Dosen killer; Tunggu aku di parkiran 10 menit lagi.
“Cih! Siapa dia nyuruh-nyuruh gue buat nungguin?” Aku melempar ponsel ke dalam tas dengan perasaan kesal.
Setelah tadi pagi aku berhasil menghindar darinya, kini dengan penuh percaya diri dia kembali berusaha untuk mendekatiku. Sumpah, aku masih meragukan ketulusan hati dari pria tersebut. Secara selama ini kami itu tak pernah akur. Jadi, wajar saja jika aku curiga padanya.
Aku melirik ke arah ketiga temanku yang sedang sibuk ngerumpi. Jam pelajaran telah usai 5 menit yang lalu. “Ngemall, yuk, Bes!” ajakku pada mereka.
“Sorry, gue ada kencan hari ini sama cowok gue,” kata Dian.
Aku menatap Michi. “Sorry, Ay. Gue udah janji juga sama Nyokap mau nemenin dia belanja.”
Harapanku hanya Widi. “Ke–napa?” tanyanya tergagap.
Aku menghela napas. “Jangan bilang lo gak bisa juga!” todongku cepat.
Widi tersenyum bersalah sambil menggaruk belakang kepala, lalu melirik ke arah Michi dan Dian. “Bukan gitu, Ay. Gue–”
Belum selesai Widi menjawab, aku berdiri. “Ah, sudahlah. Kalian ini gak setia kawan banget, sih, njir.”
“Jangan marah dong, Bestie!” Widi berjalan menyamai langkahku yang hendak keluar kelas.
Aku berhenti tepat di ambang batas pintu, lalu menoleh pada Widi. “Siapa yang marah? Gak ada, kok. Santai aja. Kalau kalian emang nggak bisa nemenin gue, ya, nggak masalah. Gue bisa sendiri, kok,” jelasku.
"Gue duluan!" Aku melambaikan tangan tinggi tanpa menoleh lagi pada mereka yang aku tau pasti sedang merasa tidak enak hati.
Bodo amat pikirku. Toh, mereka juga lagi pada sibuk. Lagian, ngapain juga aku ngajak mereka pergi ke Mall? Tentu saja alasan ter akut adalah untuk menghindari Pak Arka. Si gunung Everest tanpa ekspresi!
Aku tidak peduli bagaimana tanggapan Mama dan Papa tentang kelakuanku. Mereka juga tidak akan tahu selama tidak ada yang ember. Lagipula, aktingku cukup bagus untuk mengelabui mereka.
Kenapa aku mengajak mereka pergi ke Mall? Alasannya, tentu saja untuk menghindar dari Pak Arka. Aku tidak peduli bagaimana tanggapan Mama dan Papa tentang kelakuanku. Toh, mereka juga tidak akan tahu selama tidak ada yang ember.
Mataku mengedar, menyusuri lorong kampus sendirian. “Terus, gue harus pergi sama siapa, dong?” Jika biasanya kami selalu pergi berempat, kini aku sudah seperti anak piyik yang kehilangan induknya, jalan sendirian. “Nasib-nasib,” keluhku.
“Siang, Ay.”
“Pulang, Ay?”
“Ay, pacaran, yuk!”
Itulah beberapa sapaan yang diberikan para junior dan senior padaku. Mungkin, bagi orang yang belum tahu atau tidak mengenalku, mereka akan salah paham.
Bagaimana tidak, panggilan ‘Ay’ biasanya merujuk pada orang tertentu, orang terkasih, sementara diriku bukanlah siapa-siapa bagi mereka. Kadang kesel juga, sih, tapi yaudahlah. Dibawa enjoy saja
Berhubung mood ku sedang kurang bagus, jadi aku hanya tersenyum sekadarnya saja. Bodo amat mau dikira sombong atau apa, yang penting aku sudah berusaha ramah. Lagian, aku buka artis atau siapapun yang harus tetap menebar senyum dikala hati sedang tak menentu.
Ketika sampai di belokkan, aku hampir menjerit, tetapi segera aku bekap mulutku. “Buangke! Kok, gue malah harus ketemu dia di sini, sih,” bisikku panik.
“Apa gue kabur aja, yah?” Belum sempat balik badan, panggilan dari depan menghentikan niatku.
“Aya!” Suara si kulkas dua pintu langsung membuatku mati kutu.
“Sial!” umpatku lirih. Aku tidak bisa menghindar karena Arka bersama Panji(36 th)–Dosen Ekonomi– sedang berjalan ke arahku. Jadi, mau tidak mau aku harus memasang wajah ramah. “Siang, Pak,” sapaku dengan kepala menunduk.
“Hai, Aya. Apa kamu sudah menyelesaikan tugasmu? Dan, hei! Jangan panggil Pak, dong! Kan, jam pelajaran sudah usai,” kata Panji sambil menebarkan senyum.
Aku hanya menyeringai kaku.
Panji memang tidak pernah mau jika dipanggil Pak, atau Bapak karena menurutnya, dia masih terlalu muda untuk menjadi bapak-bapak. Ditunjang wajahnya yang mirip Evan Sanders, tapi whatever lah, mengcapek ngurusin dua laki itu.
“Mana boleh seperti itu, Pak. Kan, kita masih di lingkungan kampus,” kilahku, “untuk tugas dari Bapak, saya sudah menyelesaikannya, kok. Jadi, tinggal dikumpulkan saja besok.”
“Good!” Panji tersenyum, lalu mengusap puncak kepalaku.
Refleks, mataku melirik ke arah samping. Pemandangan wajah tampan Pak Arka yang ternyata sudah berubah menjadi merah membuat keningku berkerut.
Aku seperti membayangkan ada asap yang keluar dari hidung dan telinganya. Tatapan mata yang seperti ini membuatku semakin bingung. Tidak ingin menambah masalah, aku memutuskan untuk menghindar dari sentuhan Panji.
"Eh, sebentar, Pak.” Aku berpura-pura mencari sesuatu di dalam tas sehingga tangan Panji tidak lagi berada di atas kepalaku.
“Kamu cari apa, Ay?” tanya Panji mendekat.
Kakiku mundur sambil tersenyum canggung. “Oh, itu. Anu–”
“Aya,” panggil Pak Arka.
Aku melihat ke arahnya. “Iya, Pak?”
Dia menghela napas lelah dan keningku semakin mengernyit. “Bisa saya minta tolong untuk temani saya ke perpustakaan di kota?”
“Harus saya banget gitu, Pak?” Aku menunjuk diri sendiri.
“Hem. Jadi, tunggu saya di parkiran! Kamu bawa mobil?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng.
“Baguslah. Kalau gitu, saya ke ruangan dulu buat ngambil kunci.”
Aku hanya mengangguk, membiarkan dua dosen muda dan tampan itu berlalu. Kepalaku dimiringkan, berpikir dengan apa yang baru saja terjadi.
Panji dan Arka, adalah dua sosok Dosen yang menjadi incaran para mahasiswi di kampus sini. Akan tetapi, ada sesuatu hal yang membuatku merasa kurang nyaman jika berada di dekat Panji. Tatapan matanya itu, loh, kadang membuatku keki.
Berbeda jika dengan si kulkas dua pintu itu, alias Pak Arka. Walaupun dia menyebalkan dan suka bikin darting, tetapi aku merasa biasa saja. Jika kata Widi, sih, aku terlalu mencintai Pak Arka hingga buat akan pesona Pak Panji. Aku berdecak mengingat ucapannya yang ngawur.
Mana ada orang cinta bawaannya pengin nyeburin pasangannya ke laut. Aneh memang pikiran temanku. Kini, aku sudah tidak bisa kabur lagi, dan dengan langkah gontai, aku berjalan menuju parkiran, menunggu si Pak Tua itu.
***
Tiga jam terjebak dengan tongkat sapu alias Pak Arka, membuatku menguap berkali-kali. Entah berapa kali aku melihat layar ponsel hanya sekedar mencari tahu waktu yang sudah kubuang percuma. Masih mending kalo kejebak sama Kim Taehyung atau Park Bogum, lah, ini, Arkana Darpa Grantland, cuy! Manusia super kaku dah kek tongkat sapu yang pingin banget aku patahin!
Sesak napas membayangkan betapa dongkolnya aku harus membuang waktu jalan-jalan hanya untuk membaca. Masih bagus kalau baca buku fiksi, lah, ini malah buku fisiologi. Badanku sudah pegal karena terus menunduk membaca deretan huruf yang bahkan ngga bisa masuk ke otakku.
Jika mata bisa bicara, mungkin dia akan protes dan mencaci maki diriku. Oh, salah! Mataku akan mencaci maki si tongkat sapu, alias Pak Arka yang sudah mengabaikan aku selama tiga jam!
Semenjak kami di perpustakaan kota, aku bagaikan makhluk tak kasat mata, diabaikan, hingga tak dianggap olehnya. Sial! Apa tidak keterlaluan namanya.
“Pak.” Aku mengetuk pelan meja di depannya. “Apa belum selesai juga?” tanyaku berbisik, takut saja jika akan mengganggu pengunjung yang lain.
Pak Arka mendongak dan ada sinar kejut di matanya. “Oh, kamu masih di sini? Kirain udah pulang,” jawabnya.
Bibirku berkedut dan siap menyumpah serapahi makhluk paling menyebalkan di dunia ini. Bagaimana bisa aku yang sedari tadi di depannya, tetapi tidak nampak sama sekali di matanya. Oh, My God! Inginku berkata kasar!
“Kamu capek?” tanyanya sambil melihat ke arah jam tangan, “ternyata aku sudah cukup lama di sini,” gumam Pak Arka yang jelas masih bisa didengar olehku.
Aku mendengkus. “Bukan capek lagi, mau mati malah,” desisku kesal. Aku berdiri, membereskan beberapa buku yang sempat ku pinjam untuk dikembalikan ke rak buku.
Aku sudah muak untuk sekadar berbasa-basi di depannya. Bodo amat dikira cewek tidak sopan, toh dia juga tidak pernah memperlakukanku dengan baik selama ini. Jadi, kenapa aku harus repot-repot menebar kebaikan jika dia saja selalu menindasku.
“Mau ke mana?” Tanganku ditarik olehnya. “Aku antar!”
Kutepis tangannya. “Gak perlu, Pak. Saya bisa sendiri!”
“Tapi, kamu datangnya sama saya. Jadi, pulang pun harus saya yang antar,” katanya bersikeras.
“Terserah!” Aku merotasikan kedua bola, lalu berjalan mengabaikan keberadaan Pak Arka.
“Aya, tunggu dulu!” Tangannya menahan sikuku, lalu kurasakan sesuatu melingkar di perutku.
“A–pa yang Anda lakukan, Pak?” Suaraku berubah gagap.