Bab 11. Restu

1476 Words
POV Arka “Kamu baru pulang?” Aku menatap Mama yang sedang menyiram tanaman di halaman, lalu menghampiri untuk memeluknya. “Iya, Nek. Tadi, ada urusan kampus makanya baru pulang,” jelasku, “Nenek sudah makan?” Fyi, Mama memang sengaja memanggilku Papa Arka atau Pah, sebaliknya aku juga melakukan yang sama dengan memanggil Mama dan Papa menjadi Nenek dan Kakek. Semua itu kami lakukan untuk mengajarkan pada Amir–anakku– agar berbuat hal yang sama. “Belum. Nenek nunggu kamu pulang,” kata Mama, “oh, iya. Nenek udah masak banyak hari ini. Jadi, kamu bisa, kan, ajak calon istrimu makan malam di sini?” tanyanya dengan wajah memohon. Aku terdiam cukup lama, mengingat bagaimana kejadian hari ini dan pastinya, gadis itu masih malu jika kami kembali bertemu. Tapi, bagaimana aku menjelaskannya pada Mama? Mama pasti sudah ngebet banget pengin ketemu calon mantunya itu. “Arka!” Mama menyenggol bahuku. “Iya, Nek?” Aku terperanjat kaget, lalu tersadar dan memeluk bahu Mama sambil membawa kami masuk ke dalam rumah. “Kayaknya aku gak bisa ikut makan malam, deh, Mah. Soalnya, aku ada janji dengan teman buat ngurus masalah bisnis kami,” elakku. Wanita yang sudah melahirkanku itu segera menggeleng. “No-no-no! Nenek gak menerima penolakan! Pokoknya, kamu harus sediakan waktu buat kita makan malam bersama hari ini!” pintanya memaksa, “Kakekmu udah sibuk, jadi kamu jangan sampai menirunya juga!” Papa memang sudah satu minggu ini sibuk di luar kota untuk mengurus perusahaannya. Jadi, dia tidak bisa pulang, sedangkan Mama sendirian di rumah barunya. Alhasil, aku harus mengalah dan tinggal sementara waktu di rumah dengan Mama. Ya, ini adalah rumah baru Mama dan Papa karena kediamannya yang dulu sudah dijual. Entah apa alasannya, aku tidak tahu, dan tidak pernah bertanya apa pun. Setelah kepergian mendiang istriku–Wulandari– beberapa tahun silam. Aku memilih untuk tinggal di apartemen, sedangkan buah hatiku dirawat bergantian oleh Mama dan Mama mertuaku. Akan tetapi, aku selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan Amir seminggu sekali. Bukan bermaksud menelantarkan, tetapi aku merasa tersiksa setiap melihat wajah Amir yang begitu mirip dengan Wulan. Kepergian istriku setelah melahirkan Amir seolah menjadi luka yang sulit disembuhkan. Oleh karena itu, aku kadang menjaga jarak dengan Amir. Tapi, itu dulu. Kini, aku sadar jika apa yang sudah kulakukan ternyata salah. Amir butuh aku, ayahnya untuk tumbuh kembangnya. Lantas, untuk seminggu ini, aku harus menginap di rumah Mama, menemaninya juga Amir. Namun, sudah sedari tadi aku tak melihatnya berkeliaran di sekitar Mama. “Nek, Amir mana?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. “Nenek Dilla membawa Amir ke rumah. Karena anak tetangganya ada yang ulang tahun,” jelas Mama. Aku mengangguk mengerti. Pantas saja Mama ngebet pengin makan malam bareng calon mantunya. Secara, dia sendirian di rumah dan Mama memang paling tidak suka sunyi. Katanya, itu menakutkan. “Jadi, kamu bisa ajak Aya, kan, buat makan malam di sini?” tanya Mama sekali lagi. “Kalau itu,” jedaku, “Nenek bisa tanya sendiri orangnya. Bye!” Aku langsung masuk ke dalam rumah, menaiki anak tangga satu persatu sebelum mendengar omelan darinya. Aku menghela napas, berat rasanya terus menghindar dari Mama. Walaupun selama ini aku bersikap menerima perjodohan itu, kadangkala aku juga tersiksa terus berpura-pura. Bibirku tertawa, menertawakan diri sendiri yang tidak bisa tegas. “Sayang, benarkah apa yang sudah aku lakukan? Apa kamu ikhlas posisimu digantikan oleh perempuan lain di rumah ini?” tanyaku pada wajah di wallpaper di ponselku. Setelah lama merenung, aku memilih untuk masuk dan keluar kamar mandi setelah bersih-bersih. Selesai memakai baju, aku kembali turun ke lantai bawah karena tidak menemukan kaos kaki milikku. “Nek, di mana kaos kakiku?” Aku berteriak sambil menuruni anak tangga. “Ckckck! Bukankah sudah Nenek satukan dengan yang lainnya?” Terdengar suara decakan kesal dari arah dapur. “Aku gak bi– Aya!” jedaku kaget, “loh, kok, kamu ada di sini?” Untung saja aku langsung berpegangan jika tidak, mungkin aku sudah jatuh terpeleset dari tangga. Belum sempat Aya menjawab, aku sudah kembali berteriak. “Nek! Nenek di mana?” “Apa, sih, Papa Amir? Nenek lagi sibuk di dapur. Kamu cari sendiri saja!” jawab Mama. Aku menggaruk belakang kepala, lalu berjalan mendekati Aya dengan canggung. “A–pa kamu sudah lama di sini?” Dia yang masih mengenakan pakaian yang sama, yaitu kaos dan celana training milikku menggeleng. Jujur, aku tidak tahu jika gadis itu terlihat lucu dan mengenakan memakai pakaianku. “Saya ba–” Belum selesai Aya bicara, suara dari rah pintu mengalihkan kami berdua. “Pa–pa.” Amir berseru girang masih dengan topi kerucut khas ulang tahun di kepalanya. Bibirku langsung mengulas senyum lebar hingga mengabaikan sosok yang tadi membuatku hampir mati jantungan dengan keberadaanya. “Hai, Jagoan!” sapaku. “Ndong!” Tangan mungilnya terangkat tinggi seolah memintaku untuk menggendongnya. Tanpa menunggu lama, aku langsung meraup tubuh kecilnya dari mantan ibu mertuaku. “Astaga, anak Papa makin besar ternyata, yah!” Aku mencium pipinya yang menggemaskan. “Kamu mau ke mana, Papa?” Mama Dilla menepuk bahuku, lalu aku dengan sopan mencium punggung tangannya. “Saya ada urusan dengan teman, Nek,” jelasku kemudian. “Lalu, dia siapa?” Mama Dilla tiba-tiba memberi kode ke arah gadis yang sedari tadi terlihat kikuk berdiri di depan sofa ruang tamu. “Apa dia calon ibu Amir?” bisiknya. Aku merutuk diriku sendiri karena melupakan Aya. Dengan sedikit canggung, aku memperkenalkannya. “Nek, dia Aya.” Mama Dilla terlihat tersenyum ketika Aya mencium punggung tangannya sopan. “Nenek akan menerima siapapun pendamping hidupmu yang baru, Sayang. Asalkan, dia juga bisa menerima Amir dan kamu dalam hidupnya,” tuturnya lembut. Aya sendiri masih terlihat begitu canggung di sana, tetapi aku tak terlalu memikirkannya. Toh, kami juga belum sah. Selain sebagai murid dan dosen, kami memang tidak memiliki hubungan lain. Kami bahkan sering ributnya daripada say hello dengan baik. Apalagi, mengingat kejadian demi kejadian yang kami alami selama ini, aku sanksi Aya bisa menyukaiku. Sementara hatiku sendiri masih terkunci rapat hanya untuk mendiang istriku. Cintaku sudah habis padanya. Oleh sebab itu, waktu pertama tahu akan dijodohkan aku langsung menolak keras. Aku jelaskan tentang perasaanku pada Mama dan Papa. Namun, mereka tetap tidak berhenti menyuruhku untuk membuka lembaran baru. Sementara menikah tidak semudah itu. Tiba-tiba, kurasakan tepukan di lengan hingga menyadarkanku dari lamunan. Mama Dilla mengulas senyum seolah tahu kegundahanku, lalu dia berkata, “Nenek ikhlas jika kamu menikah lagi, Arka. Kamu berhak bahagia, Amir juga berhak menerima kasih sayang seorang ibu.” Aku menunduk, memperhatikan bagaimana senyum di wajah Amir yang terus sibuk berceloteh. “Baik, Nek,” jawabku pada akhirnya. Kurasakan kembali usapan di bahuku sebelum Mama Dilla izin pamit untuk menyusul Mama Turi di dapur. Setelah itu, aku yang ditinggal bertiga menjadi kikuk. Aku menatap Aya yang masih berdiri di tempat seolah ada lem di kakinya hingga tak bisa bergerak. Kadang, gadis itu lucu. Sikapnya yang suka meledak-ledak ketika bertemu denganku di kampus, kini hilang entah ke mana. Apa dia tengah gugup sekarang? Tapi, kenapa? “Kenapa kamu tidak duduk? Apa tidak capek berdiri terus?” tanyaku. Dia tersenyum, tetapi tidak sampai matanya. “Sa–ya hanya merasa sungkan jika belum dipersilakan,” jawabnya. Aku mengangguk, lalu melihat Amir yang menangkup wajahku minta diperhatikan. “Apa Amir sudah kenal dengan Kakak itu?” tunjukku dengan dagu. Amir melihat wajah Aya, lalu senyumnya langsung merekah. “Ta–ta ntik,” ujarnya riang yang tidak ku mengerti. Sahutan tak kalah riang kudengar dari arah depan. “Hai, Tampan. Apa kamu baru saja bersenang-senang?” Diam-diam, aku memperhatikan interaksi dua orang berbeda usia itu. Keningku mengernyit ketika Aya begitu mudah dalam menanggapi setiap ucapan kurang jelas Amir. Aku saja sebagai Ayah masih butuh translate dari Mama, sedangkan dia? Kenapa begitu mudah mengerti. Aneh. “Kamu mau minum?” tanyaku sekali lagi padanya. “Huh? Apa?” Matanya menengadah menatapku dan aku langsung melengos. Binar-binar kebahagiaan itu membuatku terusik. “Bapak tadi nanya apa?” Tanpa mau melihat ke arahnya, aku kembali bertanya, “Kamu mau minum?” “Oh, tidak perlu, Pak,” tolaknya. Aku meliriknya dan aku menyesal karena melihat rambut gadis itu berayun mengikuti gerakan kepala. Lucu. Eh! Apa yang baru saja kupikirkan? Gak! Aku gak boleh lengah. Aku berdeham, melihat ke arah Amir yang menepuk bahuku. “A–da apa, Sayang?” “Kan! Mil … au akan,” kata Amur sambil menunjuk ke arah perutnya. Jangan lupakan juga bibirnya yang cemberut dan wajah memelas. “Apa, Nak? Papa gak ngerti.” Aku yang kurang paham dengan ucapan Amir meminta anakku mengulangnya. Akan tetapi, suara seseorang di hadapan membuatku menatapnya. “Kamu ngomong apa, Aya?” Dia mengulang ucapannya, “Anak Bapak lapar, minta makan.” “Oh, kamu tahu bahasa bayi?” tanyaku heran, “kamu kan, belum pernah punya anak? Kenapa bisa tahu?” Aku tak bisa menahan mulutku untuk mencecarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD