
"Jadi begini." Elang bangkit lalu memutari meja. Menekankan kedua tangan di atas meja, tubuhnya condong ke depan hingga semua teman-teman mengikuti.
Elang mengangkat dagu sebentar agar matanya bisa menatap pemandangan yang tadinya tidak bisa dilihat. Dahi berkerut ketika melihat objek pemandangan malah sedang menutup mata dengan tangan. Sedang sedihkah dia? Apakah kembali memikirkan masa lalu.
Elang kembali menunduk, melanjutkan percakapan yang tertunda. Namun otaknya memikirkan hal lain. Dia ingin kembali bisa dekat dengan Elok. Namun sejak awal mereka bertemu di kampus, cewek itu seperti menghindar.
Rindu menyentuh lengan Elok. "Kamu kenapa?"
Elok menyingkirkan tangan yang menutup wajah, menggeleng lemah. "Nggak papa," ujarnya sambil tersenyum lemah.
"Makannya sudah selesai kan? Sekarang sudah hampir waktunya praktik." Rindu berdiri setelah melihat jam tangan.
Elok juga ikut berdiri, berlari kecil mengejar Rindu yang sudah pergi duluan.
"Eh, maaf," kata Elok setelah tidak sengaja menabrak Elang yang tiba-tiba berhenti.
Elok tidak memperhatikan secarik senyum yang coba disembunyikan Elang karena bisa mendengar suaranya kembali.
Praktik kali ini ada di lantai tiga. Elok menyesuaikan napas ketika memasuki ruangan. Terkesiap ketika melihat Elang sudah terlebih dahulu sampai. Pasti dia lewat tangga yang satunya.
Elok mencoba mengabaikan fakta bahwa Elang sama sekali tidak terengah-engah seperti dirinya sendiri. Pasti cowok itu sering berolahraga.
Elok berjalan melewati meja Elang untuk menuju mejanya sendiri yang hanya selisih satu bangku.
Fahmi tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Dengan tidak sabar menarik tangan Elok hingga cewek itu terduduk di bangkunya.
Cowok itu membantu Elok mempersiapkan box yang berisi perlengkapan praktik. Elok hanya bisa tersenyum menerima perhatian itu. Elok menyadari perasaan Fahmi, tapi apa daya hatinya sudah tertambat ke orang lain.
"Sudah siap dengan pretest? Jangan sampai kamu tidak boleh mengikuti praktek karena nilai yang kurang." Fahmi mengerling sebelum menyiapkan perlengkapannya sendiri.
Dosen dan juga asisten sudah memasuki ruang laboratorium, tapi Elani masih belum kelihatan. Waktu teori tadi dia juga tidak kelihatan. Elok melirik bangku yang berada di samping.
"Sebelum memulai pretest, saya ada sedikit pengumuman. Elani sudah mengajukan surat berhenti kuliah. Elok, kamu pindah di sebelah Elang. Kalian jadi partner. Yang lain silakan bergeser satu bangku." Bu Weni mengawasi mahasiswa yang mulai mengemasi perlengkapan untuk pindah.
Elok memberesi perlengkapan dengan berat hati. Dua tahun ini sudah berusaha keras menghindari cowok satu itu. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang. Apa harus mulai minta maaf. Ini terlalu berat baginya.
Elang melirik Elok yang terlihat lesu. Berbanding terbalik dengan dirinya. Rasanya ingin bersorak keras-keras untuk menyerukan kegembiraannya.
Bola lampu di otak Elang menyala. Ini saatnya dia bertindak agar Elok kembali mau berbicara lagi dengannya. Ini akan menyenangkan, benak Elang tertawa bahagia.
"Jangan dikira aku mau menjadi partnermu," bisik Elang untuk Elok gusar.
Mata Elok membelalak hingga terlihat begitu bulat. Ini pertama kalinya Elang bicara padanya. Nada bicara itu membuat Elok merinding. Apakah cowok itu masih begitu marah.
"Jangan sampai menyusahkan." Peringatan kedua yang diucapkan oleh Elang menyulut emosi.
Elok bersedekap dengan dagu terangkat. "Siapa juga yang mau berpartner dengan cowok kaya kamu. Masih lebih baik Fahmi kemana-mana."
Kata-kata itu sukses mengalihkan dunia Elang karena saat ini cowok itu memandang Elok dengan tatapan membunuh. Elok tidak tahu kalau itu benar-benar menyinggung harga dirinya.
Pretest sudah usai, waktunya membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar bu Weni memangggil nama mahasiswa. Kalau sampai namanya tidak dipanggil saat praktikum dimulai itu tandanya nilai terlalu rendah, tidak boleh ikut dan harus keluar dari laboratium.
Elok tersenyum ketika namanya dipanggil setelah Elang. Dia berderap maju untuk mengambil kunci laci. Masing-masing mahasiswa memiliki laci yang berisi set peralatan untuk praktikum. Harus bertanggung jawab dengan kebersihan dan kelengkapannya.
"Lho kok kuncinya macet," gerutu Elok sambil terus berusaha memutar ke kanan, tapi terasa berat.
Sebuah kunci diletakkan di meja Elok. Dia mendongak untuk memandang Fahmi yang tersenyum geli.