Bab 2. Penolakan Keras

1495 Words
“Aya, kok lo malah nyembur gue, sih?” Aku tidak memedulikan protesan dari Dian. Kini, aku justru sibuk menyembunyikan diri di balik meja sambil berdoa agar dijauhkan dari marabahaya. “Sial, kenapa itu orang tua malah nyariin gue sampai ke sini, sih? Atau, jangan-jangan dia tahu, kalau gue–” “Kamu mau keluar sendiri atau saya yang nyeret kamu?” Suara bernada dingin dan penuh ancaman itu langsung menyapa gendang telingaku. Aku meringis, lalu melongokkan kepala sambil cengengesan. “Eh, Bapak di sini?” Pak Arka tetap diam saja, tetapi tatapannya seolah siap membunuh siapapun yang ada di sekitar. Merinding gila. “Sehat, Pak?” tanyaku sambil mencoba keluar dari persembunyian. Bibirku lantas mengulas senyum lebar tatkala Pak Arka sudah berkacak pinggang di depan meja kami. “Kamu pikir saya bakalan panjang umur punya mahasiswi seperti kamu? Hah!” Bibirku cemberut sambil melihat ke arah Dian dan lainnya. Namun, mereka bukannya membantu, justru berpura-pura sibuk dengan urusannya sendiri. “Emang bangsul mereka semua. Awas aja nanti, kalau mereka butuh bantuan, ogah gue nolongin mereka!” gumamku kesal. “Aya!” “Eh, iya Pak Arka,” tuturku manis, “Bapak mau makan juga?” Pria itu mendengkus. “Kamu ikut saya!” “Gak mau!” tolakku cepat sambil memeluk piring nasi goreng yang masih setengah. “Apa kamu baru saja menolak perintah dosen?” Mata pria tua itu melotot padaku. Aku langsung memasang wajah memelas. “Tapi, saya ‘kan juga manusia, Pak, dan saya lapar. Masa iya orang lapar malah disuruh makan omelan Bapak mulu? Kenyang kagak, tekanan batin iya,” jawabku lirih di akhir kalimat. “Ngomong apa kamu barusan?” Aku menggeleng. “Gak, kok, Pak.” Lantas dengan tak ikhlas, aku meletakkan piring di atas meja. “Kalau begitu ikut saya!” “Emang bapak mau mengajak saya ke mana? Bukankah saya sudah menyelesaikan hukuman saya?” Aku sedikit berkilah. Pria itu menaikkan satu alisnya yang entah kenapa justru terlihat makin ganteng. Aku langsung menggeleng. “Bodoh! Pikiran macam apa itu? Lagian ngapain gue malah muji musuh gue sendiri. Dasar bego!” rutukku dalam hati. “Aya! Apa kamu pikir saya bodoh?” Pak Arka kembali bicara sarkas. “Loh, siapa yang ngatain Pak Arka bodoh? Sini, biar saya hajar mereka!” Aku langsung menyingsing lengan kemejaku hingga siku dan berlagak seperti jagoan. Pak Arka terlihat menghela napas sambil memijat pangkal hidungnya, tetapi aku tidak peduli. “Aya,” panggilnya. “Iya, Pak Arka,” jawabku tak kalah manis. “Kamu ikut aku sekarang, atau nilai kamu saya turunin?” Senyumku langsung luntur. Mataku hampir berotasi jika tak kutahan. Aku melengos kesal karena tidak bisa berbuat apa pun. “Aya!” “Jangan gitu, dong, Pak!” Aku mulai memelas. “Kalau gitu, kamu ikut saya sekarang, atau kamu akan benar-benar mengulang matkul saya semester depan!” Mataku terbelalak. “TIDAK! Saya akan ikut Bapak!” jawabku pada akhirnya. “Bagus! Kalau gitu, saya tunggu kamu di ruangan saya!” Setelah itu, Pak Arka pergi begitu saja seperti jelangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar. “Huhuhu, sial banget sih, gue hari ini,” rutukku sambil menghentakkan kaki kesal. “Udah, sabar aja, Ay.” Dian menepuk bahuku. “Gue yakin, dibalik semua ini pasti dia jodoh lo, kok!” Mataku langsung melirik sinis Dian. “Sekali lagi lo ngomong gue jodoh sama Pak Arka, gue bakalan bilang ke Pras, kalau lo itu ada main sama adik tingkat kita!” “Yakh! Jangan gitu, dong, Ay.” Dian langsung memelukku, bahkan begitu erat. “Iya, gue janji gak bakalan ngomong gitu lagi!” Kena, kan, lo. Tanpa menggubris Dian dan Wiji, aku melangkah menuju di mana ruang Pak Arka berada. Apa kalian menanyakan dimana keberadaan Dosen killer itu? Yang jelas, dia tidak akan pernah mau menungguku yang katanya sering membuatnya sakit kepala. Lah, dia pikir aku gak pusing belajar matkulnya dia apa? Dikit-dikit kuis, dikit-dikit tugas. Asem bangetlah pokoknya. “Cih! Mentang-mentang punya kekuasaan, dia seenak jidat ngancem gue! Awas aja! Kalau sampai itu orang macem-macem sama nilai IP gue, bakalan gue laporin ke Abang gue!” Dengan kaki dihentakkan, aku berbelok menuju ruang kantor Pak Arka. Tinggal lurus dikit, terus sampai. Sesampainya di depan pintu, aku mengetuknya tiga kali, walaupun lagi kesal aku harus tetap mengutamakan sopan santun. “Permisi, Pak. Ini saya, Aya,” ucapku malas. “Masuk!” kata Pak Arka dari dalam ruangannya. Setelah mendapatkan izin, kaki ini pun melangkah masuk ke ruangannya. “Selamat siang, Pak,” sapaku sopan, walau dalam hati mendumel. “Apa benar kamu menyuruh Siti dan Heni buat mengerjakan hukuman kamu?” tanya Pak Arka to the point. Lah, ini p****t saja belum nyentuh kursi acan, dia sudah main nyerocos. Wait! Tadi Pak Arka ngomong apa? Heni? Siti? Kok, gue gak asing, yah, sama nama mereka. “Aya!” panggil Pak Arka sambil mengetukkan jarinya di meja. “Iya, Pak, saya,” sahutku tetap slay. Pria tua itu terlihat memijit pangkal hidungnya. Sepertinya, dia mulai kehabisan kesabaran menghadapiku. Namun, aku tak peduli. “Apa kamu menyuruh Heni dan Siti buat menggantikanmu mencabut rumput?” Aku meringis, tetapi berusaha untuk tetap santai. “Gak, kok, Pak. Lagian siapa sih yang tega fitnah saya seperti itu?” Dengan wajah tak bersalah, aku mengelak dari tuduhan. Sekarang, bahkan aku sudah merencanakan untuk membalas dendam pada siapapun yang sudah membocorkan rahasiaku. Ingat, tidak boleh ada satu orang pun yang bisa membuat seorang Aya kesal. Kecuali dia, Pria Tua di hadapan yang kini tengah menatapku dingin. Untung ganteng, kalau gak, mending ke laut aja, deh, Pak. “Aya!” Apa, sih? Gak usah manggil-manggil mulu, deh! “Iya, Pak!” jawabku sok polos. “Kamu saya hukum untuk berlari keliling lapangan selama 10 kali,” putusnya final. “APA?” Kali ini aku sudah tidak bisa menutupi keterkejutanku. Aku bahkan sampai tak sadar sudah menggebrak meja di depan. “Gak bisa gini dong, Pak. Saya gak salah, kok, malah saya dihukum lagi, sih?” “Saya tidak sedang memberimu penawaran, Aya. Karena ini adalah perintah,” kata Pak Arka tegas. “jadi, saya tidak menerima penolakan apa pun dari orang yang tidak bisa dipegang omongannya!” sambungnya final. Arghh. Inginku balikkan meja kerja Pak Arka, lalu mengumpatinya dengan semua isi dari kebun binatang. Namun, aku yakin itu semua tidak akan berefek apa pun pada orang menyebalkan seperti Pak Arka. “Atau, kau mau saya menelpon orang tuamu dan mengabarkan jika anaknya–” “JANGAN! Eh, maaf, Pak,” potongku cepat. Aku sudah tidak peduli dengan yang namanya sopan santun. Santun saja tak pernah sopan padaku. Jadi, peduli setan. “Saya akan pergi sekarang!” putusku pada akhirnya. “Bagus! Kalau begitu laksanakan sekarang! Saya akan pantau kamu!” “Baik, Pak.” Akhirnya dengan langkah lunglai, aku pun pergi dari ruangan tersebut. Langkahku begitu berat hanya sekadar untuk berjalan. Sumpah, aku akan menandai hari ini di kalender dengan warna merah sebagai hari tersial seorang Aya. “Awas aja itu orang! Gue gak bakalan tinggal diam! Gue harus balas semua perbuatannya hari ini!” Aku merutuk kesal sebelum akhirnya berlari keliling lapangan kampus. Berdoa saja jika aku bisa sampai rumah dengan selamat, bukan tinggal nama saja. *** “Aku pulang,” kataku dengan wajah lesu dan keringat membanjiri tubuh. “My Princess, kamu udah pulang?” “Eh!” Sontak kepalaku mendongak ke depan. “Ka–lian sedang apa di sini?” tanyaku bengong. “Astaga, apa lo lupa jika kami juga masih memiliki hak untuk menginjakkan kaki di rumah ini?” “Whatever!” jawabku pada Anjar, Abangku yang seorang polisi. Tatapan merindu justru tertuju pada kedua orang tuaku yang sedang duduk. “Kapan Mama dan Papa balik?” “Tadi pagi. Tapi, waktu Mama sampai rumah kamu udah berangkat kuliah. Jadi, gimana kabar putri tercinta Mama ini? Hm!” Bibirku tak bisa berhenti mengulas senyum bahagia. Kini, aku bahkan sudah memeluk Mama dan Papa dengan erat. “Yaelah, udah tua juga, masih manja,” cibir Abang. Aku menjulurkan lidah pada Abang. “Biarin! Lagian Mama, Papa juga gak keberatan!” “Cih! Kayak gitu kok, mau jadi istri orang. Apa gak kasian suaminya nanti,” cibir Abang. Keningku mengernyit, lalu melihat wajah Mama dan Papa. “Apa maksud ucapan Abang, Ma, Pah?” Entah kenapa aku mulai mencium bau-bau ada yang tidak beres di sini. Apalagi, kedua orang tuaku pun melengos. “Mah, jangan hanya diam saja, dong! Katakan pada Aya, ada apa ini sebenarnya?” Aku mulai tak sabar. “Aya, kamu akan saya nikahkan dengan–” “Gak Mau!” tolakku cepat. “Menikah? Huh! Apa kalian gak keterlaluan? Aya itu masih muda, kenapa harus menikah?” Aku pikir, penderitaanku hanya selesai di kampus saja. Akan tetapi, setibanya di rumah yang biasanya damai sentosa, kini sudah duduk Papa, Mama, dan Abang tercinta. Namun, pembahasan yang mereka angkat justru sangat menggelikan. “Tapi, Nak–” “Pokoknya, aku gak mau nikah sama dia, Pah,” tolakku keras kepala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD