“Aya, duduk!” Suara Papa terdengar pelan, tetapi aku yakin menyimpan banyak emosi. Akan tetapi, aku tidak akan gentar.
“Gak mau! Pokoknya Aya gak bakalan mau nikah sama dia!”
“Aya!”
“Pah!”
Tiba-tiba, kursi di depanku berderit, dia adalah Arka. “Permisi, Om dan Tante. Apa saya boleh bicara berdua dengan Aya?”
“Gak! Aku gak mau!” tolakku sengit, tetapi Mama justru mencubit kakiku. “Mah, sakitttt!” Aku menatap Mama protes. Namun, Mama menyuruhku diam dan menuruti kemauan mereka.
Aku melengos dengan perasaan jengkel. Ini mulai gila sekarang. Sial! “Aku pergi!” kataku tanpa memedulikan panggilan Mama ataupun Papa.
Sambil membawa tas kecil milikku, aku terus berjalan keluar restoran hingga dibelokkan lorong, sebuah tangan menarik sikuku. “Lepas!” kataku keras.
Saat menatapnya, aku tak bisa untuk tak membuat ekspresi muak. Bagaimana tidak, sosok yang selama beberapa bulan ini membuat hari-hariku di kampus bagaikan di neraka sedang berdiri, berhadapan denganku.
“Kita perlu bicara!” katanya.
Untuk beberapa saat, aku tak mengindahkan keberadaannya. Aku sibuk mengontrol diriku sendiri, tetapi aroma musk di depan membuatku tidak tenang. Pada suatu titik, mata kami saling bertemu, tetapi aku langsung menghindar.
Gila! Bagaimana bisa aku mengaguminya yang mengenakan kemeja polos, dipadukan dengan celana bahan senada dengan atasannya. Sepertinya, otakku mulai konslet sampai berpikir seperti itu.
“Kenapa kamu pergi?”
“Apa peduli Anda? Mau saya pergi, kek, atau tidak itu bukan urusan Anda!”
Helaan napas berat terdengar di hadapanku, tetapi aku memilih acuh. Biarlah dia mau menilaiku seperti apa. Toh, aku tidak akan pernah setuju dengan perjodohan ini. Hello, aku masih muda dan ini bukanlah zaman Siti Nurbaya yang harus menikah karena dijodohkan.
Big no! Jikapun aku menikah, itu harus dengan pilihanku, bukan karena siapapun.
“Mau kamu apa, sih?” tanyanya sambil berkacak pinggang.
Kedua alisku naik ketika mendengar pertanyaannya. Dia bodoh, atau pura-pura? Sial! Aku jadi kesal sendiri.
“Seharusnya saya yang bertanya seperti itu pada Bapak. Apa Anda gila mau nikah dengan saya? Bukankah Anda itu anti sama saya? Jadi, mana mungkin kita yang selama ini tak memiliki hubungan spesial harus menikah, Pak?”
Hening. Aku melirik ke arahnya, pada saat itu pula terbayar Pak Arka juga sedang melihatku. Lagi-lagi aku memalingkan mata. Aku merasa semakin kesal jika terus menatapnya.
Aku menghela napas. “Sebaiknya Bapak bilang pada orang tua kita untuk membatalkan perjodohan ini,” sambungku kemudian.
“Gak!”
Mataku melotot. “Yakh!” Aku menghentakkan kaki kesal mendengar jawaban super iritnya. “Apa Bapak ini gila atau gimana, sih? Ini adalah sebuah pernikahan, Pak, bukan main-main.”
Pria itu hanya diam dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, lalu berkata, “Saya tidak akan menolak perjodohan ini karena saya punya alasan!”
“What?” Aku menggeleng frustasi sambil menyugar rambut. Kini, aku mulai kehabisan kesabaran, bibirku berkedut, ada banyak akta makian yang siap kulontatkan, tetapi pada akhirnya semua itu kembali tertelan. Pandanganku kini tertuju pada pria itu. “Jika Anda tidak mau menolak maka biar saya yang akan menolak!” sambungku.
Mata Pak Arka yang berwarna gelap mengamatiku selama beberapa detik, tetapi aku tak goyah dan tetap menatapnya bernai. Dia lalu mengembuskan napas dan kali ini terdengar frustasi. “Kenapa kamu justru membuat semua ini menjadi sulit, Aya?” tanyanya, “bukankah sebaiknya kamu menerima perjodohan ini?”
Ekspresi wajah Pak Arka kini mulai terlihat sendu, tidak ada lagi ketegangan, berganti sorot matanya yang melembut.
Aku memiringkan kepalaku, bingung dengan apa yang sedang terjadi. “Karena menikah muda itu bukanlah cita-cita saya, Pak,” jawabku, “mau sampai mati pun saya tidak akan pernah mau menerima perjodohan ini!”
Pak Arka mengangguk. “Ok, jika memang itu yang kamu mau.” Setelah berkata seperti itu, dia melenggang pergi begitu saja, meninggalkanku yang kini tengah melongo.
“Apa-apaan dia?” Aku berkacak pinggang. “Apa maksud Pak Tua itu? Apa setelah mengatakan hal itu semua masalah sudah selesai? Sial!”
Aku berjongkok dan menelungkupkan wajahku di antara kedua kakiku. Menyembunyikan raut frustasiku di sana. “Bagaimana bisa aku terjebak dalam permasalah pelik ini, Tuhan?”
Sebuah pesan masuk dn itu mampu mengalihkan perhatianku.
Mama; Kembalilah! Calon suamimu sudah menunggumu! Jadi, jangan buat Mama dan Papa malu di sini!
Aku ingin menangis sekarang setelah membaca pesan dari Mama. Kubentur-benturkan sisi kepala ke dinding di belakangku. “Aku gak mau nikah sama dia, Mah. Tapi, kenapa kalian tetap saja bersikeras untuk menjodohkanku?” gumamku lirih sambil menutup wajah.
Satu isakan pun lolos karena tidak bisa kutahan lagi, tetapi aku segera bangun, menarik napas, dan membuangnya lewat mulut. Setelah jauh lebih baik, aku mulai melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam restoran, lalu duduk di antara mereka.
Selama sisa jamuan berlangsung, aku lebih memilih diam, tak menggubris siapapun, termasuk Pak Arka yang kini posisi duduknya berubah menjadi di sampingku. Aku yakin, ini semua ulang orang tuaku, tetapi aku memilih masa bodoh.
***
Satu jam kemudian, aku sudah berada di depan rumahku, semua berkat seseorang yang duduk di kursi kemudi. Siapa lagi jika bukan Pak Arka. Aku melepas seat belt yang memelukku, tetapi ketika tangan ini memegang handle pintu, suara di sampingku memecah hening.
“Aku akan menjemputmu besok,” katanya.
Aku menyeringai. “Gak perlu! Aku bisa berangkat sendiri,” tolakku.
“Aya.”
“Aku masih bisa melakukan apa-apa sendiri, Pak. Jadi, jangan pernah menganggapku seperti orang lumpuh!”
“Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu, Aya. Itu hanya persepsi kamu saja. Aku menjemputmu itu karena–”
“Karena Anda ingin mengambil hati orang tua saya, kan?” Aku berdecih sinis. “Sudah ketahuan, Pak, niat Anda menerima perjodohan. Anda hanya ingin mendapatkan harta warisan dari ayah saya, kan?”
Mata Pak Arka melebar sepersekian detik, setelah itu dia memalingkan wajah. “Terserah apa kata kamu. Percaya saja dengan apa yang ada di pikiran dan hatimu. Karena saya tidak akan pernah mau membantah apa pun. Jadi, saya akan menjemputmu besok pukul 06.30 karena saya ada kelas pagi.”
Kami menatap satu sama lain, tetapi aku yang lebih dulu memutuskan kontak mata itu. Aku masih tak percaya dengan yang diucapkannya. Bukannya menepis semua tuduhanku, melainkan dia semakin membuatku muak dengan sifatnya yang tidak bisa ditebak. “Terserah!” jawabku pada akhirnya.
Ku banting pintu mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal. Mama, Papa, dan orang tua Pak Arka masih di restoran, sedangkan kami diizinkan pulang terlebih dahulu.
Katanya, kami harus cukup istirahat. Entahlah, apa maksud mereka. Aku juga malas memikirkannya. Lebih cepat pulang, justru itu lebih baik daripada terjebak di antara pembahasan pernikahan yang membuat perutku mual.
Ya, pada akhirnya perjodohan itu tetap terlaksana karena hanya aku saja yang menolak, tetapi tidak dapat menyuarakan pendapat. Mulutku sudah dibungkam oleh Mama, Papa, juga Pak Arka.
“Aya,” panggil seseorang di belakang bahuku.
Aku berhenti, membalikkan badan dengan malas. Ternyata, pria tua itu mengikuti ku hingga kami saling berhadapan di depan pintu. “Hem,” jawabku.
“Belajarlah.”
Keningku mengernyit. “Untuk?”
Dia menggeleng, lalu tanpa permisi pergi setelah membuatku terdiam kaku. “Apa-apaan dia?” Tanganku terangkat naik ke atas kepala di mana baru saja diusap oleh Pak Arka.
Anehnya, rona merah serta-merta langsung menghiasi pipiku, bahkan perutku melilit mendapati perbuatan manisnya. Sesaat, aku mulai kehilangan eksistensi. Hanya karena usapan lembut, aku berubah menjadi patung.
Aku menggeleng cepat dan menampar wajahku sendiri. “Hentikan pikiran gilamu, Ay! Atau, kau akan menyesal seumur hidup!” kataku memperingati diri sendiri sebelum masuk ke dalam rumah.