"Lok, kamu ambil kunci yang salah." Fahmi mengulurkan tangan untuk meminta kunci nomor lima.
Elok menepuk jidat pelan karena menyadari kesalahannya. Nyengir malu-malu, ini karena terbiasa mengambil kunci nomor lima padahal sekarang sudah duduk di nomor empat.
"Ceroboh."
Elok pura-pura tidak mendengar ejekan Elang itu. Mengeluarkan perlengkapan dari dalam laci lalu menata berurutan di atas meja. Sekarang tinggal mengambil mikroskop saja. Dia melangkah menuju rak penyimpanan mikroskop.
"Jangan salah lagi." Elang berjalan sambil memberi peringatan.
Elok meringis, untung diingatkan. Nyaris saja salah ambil mikroskop lagi.
Elok mengeluh dalam hati. Baru beberapa menit mereka menjadi partner tapi sudah mendengar kata-kata yang bikin bad mood. Tau gitu lebih baik tidak ikut praktik saja. Eh, sayang juga kalau harus mengulang semester gara-gara selalu tidak ikut praktik. Mereka kan sekarang jadi partner.
Anggap saja berpartner dengan cowok paling tampan di tingkat tiga. Eh, tunggu dulu, bukannya predikat itu disematkan pada Elang. Elok mendesah sebal.
Elang melirik cewek yang duduk di sampingnya. Cara ini rupanya cukup berhasil. Cewek itu pasti tidak tahan untuk menjawab setiap celaan yang terlontar dari mulutnya. Elok nggak bakal diam saja kalau terus dihina. Rupanya cewek masa kecilnya masih belum berubah banyak.
"Hari ini kita akan praktek hitung eosinofil. Di sini siapa yang punya alergi?" Bu Weni menunggu jawaban dari yang lain.
"Elok saja, Bu." Elang menunjuk Elok disertai dengan serigai liciknya.
"Memangnya Elok punya alergi apa?" Bu Weni mendekati meja mereka sambil membawa perlengkapan untuk mengambil sampel darah berupa vial yang berisi antikoagulan, spuit, alkohol swab, dan torniquet.
"Bukan alergi tapi cacingan. Lihat saja badannya yang kurus." Elang memandang Elok dari sudut mata hingga muncul kesan merendahkan.
"Ya sudah kalau begitu. Elang, kamu ambil darah Elok sebanyak 6 cc," perintah bu Weni.
Elok bergidik ngeri melihat serigai Elang. Ya ampun, 6 cc darah. Spontan menutup lengan kanan dengan memakai tangan kiri. Ini bukan mimpi kan? Semoga Elang bisa lancar mengambil darah.
"Ini tidak sakit kok." Elang memainkan alis sambil mengacungkan spuit 6 cc. Dalam hati menertawakan wajah panik Elok.
Elok menarik tangan saat Elang menggegam mantap. Elang melotot, dengan pandangan mengancam kembali menarik kembali lengan Elok agar posisinya pas. "Tenang aja."
Kata-kata dari Elang tidak membuatnya semakin santai malah makin tegang. Elok mengintip dari sela-sela telapak tangan yang harusnya digunakan untuk menutup wajah. Biasanya sih selalu berani kalau diambil darah. Namun kali ini plebotomisnya adalah Elang. Gimana kalau dia sengaja menusuk dua, tiga, atau bahkan empat kali untuk mengambil darah.
"Nggak sakit kan?" Elang menarik spuit dari lengan Elok dengan mulus.
Elok menggeleng lemah karena pikiran buruknya tidak terbukti. Bahkan tidak terasa sakit seperti kalau diambil oleh Fahmi. Dia meraih vial-vial yang sudah diisi Elang dengan darah, menutup dan mencampurnya dengan anti koagulan lalu membagikan ke pasangan-pasangan lain.
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Sumber : h***:://www.atlm.web.id/2017/03/pemer...nofil.html?m=1
Semua langsung berkonsentrasi untuk memulai praktikum sedangkan Elok baru saja mulai karena harus membagi vial terlebih dahulu.
Elang mengangkat tangan tanda dia sudah menemukan sel eosinofil. Bu Weni mendekat untuk melihat kamar hitung lalu memberikan tanda tangan di buku laporan. Elang menghitung jumlah Eosinofil yang ditemukan lalu segera mengumpulkan buku itu.
"Cepat seperti biasa." Bu Weni memuji Elang yang pertama kali menyelesaikan praktikum.
Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Elok yang masih berkutat dengan mikroskop. Mencari sosok eosinofil yang berbentuk seperti kacamata.
"Lima menit lagi. Segera bersihkan peralatan!" Suara Bu Weni membuat Elok semakin gugup.
Elang sudah selesai membereskan meja, malah duduk diam sambil terus memandangi. Enggan untuk membantu biar cewek itu semakin kesal.
Fahmi yang terakhir mengangkat tangan. Setelah memberi tanda tangan, Bu Weni menghampiri Elok untuk mengecek mikroskop dan memang tidak menemukan apa pun.
"Fahmi, tolong pinjamkan bilik hitungmu buat Elok," pinta bu Weni.
"Kamu cacingan ya? Sampai-sampai aku dapat banyak eosinofil. Minum obat cacingan biar gemukan sedikit," ejek Elang, tapi cewek itu masih berpura-pura tidak mendengar.
Elang tahu apa yang bisa membuat cewek itu bereaksi. "Jangan-jangan kamu punya asma. Ngik ... ngik ... ngik...." Elang memegang d**a lalu berpura-pura menarik napas dengan kepayahan.
"Nggak lucu," gerutu Elok, membuang muka.
"Kalau begitu pasti alergi." Elang mencondongkan badan sambil menunjuk muka Elok.
Elok mengabaikan ucapan itu. Menyibukkan diri untuk mengemasi tas agar tidak perlu melihat wajahnya.
"Alergi kan?" Elang mengulangi pertanyaan lalu menyikut cewek itu.
Elok memberikan tatapan peringatan. Elang semakin merasa kegirangan. Wajah cewek itu malah jadi semakin menarik. Mungkin ini bisa dijadikan senjata untuk membuat cewek itu terus berbicara padanya.
Fahmi menghampiri. "Elok, ayo keluar."
Elok dan Fahmi berjalan bersisian. Mereka memang kompak sebagai partner karena sudah dari tingkat satu bersama. Sayangnya sekarang mereka terpisah.
Hampir saja Elok duduk di sebelah Fahmi. Namun cowok itu tersenyum geli sambil menunjuk kursi sebelah Elang. Elok menghembuskan napas kasar. Perubahan ini benar-benar membuatnya kacau. Capek hati dan capek pikiran kalau terus berada di dekat Elang.
"Cacingan, asma, alergi?" ejek Elang dengan nada riang.
Elok merasa heran, tumben-tumbenan cowok satu ini banyak bicara. Biasanya tampak cool. Ini sangat menyebalkan.
"Iya, aku punya alergi," ujar Elok ketus. Pada akhirnya memang harus menghadapi cowok itu.
Elang menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Mendekati agar dapat mendengar lebih jelas. "Aku benar kan? Kamu alergi apa?" Dia memainkan alis demi melihat wajah Elok yang semakin memerah.
"Uhuk, uhuk, alergi kamu." Elok pura-pura batuk untuk menggoda. "Alergi dekat-dekat sama manusia bernama Elang." Kilat jail muncul dari manik sewarna madu.
Aku menemui Mama yang sedang memasak di dapur. Menatap beliau yang begitu lihai memasak, seperti penari di atas panggung. Beliau mampu memadu padankan bumbu yang tak kutahu namanya apa. Sebab, masih dini. Aku hanya tahu tomat yang tiap hari kumakan mentah-mentah.
“Mama, ntiajalin Shella macak, ya?" Aku menghampiri Mama sambil memeluk boneka Barbie.
"Iya, nanti kalau Shella udah besar."Mama tersenyum sambil mengulek bumbu.
"Shella penenmacak gini, penen buat tue."
"Iya, Shella."
"Dandi, Ma?"
"Iya, janji."
Aku bersorak ria, tak sabar ketika besar nanti akan lihai menari di dapur. Memotong sayur, merebus, menggoreng lauk, menanak nasi, memanggang kue, dan lainnya. Umurku masih tiga tahun saat itu, untuk pegang pisau saja masih dilarang.
"Danil, nti aku diajalinmacak cama Mama."
Danil tak menjawab, hanya sibuk dengan tangan-tangan barbie yang patah.
"Danil, ntibesal aku macakin kamu, bitinintue ...."
Lagi, ia tak menjawab celotehanku. Aku maklumi, sebab umurnya masih dua tahun, bicaranya pasti lebih tidak jelas di banding aku.
"Danil, ayo teluar. Main cama Wiwi."
Danil mengangguk, lalu berjalan mengikutiku dengan boneka barbie yang berada di tangannya.
Kami bermain sampai lupa waktu. Masak-masak, main boneka barbie, baju-baju, bongkar pasang. Semua sudah kami geluti.
Masa kecil itu menyenangkan. Aku terluka hanya karena jatuh, bukan karena masalah hidup yang membuatku rapuh.
****
"Aku pulang dulu ya, mandiin anak-anak,” ucap Papa kepada Mama.
"Iya, tapi jangan lama-lama. Bawakan baju kesukaanku, ya!" pinta Mama dengan suara parau.
"Tapi mandiin anak-anak lama, nggakapa, ya, kalau lama?"
"Iya, nggak apa," lirih Mama. Tersenyum, menatap aku dan Danil lamat-lamat.
Mama sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit. Penyakit asmanya kambuh lagi, akibat gempa beberapa bulan lalu di kotaku. Gempa yang terjadi pada waktu subuh, tahun 2005.
Beberapa orang masih tertidur lelap, sebagiannya lagi sedang melaksanakan salat subuh. Rasanya memang kalap. Apalagi roman-roman tsunami Aceh pada tahun 2004 masih menyelimuti.
Seluruh warga berlarian ke arah gunung. Mencari dataran tinggi. Teriakan tsunami menggema di udara, orang-orang bak semut kembali ke bawah tanah. Bersembunyi, mencari tempat teraman dari serangan di luaran sana.
Tapi, itu semua hanya tipuan semata. Tsunami tidak ada, berita hoax merajalela.
***
"Papa, ayo ke lumahcakit cama Mama."
"Tunggu sebentar, Papa masih mandiin Danil."
"Danan lama-lama, tatian Mama tendilian."
"Iya, Shella."
Setelah memandikan Danil, papa memakaikan aku dan adikku baju, minyak telon, dan bedak tebal memenuhi seluruh wajah hingga leher kami.
"Siap?" tanya Papa di atas motor.
"Ciap!"
Motor melaju, menyatu bersama kendaraan lainnya. Dengan aku yang berada di depan, Danil di belakangku, dan papa mengemudikan kuda besi bak Valentino Rossi. Papa selalu mengendarai motor di atas rata-rata. Makanya aku menjulukinya Valentino Rossi KW.
"Papa, Awas ayam!"
Ayam betina hampir saja tertabrak, untung papa sangat sigap menarik rem motornya.
"Papa, pelan-pelan aja," ucapku, menengadah ke atas, melihat Papa.
"Iya, daripada nabrak ayam lagi," ucap Papa.
Sampai di rumah sakit, ruangan Mama ramai. Perawat dan dokter ke sana kemari di dalam sana. Kain putih membungkus seluruh tubuh Mama.
'Apa yang terjadi?'
Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Ia diam ketika aku menggoyang tubuhnya, ia tidak menyahut ketika aku memanggil. Tangan mama dingin ketika aku menyentuhnya.
Tangisan Danil pecah, aku semakin bingung. Padahal dia lebih dini dariku. Kenapa dia seolah mengerti?
Batin Danil lebih erat dengan mama.
Perlahan aku mengerti dan tahu. Kain putih itu memang pantas membungkus tubuh mama, karena ... mama pergi.
***
Aku selalu terjebak dalam kubangan rindu. Di mana semesta menangis dalam klandestin. Kedinginan, sembari memeluk erat ulu hati dan terpekur dalam asa yang menggerogoti.
Senyap. Rinduku ditemani kegelapan. Mendung yang menikam tanpa belas kasihan. Terpekur di ujung masa silam yang mengundang kerapuhan. Cahayaku redup, dilahap oleh kesakitan tanpa cukup.
Aku tergugu dibalik sembilu yang kian membiru. Berlutut di lantai bumi, berubah menjadi beringas, menggonggong ganas. Jemari berjentik dalam temaram, melempar meriam.
Siapa yang sangka?
Aku pernah ditikam dari belakang oleh nestapa. Tembus hingga rongga-rongga yang menganga. Sakit, sampai berdengung di telinga.
Hatiku dirajam. Dilempari batu dari arah mana pun. Awalnya lebam-lebam, lalu berakhir mengenaskan tanpa ampun.
Aku marah pada mata jelalatan yang terus menyusuri hidupku. Seolah ingin tahu, tapi tujuannya ingin melempar belati ke tubuhku.
Saat sepotong hatiku pergi. Menuju tempat yang abadi. Berdoa penuh harap akan kembali. Bersamaku, di sini.
ALLAH, KENAPA CEPAT MENCABUT NYAWANYA?
Aku pernah berteriak marah. Membenci keadaan tanpa kata lelah. Menangis di bawah rinai hujan dengan resah. Aku juga rapuh, saat menangis di atas sajadah.
Saat itu aku masih dini. Belum tahu apa itu makna dari jati diri. Berbicara pun belum fasih. Namun, air mataku bercucuran. Membentuk anak-anak sungai di pipi, lalu bercampur bersama petrikor yang menguar.
ANAK KECIL TAHU APA?
Tahuku, mama telah pergi. Katanya tak mau kembali. Meninggalkanku bersama senyap dan sepi.
Aku terdiam di samping tubuh kaku. Memegang tangannya erat. Sampai matahari berpendar ke arah barat.
TAHUKAH? INI ADALAH MALAIKAT.
Beliau malaikatku!
Dulu pernah menjadi penikmat candramawa.
Membawa sepotong hati dengan kisah pilu. Membawa rindu yang selalu berujung sendu.
Aku tak bisa merobek bayangan yang pernah terpatri. Biarlah semua menjadi kenang dalam malam-malam panjang. Selalu menggeluti sajak tanpa tapi. Sesekali mencecap nestapa. Dalam kubangan rindu dan awan kelabu.
Boleh aku rindu?
Pulpenku berhenti pada tanda tanya bersama tangisan yang sedari tadi sudah pecah. Aku tak mampu menahan sesak di d**a. Mengingat segala tentangnya, Mama. Aku masih terlalu dini, bahkan mengingat wajahnya saja masih amat patah-patah. Sesak itu menggerogoti, air mata tak mau berhenti. Membasahi kertas yang berisi cerita tentangnya. Sungguh, aku rindu. Akan peluk yang selalu menenangkan kalbu.
Segera, kuhapus air mata. Menemui beliau yang sudah lama tak pernah bersua denganku tanpa kata. Rindu itu memang menyiksa, aku sudah tak tahan bila hanya mengumpulkan kenangan yang tak pernah bersisa.
***
'05 - 05 - 2005'
Angka itu terpahat rapi di batu nisan Mama. Kejadian empat belas tahun lalu masih teringat jelas, meninggalkan kenangan miris. Apabila selalu mengingatnya, hatiku seperti teriris lalu menangis.
Mama, kenapa mama pergi?
Padahal kita belum masak sama-sama.
Mama, kenapa mama pergi?
Padahal aku belum lihai dalam membuat kue.
Mama dulu pernah berjanji ' kan? Tapi mama mengingkari.
Ya sudah, Ma. Aku hanya ingin memberitahukan kepadamu. Sekarang, aku sudah pandai membuat brownies, pisang ijo, onde-onde, kue lumpur, kue cara, risoles.
Hanya itu, kue kering belum bisa sama sekali.
Mama tahu? Aku nyaris saja bertemu denganmu. Karena kejadian yang sama. Aku ... hampir mati. Saat gempa 28 September pada tahun lalu.
Mama, maukah berjanji lagi?
Tetap tenang di alam sana. Jangan merasa tersiksa.Sebab, anakmu ini, telah tumbuh dewasa dan tak akan melupakan segala kenangan barang secuil saja.
Selamat hari Ibu, untukmu. Sekali lagi, aku rindu. Kuatkan aku dengan senyum yang berpendar di dalam malam-malam, katakan saja kita akan segera bertemu meski dibawa pergi oleh temaram.
Semilir angin pagi ini terasa sejuk menyapa tubuhku. Rindu kembali menyentuh relung hatiku. Terasa indah rindu itu, hingga membuatku enggan membuka mata ini. Kembali ku peluk bantal guling yang ada di dekatku. Rasanya ingin selalu memeluknya, membayangkan wajahnya selalu.
"Puspita, bangun...!" Teriak ibu memanggilku sambil mengetuk pintu.
"Iya, bu...!" kubuka pintu kamar dan kulihat ibuku sudah sedikit marah. Mungkin karena tadi sudah lama mengetuk pintu tanpa jawabanku.
Ku cium pipi Ibu, dan langsung menuju kamar mandi.
"Puspita, handuknya" teriak ibu sambil melemparkan sebuah handuk yang sering lupa saat aku pergi mandi.
Setelah mandi, wangi, dan rapi, aku segera berangkat ke kampus. Ku cium tangan ibuku yang menggerutu karena kuabaikan ajakanya untuk makan di rumah.
" Aku buru buru ibu, ada janji dengan temen." Kataku pada ibu sambil berlari masuk ke dalam mobil.
Kulajukan mobil perlahan, dan sampai juga akhirnya di kampus. Kulihat Rangga sudah ada di parkiran menungguku.
"Hai, put. Kapan sih kamu nggak telat kalau punya janji ketemu sama aku?" Katanya padaku dengan nada kesal.
Rangga terbiasa memanggilku Puput. Terlalu panjang katanya bila memanggil nama panjangku "Puspita"
"Iya, iya, besok besok nggak telat lagi, aku takut untuk bangun, karena lagi mimpiin kamu sayang."
"Preeeettt...! Gombal...!" Jawab Rangga sambil mencubit pipiku.
Kamipun berjalan ke taman dekat kampus, entah apa yang ingin dia bicarakan. Semalam sebelum tidur Rangga kirim pesan, katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan.
"Ada apa sih ngga?" tanyaku saat kami sudah duduk berdua.
"Bentar, aku cari minum, tunggu di sini, ya!"
Belum sempat aku menjawab, Rangga sudah berlari kecil menuju toko kecil di ujung jalan dekat kami duduk. Tak butuh waktu lama dia sudah datang kembali dengan membawa makanan ringan dan dua botol minuman.
"Cepet bilang ngga, ada apa? Jangan bikin penasaran, deh." Tanyaku penasaran sambil meneguk minuman yang Rangga berikan padaku.