“Maukah kamu menikah denganku?" Deg. "Aya! Di sini!" "Eh?" Aku melihat lelaki yang baru saja melamar seorang gadis di pintu cafe dengan jantung berdebar. Jujur, aku kira tadi adalah pria kaku yang sedang duduk di meja paling ujung. Namun, itu sangatlah tidak mungkin. Aku berjalan menyebrangi beberapa meja, lalu duduk di kursi tepat di depan Arka. Aku masih melongok ke arah pasangan romantis yang ada di depan sana, kemudian bibirku tersenyum ketika mereka berpelukan. "Mau pesan apa?” Suara ketukan meja disusul pertanyaan dari Arka langsung mengalihkan perhatianku. “Lemon tea saja.” "Ok. Tunggu sebentar!" Senyum langka yang jarang sekali kulihat baru saja tersungging di bibir Arka. Aku mengerjap gugup, lalu kubuang tatapanku ke jendela sebelum dia menyadari jika pipiku merona hany

