“Apa Kakek sering ikut pengajian Habib?” tanya Harits, kali ini ia duduk beralaskan sendalnya di depan becak. Si kakek terlihat canggung, menawarkan Harits duduk di becaknya, namun Harits menolak dengan halus. Lebih baik Kakek yang duduk di becak, karena ia lebih tua, tak santun rasanya.
“Sebisa mungkin semua Habib yang datang, kakek datangi. Sayangnya desa kakek itu tempatnya terpencil. Jadi sampai sekarang belum ada seorang habib yang berkunjung. Jadi kakek yang harus keluar mendatangi mereka.”
“Oh begitu, Kakek suka sekali mendengar pengajian dari mereka?”
“Iya, kakek ingin sekali masuk surga. Kakek bukan orang kaya, ga bisa amal sodaqoh. Kakek cuma bisa mendatangi pengajian dan mencium tangan mereka.”
“Kenapa Kakek ingin sekali mencium tangan Habib? Apa setiap kali ada habib, Kakek akan berusaha mencium tangan mereka?” tanya Harits lagi.
“Kakek sangat sayang dengan Nabi Muhammad, kakek ingin bisa ketemu dengannya. Sangat-sangat kangen, sayangnya Nabi tidak ada, jadi kakek ingin mencium tangan cucu-cucu keturunannya. Membayangkan kalau mereka wajahnya mirip dengan Rasulullah. Entah kenapa mereka memiliki wajah dan bau surga. Sayang sekali tadi kakek belum bisa mencium aroma surga, kakek sudah sangat rindu,” ujar Kakek dengan tatapan sedih.
Sudut-sudut bibir Harits terangkat, sehingga lengkungan indah tercetak pada wajahnya. Harits segera beranjak dari duduknya, “Kakek tunggu di sini ya, Harits tinggal sebentar,” pintanya kepada si kakek.
Si kakek terdiam di atas becak, menatap heran kepergian Harits.
Tak berapa lama Harits datang kembali, menaiki sebuah motor skuter. “Ayo, Kek, saya antar ke tempat Habib,” ujarnya sambil menyodorkan sebuah helm ke hadapan si kakek.
Senyum terkembang di wajah si kakek. Ia kemudian melepas songkok hitamnya, lalu memasukkannya ke dalam saku baju Koko putih yang ia kenakan. Ia memakai helm yang diberikan Harits, lalu membonceng di belakangnya.
***
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka sampai ke depan sebuah hotel. Harits menyerahkan KTP dan STNK kepada seorang sekuriti penjaga pos keamanan sebelum sampai di tempat parkir. Setelah memarkirkan motornya, Harits mengantarkan si kakek ke depan pintu hotel. Terlihat seorang doorman berbaju batik menyapa mereka. Harits meminta si kakek masuk lebih dulu. Dengan canggung si kakek melepas sandal yang dipakainya. Harits sigap menunduk dan memakaikan sandal kembali kepada si kakek, “Dipakai saja, Kek. Ini bukan masjid,” ujar Harits sambil tersenyum.
Harits meminta si kakek duduk di sofa ruang lobi. Harits mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
Berselang beberapa menit, seorang pria yang memakai rompi seperti Harits keluar dari lift area lobi. Harits segera berdiri lalu bersalaman dengannya. “Ini Kakek yang anaa ceritakan tadi,” ujar Harits.
“Saya Naryo, nama Kakek siapa?” tanya Naryo sambil mengulurkan telapak tangan ke Kakek.
“Saya Hasan,” jawab si kakek.
“Mari saya antar, Kek.”
Kakek Hasan dan Harits mengikuti langkah Naryo. Melewati sebuah ruangan yang banyak tempat duduk juga meja. Seperti sebuah ruang makan besar.
“Kakek silakan duduk dulu. Habib mau turun ke sini sebentar lagi,” ujar Naryo sambil menarik sebuah kursi untuk diduduki Kakek Hasan.
Kebahagiaan membuncah pada d**a Kakek Hasan, meskipun sosok Habib belum ia temui, namun kata-kata Naryo membuatnya yakin jika harapannya terkabul.
Harits menyentuh pundak Kakek Hasan, menepuk-nepuk ringan.
Tak berapa lama, seorang pria berusia kepala empat, memakai gamis putih panjang mendatangi mereka. Kakek Hasan langsung berdiri dan mendekati pria yang ia panggil Habib itu.
Tanpa ijin Habib, Kakek Hasan langsung meraih telapak tangannya, dan menciumnya. 'Aroma surga' yang Kakek Hasan rindukan, menelusup ke indera penciumannya. Air matanya berlinang. Habib mengelus bahu Kakek Hasan sambil tersenyum.
Kakek Hasan melepaskan ciumannya, kala ia menyadari bahwa terlalu lama ia mencium tangan Habib. “Maaf, saya merepotkan Habib,” ujar Kakek Hasan.
Habib menggeleng, lalu mengajak Kakek Hasan dan yang lainnya duduk bersama. “Maaf, ini belum jam makan siang, jadi belum ada hidangan utama yang disediakan. Tapi saya tadi sudah memesan beberapa menu untuk kita makan bersama,” ujar Habib. “Sambil menunggu makanan datang, kita ngobrol lebih dulu.”
“Pak Hasan, asalnya dari mana?” tanya Habib.
Kakek Hasan menjelaskan alamat rumahnya. Terlihat Habib sangat antusias mendengarkan penuturan Kakek Hasan. Kemudian Habib tertarik untuk mengetahui lokasi desa Kakek Hasan dan mengadakan pengajian rutin ke sana. Mungkin sebulan sekali, ia meminta Harits dan Naryo membicarakannya nanti bersama panitia penyelenggara dakwah.
Kebahagiaan tak terkira Kakek Hasan rasakan. Ia akan lebih sering bertemu Habib, keturunan Rasulullah.
“Terima kasih, Habib. Saya senang sekali. Saya jadi lebih sering bertemu dengan cucu dari kekasih Allah yang saya rindukan.”
“Masyaa Allah, semoga Bapak bisa bertemu dengan Baginda Rasulullah di surga. Semoga kita bertetangga di sana,” ujar Habib dengan netra yang berlinang. Menatap haru ketulusan Kakek Hasan.
“Benarkah saya bisa masuk surga?” tanya Kakek Hasan. “Saya orang miskin Habib, tidak bisa beramal sodaqoh.”
“Kenapa Bapak tidak percaya dengan sabda Rasulullah?”
Kemudian Habib mengutip sebuah hadis, “Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, “Ketika saya dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari masjid, kami ditemui oleh seorang lelaki di sisi masjid lalu orang itu bertanya, “Wahai Rasulullah! Kapankah hari kiamat itu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambut kedatangannya?” Orang itu terdiam lalu menjawab, “Untuk menyambutnya, saya tidak menyiapkan shalat yang besar, tidak juga puasa yang besar serta tidak sedekah yang besar, akan tetapi saya mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” ... jika Bapak mencintai Rasulullah, sedangkan Rasulullah tempatnya di surga, bukankah Bapak juga akan ke surga?”
Kakek Hasan tak henti-hentinya menangis, bahu ringkihnya berguncang. Habib segera mendekatkan diri lalu memeluknya.
Kemudian beberapa pegawai hotel mendekat, membawakan makanan yang telah Habib pesan. Sebuah mangkuk berisi air sengaja diminta oleh Habib. Saat semua pegawai hotel meninggalkan mereka. Habib meminta ijin untuk memegang tangan Kakek Hasan. Dengan tatapan penuh tanda tanya, Kakek Hasan mengiyakan.
Habib kemudian meraih telapak tangan Kakek Hasan lalu mencucinya dalam mangkuk besar yang terletak di hadapan mereka. Kakek Hasan terperenyak, ia berniat menarik tangannya, “Saya bisa sendiri, Habib.”
“Tidak mengapa, Bapak. Ini kewajiban saya memuliakan tamu. Ini ajaran Rasulullah. Biarkan saya melaksanakan kewajiban,” ujar Habib sambil tersenyum.
Harits menyewa sebuah kendaraan bak terbuka untuk mengantarkan Kakek Hasan beserta becaknya, pulang. Habib terenyuh mendengar cerita kalau Kakek Hasan mengayuh becak puluhan kilometer, demi bisa bertemu dengannya. “Berapa harga sewanya, Harits? Saya mau ganti,” tanya Habib.
“Tidak perlu, Habib. Ini bagian saya,” jawab Harits.
“Kau menduluiku untuk berbuat amal, Harits, aku iri padamu,” timpal Naryo.
Habib tertawa gembira mendengarkan obrolan orang-orang di sekitarnya. “Ya Allah, betapa semua orang rindu kepada Rasulullah. Mereka berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan. Maka tempatkanlah kami bersama Rasulullah yang kami rindukan,” doa Habib yang kemudian diaminkan yang lainnya.
Setahun yang lalu aku dihadapkan dengan masalah yang berat dalam hidupku, kegagalan dalam menjalin hubungan kasih dengan seorang wanita cantik pilihanku terasa sangat menyakitkan bagiku, bahkan kami sudah merencanakan pertunangan tepat sebulan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang sudah 4 tahun terjalin secara sepihak.
Berbagai macam pertanyaan mucul dalam fikiranku saat itu, mengapa semuanya harus terjadi? Apa mungkin ini hukuman bagiku sehingga aku dihadapkan masa sulit seperti ini?, tapi apa salahku?.
Aku merasa dunia sangat tidak adil, meski terdengar sedikit cengeng tapi percayalah betapa sakit perasaan ini menerima kenyataan itu.
Namun aku tak ingin terus terpuruk dalam keadaan seperti ini, untuk melupakan semua kenangan yang pernah terjadi aku memutuskan merantau keluar kota, dikota ini aku bekerja sebagai karyawan pabrik.
"Kamu kopi apa teh Ndri?" Tanya Supri, teman satu kontrakan ku
"Tumben nawarin, biasanya juga gak pernah"
"Mau apa enggak?, tak bikinin sekalian ini" Jawabnya sembari melangkah kedapur
"Iya, kopi aja"
Sudah hampir 8 bulan aku tinggal disini bersama Supri, teman yang ku temui saat aku melamar kerja ditempat ia bekerja, meski terbilang belum begitu lama kenal namun Supri begitu baik padaku. Ia juga salah satu karyawan pabrik sama sepertiku, hanya saja ia sudah 2 tahun lebih lama dibanding aku.
Malam ini udara terasa lebih sejuk dari biasanya, sejak awal aku tinggal disini jujur saja baru kali ini aku merasakan dingin yang tak biasa. Aku duduk diteras menunggu Supri yang tak kunjung datang membawa kopi, langit malam tampak gelap tanpa sedikitpun penerangan dari sinar bulan, bintang-bintang pun seolah bersembunyi dibalik awan hitam yang menutup dan membawa kegelapan.
"Mikirin apa?" Supri duduk disampingku dengan membawa dua gelas kopi
"Ngagetin lu ah"
Aku dan Supri larut dalam obrolan-obrolan kecil hingga malam semakin larut, memang begitu lah biasanya. Jika libur kerja bahkan sampai adzan subuh berkumandang, berbagai macam peristiwa kehidupanku dan Supri menjadi topik pembicaraan kami, tak terlepas juga kisah asmara yang pernah masing-masing rasakan.
Supri memang teman curhatku yang baik, begitu pun aku. Tak jarang pula Supri curhat denganku tentang masalah yang ia alami, tak jarang pula aku berusaha mencari penyelesaian dengan gaya sok tau ku.
Kegelapan malam terasa semakin pekat dengan mendung hitam yang menyelimuti langit, rintik hujan mulai turun bersama gemuruh dan kilatan cahaya.
Braaaakkk.
Suara benda jatuh yang sangat keras tiba tiba terdengar dari arah dapur, untuk sesaat aku terdiam menatap Supri, begitu pula yang dilakukan Supri. Ia terdiam menatapku seolah bertanya padaku apa yang terjadi didalam. Tanpa aba-aba aku meninggalkan Supri dan melangkah menuju arah suara tersebut, tapi aku tak menemukan apa-apa disana, setelah aku pastikan tidak ada yang aneh aku pun memutuskan kembali ke teras.
"Woi, kenapa lu?" Tanyaku setelah mendapati ada yang aneh dengan Supri
Tangannya gemetar, raut wajahnya terlihat pucat dan bibirnya seakan melafalkan sesuatu.
"Ndri, malem ini kita jangan nginep disini ya"
"Lah kenapa?"
"Udah pokoknya lu dengerin gue aja"
Aku masih tak mengerti dengan perubahan sifat Supri saat ini, aku pun menentang untuk mengikuti kemauannya.
"Lu kenapa si?"
"Tadi pas lu masuk kedalem sebenernya gue mau nyusul, tapi begitu gue mau masuk tiba-tiba dipintu kamar lu ada orang gede banget, item semua" Jelasnya padaku dengan tubuh yang masih bergetar
Mendengar penjelasan dari Supri spontan aku pun menengok kearah kamarku, dan betapa terkejutnya aku ketika apa yang baru saja Supri bicarakan kini terjadi padaku. Sesosok makhluk hitam besar sedang berdiri menatapku, mata merah dengan mulut yang menganga memperlihatkan gigi-giginya yang kehitaman. Entah binatang apa yang saat ini ada dihadapan mataku, atau bahkan mungkin inilah yang disebut jin.
Namun kejadian itu tak lantas membuatku terperanjat hingga hampir mampus seperti adegan-adegan difilm horor, bahkan aku sempat mendekat beberapa langkah sebelum akhirnya ia menghilang menjadi kepulan asal tebal yang dengan seketika melenyapkan wujudnya.
Disaat itulah aku benar-benar menyadari bahwa apa yang aku lihat bukan lah hal yang biasa, dari arah dapur aku mendengar suara orang yang sedang berbincang namun sangat pelan, seperti berbisik.
Dengan langkah pelan aku mendekat kearah pintu dapur, suara itu semakin jelas terdengar dan kini berubah menjadi suara tangisan, perlahan aku mulai mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka dan disana aku tak melihat apapun.
Aku sadar dan sangat sadar jika saat ini ada yang tidak beres dirumah ini, dan aku juga sangat sadar bahwa apa yang saat ini aku alami adalah ulah dari makhluk gaib.
"Supri, astaga"
Aku telah melupakan Supri, aku berlari kearah pintu depan dan mendapati pintunya terkunci, beberapa kali aku memanggil-manggil Supri namun tak ada jawaban darinya, aku masih berusaha membuka pintu dengan memutar-mutarkan gagangnya, usahaku sia-sia. Pintu terkunci dari luar, tidak mungkin jika Supri sengaja mengunciku disini dan meninggalkanku sendiri, suasana malam ini benar-benar kacau.
Tak berapa lama aku mendengar suara langkah kaki, pintu terbuka dan Supri masuk kedalam.
"Pri, dari mana lu?"
"Eh sorry Ndri, gue terpaksa ninggalin lu buat nyari orang pinter yang bisa ngusir makhluk halus"
Supri masih tampak berdiri didepan pintu seolah menunggu seseorang yang akan datang, wajahnya pun tersenyum saat melihat orang ditunggu sudah terlihat didepan rumah.
"Ayo mbah masuk" Ajaknya pada tamunya itu
"Ayo, mari-mari mbah langsung masuk aja" Lanjut Supri
Deg deg deg
Suara langkah kaki yang terdengar mendekat, aku masih terduduk dikursi tamu sembari menanti siapa gerangan yang Supri ajak kesini, dan sampai akhirnya aku dibuat terdiam seribu bahasa saat melihat siapa yang kini berdiri disamping Supri.
Sesosok pocong dengan balutan kain kumuh yang sangat kotor, bau busuk seketika menyengat indra penciumanku. Wajahnya yang sudah hancur dan hampir tak seperti wajah, satu bola matanya terlihat tidak ada pada posisi dimana seharusnya ia terpasang.
Sesosok pocong tersebut tak henti menggeleng-gelengkan kepalanya, dan tatapannya mulai tertuju padaku.
Sebelumnya kenalin nama gua Hamid Ahyar Alkautsar (nama disamarkan, kecuali Hamidnya) gua anak bontot dari 3 bersaudara, kakak gua 22nya laki beda 2 tahun dan mereka kembar, Namanya Hasan Alkautsar dan Husen Alkautsar.
Disini gua bakal cerita pengalaman hidup gua dari awal masuk SMA dari mulai ketololan, kesenangan, kesedihan, arogannya gua ketika muda dulu.
Tahun 2007 Awal gua masuk SMA disalah 1 sekolah Negeri dikawasan Jakarta.
*triiiiiiiing*