Bab 3. Muka Familiar

1233 Words
Aku pikir, setelah penolakanku tadi siang, Papa akan berhenti membujukku. Sayangnya, kali ini Mamalah yang datang ke kamar dan pasti masalah penjodohan itu lagi. Sumpah aku muak. “Mau sampai kapan kamu akan terus berdiam diri di kamar ini, Nak?” “Sampai kalian mencabut perjodohan gila itu!” ucapku bosan. “Nak! Kami hanya ingin kamu memiliki tujuan hidup. Selama ini, kami selalu memanjakanmu hingga kamu menjadi seperti ini,” timpal Mama dengan suara lemah. Hatiku merasa tersindir, tetapi bukan Aya namanya jika harus menerima begitu saja. “Emang kenapa dengan Aya, Mah? Aya rasa, Aya baik-baik saja. Aya bahkan sudah seperti gadis di luar sana pada umumnya.” Mama menghela napas dan itu tandanya dia mulai lelah. Aku pun mengepalkan tangan tanpa disadari. Seolah-olah, aku memanglah anak yang bebal dan tidak dapat diatur oleh mereka. Padahal, aku seperti ini juga karena mereka. Jika keras kepalaku tak mempan maka aku akan menggunakan cara yang lebih halus. Kuraih tangan Mama dan kutatap wajahnya. “Mah, tolong bilang sama Papa, Aya gak mau nikah muda.” Seumur hidupku, tidak pernah sekali pun terlintas dalam benakku jika harus menikah di usia 20 tahun. Come on! Aku masih butuh happy-happy bersama teman-teman, bukan malah sibuk ngurusin lelaki di rumah. “Ini adalah jalan terbaik, Sayang,” timpal Mama. Aku berdecak tanpa sadar, lalu berdiri sambil menjambak rambut frustasi. “Mah–’ “Sayang, dengerin dulu penjelasan Mama!” Mama menahan lenganku, tetapi aku memilih untuk menjauh. Aku terus berjalan menuju balkon, menghirup udara segar setelah hampir mati tercekik oleh suasana di kamar. “Dengerin apalagi, Mah?” tanyaku tanpa melihat ke arah wanita yang sudah melahirkanku. Aku hanya terlalu kecewa padanya. “Bukankah selama ini Mama dan Papa sudah sering menyetir hidupku, tanpa pernah mendampingiku?” Tiba-tiba, aku merasa mellow sendiri. Setelah sekian lama aku pendam, akhirnya semua rasa yang selama ini kusimpan, akhirnya tumpah juga. “Kami melakukan itu bukan semata untuk memanjakanmu, Sayang. Tapi–” “Tapi, apa, Mah?” Aku membalikkan badan, menatap Mama dengan air mata berlinang. “Sudah cukup, Mah. Aya capek!” tambahku lirih. “Sayang … kenapa kamu bicara seperti itu?” Suara Mama terdengar tercekat. Sekali lagi, aku menggeleng dengan wajah memelas. “Mah, aku gak mau. Aya aja baru masuk kuliah dan ….” “Dia adalah lelaki yang baik, Aya. Walaupun dia duda–” “What? Duda!” Sontak, aku berteriak keras sebelum Mama menyelesaikan ucapannya. “Tidak, Mah! Mau sampai mati pun, Aya gak akan pernah mau menerima perjodohan ini, titik!” Ini adalah definisi perjodohan di luar nulur. Bagaimana bisa seorang Aya yang cantik dan digilai banyak lelaki harus menikah dengan duda? Oh, s**t! Yang lebih mengerikan lagi, jika ternyata pria itu berkepala botak dengan perut buncit nya, dan mukanya penuh keriput. Argh, Tidak-tidak! Itu sungguh sangat mengerikan. Aku tidak mau. Membayangkan saja aku sudah mual, apalagi jika harus seumur hidup dengan pria seperti itu. Yang ada, aku bakalan jadi fosil karena terlalu malu memiliki pasangan yang buruk rupa. “Aww! Sakit, Mah!” Tiba-tiba, kepalaku digetok oleh Mama. Sontak, aku pun langsung menatap protes pada Mama. “Mama kenapa pukul kepala Aya?” Bibirku cemberut. “Mama tahu isi pikiran kamu sekarang dan semua adalah salah besar,” ujar Mama memelotot. Tanganku menggosok bagian kepala dengan bibir yang menggerutu. “Tapi, kan duda kebanyakan begitu, Ma. Lagian, seorang lelaki tidak akan bisa menjadi duda jika tidak ada hal-hal yang menyebabkannya.” “Dan, manusia juga tidak tahu kapan ajal menjemput. Takdir itu adalah rahasia Tuhan dan kita sebagai umatnya tidak akan tahu sebelum kita mencoba menjalaninya.” “Jadi maksud Mama, Aya harus menikah dengan duda itu? Seriously?” Aku menyugar rambut frustasi. “Mah, Mama ini ‘kan seorang bisnis women, sedangkan Papa adalah pejabat. Apa Mama dan Papa tidak malu memiliki seorang menantu duda? Terus, bagaimana pandangan orang-orang kepada kita?” “Sejak kapan seorang Aya memedulikan pandangan orang lain terhadap kita?” “Sejak sekarang hingga seterusnya! Intinya, Aya nggak mau nikah sama duda itu titik, nggak pakai koma!” kataku tetap bersikeras. Aku mendengkus kesal. “Pulang kuliah bukannya disambut dengan senyum dan makanan lezat, lah, ini … disuruh nikah? Gila saja,” gerutuku. Mama lalu menghampiriku dan mengusap bagian puncak kepalaku. “Sayang. Dia duda murni karena takdir, bukan karena selingkuh, atau berbuat kasar pada istrinya, Nak.” Mama–Rahayu– masih tak mau menyerah. Akan tetapi, aku juga tidak akan semudah itu termakan rayuannya. Mau itu duda ditinggal mati, selingkuh, atau KDRT, aku tidak akan mau menikah dengan dia. Sekali duda, tetap duda. “Maaf, Mah. Tapi, Garwita Hara Jayasri tidak akan pernah mau menikah dengan dia, titik!” Setelah berkata seperti itu, aku pun melangkah keluar rumah. Dengan perasaan kesal, aku berniat menggeluarkan mobil dari garasi. Namun, baru sampai pagar tiba-tiba mesinnya mati. “Eh, kenapa ini?” Karena kesal, aku pun keluar mobil dan menendang ban bagian depan. Namun, yang terjadi aku justru menjerit kesakitan. “s**t, sakit ogeb!” Aku berteriak dan memaki kendaraan di hadapan. Akhirnya, aku pun berjalan terpincang keluar rumah sambil terus menggerutu. “Sebenarnya ada apa dengan hari ini, sih? Masa iya, gue kena sial terus-menerus. Sial mah sekali aja, gak berkali-kali begini, dong!” Sambil terus berjalan, bibirku tak berhenti mengomel. “Apa-apaan Mama dan Papa itu? Mereka pulang bukannya ngajak Aya buat jalan-jalan atau senang-senang. Lah, ini, malah nyuruh kawin? Gila kali gue sampai se-frustasi itu di jodoh-jodohin segala, apalagi sama duda. Dih, najis!” Tidak kapok, aku kembali menendang kerikil di depanku. “Sshhh, sakit!” jeritku tertahan sampai berjongkok. Belum sembuh, sekarang aku justru menambah rasa sakit itu. “Hiks!” Tanpa bisa dicegah, air mata yang sedari tadi aku tahan, akhirnya luruh juga. Namun, segera aku hapus. Aku menggeleng keras, lalu bangkit sambil menghapus air mata. “Gak! Gue gak boleh lemah dan nurut gitu aja sama permintaan mereka. Gue harus melawan!” Dengan tangan terkepal dan bibir menyeringai, hasratku untuk memberontak semakin membara. “Lagian, gue itu udah punya calon suami idaman yang tentunya masih perjaka, bukan duda seperti calonnya Mama dan Papa itu!” kataku sengit. “Tapi, kenapa setiap kisah percintaan gue selama ini nggak pernah bener? Padahal gue itu cantik, body bagus, pinter, tapi yang deketin malah cowok mokondo semua. Apa sekocak itu hidup gue?” Aku menghentakkan kaki kesal, lalu melihat sekitar. Ternyata, aku sudah berjalan beberapa rumah dari tempat tinggalku. Namun, setelah ku tolehkan ke belakang, Mama, Papa, ataupun Abangku tidak ada yang mengejar. Aku tertawa kecut. “Apa gak seberharga itukah gue dalam hidup mereka?” tanyaku mellow. Brukk. “Huwaaaa!” “Eh, suara apa itu?” Refleks, aku segera menoleh ke sumber suara dan mataku membelalak tak percaya, ketika menemukan seorang balita terjatuh dari sepeda kecilnya. Aku pun langsung berlari untuk menolongnya. “Hei, Dear. Are you ok?” tanyaku sambil memeriksa keadaan si balita tadi. Akan tetapi, bukannya tenang, balita tersebut justru menangis keras ketika aku datangi. “Papaa!” “Lah, kok, malah makin kenceng?” tanyaku kaget sambim melihat sekitar panik. “Eh, tunggu dulu! Kok, mukanya gak asing?” “Papaaa!” Lagi, anak kecil itu menangis. Badanku terjengkang, mata melotot horor sambil menunjuk kaget wajah memerah dan sembab anak kecil itu. “Kok, mukanya mirip sama Pak Tua itu!” “Ngapain kamu pegang-pegang anak saya?” Suara di belakangku terdengar membentak dan familiar. “Kamu!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD