Bab 4. Rahasia Dosen

1075 Words
“Arghh!” Aku semakin dibuat terkejut ketika seseorang yang baru saja kupikirkan sudah berdiri di depanku. Namun, yang membuatku tidak paham adalah pengakuannya. “A–nak … dii–a … anak Ba–pak?” tanyaku tergagap. “Kalau iya kenapa? Ada masalah sama kamu!” jawabnya ketus. “Oh, My God!” Aku langsung memegang kepala atas fakta tersebut. Selama ini, tidak ada satu orang pun yang mengetahui jika dosen killer itu sudah berkeluarga, apalagi memiliki anak. Mereka justru mengira jika Pak Arka itu perjaka tua yang tidak laku karena hobinya membuat anak gadis orang menangis karena pria itu begitu galak, pelit nilai, dan tidak pernah mentolerir kesalahan apa pun. “Sebenarnya ini hari apa, sih? Kenapa gue harus ketemu sama manusia setengah iblis itu di sini? Ganteng, sih, tetapi minusnya itu loh, bikin keki,” dumelku tanpa sadar. “Ngomong apa kamu barusan?” Pria yang mengenakan kaos dan celana pendek itu tiba-tiba sudah berdiri sambil menggendong anaknya. Mana anaknya ganteng lagi, pasti istrinya juga cantik. Ngomong-ngomong, ini aku lagi di mana, sih? Lalu, kenapa ada Pak Arka si dosen killer di kompleks perumahan ini? Masa iya dia jadi tetanggaku sekarang? Aish, bisa mampus aku, kalau sampai kami beneran jadi tetangga. “Jayasri.” “Ish, apaan, sih, Pak? Gak usah manggil nama saya begitu, deh!” Bibirku cemberut. Jujur, aku paling sebel ada orang yang manggil namaku lengkap. Sudah seperti si paling iyes saja. Aku segera berdiri dan menatap dua makhluk Adam yang memiliki wajah yang mirip. Secara mereka bapak dan anak, jadi wajar saja jika ketampanan si bapak menurun ke anaknya. Sial emang mulut satu ini karena tidak bisa mengelak jika Pak Arka itu ganteng. Tapi, bodo amatlah. Toh, dia juga tidak akan tahu jika aku sedang memujinya. “Bapak ini ngapain di sini? Jangan bilang bapak lagi menguntit saya, yah?” “Saya menguntit kamu?” Dia memandangku dengan sinis. “Percaya diri sekali kamu!” imbuhnya sambil menenangkan si anak yang sedari tadi tidak mau berhenti menangis. Eh, ngomong-ngomong sepertinya aku melupakan sesuatu, tapi apa, yah? Ish! Ini semua tidak akan terjadi jika penampilan Pak Arka sekarang membuatku salfok. Selama menjadi dosen dan aku mahasiswinya, Pak Arka ini memang sudah menjadi buah bibir di antara para mahasiswi berkat wajahnya yang tampan. Sayangnya style dia yang di kampus, terlihat kuno, dan sangat kutu buku. Sekarang, si Dosen Killer justru terlihat santai, pacarable, bahkan pikiran gilaku terpesona. Asem gak, tuh. Eh, mikir apa aku barusan? Tidak! Aku langsung menggeleng keras hingga rambutku yang tergerai berayun bebas. “Bagaimana bisa aku punya pikiran sinting itu? Tidak! Ini jelas salah! Mana ada Dosen tua itu cocok jadi suami. Gak ada! Bisa kiamat, kalau sampai itu laki tahu gue punya pikiran sesat itu!” “Sebenarnya–” “Papaa!” Suara balita tadi kembali terdengar, bahkan tangisannya ternyata belum selesai. Reflek, aku menoleh dan mataku membelalak dengan apa yang aku lihat sekarang. Pak Arka menurunkan si anak berusia 3 tahun itu, lalu dibiarkan dengan tangan disilangkan di depan d**a. Wajahnya datar tanpa ekspresi, dan jangan lupakan juga style-nya yang sudah aku hafal betul. “Diam! Kamu itu cowok, gak boleh cengeng!” Suara Pak Arka langsung membuatku meringis prihatin. Mendengar suara Pak Arka, anak kecil tadi bukannya diam, malah semakin menangis keras, dan aku sudah menduganya. “Bapak ini lagi ngapain, sih? Mana ada seorang ayah, justru mengomeli anaknya yang sedang menangis! Bapak waras?” Tanpa takut, aku segera membawa anak kecil tadi ke dalam gendonganku, laku kutepuk-tepuk pelan punggungnya yang bergetar. “Lepasin anak saya!” Aku menyeringai sinis. “Jika Anda memang ayah dari anak ini, tidak seharusnya Anda bersikap kejam padanya! Dia ini masih kecil,” timpalku dengan nada menggeram kesal. “Itu bukan urusan kamu!” Pak Arka tak memedulikan kekesalanku dan dia berniat mengambil balita tadi, tetapi aku langsung beringsut mundur. “Yakh! Apa kau gila?” “Ya! Saya gila karena Anda!” Setelah berteriak seperti itu, aku langsung membawa balita tadi ke sebuah taman. Tidak akan kubiarkan seorang anak kecil tanpa dosa menjadi tempat pelampiasan amarah. Langkah kaki yang semula lebar dan cepat, perlahan mulai diperlambat. Aku membawa bocah kecil itu duduk di sebuah bangku taman. Namun, aku tidak menurunkannya. Anak itu masih mendekapku erat, walaupun tangisnya sudah mereda. "Sayang, boleh gak kakak lihat wajah tampan kamu?" Aku mencoba merayu bocah itu. Sayangnya, percobaan pertamaku gagal. Tentu saja aku tidak akan menyerah semudah itu. "Eh, ada tukang balon! Adek mau?" Secepat kilat bocah itu memalingkan wajahnya mencari balon berbentuk yang dimaksud. Tentu saja aku tidak membohonginya. “Kamu mau yang mana, Sayang? Biar nanti kakak yang beliin,” tawarku. “Tuuu!” “Ok.” Segera aku merogoh kantong celanaku untuk membayar balon yang dia pilih. Setelah itu, kami kembali ke kursi taman dan duduk di sana. Bibirku tanpa sadar ikut tersenyum melihat anak tersebut bahagia bermain dengan balonnya. "Nah, sekarang kasih tau kakak, kenapa adek nangis tadi? Apa karena jatuh dari sepeda tadi? Hm?” tanyaku sambil duduk di depannya. Bocah itu menggeleng perlahan, walau masih asyik dengan balonnya. Dari sorot matanya, aku bisa menemukan keraguan, dan aku bisa maklumi. Secara, kami bukanlah keluarga dekat, bertemu pun baru hari ini. Sepertinya, memang akunya saja yang gila karena bicara dengan anak kecil. Namun, jiwa kepoku meronta-ronta, apalagi jika berurusan tentang si dosen killer itu. "Hm, apa jangan-jangan Papa kamu gak cuma jahat ke kakak, tapi ke kamu juga?" Aku mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk memikirkan kemungkinan yang ada. Dia menggeleng. “P--pa … a–ik, kok!" Bocah itu menjelaskan dengan gagap. Mendengar hal ini tentu membuatku tak bisa menatapnya julid. Seriously Pak Arka baik? Dari mananya? Hongkong! Cih! Tapi, ini yang ngomong anak kecil, loh. Masa bohong, sih? Antara percaya dan tidak percaya, jika Pak Arka orang baik. Dilihat dari Sabang sampai Merauke pun itu dosen kagak pantas jadi orang baik. Ngomong-ngomong, tapi ini anaknya si Dosen killer rada gagap ngomongnya. Normal gak, sih? "Kalo gitu, kenapa tadi adek nangis?" tanyaku lagi. Tiba-tiba, bocah kecil itu menatap langit sambil berkata, "Ma–ma." "Emangnya Mama kemana?" Aku kembali bertanya kepadanya, sekaligus mengorek informasi tentang istri Pak Arka. "Ma–ma pel–gi … ta–ngen." Bocah itu menatapku dengan air mata yang siap tumpah. Aku mengerjap dan tanpa bisa kutahan, air mataku juga ikut menetes. Sial. Aku mengepalkan tangan, tiba-tiba aku merasa kesal dengan istrinya Pak Arka. “Jadi, maksud kamu, Mama pergi ninggalin kalian berdua dengan pria lain?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD