Bab 13. Perlu Bicara

1219 Words
POV Aya Setelah acara makan malam kemarin, kami belum saling bertegur sapa. Di kampus pun kami menjadi asing. Sebenarnya itu aku, kalau dia memang selalu cuek dan dingin. Terkadang, ada saat bibir ini ingin menegurnya, tetapi ingatan akan kejadian tersebut selalu berhasil membuatku bungkam. Kini, sudah hampir dua Minggu kami bertingkah layaknya orang asing. Namun, untuk masalah perjodohan itu masih tetap terlaksana, itu kata Abang. Sumpah, yah! Aku tuh kesel banget sama mereka. Bukan bermaksud menjadi durhaka, melainkan setiap apa yang aku katakan pasti hanya dianggap angin lewat. Akhirnya, aku memilih untuk diam saja. Kali ini, aku ada kelasnya. Aku berusaha untuk seminim mungkin membuat pergerakan agar tidak berurusan dengannya. Sumpah, males banget! Jika biasanya aku akan paling telat masuk kelasnya, kini aku sudah duduk manis bersama ketiga temanku. Dosen Killer itu masuk, tetapi wajahnya terlihat kuyu, dan jiwa kepoku meronta-ronta untuk bertanya, tetapi kutahan. “Ok, all. Cukup sampai di sini pelajaran dari saya. Jika ada yang tidak kalian mengerti, bisa tanyakan pada saya.” Suara pria itu menggema hingga seantero kelas, tetapi aku tak peduli. “Saya ada, Pak! Saya ada!” Aku tersenyum menyeringai, melihat beberapa teman kelasku yang berebut untuk mencari perhatiannya. Sudah tercium jelas niat busuk mereka yang berpura-pura tanya ini dan itu, tetapi ujung-ujungnya cuma pengin caper doang sama Pak Arka. Basi! “Dasar kegatelan,” cibirku. Tanpa sadar, aku menutup buku catatan dengan cukup keras. “Garwita Hara Jayasri.” Dian yang duduk persis di sebelahku berbisik, “Lo kenapa?” Aku tersenyum. “Gak ada! Gue cuma lagi lapar aja,” kilahku, lalu menoleh pada dua temanku lainnya. “Gue mau keluar. Lo kalau masih mau di sini, gue duluan.” “Kita ikut!” timpal Dian yang disetujui oleh dua temanku. Kami lalu berjalan menuruni 5 anak tangga satu persatu karena tempat duduk kami berada di barisan tersebut. Sebelum berbelok, mataku melirik ke arah Pak Arka dan ternyata, dia sudah lebih dulu mengamatiku. Aku membuang muka, berpura-pura mengobrol dengan Widi. Mengabaikan tatapan sendu dari Pak Arka. Sebelum benar-benar keluar kelas, aku memiringkan kepala bingung. “Ini mata gue yang siwer, atau itu orang emang kaya lagi memelas ke gue?” Tiba-tiba, Dian menarik lenganku untuk duduk di kursi depan kelas. Aku melihatnya dengan kernyitan di dahi. “Jadi, Ay, gimana rencana liburan kita besok? Lo jadi, kan, nyewain salah satu villa lo yang ada di Bali buat kita semua?” Aku mengedikkan bahu. “Emang kapan?” tanyaku. Jujurly, aku lupa dengan niatan itu. Karena ada banyak hal yang beberapa Minggu ini kupikirkan. “Bulan depan, Ay.” Michi menimpali. “Lo kalau gak bisa, nanti gue bakal minta nyokap buat ngosongin villa keluarga gue di sono.” “Ohhh,” jawabku. “Lo kenapa, sih, Bes?” Dian menaikkan tangan, lalu memeriksa keningku. “Sakit?” Aku menepis tangannya. “Gue lagi nggak mood aja buat bahas liburan. Bisa besok aja gak bahasnya? Lagian, gue juga sehat, kok!” Michi mencondongkan wajah ke depan hingga kening kami bertemu. “Gak panas pun,” gumamnya. “Aish!” Kudorong wajahnya, lalu berdiri untuk menghindar. “Gue masih suka laki, yeh, Bes! Jadi, lo gak usah ngarep, deh!” Mataku melihat sekitar, takut jika orang pada salah paham pada kami. Emang teman gak ada akhlak mereka. “Gue juga masih doyan sama terong, njir,” umpat Michi, “lagian, gue ngelakuin itu buat cek keadaan lo doang, kok. Dih, pede njir!” “Whatever!” kataku tak peduli, lalu berjalan duluan. “Gue duluan!” “Yakh! Mau ke mana lo? Lo gak pengin ke kantin gitu?” Dian berteriak di belakang. Aku hanya mengangkat satu tangan jika aku skip ke kantin hari ini. Aku ada urusan dan tidak bisa ditinggalkan. “Kalau gak gegara Mama ngancem gue bakalan stop ngasih duit, ogah gue ngelakuin hal ini!” gerutuku sambil berjalan menuju parkiran. “Gue pikir, pernikahan itu bakalan batal karena gak gue tanggapin. Tapi, ternyata Mama jauh lebih ngotot dibandingin gue yang mau buat nikah.” Aku menggelengkan kepala. Sesampainya di parkiran, aku segera naik mobil dan cabut dari kampus. Jalanan terlihat lengang karena belum masuk jam sibuk. Ketika lampu merah, aku pun menginjak rem. Bebarengan dengan ponselku yang berdering. “Siapa, sih?” Aku melihat id callernya, lalu bibirku berdecak sebal. “Mau telpon sampai baterai habis juga gue gak bakalan angkat!” kataku. Niat hati ingin mengabaikan, tetapi ancaman Mama terus terngiang di otakku. “Sila! Kenapa gue mau-mau aja, sih, jadi boneka mereka?” Walaupun mendumel, akhirnya aku tetap menjawab telepon tersebut. “Apa, sih? Saya lagi nyetir, nih!” Aku merotasikan kedua bola mataku malas ketika dia menanyakan posisiku. “Saya bilang, kan, saya lagi nyetir. Jadi, sudah jelas, dong kalau saya lagi di jalan,” jawabku setengah menggeram marah. Terdengar helaan napas di seberang telepon dan aku tidak peduli. “Kalau gak ada yang penting, saya tutup–” “Aya! Kita perlu bicara!” Pria di seberang memotong ucapanku cepat. Lampu merah berganti menjadi hijau, aku pun kembali melajukan mobil. Aku tidak berkata apa pun untuk menanggapi ajakan pria di seberang telepon. Dia adalah Arkana Darpa Gratland, calon suamiku. “Aya! Saya tunggu di cafe samping butik!” Suara di seberang terdengar memerintah. “Apa?” Yakh!” Mataku melotot kaget ketika dengan seenak jidat Pak Arka main matikan telepon. “Ckckck, kebiasaan banget, sih, Pak Tua itu,” dengkusku. “Arghh!” teriakku sambil melempar asal ponsel. “Pokoknya gue gak mau dateng!” kataku bertekad. Tujuanku sekarang adalah Butik Beauty, milik rekan bisnis Mama di mana aku harus melakukan fitting baju pengantin di sana. Kenapa bukan Mama langsung yang merancang gaun pernikahanku? Alasannya, dia terlalu senang hingga sulit untuk menggambarkan gaun apa yang pantas kukenakan. Aku sendiri tidak peduli, kalau bisa juga aku tidak ingin mengenakan gaun itu. Come on! Seorang Jayasri harus menikah di usia muda? Oh, My God! Itu adalah penghinaan bagiku. Apalagi, jika teman-temanku sampai tahu siapa calonku, bisa habis aku diceng-cengin mereka seumur hidup. “Kadang, gue ngerasa kek jadi anak pungut di keluarga gue sendiri,” gumamku lelah. Beberapa menit kemudian, aku sudah sampai di Butik Beauty. Mataku menjelajah sekitar, ada 3 ruko besar di depan. Satu butik teman Mama, sebelahnya Cafe Beauty, satunya lagi masih kosong. Lahannya pun cukup luas hingga bis menampung 3 mobil. Keningku mengernyit ketika tak mendapati mobil milik Pak Arka. “Cih! Katanya nungguin, tapi mobilnya aja gak ada,” cibirku. Setelah mengambil tas dan dompet, aku turun dari mobil. Niatku langsung masuk ke butik, tetapi baru 4 langkah aku meninggalkan parkiran, ponselku berdering, dan Arkalah pelakunya. “Hem,” jawabku kembali melanjutkan langkahku. “Kita perlu bicara sebentar, Aya,” katanya di seberang telepon. “Saya sudah di butik, Pak.” “Kalau begitu, kamu bisa kan berbelok dan mampir ke kafenya?” Keningku mengernyit heran, lalu aku melemparkan pandangan ke arah tempat yang dimaksud. Ternyata, pria itu sudah duduk di samping jendela sendirian. “Saya tunggu!” imbuhnya. Panggilan itu kembali diputus secara sepihak oleh Pak Arka. “Kebiasaan banget, sih, itu orang main matiin telepon aja. Gue aja belum ngomong apa-apa, udah main putusin aja,” gerutuku. Mataku menyipit tajam ke arah pria tersebut seolah-olah, aku siap mencincangnya. “Emang dia siapa, sih? Presiden? Atau, orang penting? Cih! Baru jadi dosen aja udah belagu,” cibirku tak bisa kutahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD