Aku menoleh sebentar, sebelum kembali melihat ke arah jendela. “O–oh, itu,” jedaku mencari alasan. “Michi nelpon, katanya dia udah di depan rumah. Jadi, saya gak enak buat nolaknya,” dustaku.
“Michi, maaf gue pakai nama lo buat ngibulin Pak Arka. Gue janji, deh, kalau besok bakalan traktir lo makan di kantin sepuasnya,” batinku penuh penyesalan.
“Ok. Tapi, saya harap kamu tidak lagi kabur besok,” sindir Pak Arka.
Aku tersenyum kecut, tetapi mengingat kelakuanku tadi pagi, aku merasa jahat padanya. Kini, aku melirik Pak Arka yang sedang menyetir. Tiba-tiba, perasaan bersalah bergelayut dalam hatiku.
Sambil memilin ujung kaos Pak Arka yang kupakai, aku memberanikan diri untuk meminta maaf. “Untuk kejadian tadi pagi, saya minta maaf, Pak.”
Dia menoleh padaku, mungkin kaget dan tidak percaya jika seorang Aya mau meminta maaf duluan. Hari ini pengecualian karena Pak Arka sudah menolongku, tetapi tidak untuk besok, atau besoknya lagi.
“It’s ok. Tapi, saya besok tidak bisa jemput kamu karena ada urusan.”
Aku menoleh padanya cepat dan tanpa bisa dicegah, bibirku tersenyum begitu lebar mendengar hal tersebut. Kini di dalam hatiku tengah bersorak bahagia, bahkan berpesta pora.
“Kamu gak apa-apa, kan, berangkat sendiri?” Pak Arka kembali bertanya padaku dan tanpa bisa ditahan, aku mengangguk antusias.
“Gak apa-apa kok, Pak. Urusan Bapak pasti lebih penting,” jawabku kelewat semangat.
Pak Arka sempat menoleh padaku, tetapi aku abaikan. Aku terlalu senang hanya sekadar untuk memedulikan hal tersebut. Setelah itu, tidak ada lagi obrolan hingga kami sampai di kompleks perumahan.
Mobil Pak Arka berhenti tepat di depan pagar rumahku. Aku pun segera melepas seat belt dan menoleh padanya. “Terima kasih atas hari ini, Pak,” ucapku masih dengan senyum merekah.
“Hem.”
Senyumku yang tadi lebar sedikit memudar melihat sifat asli Pak Arka yang kembali kumat. Si kulkas dan tongkat sapu yang selalu dingin dan kaku. Ingin rasanya aku mengumpat, tetapi jika teringat akan kejadian tadi di perpustakaan, emosiku mulai mereda.
Akhirnya, yang kulakukan hanya tersenyum maklum. Kugenggam erat paperbag dan kantong kresek tadi di pangkuan, lalu berkata, “Untuk baju, saya akan kembalikan setelah selesai dicuci ya, Pak,” kataku lagi.
“Hem.”
Ya, Salam. Ini orang ngapa balik lagi nyebelinnya, sih? Bisa gak, sehari saja itu es mencairnya, jangan cuma setengah-setengah? Kalau kayak gini, kan, aku yang jadi bingung harus bersikap seperti apa!
Dalam hening, aku mulai mencari topik pembahasan. Ingin bertanya tentang keberadaan anaknya, tetapi lagi-lagi pertanyaan itu hanya tersendat di ujung lidahku. Akhirnya, aku menyerah dan pamit.
“Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih, Pak, atas hari ini. Bapak hati-hati di jalan dan salam buat anaknya,” kataku ceria.
“Hem.”
Ah, sudahlah! Persetan dengan Pak Arka. Aku langsung turun, lalu kututup pintu mobilnya. Ketika aku berbalik, roda empat itu sudah mundur dan parkir di depan rumahnya sendiri.
Aku meniup poniku setengah jengkel. “Untung situ baik hari ini, coba kalau nyebelin, udah aku corat-coret badan mobilnya tadi,” gerutuku setelah pria itu tak terlihat lagi dari pandangan.
Sebelum masuk pagar rumah, aku menundukkan kepala, melihat ke arah kantong kresek di tangan. “Sepertinya hari-hariku selalu sial jika bersama Pak Arka, deh.” Bibirku mendumel dengan suara memelas.
Setelah itu, aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Sepi, adalah hal pertama yang aku jumpai ketika membuka pintu utama. Mama dan Papa sudah kembali ke rumah dinasnya, sedangkan Abang lebih memilih berada di apartemennya, daripada pulang ke sini. Jadilah aku sendirian di rumah besar ini.
Aku tersenyum pahit dengan nasib hidupku. Orang-orang mengira jika hidupku begitu enak karena bergelimang harta, kenyataannya aku kesepian. Iya, ok, aku memang senang dengan uang yang diberikan kedua orang tuaku, tetapi ada saat di mana aku juga butuh kehadiran mereka.
Apa aku serakah meminta itu? Sekarang, dengan mengatasnamakan diriku, mereka kembali menyuruhku untuk menikah.
Lucu.
Apa semudah itu membina rumah tangga? Sementara Mama dan Papa saja tak pernah memberikanku contoh. Mereka terlalu sibuk kerja dan kerja hingga lupa akan adanya diriku yang juga butuh kasih sayang.
Apa sepenting itukah pekerjaan dibandingkan anak sendiri?
“Nak Aya.”
“Eh, iya saya?” Aku terperanjat kaget ketika ada seseorang yang menepuk bahuku dari belakang. Sontak aku berbalik dan menemukan ibu dari Pak Arka datang. “Tante kenapa ke sini?”
“Bego!” ujarku lirih. Aku langsung menutup mulut dengan pandangan bersalah. “Ngapain, sih, gue malah nanya kayak gitu ke Tante Turi? Gimana kalau beliau tersinggung? Haduh! Emang mulut lo butuh di ruqyah, deh, Ay!” Aku mengutuk diriku sendiri di dalam hati.
Wanita itu lalu tersenyum maklum. “Kenapa kamu kaget begitu, Nak? Apa Tante mengagetkanmu?”
Aku menggeleng cepat, lalu mengambil tangannya untuk kucium. “Maaf, Tante. Tadi, Aya lagi kurang fokus,” kilahku, “Tante ada apa, yah, ke sini? Kalau cari Mama, beliau gak ada, Tante.”
Dia menggeleng. “Gak, kok. Siapa bilang Tante nyariin Mamamu? Orang Tante ke sini pengin ketemu kamu, kok,” ujarnya sambil menjadi daguku.
Aku hanya bisa tersenyum pasrah.
“Oh, iya. Maksud kedatangan Tante ke sini cuma mau ngajak kamu makan malam di rumah. Apa Nak Aya mau?” tawarnya.
Kruyuk!
Aku langsung memegang perutku dan menatap Tante Krasturi dengan wajah memerah malu. Aku baru sadar jika sudah melewatkan makan siang tadi. Sementara sekarang waktu sudah menunjuk pukul 5 sore. “Ma–af, Tante,” ujarku kikuk.
Tante Krasturi tertawa, lalu memeluk bahuku. “Jadi, Nak Aya mau, kan, makan di rumah kami?”
Jadi, di sinilah aku sekarang, kediaman Pak Arka. Setelah tadi sempat mandi sebentar, aku sudah duduk di ruang tamu yang besarnya tak jauh berbeda dengan milikku. Namun, sesuatu di dinding menarik perhatianku.
“Siapa wanita itu?” gumamku lirih. Kaki ini pun dengan lancang berjalan menuju spot foto di mana banyak momen yang tertangkap kamera.
Jika kalian bertanya di mana pemilik rumahnya, aku dengan tegas menjawab, kalau mereka sedang sibuk. Tante Krasturi di dapur, sementara Pak Arka … entahlah. Aku berharap tidak bertemu dengannya. Anak pria itu sendiri tengah berada di kediaman kakek dan nenek dari pihak perempuan.
Informasi tersebut didapat dari Tante Turi sendiri. Sementara aku tak pernah bertanya apa pun.
“Jadi,” jedaku cukup lama, “dia istri Pak Arka? Wow, sih! Gue sebagai perempuan aja langsung jatuh cinta waktu pertama kali lihat. Aje gile, cantik parah njir!” gumamku tak bisa menutupi kekagumanku.